3 Rabiul-Awwal 1444  |  Kamis 29 September 2022

basmalah.png

Legenda Kitab Riyadhush Shalihin Karya Imam An-Nawawi

Legenda Kitab Riyadhush Shalihin Karya Imam An-Nawawi

Fiqhislam.com - Kitab Riyadhush Shalihin, atau lengkapnya Riyadhush Shalihin min Kalaami Sayyidil Mursalin merupakan salah satu karya terbaik (masterpiece) Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi atau lebih dikenal dengan sapaan Imam an-Nawawi. Kitab ini merupakan karya besar di bidang hadis yang sangat populer di kalangan kaum Muslimin. Ini merupakan kita hadis terlengkap, dan masyhur hingga ke berbagai penjuru dunia.

Mayoritas kaum Muslimin di berbagai belahan dunia menyambut kehadiran Riyadhush Shalihin dengan menerima dan menyongsongnya. Sehingga kitab ini menjadi guru bagi para guru dalam mendidik dan memperbaiki umat. Sampai-sampai dikatakan, "Sedikit sekali rumah kaum Muslimin yang tidak memilikinya."

Dalam kitab ini, Imam an-Nawawi menyusun hadis-hadis dengan tertib dan mengklasikasikannya secara baik, memberikan harakat pada kata yang samar, dan menjelaskan secara gamblang kata-kata yang tidak dimengerti, sehingga kitab ini menjadi karya yang indah, yang kokoh peletakannya, menjadi kuat sayapnya, telah didudukkan intisarinya, mudah digapai makna bahasanya, dan banyak dikutip kandungan ilmunya.

Riyadhush Shalihin terdiri dari satu jilid. Imam an-Nawawi membaginya menjadi beberapa kitab dan menjadikan setiap kitab sebagai judul untuk beberapa hadis yang tercakup di beberapa bab yang berasal dari satu jenis. Kemudian ia menjadikan kitab itu beberapa judul. Imam an-Nawawi menjadikan bab sebagai judul untuk sejumlah hadis yang menunjukkan pada masalah tertentu.

Di dalam kitab ini terdapat sembilan belas kitab yang disebutnya secara keseluruhan, selain kitab yang pertama, dan tiga ratus tujuh puluh dua bab. Imam an-Nawawi memulai pembukaan bab-bab dalam Riyadhush Shalihin dengan ayat-ayat al-Qur'an yang sesuai dengan tema bab. Yang demikian itu, karena Sunnah merupakan perinci bagi al-Qur'an yang mulia, sekaligus sebagai penjelas dan keterangan baginya.

Kitab ini, diakui sangat besar manfaatnya bagi kaum Muslimin, khususnya bagi mereka yang istiqamah berupaya mencapai kesempurnaan 'ubudiyyah (penghambaan diri kepada Allah). Membaca kitab yang ditulis oleh ulama besar di bidang hadis dan fiqih ini, kaum Muslimin dapat mengambil manfaat melalui risalah tentang berbagai persoalan mendasar yang tercakup di dalam hadis-hadis tentang zuhud, olah jiwa, pembentukan akhlak, penyucian dan penyembuhan hati, pemeliharaan anggota tubuh, dan berbagai upaya pemberantasan penyelewengan, serta tujuan-tujuan mulia lainnya. Lebih jauh lagi, kitab ini memaparkan hadis-hadis fadhilah (keutamaan) waktu dan amal perbuatan, etika secara lahir dan batin, mencakup hukum halal dan haram, pemaduan kabar gembira dan ancaman, serta adab para saalikiin, yaitu orang-orang yang senantiasa menuju keredhaan Allah SWT.

Para ulama dan penuntut ilmu telah mengambil bagian dari kitab ini dengan mempelajari dan mengajarkannya. Banyak ulama yang telah berperan mengupayakan perbaikan, telah ikut memberikan dukungannya, demikian pula kendaraan-kendaraan mereka yang menginginkan kemenangan, bergegas dan bersungguh-sungguh mendatanginya; mereka mendatangi sumbernya yang jernih, menghirup harumnya yang semerbak.

Di antara mereka ada yang meringkas dan membersihkannya dari hal-hal yang dirasa kurang penting, ada pula yang meneliti dan mendekatkannya agar mudah dipahami, serta ada pula yang menjelaskannya secara rinci. Ada empat syarah (ringkasan) kitab Riyadhush Shalihin yang sudah terbit sebelumnya. Yakni, Daliilul Faalihiin li Thuruqi Riyaadhish Shaalihiin karya Muhammad bin 'Allan ash-Shiddiqi asy-Syafi'i al-Asya'ari al-Makki (wafat 1057 H), dan Nuzhatul Muttaqiin Syarh Riyaadhish Shaalihiin karya Mushthafa Sa'id al-Khan, Mushtafa al-Bugha, Muhyiddin Mustu, 'Ali asy-Syarbaji dan Muhammad Amin Luthfi. Juga, Manhalul Waaridiin Syarh Riyaadhush Shaalihiin karya Shubhi ash-Shalih, dan Daliilur Raaghibiin ilaa Riyaadhush Shaalihiin karya Faruq Hamadah. Semua kitab tersebut merupakan syarah kontemporer.

Yang terbaru adalah Bahjatun Naazhiriin fii Syarhi Riyaadhush Shaalihiin yang ditulis dengan cermat oleh Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali. Kitab inilah yang diindonesiakan dan diterbitkan oleh Pustaka Imam asy-Syafi'i dengan judul Syarah Riyadhush Shalihin. Buku yang penerjemahan ke dalam bahasan Indonesia dan penerbitannya oleh Pustaka Imam Asy-Syafi'i mendapatkan izin resmi dari Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali ini diterbitkan dalam lima jilid.

Penulis menjelaskan bahwa penulisan syarah kitab Riyadhush Shalihin merupakan upaya perbaikan terhadap karya besar Imam an-Nawawi tersebut. Sebagai upaya memperbaiki kitab tersebut, penulis telah berusaha dengan seksama untuk mengkritisi beberapa dalil atau hadis yang lemah seraya memberikan penjelasan yang cukup memadai.

Apa yang dilakukan penulis ini sesuai dengan harapan Imam an-Nawawi sebagai tersebut dalam pendahuluannya yang berkata, "Saya mengharuskan pada kitab ini (Riyadhush Shalihin) untuk tidak menyebutkan, melainkan hanya hadis shahih saja, yang disandarkan pada kitab-kitab shahih yang terkenal."

Ada hal lain, tegas Syaikh Salim, yakni bahwa memahami dan mendalami Alquran dan Sunah Rasul, serta menyesuaikannya dengan pemahaman kaum Salaf, merupakan bentuk ketaatan yang paling utama dan ibadah yang sangat penting, bahkan merupakan nikmat yang sangat agung.

Syaikh Salim menambahkan, ia terdorong menerbitkan kitab syarah ini karena kitab Riyadhush Shalihin sangat layak dibaca oleh kaum Muslimin. Dengan adanya syarah tersebut, diharapkan kaum Muslimin memahami dan mendapat manfaat dari isi kandungan hadis-hadis tersebut dengan jelas dan benar, khususnya yang menghendaki kesempurnaan 'ubudiyyah dan yang membutuhkan jalan menuju kebaikan serta terhindar dari segala keburukan dan kebinasaan di dunia dan akhirat.

Riyadhush Shalihin merupakan kitab yang sangat monumental. Kitab ini akan sangat berguna bagi kaum Muslimin bila mereka berupaya bersungguh-sungguh dalam menelaah hadis-hadisnya, memahami kandungan isinya dan menghayati ajarannya, serta merealisasikannya dalam kehidupan nyata.

 

Legenda Kitab Riyadhush Shalihin Karya Imam An-Nawawi

Fiqhislam.com - Kitab Riyadhush Shalihin, atau lengkapnya Riyadhush Shalihin min Kalaami Sayyidil Mursalin merupakan salah satu karya terbaik (masterpiece) Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi atau lebih dikenal dengan sapaan Imam an-Nawawi. Kitab ini merupakan karya besar di bidang hadis yang sangat populer di kalangan kaum Muslimin. Ini merupakan kita hadis terlengkap, dan masyhur hingga ke berbagai penjuru dunia.

Mayoritas kaum Muslimin di berbagai belahan dunia menyambut kehadiran Riyadhush Shalihin dengan menerima dan menyongsongnya. Sehingga kitab ini menjadi guru bagi para guru dalam mendidik dan memperbaiki umat. Sampai-sampai dikatakan, "Sedikit sekali rumah kaum Muslimin yang tidak memilikinya."

Dalam kitab ini, Imam an-Nawawi menyusun hadis-hadis dengan tertib dan mengklasikasikannya secara baik, memberikan harakat pada kata yang samar, dan menjelaskan secara gamblang kata-kata yang tidak dimengerti, sehingga kitab ini menjadi karya yang indah, yang kokoh peletakannya, menjadi kuat sayapnya, telah didudukkan intisarinya, mudah digapai makna bahasanya, dan banyak dikutip kandungan ilmunya.

Riyadhush Shalihin terdiri dari satu jilid. Imam an-Nawawi membaginya menjadi beberapa kitab dan menjadikan setiap kitab sebagai judul untuk beberapa hadis yang tercakup di beberapa bab yang berasal dari satu jenis. Kemudian ia menjadikan kitab itu beberapa judul. Imam an-Nawawi menjadikan bab sebagai judul untuk sejumlah hadis yang menunjukkan pada masalah tertentu.

Di dalam kitab ini terdapat sembilan belas kitab yang disebutnya secara keseluruhan, selain kitab yang pertama, dan tiga ratus tujuh puluh dua bab. Imam an-Nawawi memulai pembukaan bab-bab dalam Riyadhush Shalihin dengan ayat-ayat al-Qur'an yang sesuai dengan tema bab. Yang demikian itu, karena Sunnah merupakan perinci bagi al-Qur'an yang mulia, sekaligus sebagai penjelas dan keterangan baginya.

Kitab ini, diakui sangat besar manfaatnya bagi kaum Muslimin, khususnya bagi mereka yang istiqamah berupaya mencapai kesempurnaan 'ubudiyyah (penghambaan diri kepada Allah). Membaca kitab yang ditulis oleh ulama besar di bidang hadis dan fiqih ini, kaum Muslimin dapat mengambil manfaat melalui risalah tentang berbagai persoalan mendasar yang tercakup di dalam hadis-hadis tentang zuhud, olah jiwa, pembentukan akhlak, penyucian dan penyembuhan hati, pemeliharaan anggota tubuh, dan berbagai upaya pemberantasan penyelewengan, serta tujuan-tujuan mulia lainnya. Lebih jauh lagi, kitab ini memaparkan hadis-hadis fadhilah (keutamaan) waktu dan amal perbuatan, etika secara lahir dan batin, mencakup hukum halal dan haram, pemaduan kabar gembira dan ancaman, serta adab para saalikiin, yaitu orang-orang yang senantiasa menuju keredhaan Allah SWT.

Para ulama dan penuntut ilmu telah mengambil bagian dari kitab ini dengan mempelajari dan mengajarkannya. Banyak ulama yang telah berperan mengupayakan perbaikan, telah ikut memberikan dukungannya, demikian pula kendaraan-kendaraan mereka yang menginginkan kemenangan, bergegas dan bersungguh-sungguh mendatanginya; mereka mendatangi sumbernya yang jernih, menghirup harumnya yang semerbak.

Di antara mereka ada yang meringkas dan membersihkannya dari hal-hal yang dirasa kurang penting, ada pula yang meneliti dan mendekatkannya agar mudah dipahami, serta ada pula yang menjelaskannya secara rinci. Ada empat syarah (ringkasan) kitab Riyadhush Shalihin yang sudah terbit sebelumnya. Yakni, Daliilul Faalihiin li Thuruqi Riyaadhish Shaalihiin karya Muhammad bin 'Allan ash-Shiddiqi asy-Syafi'i al-Asya'ari al-Makki (wafat 1057 H), dan Nuzhatul Muttaqiin Syarh Riyaadhish Shaalihiin karya Mushthafa Sa'id al-Khan, Mushtafa al-Bugha, Muhyiddin Mustu, 'Ali asy-Syarbaji dan Muhammad Amin Luthfi. Juga, Manhalul Waaridiin Syarh Riyaadhush Shaalihiin karya Shubhi ash-Shalih, dan Daliilur Raaghibiin ilaa Riyaadhush Shaalihiin karya Faruq Hamadah. Semua kitab tersebut merupakan syarah kontemporer.

Yang terbaru adalah Bahjatun Naazhiriin fii Syarhi Riyaadhush Shaalihiin yang ditulis dengan cermat oleh Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali. Kitab inilah yang diindonesiakan dan diterbitkan oleh Pustaka Imam asy-Syafi'i dengan judul Syarah Riyadhush Shalihin. Buku yang penerjemahan ke dalam bahasan Indonesia dan penerbitannya oleh Pustaka Imam Asy-Syafi'i mendapatkan izin resmi dari Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali ini diterbitkan dalam lima jilid.

Penulis menjelaskan bahwa penulisan syarah kitab Riyadhush Shalihin merupakan upaya perbaikan terhadap karya besar Imam an-Nawawi tersebut. Sebagai upaya memperbaiki kitab tersebut, penulis telah berusaha dengan seksama untuk mengkritisi beberapa dalil atau hadis yang lemah seraya memberikan penjelasan yang cukup memadai.

Apa yang dilakukan penulis ini sesuai dengan harapan Imam an-Nawawi sebagai tersebut dalam pendahuluannya yang berkata, "Saya mengharuskan pada kitab ini (Riyadhush Shalihin) untuk tidak menyebutkan, melainkan hanya hadis shahih saja, yang disandarkan pada kitab-kitab shahih yang terkenal."

Ada hal lain, tegas Syaikh Salim, yakni bahwa memahami dan mendalami Alquran dan Sunah Rasul, serta menyesuaikannya dengan pemahaman kaum Salaf, merupakan bentuk ketaatan yang paling utama dan ibadah yang sangat penting, bahkan merupakan nikmat yang sangat agung.

Syaikh Salim menambahkan, ia terdorong menerbitkan kitab syarah ini karena kitab Riyadhush Shalihin sangat layak dibaca oleh kaum Muslimin. Dengan adanya syarah tersebut, diharapkan kaum Muslimin memahami dan mendapat manfaat dari isi kandungan hadis-hadis tersebut dengan jelas dan benar, khususnya yang menghendaki kesempurnaan 'ubudiyyah dan yang membutuhkan jalan menuju kebaikan serta terhindar dari segala keburukan dan kebinasaan di dunia dan akhirat.

Riyadhush Shalihin merupakan kitab yang sangat monumental. Kitab ini akan sangat berguna bagi kaum Muslimin bila mereka berupaya bersungguh-sungguh dalam menelaah hadis-hadisnya, memahami kandungan isinya dan menghayati ajarannya, serta merealisasikannya dalam kehidupan nyata.

 

Imam dalam Kezuhudan, Teladan dalam Ketaatan

Imam dalam Kezuhudan, Teladan dalam Ketaatan


Fiqhislam.com - Nama lengkap Imam an-Nawawi adalah Yahya bin Syaraf bin Murry bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jum'ah bin Hizam. Ia disebut juga sebagai Abu Zakariya, walaupun ia tidak mempunyai anak yang bernama Zakaria, karena ia belum sempat menikah selama hidupnya. Ia juga mendapatkan gelar "Muhyiddin" (orang yang menghidupkan agama), padahal ia tidak menyukai gelar tersebut.

Ia lahir di Nawa, sebuah daerah di bumi Hauran, bagian dari wilayah Damaskus, pada bulan Muharram 631 H, dan wafat serta dimakamkam di kampung halamannya, 24 Rajab 676 H. Sejak kecil ia biasa dipanggil an-Nawawi (dinisbahkan pada "Nawa"), dengan bermazhabkan Imam asy-Syafi'i. Ia bermukim di Damaskus selama 26 tahun, lalu bertolak ke Baitul Maqdis, kemudian kembali lagi ke kampung halamannya.

Sang Imam diasuh dan dididik oleh ayahnya dengan gigih. Ayah mendorong an-Nawawi untuk menuntut ilmu sejak kecil, sehingga ia berhasil mengkhatamkan Alquran ketika mendekati usia baligh. Ia berhasil menghapal kitab at-Tanbiih fii Furuu'isy-Syaafi'iyah, karya Abu Ishaq asy-Syairazi dalam waktu kurang lebih empat setengah bulan. Ia juga berhasil menghapal seperempat kitab al-Muhadzdzab fil Furuu' pada tahun yang sama.

Setiap hari, Imam an-Nawawi membaca dua belas pelajaran dalam bentuk syarah dan komentar. Dua pelajaran dalam kitab al-Wasith, dan masing-masing satu pelajaran dalam kitab al-Muhadzdzab, al-Jam'u baina ash-Shahihain, Shahih Muslim, al-Luma (karya Ibnu Jinni), kitab Ishlaahul Manthiq, Tashriif, Ushuulul Fiqh, Asmaa'ar-Rijaal, dan Ushuuluddiin.

Para ulama yang menulis tentang biografinya telah bersepakat bahwa Imam an-Nawawi sebagai imam dalam kezuhudan, teladan dalam hal ketaatan, dan panutan dalam menegakkan amar ma'ruf dan nahi munkar, serta dalam memberikan nasihat kepada para penguasa.

Semasa hidupnya, ia sibuk mengajar di madrasah Iqbaaliyah war Rukniyyah, milik pengikut madzhab asy-Syafi'i. Ia lalu memegang kepemimpinan para syekh Daarul Hadits al-Asyrafiyyah, hingga akhir hayatnya.

Imam an-Nawawi adalah seorang ulama yang produktif menulis. Ia telah menghasilkan banyak karya tulis dalam berbagai bidang ilmu. Karyanya dalam bidang ilmu hadits adalah: Syarhu Shahiih Muslim, al-Adzkaar, al-Arba'uun an-Nawawiyah, al-Isyaaraat ilaa Bayaanil Asmaa' al-Mubhamaat, at-Taqriib, Irsyaadu Thullaabil Haqaa-iq ilaa Ma'rifati Sunani Khairil Khalaa-iq, Syarhu Shahiih al-Bukhari, Syarhu Sunan Abi Dawud, dan Riyaadhush Shaalihiin min Kalaami Sayyidil Mursaliin.

Adapun karyanya dalam bidang fiqih adalah: Raudhatuth Thaalibiin wa 'Umdatul Muftiin dan al-Majmuu' Syarh al-Muhadzdzab. Karya-karya Imam an-Nawawi mempunyai keunggulan, yaitu sangat jelas, menggunakan ungkapan yang mudah dipahami, dan diwarnai dengan kata-kata yang indah. [yy/republika]