11 Muharram 1444  |  Selasa 09 Agustus 2022

basmalah.png

Madzhab Maliki Berkembang di Afrika Utara

Madzhab Maliki Berkembang di Afrika Utara

Fiqhislam.com - Madzhab Maliki berkembang di Afrika Utara dan dianut mayoritas muslim di kawasan itu. Berikut faktor yang membuat negara-negara di Afrika Utara menganut Madzhab Maliki.

Madzhab Maliki sendiri berawal dari kawasan Hijaz (kini bagian dari Arab Saudi) terutama di Madinah didirikan oleh Imam Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amirul Ashbani (93-179 H).

Madzhab ini berkembang di Afrika Utara seperti Maroko, Libya, Tunisia, Aljazair, sebagian Mesir, bahkan hingga ke Eropa seperti Sisilia di Italia dan Andalusia di Spanyol.

Maliki merupakan Madzhab kedua yang masyhur setelah Madzhab Hanafi. Dalam Islam, sebenarnya terdapat 13 Madzhab besar. Namun, yang populer ada 4 Madzhab yaitu Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hanbali. Demikian kata Pengasuh Rumah Fiqih Indonesia, Ustaz Ahmad Sarwat dalam satu catatannya.

Secara umum, Madzhab artinya jalan untuk memahami kitab Allah dan Sunnah Rasulullah. Untuk menerapkan ilmu syariat dan fiqih, seorang muslim harus merujuk kepada empat imam Madzhab.

Adapun Madzhab Hanafi dianut oleh umat Islam di Pakistan, India, China, Turki dan sekitarnya. Madzhab Maliki digunakan muslim di Afrika Utara khususnya seperti Libia, Tunisia, Aljazair, Maroko, Spanyol.

Sedangkan Madzhab Syafi'i mayoritas dianut mayoritas muslim di Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, dan sekitarnya. Madzab Hambali dipakai umat Islam di Saudi Arabia dan menjadi Madzhab resminya.

Sebenarnya perkembangan Madzhab sejak dulu cukup dinamis. Datang dan pergi silih berganti seiring dengan perkembangan zaman.

Menurut Ustaz Ahmad Sarwat dalam bukunya "Pasang Surut Madzhab di Tanah Haram" menceritakan awalnya yang eksis di Madinah, Mekkah dan sekitarnya adalah Madzhab Maliki.

Hal ini karena Imam Malik rahimahullah (wafat 179 H) memang berdomisili di Madinah. Beliau ulama paling senior di seantero tanah Arabia. Murid langsung dari Imam Nafi' yang merupakan murid langsung dari Abdullah bin Umar.

Bahkan pada masa itu, Imam Asy-Syafi'i yang masih kecil pun berguru kepada Imam Malik, sampai akhir hayatnya. Boleh dibilang bahwa tanah Arab di masa itu didominasi oleh Madzhab Maliki.

Partnernya jauh di seberang, yaitu di negeri Irak. Ulama besarnya adalah Imam Abu Hanifah. Beliau sebenarnya juga murid atau cucu murid dari para sahabat Nabi juga. Ada tidak kurang dari 1.500 orang shahabat yang pindah dari Madinah ke Kufah di zaman pemerintahan Ali bin Abi Thalib.

Untuk diketahui, populasi Muslim di Aljazair mencapai 99 persen dari total penduduk 35 juta jiwa. Mereka umumnya berMadzhab Maliki. Sedangkan di Maghrib (Maroko), Islam adalah agama terbesar di Maroko, dengan persentase sekitar 98,7% dari populasi penduduk negara itu. Boleh dibilang semua berMadzhab Maliki. Tunisia 98 persen penduduknya beragama Islam dan Madzhab Maliki.

Madzhab Maliki Mayoritas di Afrika Utara

Dalam Buku "Hukum Islam" karya M Hasbi Ash-Shiddieqy disebutkan, salah satu faktor yang mendukung perkembangan Madzhab Maliki di Afrika adalah kepemimpinan Al-Mu'izz ibn Badis di Ifriqiya (sekarang bagian dari Tunisia). Al-Mu'izz memerintahkan rakyatnya untuk menganut Madzhab Maliki.

Sementara itu pula banyak murid-murid Imam Malik yang berasal dari Mesir kembali ke negerinya dan menyebarkan Madzhab Maliki. Tokoh-tokoh yang berkontribusi menyebarkan Madzhab Maliki di Mesir antara lain, 'Utsman ibn Al-Hakam, 'Abdur Rahman ibn Al-Qasim, Asjhab ibn 'Abdil Hakam dan Ibn Wahab.

Banyak murid-murid Imam Malik yang rela datang dari negeri-negeri lain demi menuntut ilmu langsung darinya. Murid-murid Imam Malik itu dua di antaranya adalah Abu Muhammad 'Abdullah Ibn 'Abdul Hakam dan Asbagh Ibnul Faradj Al-Amawy berasal dari Mesir.

Selain dari Mesir, Imam Malik juga memiliki murid dari Andalusia (sekarang bagian dari Spanyol), yakni Abu 'Abdillah Zijâd Ibn 'Abdur Rahman Al-Qurthuby atau yang dikenal juga dengan nama Sjabthun.

Selain murid Imam Malik dari Andalusia, Madzhab Maliki berkembang di sana disebabkan oleh beberapa faktor lain. Faktor- faktor tersebut di antaranya:
1. Pemimpin Andalusia saat itu, Hisyam ibn Abdur Rahman memerintahkan rakyatnya untuk menganut Madzhab Maliki.
2. Para hakim (Qadi) di masa kepemimpinan Al-Hakam ibn Hisjâm diharuskan berMadzhab Maliki.
3. Adanya kesamaan karakter sosial-budaya antara Madinah dengan Andalusia kala itu.

Untuk diketahui, Imam Malik memiliki metodologi berbeda dibanding imam Madzhab yang lain. Perbedaan itu di antaranya, (1) Imam Malik menjadikan amal ahli Madinah (hujjah) lebih dahulu dari qiyas. (2) Imam Malik menjadikan mashlahat mursalah sebagai salah satu penetapan hukum. (3) Imam Malik terkadang memposisikan atsar di atas qiyas. (4) Imam Malik tidak mensyaratkan kamahsyuran hadis dalam urusan perkara umum.

Imam Malik juga menggunakan hadis mursal. Beliau juga mensyaratkan penerimaan hadis ahad, selama hadis itu tidak menyalahi amal ahli Madinah. Imam Malik juga menetapkan hukum dengan istihsan, tetapi tidak sebanyak penggunaannya pada para fuqaha Madzhab Hanafi.

Perbedaan yang paling mencolok dari Madzhab Maliki ialah beliau berpegang pada riwayat ahli Hijaz dalam hal perawi Hadis. Demikian sekilas tentang Madzhab Maliki dan perkembangannya di Afrika Utara. [yy/Rusman H Siregar/sindonews]