19 Safar 1443  |  Senin 27 September 2021

basmalah.png

Amul Azmi, Tahun Kesedihan Rasulullah Saw

Amul Azmi, Tahun Kesedihan Rasulullah Saw

Fiqhislam.com - Sakit yang dialami oleh Abu Thâlib semakin payah, maka tak lama dari itu dia menemui ajalnya, yaitu pada bulan Rajab tahun 16 H dari kenabian setelah enam bulan keluar dari syi’b nya. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa dia wafat pada bulan Ramadhan, tiga hari sebelum Khadijah رضي الله عنها  wafat.

Dalam kitab ash-Shahîh dari (Sa’id) bin al-Musayyib disebutkan bahwa ketika Abu Thâlib di detik-detik terakhir hidupnya, Nabi صلی الله عليه وسلم mengunjunginya sementara di sisinya sudah berada Abu Jahl. Beliau صلی الله عليه وسلم bertutur kepadanya: “wahai pamandaku! Katakanlah: Lâ ilâha illallâh, kalimat ini akan aku jadikan hujjah untukmu di sisi Allah.”

Namun Abu Jahl dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah memotong: “wahai Abu Thâlib! Sudah bencikah engkau terhadap agama ‘Abdul Muththalib?. Keduanya terus mendesaknya demikian, hingga kalimat terakhir yang diucapkannya kepada mereka adalah “aku masih tetap dalam agama ‘Abdul Muththalib”.

Nabi صلی الله عليه وسلم berkata: “Aku akan memintakan ampunan untukmu selama aku tidak dilarang melakukannya”, tetapi kemudian turunlah ayat: “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasannya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahannam,” (Q,.s. 9/at-Taubah:113).

Demikian pula, turun ayat: “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi…”. (Q,.s.28/al-Qashash: 56).

Kiranya, tidak perlu dijelaskan betapa pengorbanan dan perlindungan yang diberikan oleh Abu Thâlib. Dia adalah benteng, tempat berlindungnya dakwah islamiyah dari serangan para pembesar dan begundal Quraisy, akan tetapi sayang, dia tetap memilih agama nenek moyangnya sehingga sama sekali tidak membawanya meraih kemenangan.

Dalam kitab ash-Shahîh dari al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, dia berkata kepada Nabi صلی الله عليه وسلم : “Apakah engkau tidak memedulikan pamanmu lagi, padahal dialah yang melindungimu dan berkorban untukmu?”. Beliau bersabda: “Dia berada di neraka yang paling ringan, andaikata bukan karenaku (karena sikapnya melindungi beliau-red) niscaya dia sudah berada di neraka yang paling bawah.”

Dari Abi Sa’îd al-Khudriy bahwasanya dia mendengar Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda: “semoga saja syafa’atku bermanfa’at baginya pada hari kiamat, lalu dia ditempatkan di neraka paling ringan yang (ketinggiannya) mencapai dua mata kaki (saja)”. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa ketika beliau mengucapkan itu, pamannya berada disisinya.

Khadijah Berpulang ke Rahmatullah

Setelah dua bulan atau tiga bulan dari wafatnya, Abu Thâlib, Ummul Mukminin, Khadijah al-Kubra رضي الله عنها
pun wafat. Tepatnya, pada bulan Ramadhan tahun 10 H dari kenabian dalam usia 65 tahun sedangkan Rasulullah ketika itu berusia 50 tahun.

Sosok Khadijah merupakan nikmat Allah yang paling agung bagi Rasulullah. Selama seperempat abad hidup bersamanya, dia senantiasa menghibur disaat beliau cemas, memberikan dorongan di saat-saat paling kritis, menyokong penyampaian risalahnya, ikut serta bersama beliau dalam rintangan yang menghadang jihad dan selalu membela beliau baik dengan jiwa maupun hartanya.

Untuk mengenang itu, Rasulullah bertutur: ”Dia telah beriman kepadaku saat manusia tidak ada yang beriman, dia membenarkanku di saat manusia mendustakan, dia memodaliku dengan hartanya di saat manusia tidak menahannya, Allah mengkaruniaiku anak darinya sementara Dia Ta’ala tidak memberikannya dari isteri yang lainnya.”

Di dalam kitab ash-Shahîh dari Abu Hurairah, dia berkata: “Jibril عليه السلام mendatangi Rasulullah صلی الله عليه وسلم sembari berkata: ‘wahai Rasulullah! inilah Khadijah, dia telah datang dengan membawa lauk-pauk, makanan atau minuman; bila dia nanti mendatangimu, maka sampaikan salam Rabbnya kepadanya serta beritakan kepadanya kabar gembira perihal rumah untuknya di surga yang terbuat dari bambu yang tidak ada kebisingan dan juga menguras tenaga di dalamnya. [Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfurry

yy/islampos.com
Sumber: Perjalanan Hidup Rasul yang Agung, Muhammad صلی الله عليه وسلم – Dari Kelahiran Hingga Detik-Detik Terakhir/Tarikh Siroh