20 Jumadil-Akhir 1443  |  Minggu 23 Januari 2022

basmalah.png
ARTIKEL UMUM

Rasis, Menipu dan Memanipulasi Data, Itu Budaya Zionis

Rasis, Menipu dan Memanipulasi Data, Itu Budaya ZionisFiqhislam.com - Mei 2015 Simon Wiesenthal Center di Amerika menuntut kepada Dewan Kerajaan Yordania dan Otoritas Palestina agar mengecam dan mendakwah secara hukum statemen dan versi sejarah yang disampaikan oleh Syeikh Al-Quds Khalid Magribi tentang versi sejarah Yahudi di Eropa dan kekuasaan mereka terhadap dunia melalui media massa, perfileman dan uang. Hal itu disampaikan oleh Syeikh Magribi dalam salah satu ceramah rutinnya di mihrab Masjid Al-Aqsa dan direkam dan kemudian disebar di situs YouTube.

Ini hanya permulaan saja. Sebulan setelah media massa Israel menggelar provokasi atas Syekh Maghribi dengan menerjemahkan ceramahnya ke dalam bahasa Ibrani. Setelah itu kemudian dimulailah kampanye provokatif sistematis terprogram yang dilakukan oleh pihak-pihak Israel yang melibatkan intelijen. Rumah Syeikh Al-Quds Al Maghribi digeledah dan kemudian ia ditangkap dan propertinya disita. Itu berlangsung lebih dalam lebih dari satu kasus sampai. Kemudian secara hukum Syekh Magribi didakwah melakukan tindakan provokatif untuk melakukan kekerasan dan terorisme serta rasisme dan kemudian Israel memenjarakannya secara riil selama 11 bulan.

Syekh Maghribi yang di rumahnya di kampung Sa’diyah digantung sebuah tulisan putih “ambil yang kau butuhkan, tinggalkan yang tidak kau butuhkan” dari rumah inilah digelar dan dilakukan berbagai macam kebaikan antara beliau dan warga Al-Quds. Syekh Maghribi yang menghabiskan usianya di Masjid Al-Aqhsa dari anak-anak hingga orangtua berlomba-lomba untuk mendengarkan ceramah dan nasehatnya akhirnya dia harus di dakwah melakukan provokasi rasis di Masjidi Al-Aqsha. Sementara mereka mendeklarasikan diri sebagai pembela HAM dan kemanusiaan tidak bergeming bahkan tidak menunjuk seorang pengacara pun untuk membela beliau atau bahkan sekedar mengecam vonis yang dijatuhkan Israel kepadanya.

Jika kita ingin tahu apa faktor hakiki dibalik penangkapan dan penahanan Syeskh Kholid Maghribi dan ribuan warga Palestina lainnya tanpa adanya alasan hukum yang benar maka kita perlu kembali kepada peristiwa di bulan Juni 2012 di Universitas Haifa. Ketika itu seorang kolumnis Israel Sami Mahayel di salah satu mimbar universitas tersebut mengakui Israel adalah negara dunia modern yang paling rasis dan berbudaya kebencian terhadap bangsa dan etnis lain. (Haaretz, 26 Juni 2012).

Siapa Simon Wiesenthal

Simon Wiesenthal yang dijuluki “pemburu kaum Nazi” adalah sosok yang menghabiskan waktunya untuk memburu kaum Jerman Nazi dan menyeret mereka ke pengadilan. Ia adalah insinyur dan arsitek bangunan Yahudi yang mendirikan organisasi Simon Wiesenthal Center yang memproklamirkan diri sebagai organisasi HAM untuk menghadapi anti-semit kebencian dan terorisme serta mengukuhkan hak asasi manusia dan kehormatannya. Disamping itu dia juga getol membela Israel dan membela keselamatan Yahudi di seluruh dunia serta mengajarkan pelajaran pelajaran Holocaust bagi generasi yang akan dating. Hal itu tegas bisa dibaca dalam situs internetnya yang  berbahasa asing.

Dengan bahasa yang lebih tegas dan riil, saat ini Simon Wiesenthal Center memiliki 105 juta dollar untuk membangun “Museum Toleransi” di atas kuburan parah ratusan para syuhada dan wali serta orang orang sholeh di kuburan Islam Makmanullah di kota Al-Quds. Dan lembaga ini pula yang punya saham dalam mendekontruksi dan mengubah serta memanipulasi sejarah kemanusiaan dan yahudisasi rambu-rambu al-quds yang berisi bercirikan Arab dan Islam.

Lantas bagaimana organisasi ini mengklaim diri sebagai organisasi toleran sementara dia membongkar kuburan dan menginjak-injak harga diri manusia yang sudah meninggal? Bagaimana dia mengklaim diri mengukuhkan hak asasi manusia dan kehormatannya sementara mereka melakukan manipulasi dan merusak sejarah dan menyimpangkan identitas agama budaya dan peninggalannya.[yy/muslimdaily]