21 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 31 Juli 2021

basmalah.png

Penyebab Hadits Palsu: Dari Syiah Rafidhah Hingga Fanatisme

Penyebab Hadits Palsu: Dari Syiah Rafidhah Hingga Fanatisme

Fiqhislam.com - Setelah Rasulullah SAW wafat menjadi awal munculnya pemalsuan hadits baik secara qauliyah (perkataan) dan amaliyah (perbuatan). Pemalsuan itu awalnya muncul dari perselisihan politik yang terjadi pada masa tabiin.

Syekh Manna Al-Qaththan dalam kitabnya Tarikh Tasyri (Sejarah Legislasi Hukum Islam) mengatakan, para ulama telah menyebutkan  indikasi pertama mengenai pemalsuan ini berasal dari kaum Syiah. Pemalsuan ini sama sekali belum pernah terjadi pada masa Rasulullah SAW dan juga tidak pernah terucap dari lisan seorang sahabat.

"Sebab kita percaya kepada mereka," kata dia.

Adapun perbedaan yang terjadi di antara mereka kata dia semata hanya merupakan perkara ijtihad dalam agama yang mana setiap dari mereka menginginkan kebenaran dan mengajak kepadanya. Syekh manna mencatat sedikitnya ada empat faktor penting awal munculnya pemalsuan terhadap hadits.

Pertama perselisihan politik. Masalah ini kata Syekh Manna merupakan penyebab dasar terjadinya pendustaan atas Rasulullah SAW. Imam Malik pernah ditanya mengenai "Rafidhah" beliau pun menjawab, "Jangan berbicara dengan mereka dan jangan meriwayatkan dari mereka mereka adalah pendusta."

Syarik bin Abdillah Al-Qadhi mengatakan ia terkenal sebagai seorang Syiah yang moderat dalam ajarannya berkata. "Aku memikul ilmu dari siapa saja yang aku temui, kecuali Rafidhah, karena mereka telah memalsukan hadits dan menjadikannya yaitu kedustaan sebagai sebuah agama." Dengan ini Rafidhah merupakan kelompok yang paling banyak berdusta."

Ibnu Taimiyah telah menjelaskan hal ini dalam kitabnya Minhaj As-Sunnah. Diantara contoh pemalsuan hadits di kalangan kaum Rafidhah adalah.  "Barangsiapa yang ingin melihat keilmuan Nabi Adam, ketakwaan Nabi Nuh, kesabaran Nabi Ibrahim, kemuliaan Nabi Musa dan ibadah Nabi Isa, maka lihatlah pada Ali."

"Aku adalah timbangan ilmu, Ali adalah kedua neracanya, Al-Hasan dan Al-Husain adalah benang-benangnya, Fatimah pengikatnya, dan para imam dari kita adalah pilar-pilar yang ditimbang di dalamnya perbuatan-perbuatan orang yang mencintai kita dan yang membenci kita."

"Kecintaan terhadap Ali merupakan kebaikan yang dengannya tidak akan berbahaya sebuah dosa. Dan membencinya merupakan dosa yang dengannya tidak akan bermanfaat sebuah kebaikan." Menurut Ibnu Taimiyah riwayat-riwayat di atas dan semisalnya tercium dari aroma kedustaan dengan gambaran yang jelas. 

Kedua Atheisme (Zindik). Abdul Karim Bin Abu Al-Auja merupakan di antara orang-orang zindik sang pemalsu hadits yang paling terkenal. Abdul Karim dibunuh oleh Muhammad bin Sulaiman bin Ali, penguasa Basrah. Ketika hendak dibunuh ia mengaku telah memalsukan ratusan hadits. 

Begitu juga Bayan bin Sam'an yang dibunuh oleh Khalid Bin Abdillah Al-Qasri begitu juga Muhammad bin Said Al-Mashlub yang telah dibunuh oleh Abu Jafar al mansur. Mereka kata Syekh Manna jiwanya merasa keberatan untuk menganggap akidah Islam sebagai sumber yang jernih untuk ditaati, disebabkan karena kedengkian yang terpendam atau kebencian atas Islam beserta pemeluknya. 

Mereka pun mulai bergerak untuk membalas dendam atas agama ini beserta para pemeluknya dengan merusak akidah akidah Islam, menodai berbagai kebaikannya, dan memecah belah barisan pengikut serta pasukannya.  Menurut mereka menginjak-injak as-sunnah merupakan medan yang paling luas untuk merusak agama Islam, sehingga mereka pun menciptakan beberapa hadits yang bertujuan untuk menghina dan mengolok-olok.

hadits yang dipalsukan oleh mereka seperti "Allah menciptakan malaikat dari bulu kedua lengan-Nya dan dada-Nya." "Sesungguhnya Allah ketika menciptakan huruf-huruf ba bersujud dan huruf alif berdiri."

Ketiga fanatisme terhadap ras, pemimpin, atau negeri. Syekh Manna mengatakan, para Syu'ubiyyun (orang yang mengingkari keunggulan orang Arab atas keturunan selainnya dan merendahkan mereka) telah membuat sebuah hadits berbunyi."Sesungguhnya jika Allah marah, Dia menurunkan wahyu dengan bahasa Arab, dan jika Dia ridho, Dia menurunkan wahyu dengan bahasa Persia." 

Menurut Syekh Manna orang-orang Arab yang bodoh pun membalas perkataan tersebut dengan yang setimpal dan mengatakan "Sesungguhnya jika Allah marah, Dia menurunkan wahyu dengan bahasa Persia dan jika dia Ridho, Dia menurunkan wahyu dengan bahasa Arab."  Orang-orang yang fanatik terhadap Abu Hanifah telah memalsukan hadits yang berbunyi. "Akan datang seorang dari umatku yang bernama Abu Hanifah an Nu'man, ia adalah pelita umatku". 

Adapun orang-orang yang mendiskriminasikan Imam Asy-Syafi'i membuat hadits "akan datang seorang dari umatku yang bernama Muhammad bin Idris, ia lebih berbahaya bagi umatku daripada iblis."

Begitu pula kata Syekh Manna hadits-hadits lainnya yang mereka palsukan tentang keutamaan sebagai negeri dan kabilah. 

Keempat menganggap remeh perkara mengenai keutamaan-keutamaan amal motivasi serta ancaman. Mereka ini memberanikan diri untuk menasehati orang lain, menempuh jalan dengan menciptakan cerita-cerita palsu agar dapat memengaruhi perasaan mereka dan memperoleh kekaguman dari mereka. Kemudian mereka menyandarkan cerita-cerita tersebut kepada Rasulullah SAW.

Di antara contoh dari cerita tersebut adalah, "Barangsiapa yang mengatakan tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah, Allah akan menciptakan dari setiap kalimat seekor burung yang paruhnya dari emas, dan bulunya dari marjan." 

Hal seperti ini kata Syekh Manna banyak terdapat dalam kitab-kitab seputar akhlak dan tasawuf. Ibnu qutaibah telah menyebutkan hal ini ketika membahas beberapa aspek yang merupakan jalur rusaknya hadits Nabi SAW yang mengatakan. "Aspek kedua: Para pendongeng, mereka mengarahkan pandangan orang awam kepada mereka, kemudian mereka menyerukan kepada yang mereka miliki dengan hadits-hadits munkar dan palsu. Dan menjadi hal biasa bahwa orang-orang awam akan duduk dan mendengarkan tukang cerita jika ucapannya menakjubkan, melampaui pandangan akal, atau ucapan yang lembut yang membuat hati sedih. 

Jika ia menyebutkan surga ia mengatakan di dalamnya terdapat bidadari-bidadari dari minyak kasturi atau jafaron, pinggulnya berlenggak-lenggok. Allah menyiapkan untuk suami mereka istana dari mutiara putih, di dalamnya ada 1000 ruangan di setiap ruangan terdapat 70.000 kubah dan akan selalu berjumlah 70, tidak ada akan berkurang.

Imam As-Asy-Suyuthi memiliki kitab Tahdzir Al-Khawash min Akadzib Al-Qushshash yang ditahqiq oleh Syekh Muhammad Ash-Shabbagh, dan dicetak oleh Al-Maktab Al-Islamy. 

Syekh Manna mengatakan, pemalsuan seperti ini banyak terdapat pada hadits-hadits tentang keutamaan surat-surat dalam Alquran. Nuh bin Abu Maryam mengakui bahwa ia pernah memalsukan dalam hal ini, dan ia beralasan bahwa Ia melakukan hal tersebut karena ia melihat orang-orang telah berpaling dari Alquran dan menyibukkan diri mereka dengan fiqih Abu Hanifah, serta cerita peperangan Muhammad bin Ishaq. [yy/republika]