pustaka.png
basmalah.png.orig


8 Dzulqa'dah 1442  |  Jumat 18 Juni 2021

Meneladani Ketawadduan Imam Hanafi

Meneladani Ketawadduan Imam Hanafi

Fiqhislam.com - Imam Abu Hanifah adalah seorang imam Mazhab yang besar dalam dunia Islam. Di antara pembuat empat mazhab yang terkenal Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafi'i dan Mazhab Hambali, hanya Imam Hanafi yang bukan orang Arab. Beliau keturunan Persia atau disebut juga dengan bangsa Ajam.

Pendirian beliau sama dengan pendirian imam yang lain, yaitu sama-sama menegakkan Alquran dan sunnah Nabi SAW.

Imam Hanafi dilahirkan pada tahun 80 Hijriyah bertepatan dengan tahun 699 Masehi di sebuah kota bernama Kufah. Nama yang sebenarnya adalah Nu’man bin Tsabit bin Zautha bin Maha. Kemudian masyhur dengan gelaran Imam Hanafi. Kemasyhuran nama tersebut menurut para ahli sejarah ada beberapa sebab.

Pertama, karena ia mempunyai seorang anak laki-laki bernama Hanifah, maka ia diberi julukan dengan Abu Hanifah. Lalu, semenjak kecilnya, ia  sangat tekun belajar dan menghayati setiap yang dipelajarinya, maka ia dianggap seorang yang hanif (condong) pada agama atau kebaikan.

Ketiga menurut bahasa Persia, Hanifah berarti tinta. Hal ini berkaitan dengan kebiasaan Imam Hanafi yang sangat rajin menulis hadist. Maka, kemanapun ia pergi selalu membawa tinta.

Dalam laman Onislam.net dijelaskan, waktu ia dilahirkan, pemerintahan Islam berada di tangan Abdul Malik bin Marwan, dari keturunan Bani Umaiyyah kelima.

Kepandaian Imam Hanafi tidak diragukan lagi, beliau mengerti betul tentang ilmu fikih, ilmu tauhid, ilmu kalam, dan juga ilmu hadist. Di samping itu, beliau juga pandai dalam ilmu kesusasteraan dan hikmah.

Imam Hanafi adalah seorang hamba Allah yang bertakwa dan soleh, seluruh waktunya lebih banyak diisi dengan amal ibadah. Jika beliau berdoa matanya bercucuran air mata demi mengharapkan ridho Allah SWT.

Walaupun demikian, orang-orang yang berjiwa jahat selalu berusaha untuk menganiaya beliau. Sifat keberanian beliau adalah berani menegakkan dan mempertahankan kebenaran. Untuk kebenaran, ia tidak takut sengsara atau apa bahaya yang akan diterimanya.

Dengan keberaniannya itu, beliau selalu mencegah orang-orang yang melakukan perbuatan munkar, kerana menurut Imam Hanafi kalau kemunkaran tidak dicegah, bukan orang yang berbuat kejahatan saja yang akan merasakan akibatnya, melainkan semuanya, termasuk orang-orang yang baik yang ada di tempat tersebut.

Sifat Imam Hanafi yang lain adalah menolak kedudukan tinggi yang diberikan pemerintah kepadanya. Ia menolak pangkat dan menolak harta yang bisa membuatnya dependen. Akibat dari penolakannya itu ia ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Di dalam penjara ia disiksa, dipukul dan sebagainya.

Gubernur Irak pada waktu itu adalah Yazid bin Hurairah Al-Fazzari. Selaku pemimpin, ia tentu dapat mengangkat dan memberhentikan pegawai yang berada di bawah kekuasaannya.

Suatu ketika Imam Hanafi akan diangkat menjadi ketua urusan perbendaharan negara (Baitul Mal), pengangkatan itu ditolaknya. Ia tidak mau menerima kedudukan tinggi tersebut. Sampai berulang kali Gubernur Yazid menawarkan pangkat itu kepadanya, namun tetap ditolaknya.

Onislam.net mencatat, di lain kesempatan Gubernur Yazid menawarkan pangkat hakim tetapi juga ditolaknya. Rupanya Yazid tidak senang melihat sikap Imam Hanafi tersebut. Seolah-olah Imam Hanafi memusuhi pemerintah, karena itu timbul rasa curiganya. Ia diselidiki dan diancam akan dihukum dengan hukum dera.

Ketika Imam Hanafi mendengar kata ancaman hukum dera itu, Imam Hanafi menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan mengerjakan jabatan yang ditawarkan kepadaku, sekalipun aku akan dibunuh oleh pihak kerajaan.”

Demikian beraninya Imam Hanafi dalam menegakkan pendirian hidupnya.

Pada suatu hari Yazid memanggil para alim ulama ahli fikih yang terkemuka di Irak yang dikumpulkan di muka istananya. Di antara mereka yang datang ketika itu adalah Ibnu Abi Laila, Ibnu Syblamah, Daud bin Abi Hind, dan lain-lain. Kepada mereka, masing-masing diberi kedudukan resmi oleh Gubernur. Ketika itu gubenur menetapkan Imam Hanafi menjadi Ketua Sekretaris Gubernur.

Tugasnya adalah bertanggungjawab terhadap keluar masuk uang negara. Gubernur dalam memutuskan jabatan itu disertai dengan sumpah, “Jika Abu Hanifah tidak menerima pangkat itu niscaya ia akan dihukum dengan pukulan.”

Walaupun ada ancaman seperti itu, Imam Hanafi tetap menolaknya dengan pernyataan bahwa ia tidak mau menjadi pegawai kerajaan dan tidak mau campur tangan dalam urusan negara.
Akhirnya ia ditangkap oleh gubernur. Kemudian dimasukkan ke dalam penjara selama dua minggu, tapi tanpa dipukul.

Lima belas hari kemudian, ia baru dipukul sebanyak 14 kali pukulan, setelah itu baru dibebaskan. Beberapa hari sesudah itu gubernur menawarkan menjadi hakim, juga ditolaknya. Kemudian ditangkap lagi dan dijatuhi hukuman dera sebanyak 110 kali.

Setiap hari didera sebanyak sepuluh kali pukulan. Namun mam Hanafi tetap dengan pendiriannya. Sampai ia dilepaskan kembali setelah cukup 110 kali cambukan.

Akibat dari pukulan itu muka dan seluruh badannya menjadi bengkak-bengkak. Hukuman cambuk itu sengaja untuk menghina Imam Hanafi.

Walaupun demikian ketika Imam Hanafi disiksa ia sempat berkata. “Hukuman dera di dunia lebih ringan daripada hukuman neraka di akhirat nanti.”

Ketika Imam Hanafi berusia lebih dari 50 tahun, kepala negara ketika itu berada di tangan Marwan bin Muhammad. Namanya masih tetap harum sebagai ulama besar yang disegani sebagai  pemikir yang cepat dapat menyelesaikan sesuatu persoalan.

Suatu hari Imam Hanafi mendapat panggilan dari baginda Al-Mansur di Baghdad, supaya ia datang mengadap ke istana. Sesampainya di istana Baghdad, ia ditetapkan oleh baginda menjadi hakim kerajaan Baghdad.

Dengan tawaran tersebut, salah seorang pegawai negara bertanya, “Adakah guru tetap akan menolak kedudukan baik itu?”

Dijawab oleh Imam Hanafi “Amirul mukminin lebih kuat membayar kifarat sumpahnya daripada saya membayar sumpah saya.”

Kerana ia masih tetap menolak, maka diperintahkan kepada pengawal untuk menangkapnya, kemudian dimasukkan ke dalam penjara di Baghdad. Pada saat itu para ulama yang terkemuka di Kufah ada tiga orang. Salah satu di antaranya ialah Imam Ibnu Abi Laila.

Ulama ini sejak pemerintahan Abu Abbas as Saffah telah menjadi mufti kerajaan untuk kota Kufah. Kerana sikap Imam Hanafi itu, Imam Abi Laila pun dilarang memberi fatwa. [yy/republika]