15 Muharram 1444  |  Sabtu 13 Agustus 2022

basmalah.png

Pembagian Hadits (3/3)

Pembagian Hadits (3/3)

A. Pembagian Hadits Berdasarkan Jumlah Perawinya ( Aspek Kuantitas hadits )

Kuantitas hadits disini yaitu dari segi jumlah orang yang meriwayatkan suatu hadits atau dari segi jumlah sanadnya.

Jumhur (mayoritas) ulama membagi hadits secara garis besar menjadi dua macam, yaitu hadits mutawatir dan hadits ahad, disamping pembagian lain yang diikuti oleh sebagian para ulama, yaitu pembagian menjadi tiga macam yaitu: hadits mutawatir, hadits masyhur (hadits mustafidh) dan hadits ahad.

1. hadits Mutawatir

a. Pengertian hadits mutawatir

Kata mutawatir Menurut lughat ialah mutatabi yang berarti beriring-iringan atau berturut-turut antara satu dengan yang lain. Hadits mutawatir merupakan hadits yang diriwayatkan oleh banyak orang dalam setiap generasi, sejak generasi shahabat sampai generasi akhir (penulis kitab), orang banyak tersebut layaknya mustahil untuk berbohong. Tentang seberapa banyak orang yang dimaksud dalam setiap generasi belum terdapat sebuah ketentuan yang jelas. Sebagian ulama hadits menyatakan bahwa jumlah itu tidak kurang dari dua puluh perawi. Abu Thayib menentukan sekurang-kurangnya 4 orang. Hal tersebut diqiyaskan dengan jumlah saksi yang diperlukan oleh hakim. Sedangkan Ashabus Syafi’i menentukan minimal 5 orang. Hal tersebut diqiyaskan dengan jumlah para Nabi yang mendapatkan gelar Ulul Azmi. Sebagian ulama menetapkan sekurang-kurangnya 20 orang. Hal tersebut berdasarkan ketentuan yang telah difirmankan Allah tentang orang-orang mukmin yang tahan uji, yang dapat mengalahkan orang-orang kafir sejumlah 200 orang (lihat surat Al-Anfal ayat 65). Ulama yang lain menetapkan jumlah tersebut sekurang-kurangnya 40 orang. Hal tersebut diqiyaskan dengan pernyataan Allah sebagai berikut :

“Wahai nabi cukuplah Allah dan orang-orang yang mengikutimu (menjadi penolongmu).” (QS. Al-Anfal: 64).

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hadits mutawatir adalah laporan dari orang-orang yang jumlahnya tidak ditentukan (la yusha ‘adaduhum) yang tidak mungkin mereka bersepakat untuk berbuat dusta mengingat jumlah mereka yang besar (‘adalah) dan tempat tinggal mereka yang beragam.

Sedangkan menurut istilah para ulama telah memberikan batasan yakni: hadits mutawatir adalah tentang suatu yang mahsus (yang dapat ditangkap oleh panca indera), yang disampaikan oleh sejumlah besar rawi yang menurut kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat untuk berdusta.

Suatu hadits baru dapat dikatakan hadits mutawatir, bila hadits itu memenuhi tiga syarat, yaitu:

  • Pertama: hadits yang diriwayatkan itu haruslah mengenai sesuatu dari Rasulullah SAW yang dapat ditangkap oleh panca indera, seperti sikap dan perbuatannya yang dapat dilihat dengan mata kepala atau sabdanya yang dapat didengar dengan telinga.

  • Kedua: Para rawi (orang-orang yang meriwayatkan hadits) itu haruslah mencapai jumlah yang menurut kebiasaan (adat) mustahil mereka sepakat untuk berbohong. Tentang beberapa jumlah minimal para rawi tersebut terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ulama, sebagian menetapkan dua belas orang rawi, sebagian yang lain menetapkan dua puluh, empat puluh dan tujuh puluh orang rawi.

  • Ketiga: Jumlah rawi dalam setiap tingkatan tidak boleh kurang dari jumlah minimal seperti yang ditetapkan pada syarat kedua.

b. Pembagian hadits Mutawatir

Sebagian jumhur ulama menyebutkan Hadits Mutawatir ada 3 yaitu :

1. hadits mutawatir lafdhi

hadits mutawatir lafdhi adalah mutawatir dengan susunan redaksi yang persis sama. Dengan demikian garis besar serta perincian maknanya tentu sama pula, juga dipandang sebagai hadits mutawatir lafdhi, hadits mutawatir dengan susunan sedikit berbeda, karena sebagian digunakan kata-kata muradifnya (kata-kata yang berbeda tetapi jelas sama makna atau maksudnya). Sehingga garis besar dan perincian makna hadits itu tetap sama.

Contoh hadits mutawatir lafdhi yang artinya:

“ Rasulullah SA W, bersabda: “Siapa yang sengaja berdusta terhadapku, maka hendaklah dia menduduki tempat duduknya dalam neraka” (hadits Riwayat Bukhari). “

hadits tersebut menurut keterangan Abu Bakar al-Bazzar, diriwayatkan oleh empat puluh orang sahabat, bahkan menurut keterangan ulama lain, ada enam puluh orang sahabat, Rasul yang meriwayatkan hadits itu dengan redaksi yang sama.
 

2. hadits Mutawatir maknawi

hadits mutawatir maknawi adalah hadits mutawatir dengan makna umum yang sama, walaupun berbeda redaksinya dan berbeda perincian maknanya. Dengan kata lain, hadits-hadits yang banyak itu, kendati berbeda redaksi dan perincian maknanya, menyatu kepada makna umum yang sama.

Jumlah hadits-hadits yang termasuk hadits mutawatir maknawi jauh lebih banyak dari hadits-hadits yang termasuk hadits mutawatir lafdhi.

Contoh hadits mutawatir maknawi yang artinya:

“ Rasulullah SAW pada waktu berdoa tidak mengangkat kedua tangannya begitu tinggi sehingga terlihat kedua ketiaknya yang putih, kecuali pada waktu berdoa memohon hujan (hadits Riwayat Mutafaq’ Alaihi). ”
 

3. hadits Mutawatir ‘amali

hadits mutawatir ‘amali adalah hadits mutawatir yang menyangkut perbuatan Rasulullah SAW, yang disaksikan dan ditiru tanpa perbedaan oleh orang banyak, untuk kemudian juga dicontoh dan diperbuat tanpa perbedaan oleh orang banyak pada generasi-generasi berikutnya.

Segala macam amal ibadah yang dipraktekkan secara sama oleh umat Islam atau disepakati oleh para ulama, termasuk dalam kelompok hadits mutawatir ‘amali. Seperti hadits mutawatir maknawi, jumlah hadits mutawatir ‘amali cukup banyak. Diantaranya, shalat janazah, shalat ‘ied, dan kadar zakat harta.

c.Kedudukan hadits Mutawatir

Seperti telah disinggung, hadits-hadits yang termasuk kelompok hadits mutawatir adalah hadits-hadits yang pasti (qath’i atau maqth’u) berasal dari Rasulullah SAW. Para ulama menegaskan bahwa hadits mutawatir membuahkan “ilmu qath’i” (pengetahuan yang pasti), yakni pengetahuan yang pasti bahwa perkataan, perbuatan atau persetujuan berasal dari Rasulullah SAW. Para ulama juga biasa menegaskan bahwa hadits mutawatir membuahkan “ilmu dharuri” (pengetahuan yang sangat mendesak untuk diyakini atau dipastikan kebenarannya), yakni pengetahuan yang tidak dapat tidak harus diterima bahwa perkataan, perbuatan, atau persetujuan yang disampaikan oleh hadits itu benar-benar perkataan, perbuatan, atau persetujuan Rasulullah SAW.

Taraf kepastian bahwa hadits mutawatir itu sungguh-sungguh berasal dari Rasulullah SAW, adalah penuh dengan kata lain kepastiannya itu mencapai seratus persen.

Oleh karena itu, kedudukan hadits mutawatir sebagai sumber ajaran Islam tinggi sekali. Menolak hadits mutawatir sebagai sumber ajaran Islam sama halnya dengan menolak kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah. Kedudukan hadits mutawatir sebagai sumber ajaran Islam lebih tinggi dari kedudukan hadits ahad.
 

2. hadits Ahad

a. Pengertian hadits Ahad

Ahad (baca: aahaad) menurut bahasa adalah kata jamak dari waahid atau ahad. Bila waahid atau ahad berarti satu, maka aahaad, sebagai jamaknya, berarti satu-satu. hadits ahad menurut bahasa berarti hadits satu-satu. Sebagaimana halnya dengan pengertian hadits mutawatir, maka pengertian hadits ahad, menurut bahasa terasa belum jelas. Oleh karena itu, ada batasan yang diberikan oleh ulama batasan hadits ahad antara lain berbunyi: hadits ahad adalah hadits yang para rawinya tidak mencapai jumlah rawi hadits mutawatir, baik rawinya itu satu, dua, tiga, empat, lima atau seterusnya, tetapi jumlahnya tidak memberi pengertian bahwa hadits dengan jumlah rawi tersebut masuk dalam kelompok hadits mutawatir.


b. Pembagian hadits Ahad

1. hadits masyhur (hadits mustafidah)

Masyhur menurut bahasa berarti yang sudah tersebar atau yang sudah populer. Mustafidah menurut bahasa juga berarti yang telah tersebar atau tersiar. Jadi menurut bahasa hadits masyhur dan hadits mustafidah sama-sama berarti hadits yang sudah tersebar atau tersiar. Atas dasar kesamaan dalam pengertian bahasa para ulama juga memandang hadits masyhur dan hadits mustafidah sama dalam pengartian istilah ilmu hadits yaitu: hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang rawi atau lebih, dan beliau mencapai derajat hadits mutawatir. Sedangkan batasan tersebut, jumlah rawi hadits masyhur (hadits mustafidah) pada setiap tingkatan tidak kurang dari tiga orang, dan bila lebih dari tiga orang, maka jumlah itu belum mencapai jumlah rawi hadits mutawatir.

Contoh hadits masyhur (mustafidah) adalah hadits berikut ini:

Yang artinya:

“ Rasulullah SAW bersabda: “Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin tidak mengganggu oleh lidah dan tangannya.” (hadits Riwayat Bukhari, Muslim, dan Turmudzi) “

hadits di atas sejak dari tingkatan pertama (tingkatan sahabat Nabi) sampai ke tingkat imam-imam yang membukukan hadits (dalam hal ini adalah Bukhari, Muslim, dan Turmudzi) diriwayatkan oleh tidak kurang dari tiga rawi dalam setiap tingkatan.
 

2. hadits ‘aziz

‘Aziz menurut bahasa, berarti: yang mulai atau yang kuat dan juga berarti jarang. hadits ‘aziz menurut bahasa berarti hadits yang mulia atau hadits yang kuat atau hadits yang jarang, karena memang hadits ‘aziz itu jarang adanya. Para ulama memberikan batasan sebagai berikut: hadits ‘aziz adalah hadits yang diriwayatkan oleh dua orang rawi, kendati dua rawi itu pada satu tingkatan saja, dan setelah itu diriwayatkan oleh banyak rawi.

Berdasarkan batasan di atas, dapat dipahami bahwa bila suatu hadits pada tingkatan pertama diriwayatkan oleh dua orang dan setelah itu diriwayatkan oleh lebih dari dua rawi maka hadits itu tetap saja dipandang sebagai hadits yang diriwayatkan oleh dua orang rawi, dan karena itu termasuk hadits ‘aziz.

Contoh hadits aziz adalah hadits berikut ini:

Yang artinya:

“ Rasulullah SAW bersabda: “Kita adalah orang-orang yang paling akhir (di dunia) dan yang paling terdahulu di hari qiamat.” (hadits Riwayat Hudzaifah dan Abu Hurairah) “

Hudzaifah dan abu hurairah yang dicantumkan sebagai rawi hadits tersebut adalah dua orang sahabat Nabi, walaupun pada tingkat selanjutnya hadits itu diriwayatkan oleh lebih dari dua orang rawi, namun hadits itu tetap saja dipandang sebagai hadits yang diriwayatkan oleh dua orang rawi, dan karena itu termasuk hadits ‘aziz.
 

3. hadits gharib

Gharib, menurut bahasa berarti jauh, terpisah, atau menyendiri dari yang lain. hadits gharib menurut bahasa berarti hadits yang terpisah atau menyendiri dari yang lain. Para ulama memberikan batasan sebagai berikut: hadits gharib adalah hadits yang diriwayatkan oleh satu orang rawi (sendirian) pada tingkatan maupun dalam sanad.

Berdasarkan batasan tersebut, maka bila suatu hadits hanya diriwayatkan oleh seorang sahabat Nabi dan baru pada tingkatan berikutnya diriwayatkan oleh banyak rawi, hadits tersebut tetap dipandang sebagai hadits gharib.


Contoh hadits gharib itu antara lain adalah hadits berikut:

Yang artinya:

“ Dari Umar bin Khattab, katanya: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Amal itu hanya (dinilai) menurut niat, dan setiap orang hanya (memperoleh) apa yang diniatkannya.” (hadits Riwayat Bukhari, Muslim dan lain-lain) “

Kendati hadits ini diriwayatkan oleh banyak imam hadits, termasuk Bukhari dan Muslim, namun hadits tersebut pada tingkatan pertama hanya diriwayatkan oleh seorang sahabat Nabi, yaitu Umar bin Khattab, dan pada tingkatan kedua juga diriwayatkan oleh hanya satu orang tabi’in, yaitu ‘Alqamah.

Dengan demikian hadits itu dipandang sebagai hadits yang diriwayatkan oleh satu orang dan termasuk hadits gharib.
 

c. Kedudukan hadits Ahad

Bila hadits mutawatir dapat dipastikan sepenuhnya berasal dari Rasulullah SAW, maka tidak demikian hadits ahad. hadits ahad tidak pasti berasal dari Rasulullah SAW, tetapi diduga (zhanni dan mazhnun) berasal dari beliau. Dengan ungkapan lain dapat dikatakan bahwa hadits ahad mungkin benar berasal dari Rasulullah SAW, dan mungkin pula tidak benar berasal dari beliau.

Karena hadits ahad itu tidak pasti (hgairu qath’i atau ghairu maqthu’), tetapi diduga (zhanni atau mazhnun) berasal dari Rasulullah SAW, maka kedudukan hadits ahad, sebagai sumber ajaran Islam, berada dibawah kedudukan hadits mutawatir. Lain berarti bahwa bila suatu hadits, yang termasuk kelompok hadits ahad, bertentangan isinya dengan hadits mutawatir, maka hadits tersebut harus ditolak.


3. Perbedaan hadits Ahad dengan hadits Mutawatir

a. Dari segi jumlah rawi

hadits mutawatir diriwayatkan oleh para rawi yang jumlahnya begitu banyak pada setiap tingkatan, sehingga menurut adat kebiasaan, mustahil (tidak mungkin) mereka sepakat untuk berdusta. Sedangkan hadits ahad diriwayatkan oleh rawi atau dalam jumlah yang menurut adat kebiasaan masih memungkinkan dia atau mereka sepakat untuk berdusta.
 

b. Dari segi pengetahuan yang dihasilkan

hadits mutawatir menghasilkan ilmu qath’i (pengetahuan yang pasti) atau ilmu dharuri (pengetahuan yang mendesak untuk diyakini) bahwa hadits itu sungguh-sungguh dari Rasulullah, sehingga dapat dipastikan kebenarannya. Sedangkan hadits ahad menghasilkan ilmu zhanni (pengetahuan yang bersifat dugaan) bahwa hadits itu berasal dari Rasulullah SAW, sehingga kebenarannya masih berupa dugaan pula.
 

c. Dari segi kedudukan

hadits mutawatir sebagai sumber ajaran Islam memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari hadits ahad. Sedangkan kedudukan hadits ahad sebagai sumber ajaran Islam berada dibawah kedudukan hadits mutawatir.
 

d. Dari segi kebenaran keterangan matan

Dapat ditegaskan bahwa keterangan matan hadits mutawatir mustahil bertentangan dengan keterangan ayat dalam al-Qur’an. Sedangkan keterangan matan hadits ahad mungkin saja (tidak mustahil) bertentangan dengan keterangan ayat al-Qur’an.
 

B. Pembagian Hadits Berdasarkan Kualitas Sanad Dan Matannya (Aspek Kualitas hadits)

Kualitas hadits adalah taraf kepastian atau taraf dugaan tentang benar palsunya hadits itu berasal dari Rasulullah SAW. Penentuan kualitas hadits tergantung pada tiga hal yaitu: jumlah rawi, keadaan rawi, dan keadaan matan. Klasifikasi hadits ditinjau dari aspek kualitas hadits, terbagi kedalam tiga tingkatan:

1. hadits Sahih

2. hadits Hasan

3. hadits Dha’if ( Dibahas pada silabus selanjutnya )

Selanjutnya, berikut sedikit uraian bagian-bagian tersebut secara terperinci.
 

1.hadits Sahih

a. Definisi hadits sahih

Menurut bahasa, sahih berarti sehat, bersih dari cacat, sah, atau benar, sehingga hadits sahih menurut bahasa berarti hadits yang bersih dari cacat, atau hadits yang benar berasal dari Rasulullah SAW. Sedangkan batasan tentang hadits sahih yang diberikan oleh ulama yaitu: hadits sahih adalah hadits yang susunan lafazhnya tidak cacat dan maknanya tidak menyalahi ayat (al-Qur’an), hadits mutawatir, atau ijmak dan sanadnya bersambung serta para rawinya adil dan dhabith.

Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh hadits sahih adalah sebagai berikut:

1. Sambung sanadnya

Bahwa setiap perawi memang menerima hadits secara langsung dari perawi seatasnya sejak permulaan sanad sampai penghabisannya.

2. Perawinya harus adil

Setiap perawinya haruslah memiliki sifat sebagai orang Islam, baligh, berakal, tidak fasiq, dan tidak cacat muru’ahnya.


3. Perawinya harus cermat

Setiap perawi haruslah sempurna kecermatannya, baik dia cermat ingatannya atau cermat kitabnya.


4. Tidak syadz

Hadisnya tidaklah merupakan hadits yang syadz. Syadz artinya tidak cocoknya seorang perawi terpercaya terhadap seorang perawi yang lebih terpercaya darinya.


5. Tidak terkena

haditsnya tidak terkena sebab-sebab sulit dan tersembunyi yang dapat merusak kesahihan hadits, padahal kenyataan lahirnya adalah selamat darinya.

Dari kelima syarat itu, apabila salah satu syarat tidak terpenuhi atau rusak, maka hadits dalam keadaan demikian tidak dapat disebut sebagai hadits sahih

Contoh hadits sahih, yang artinya :

“Telah bercerita kepada kami Abdullah bin Yusuf, yang berkata telah mengkabarkan kepada kami Malik, dari Ibnu Syihab, dari Muhammad bin Jabir bin Muth’im, dari bapaknya, yang berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw membaca surat At-Thur di waktu shalat maghrib” (HR. Bukhari, No 731)

hadits ini dikatakan sahih karena:

  1. Sanadnya sambung, sebab perawinya mendengar langsung dari gurunya.

  2. Perawinya adil dan cermat, sebab disebutkan Abdullah bin Yusuf adalah seorang terpercaya dan cermat, Malik bin Anas adalah imam yang hafidz, Ibnu Syihab az-Zuhri adalah ahli fiqh hafidz, Muhammad bin Jubair adalah orang terpercaya, dan Jubair bin Muth’im adalah seorang sahabat.

  3. haditsnya tidaklah satu illat pun.

b. Pembagian hadits sahih

hadits sahih dapat dibagi kepada dua bagian yaitu:

  1. hadits sahih li dzatih

    • Adalah hadits yang memenuhi secara lengkap syarat-syarat hadits sahih.

  2. hadits sahih li ghairih

    • Adalah hadits dibawah tingkatan sahih yang menjadi hadits sahih karena diperkuat oleh hadits-hadits yang lain.

Selain perincian tersebut, ada pula penentuan urutan tingkatan hadits sahih, adalah hadits yang diriwayatkan oleh:

1. Bukhari dan Muslim

2. Bukhari sendiri

3. Muslim sendiri

4. Ulama yang memakai syarat-syarat yang dipakai oleh Bukhari dan Muslim.

5. Ulama yang memakai syarat-syarat yang dipakai oleh Bukhari sendiri.

6. Ulama yang memakai syarat-syarat yang dipakai oleh Muslim sendiri.

7. Ulama yang terpandang (mu’tabar)
 

c. Kedudukan hadits sahih

hadits sahih sebagai sumber ajaran Islam lebih tinggi kedudukannya dari hadits hasan dan dho’if, tetapi berada dibawah kedudukan hadits mutawatir.

Semua ulama sepakat menerima hadits sahih sebagai sumber ajaran Islam atau hujjah, dalam bidang hukum dan moral. Tetapi, sebagian ulama menolak kehujjahan hadits sahih dalam bidang aqidah, sebagian lagi dapat menerima, tetapi tidak mengkafirkan mereka yang menolak.


2. hadits Hasan

a. Definisi hadits hasan

hadits hasan, menurut bahasa berarti hadits yang baik. Para ulama menjelaskan bahwa hadits hasan tidak mengandung illat dan tidak mengandung kejanggalan. Kekurangan hadits hasan dari hadits sahih adalah pada keadaan rawi yang kurang dhabith, yakni kurang kuat hafalannya. Semua syarat hadits sahih dapat dipenuhi dhabithnya rawi (cermatnya rawi).

Contoh hadits hasan, yang artinya :

Dari Abdullah bin Umar r.a. dari Nabi Saw bersabda:

"Sesungguhnya Allah SWT akan menerima taubat seorang hamba selama nafasnya belum sampai di tenggorokan (sakratul maut)". (Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dan Tirmizi. Ia berkata: hadits ini hasan.)

hadits ini telah dikatakan oleh Turmudzi sendiri: “ hadits ini hasan ”
 

b. Pembagian hadits hasan

hadits hasan dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. hadits hasan li dzatih

    Adalah hadits yang keadaannya seperti tergambar dalam batasan hadits hasan di atas.

  2. hadits hasan li ghairih

Adalah hadits dibawah derajat hadits hasan yang naik ke tingkatan hadits hasan karena ada hadits lain yang mengikutinya.
 

c. Kedudukan hadits hasan
Para ulama sepakat memandang bahwa tingkatan hadits hasan berada sedikit dibawah tingkatan hadits sahih, tetapi mereka berbeda pendapat tentang kedudukannya sebagai sumber ajaran Islam atau sebagai hujjah. Masyarakat ulama memperlakukan hadits hasan seperti hadits sahih. Mereka menerima hadits hasan sebagai hujjah atau sumber ajaran Islam, baik dalam bidang hukum, moral, maupun aqidah. Tetapi sebagian ulama menolak hadits hasan sebagai hujjah dalam bidang hukum apalagi dalam bidang aqidah.

Oleh : Rudi Alfarisi | rud1.cybermq.com