fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


30 Ramadhan 1442  |  Rabu 12 Mei 2021

Akhir Perjalanan dan Wasiat Pamungkas Imam Bukhari

Akhir Perjalanan dan Wasiat Pamungkas Imam Bukhari Fiqhislam.com - Imam Bukhari wafat pada  30 Ramadhan 256 H,  dalam perjalanan menuju Samarkand, Uzbekistan. Saat ajal menjemput, ia jatuh sakit dan menghentikan sementara perjalan di Khartand, sebuah wilayah yang berjarak 10 kilometer dari tempat tujuan.

Menurut Ensiklopedi Tokoh Islam, perjalanan Bukhari ke Samarkand berawal dari sepucuk surat warga Samarkand yang dikirim kepada dirinya. Surat itu berisi permintaan kesediaan dirinya untuk menetap di Samarkand. Ia pun memenuhi permintaan itu dan menempuh perjalanan ke Samarkand.

Namun akhirnya perjalanan Bukhari ke Samarkand tak tuntas. Sakit yang menyerangnya membuat ia harus singgah di Khartand hingga menghembuskan nafas terakhir. Bahkan ia sempat berwasiat kepada warga Khartand.

Saat sebelum wafat, Bukhari ingin agar warga di tempat yang ia singgahi, mengafaninya dengan tiga helai kain. Tanpa baju dalam dan tidak bersorban. Pesan itu pun ditunaikan dengan baik oleh warga setempat dan ia dimakamkan di sana dalam usia 62 tahun kurang 13 hari.



Bukhari yang sangat terkenal di kalangan ahli hadis, terlahir dengan nama Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al Mughirah bin Bardizbah al Bukhari. Namun, ia lebih dikenal dengan Bukhari, hampir identik dengan nama tempat kelahirannya Bukhara pada 13 Syawal 194 H.

Bukhari memang mendapatkan anugerah besar dari Allah SWT. Ia memiliki kecerdasan otak dan ketajaman pemikiran. Bahkan sejak kecil, kecerdasan yang ia miliki telah begitu terlihat. Saat usia 10 tahun, ia telah mampu menghafal hadits dalam jumlah banyak.

Bukhari kerap mendatangi ad-Dakhili, seorang ulama terkenal di tempat ia tinggal. Saat berusia 16 tahun, ia berkelana dengan ibunya mengunjungi sejumlah ulama ternama untuk menimba ilmu. Ia juga telah mampu menghafal hadits dalam kitab yang ditulis Ibnu Mubarak dan Waki al Jarrah.

Pada 210 H, Bukhari bersama ibu dan saudaranya, Ahmad menuju ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Usai menjalani rukun Islam kelima ini, ia memutuskan untuk tinggal di Tanah Suci. Ia pun menyempatkan pula berkunjung ke Madinah.

Di kedua kota tersebut Bukhari memulai menyusun dasar-dasar kitab Al Jami Al Shahih atau yang lebih dikenal dengan nama Shahih al-Bukhari. Ini merupakan karya besarnya yang disusun setelah ia menemui sekitar 1.080 ahli hadits.

Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, Bukhari menemui para tabiin hingga mahasiswa yang sama-sama belajar dengannya. Selain itu, untuk mendapatkan keterangan yang lengkap mengenai sebuah hadis atau orang yang meriwayatkannya, ia bahkan melawat ke berbagai tempat.

Dari kegigihannya ini, Bukhari berhasil mengumpulkan sebanyak 600 ribu hadits. Sebanyak 300 ribu hadis dihafalnya, di mana sebanyak 200 ribu hadits merupakan hadits yang tak sahih dan sebanyak 100 ribu hadits lainnya berstatus sahih.

Kitab Shahih Bukhari ini merupakan karya monumental dan menjadi sumber rujukan para pakar hadits. Tak heran bila Kitab Shahih Bukhari berada di urutan teratas di antara kitab hadits lainnya. Berikutnya adalah Kitab Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At Tarmizi, Sunan An Nasai dan Sunan Ibnu Majah.

Kitab Shahih Bukhari juga memiliki daya pikat bagi para pakar hadits lainnya setelah masa Bukhari. Mereka menuliskan komentarnya atau syarah atas Sahih Bukhari tersebut. Paling tidak ada 82 kitab yang merupakan syarah Kitab Sahih Muslim itu. Di antara syarah yang terkenal adalah Fath al Bari karya Ibnu Hajar Al Asqalani, terdiri 13 jilid besar.

Selain, Kitab Shahih Bukhari yang sangat terkenal itu, Bukhari juga menulis sejumlah kitab lainnya di antaranya Al Adab Al Mufrad, Al Tarikh Al Saghir, Al Tarikh Al Awsat, Kitab Al Kuna, Kitab Al Dhuafa, Asami As Sahabah, maupun Kitab Al Ilal. [yy/republika]