22 Dzulhijjah 1442  |  Minggu 01 Agustus 2021

basmalah.png

Hujjatul Islam: Ibnu Hajar Al-Asqalani, Penulis Kitab Fath Al-Bari

Hujjatul Islam: Ibnu Hajar Al-Asqalani, Penulis Kitab Fath Al-BariFiqhislam.com - Nama lengkapnya Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Kinani Al-Asqalani. Namun, ia lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Hajar Al-Asqalani. Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai seorang ahli hadits.

Salah satu karyanya yang terkenal adalah kitab Fath Al-Bari (Kemenangan Sang Pencipta), yang merupakan syarah kitab shahihnya Imam Bukhari dan disepakati sebagai kitab penjelasan yang paling detil yang pernah dibuat.

Ibnu Hajar dilahirkan pada tahun 773 Hijriyah dan wafat pada tahun 852 Hijriyah. Mengenai tempat kelahirannya, terdapat beberapa pendapat. Ada yang menyebutkan ia dilahirkan di Kota Asqalan, Palestina. Sementara versi lain menyebutkan, ia lahir besar dan meninggal di Mesir.

Ia digambarkan sebagai sosok yang mempunyai tinggi badan sedang, berkulit putih, mukanya bercahaya, bentuk tubuhnya indah, berseri-seri mukanya, lebat jenggotnya, dan berwarna putih serta pendek kumisnya.

Dia juga memiliki pendengaran dan penglihatan sehat, kuat dan utuh giginya, kecil mulutnya, kuat tubuhnya. Disamping itu ia juga dikenal fasih lisannya, lirih suaranya, sangat cerdas, pandai, dan pintar bersyair.

Dalam buku "60 Biografi Ulama Salaf" karya Syekh Ahmad Farid disebutkan bahwa Ibnu Hajar tumbuh dan besar sebagai anak yatim piatu. Ayahnya meninggal ketika ia berumur 4 tahun dan ibunya meninggal ketika ia masih balita. Sepeninggal kedua orang tuanya, ia diasuh oleh kakak tertuanya, Az-Zaki Al-Kharubi.

Ketika sang kakak memutuskan untuk hijrah ke Makkah, Ibnu Hajar turut menyertainya. Saat bermukim di Tanah Suci, Ibnu Hajar dimasukkan ke Al-Maktab (sekolah khusus untuk belajar dan menghafal Alquran). Ia saat itu baru menginjak usia 5 tahun. Salah seorang gurunya di Al-Maktab adalah Syamsuddin bin Al-Alaf yang saat itu menjadi Gubernur Mesir dan juga Syamsuddin Al-Athrusy.

Akan tetapi saat menimba ilmu di Al-Maktab, Ibnu Hajar belum berhasil menghafal Alquran sampai ia diajar oleh seorang ahli fikih dan pengajar sejati, yaitu Shadrudin Muhammad bin Muhammad bin Abdurrazaq As-Safthi Al-Muqri’. Kepadanya, akhirnya Ibnu Hajar dapat mengkhatamkan hafalan Alquran ketika berumur 9 tahun.

Ketika berumur 12 tahun ia ditunjuk sebagai imam shalat tarawih di Masjidil Haram. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Ramadhan tahun 785 H. Ketika sang kakak pindah ke Mesir di tahun 786 H, Ibnu Hajar juga turut serta. Di Mesir Ibnu Hajar benar-benar berusaha sungguh-sungguh. Dia menghafal beberapa kitab, di antaranya kitab Al-Hawi karangan Al-Mawardi dan kitab Mukhtasar karangan Ibnul Hajib.

Kendati sudah menimba ilmu di banyak tempat, namun Ibnu Hajar belum merasa puasa dengan ilmu yang telah diperolehnya.

Ia kemudian memutuskan untuk berguru kepada Al-Hafizh Al-Iraqi, seorang syekh besar yang terkenal sebagai ahli fikih dari mahzab Syafi’i. Selain menguasai fikih, Syekh Al-Hafizh juga menguasai ilmu tafsir, hadits dan bahasa Arab.

Ibnu Hajar menyertai sang guru selama sepuluh tahun. Dalam masa sepuluh tahun ini Ibnu Hajar menyelinginya dengan perjalanan ke Syam, Yaman dan Hijaz. Di bawah bimbingan Syekh Al-Hafizh inilah Ibnu Hajar berkembang menjadi seorang ulama sejati dan menjadi orang pertama yang diberi izin oleh gurunya untuk mengajarkan hadits.

Adapun setelah sang guru meninggal, dia belajar dengan Nuruddin Al-Haitsami dan Imam Muhibbuddin Muhammad bin Yahya bin Al-Wahdawaih. Melihat keseriusan Ibnu Hajar dalam mempelajari hadits, gurunya ini memberi saran agar dia mempelajari fikih juga karena orang akan membutuhkan ilmu itu. Selain juga, sang guru beralasan, bahwa ulama di daerah tersebut akan habis sehingga keberadaan Ibnu Hajar amat diperlukan sebagai penerus para ulama setempat.

Menjadi qadhi
Setelah merasa puas dengan ilmu yang telah diperolehnya, Ibnu Hajar akhirnya memutuskan untuk kembali ke Mesir dan menetap di sana hingga akhir hayatnya. Selama bermukim di Mesir, ia tercatat pernah menjadi qadhi selama kurang lebih 21 tahun di mana ia menjadi hakim dalam mazhab Syafi'i.

Ia juga menjadi wali para guru hadits dan mengajarkan ilmu fikih di beberapa tempat di negeri Mesir. Ia juga kerap diminta naik mimbar sebagai khatib di Masjid Amr bin Ash dan Masjid Al-Azhar.

Ibnu Hajar memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai seorang qadhi begitu terpilih untuk yang keenam kalinya pada tahun 852 H. Tak lama berselang, ia jatuh sakit di rumahnya. Ketika tengah sakit hingga membawanya kepada kematian, Ibnu Hajar berkata, ''Ya Allah, bolehlah engkau tidak memberikanku kesehatan, tetapi janganlah engkau tidak memberikanku pengampunan.''

Pada malam Sabtu tanggal 28 Dzulhijjah berselang dua jam setelah shalat Isya, orang-orang dan para sahabatnya berkerumun di dekat Ibnu Hajar untuk membacakan surat Yasin. Ketika sampai ayat ke-58 keluarlah ruhnya dari jasadnya. Hari itu adalah hari musibah yang sangat besar. Orang-orang menangisi kepergiannya sampai-sampai orang non-Muslim pun ikut meratapi kematiannya. Pada hari itu pasar-pasar ditutup demi menyertai kepergiannya. Para pelayat yang datang pun sampai-sampai tidak dapat dihitung, semua para pembesar saat itu datang melayat.

Semasa hidupnya, Ibnu Hajar Al-Asqalani banyak sekali mengarang kitab-kitab dalam bermacam-macam bidang ilmu.

Tetapi karangannya yang sangat terkenal ialah kitab Fath Al-Bari (Kemenangan Sang Pencipta), yang merupakan syarah kitab shahihnya Imam Bukhari dan disepakati sebagai kitab penjelasan yang paling detil yang pernah dibuat.

Dari 82 macam kitab syarah yang pernah ditulis sepanjang masa, yang paling terkenal adalah kitab syarah yang ditulis oleh Ibnu Hajar ini. Kitab Fath Al-Bari terdiri dari 17 jilid. Kitab ini disusun oleh Ibnu Hajar dari tahun 813 H sampai dengan tahun 842 H.

Mengenai tahun penyusunannya ada juga yang menyebutkan bahwa kitab itu mulai ditulis tahun 817 H dan selesai tahun 842 H. Maka tidak mengherankan bila kitab itu paling bagus, teliti dan sempurna. Selain itu, penulisannya dilakukan oleh penyusunnya dengan penuh keikhlasan.

Dalam Fath Al-Bari, Ibnu Hajar menjelaskan masalah bahasa dan i’rab dan menguraikan masalah penting yang tidak ditemukan di kitab lainnya. Ia juga menjelaskan dari segi balaghah dan sastranya, mengambil hukum, serta memaparkan berbagai masalah yang diperdebatkan oleh para ulama, baik menyangkut fikih maupun ilmu kalam secara terperinci dan tidak memihak.

Disamping itu, dia mengumpulkan seluruh sanad hadits dan menelitinya, serta menerangkan tingkat keshahihan dan kedhaifannya. Semua itu menunjukkan keluasan ilmu dan penguasaannya mengenai kitab-kitab hadits.

Fath Al-Bari mempunyai mukaddimah yang bernama Hadyus Saari. Mukaddimah ini amat tinggi nilainya. Seandainya ia ditulis dengan tinta emas, maka emas itu belum sebanding dengan tulisan itu. Sebab, ia merupakan kunci untuk memahami Shahih Bukhari.

Kemudian Al-Asqalani mulai menulis kitab Syarah. Pada mulanya, uraian dan pembahasan direncanakan ditulis panjang lebar dan terperinci. Namun, dia khawatir bila ada halangan untuk menyelesaikannya yang mengakibatkan kitab itu selesai tapi tidak sempurna. Karena itu, ia menulis kitab syarah tersebut dengan cara sederhana yang diberi nama Fath Al-Bari.

Kitab ini selalu mendapatkan sambutan hangat dari para ulama, baik pada masa dulu maupun sekarang, dan selalu menjadi kitab rujukan.

Al-Allamah Syekh Muhammad bin Ali As-San’ani Asy-Syaukani, penulis kitab Nailul Authar, juga sangat mengagumi Ibnu Hajar.

"Tidak ada kitab syarah shahih Bukhari yang melebihi Fath Al-Bari," kata Asy-Syaukani.

Selain Fath Al-Bari, Ibnu Hajar juga mengarang beberapa kitab lainnya. Dalam buku "Sejarah dan Keagungan Madzab Syafi’i" karya KH Siradjuddin Abbas disebutkan, bahwa jumlah karya Ibnu Hajar mencapai 150 buah kitab. Kesemua karyanya ini bermutu tinggi dan hingga kini masih dijadikan rujukan pada sekolah-sekolah tinggi agama.

Diantara karangan Ibnu Hajar lainnya adalah kitab Bulugh Al-Maram min Adillah Al-Ahkam yang merupakan sebuah kitab hadits yang telah disyarahkan oleh As-San’ani dengan nama “Kitab Subulus Salam”; Al-Ishabah fi Tamyiz Asma'i ash-Shahabah (Kamus Biografi Sahabat); Tahdzib al-Tahdzib; Talkhisul Habir; Ad-Durar al-Kaminah (Kamus Biografi Tokoh Abad ke-8); Raf'u al-Ishri fi Qadhai Mishri; dan Al-Isti'dad Liyaumil Mii'aad.

Mengenai karya-karya Ibnu Hajar ini, Imam As-Sakhawi berkata, ''Karya-karyanya tersebar semasa dia masih hidup. Para raja banyak memberi hadiah untuknya dan para pembesar banyak menulis tentang dia.''

"Dia banyak duduk mempelajari tentang hadits, membaca dan menulisnya, sehingga menambah kemasyhuran fatwanya. Orang-orang mencari dan menimba ilmu darinya, karena kecerdasan, hafalan dan kefasihannya serta pengetahuannya tentang sya'ir-sya'ir pujangga terdahulu dan mutakhir," imbuh As-Sakhawi.

Sementara Al-Iraqi berkata, ''Ia adalah syekh yang alim, sempurna, mulia, seorang muhadits (ahli hadist) yang banyak memberikan manfaat, dan agung. Seorang Al-Hafizh yang sangat bertakwa, yang dhabit (dapat dipercaya perkataannya), yang tsiqah, yang amanah.''

Dan masih banyak lagi ulama yang memuji kepandaian Ibnu Hajar.

republika.co.id