24 Dzulhijjah 1442  |  Selasa 03 Agustus 2021

basmalah.png

Tujuh Wasiat Rasulullah SAW yang Harus Dijalankan

Tujuh Wasiat Rasulullah SAW yang Harus Dijalankan

Fiqhislam.com-Rasulullah berwasiat, cintailah fakir-miskin, berbanyak silaturrahmi, jangan suka meminta-minta dan jangan takut celaan dalam berdakwah.

"Dari Abu Dzar ia berkata; " Kekasihku (Rasulullah SAW) berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: (1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintahku agar aku melihat orang-orang yang di bawahku dan tidak melihat orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahim dengan karib kerabat meski mereka berlaku kasar kepadaku, (4) aku diperintahkan agar memperbanyak ucapan La haula walaa quwwata illa billah, (5) aku diperintahkan untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit, (6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, (7) beliau melarang aku agar aku tidak meminta-minta sesuatu kepada manusia " (Riwayat Ahmad).

Meskipun wasiat ini disampaikan kepada Abu Dzar RA, namun hakikatnya ia ditujukan untuk kaum Muslimin secara umum. Sebagaimana metode: (Al-Khitobu li'umuumil-lafdzi, walaisa min khususil asbab).

Wasiat Pertama: Mencintai Orang Miskin.

Islam menganjurkan umatnya agar terjadi tawadhu ' (berendah hati) terhadap orang-orang miskin, menolong dan membantu kesulitan mereka. Demikianlah yang dicontohkan para sahabat di antaranya Umar bin Khattab (RA) yang terkenal sangat peduli tentang rakyat, Khalifah Abu Bakar (RA) yang terkenal dengan sifat sangat pemurahnya, Usman bin Affan (RA) dengan kedermawanannya.

Cintailah dan kasihanilah orang-orang miskin, sebab hidup mereka serba kekurangan, diabaikan masyarakat dan tidak diperhatikan. Orang yang mencintai fuqara ' dan masakin dari kaum Muslimin, terutama mereka yang mendirikan shalat, dan taat kepada Allah, maka mereka akan dibela Allah Subhanahu wa Ta'ala (SWT) di dunia dan pada hari kiamat.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Barangsiapa yang menghilangkan satu kesusahan dunia dari seorang Muslim, Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan di hari kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan kesulitan orang yang dibebani utang, Allah akan memudahkan baginya di dunia dan akhirat" (Riwayat Muslim).

Juga sabda beliau, "Orang yang membantu kehidupan para janda dan orang-orang miskin bagaikan orang yang jihad fi sabilillah..... " (Riwayat Bukhari). Dalam riwayat lain seperti mendapatkan pahala shalat dan puasa secara terus menerus.

Wasiat Kedua: Melihat Orang Yang Lebih Rendah Posisinya dalam hal keduniaan

Rasulullah SAW memerintahkan agar kita melihat orang-orang yang berada di bawah kita dalam masalah dunia dan mata pencarian. Tujuannya, tidak lain agar kita selalu bersyukur dengan nikmat Allah yang ada. Selalu qona'ah (merasa cukup dengan apa yang Allah karuniakan kepada kita), tidak serakah (tamak), tidak pula iri atau dengki dengan kenikmatan orang lain.

Memang sudah menjadi lumrah, manusia selalu melihat ke atas dalam hal harta, kedudukan, dan pangkat. Selama manusia hidup ia selalu merasa kurang dan kurang. Baru merasa cukup sementara mulutnya tersumpal tanah kuburan.
"Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang ada di atasmu, karena hal demikian lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu. " (Riwayat Muttafaqun ' alaihi).
Sebaliknya dalam masalah agama, ibadah dan ketakwaan, seharusnya kita melihat orang-orang yang di atas kita, yaitu para Nabi, sahabat, orang-orang yang jujur, para syuhada ', para ulama ' dan salafus-shalih.

Wasiat Ketiga: Menghubungkan Silaturahim Kepada Kaum Kerabat

Silaturahim adalah ungkapan tentang berbuat baik kepada karib kerabat karena hubungan nasab (keturunan) atau karena pernikahan. Yaitu silaturahim kepada kedua orang tua, kakak, adik, dan kerabat. Berbuat baik dan berlemah lembut kepada mereka, menyayangi, memperhatikan dan membantu mereka. Dengan silaturahim, Allah memberikan banyak manfaat.

Diantaranya, menjalankan perintah Allah dan rasul-Nya, dengannya akan menyuburkan sikap saling membantu dan perihatin akan saudara seagama. Silaturahim pula akan memberikan kelapangan rezeki dan umur yang panjang. Sebaliknya bagi yang mengabaikan silaturahim Allah sempitkan hartanya dan tidak memberikan berkah pada umurnya, bahkan Allah tidak memasukkannya ke dalam Surga.

Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambungkan silaturahim " (Riwayat Bukhari).

Wasiat Keempat: Memperbanyak Ucapan ' La haula walaa quwwata illa billah '
                                         
Rasulullah SAW memerintahkan agar memperbanyak ucapan La haula walaa quwwata illa billah ' agar kita berlepas diri dari merasa tidak mampu. Kita serahkan semuanya kepada Allah. Makna kalimat ini juga sebagai sikap tawakkal, hanya kepada Allah kita menyembah dan hanya kepada-Nya pula kita memohon pertolongan.

Pada hakikatnya seorang hamba tidak memiliki daya upaya apapun kecuali dengan pertolongan Allah. Seorang penuntut ilmu tidak mampu duduk di majelis ilmu melainkan dengan pertolongan dan kehendak Allah. Demikian juga seorang guru tidak mungkin dapat menyampaikan ilmu yang manfaat kepada muridnya melainkan dengan pertolongan Allah.

Rasulullah SAW bersabda:
"Ya Abdullah bin Qois, maukah aku tunjukkan kepadamu atas perbendaharaan dari perbendaharaan surga ? (yaitu) ' La haula walaa quwwata illa billah ' (Riwayat Muttafaqun 'Alaih).

Wasiat Kelima: Berani Mengatakan Kebenaran Meskipun Pahit

Kebanyakan orang sanggup meniadakan kebenaran asalkan hidup senang. Kebenaran dikorbankan demi material dan posisi duniawi. Apabila sesuatu itu sudah jelas sebagai sesuatu yang haram, bid'ah, mungkar, batil, dan syirik, maka jangan sampai kita takut menerangkannya.
Sesungguhnya jihad yang paling utama adalah mengatakan tentang kebenaran (haq) kepada pemerintah yang zalim. Bukan dengan cara menyebarkan keaiban mereka di reli, bukan juga dengan mengadakan demonstrasi, dan provokasi.

"Barangsiapa yang ingin menasihati pemerintah, janganlah ia menyatakannya dengan terang-terangan. Hendaklah ia menyatakan secara bijaksana dengan membuat diskusi. Jika pemerintah itu mau mendengar nasihat itu, maka itu yang terbaik. Dan ketika pemerintah itu menolak, maka ia sungguh telah melaksanakan kewajiban amanah yang dibebankan kepadanya " (Riwayat Ahmad)

Wasiat Keenam: Tidak Takut Celaan Dalam Berdakwah.

Betapa berat resiko dakwah yang Rasulullah SAW dan para sahabat alami. Mereka harus menderita karena mendapat celaan, ejekan, fitnah, boikot. Juga pengejaran, lemparan kotoran, dimusuhi, dikasari, dan dibunuh.
Manusia yang sakit hatinya kadang-kadang tidak mau menerima dengan penjelasan dakwah, maka kader harus sabar menyampaikan dengan ilmu dan hikmah. Jika dai mendapat penolakan dan cercaan janganlah sesekali mundur atau menyerah. Maka para penyeru tauhid, penyeru kebenaran jangan berhenti hanya karena dicerca.

"(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan tidak merasa takut dengan siapapun selain Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan" (Al-Ahzab [ 33 ]: 39).

Wasiat Ketujuh: Tidak Suka Meminta-minta sesuatu kepada orang lain.

Orang yang dicintai Allah, Rasul dan manusia, adalah mereka yang tidak meminta-minta. Seorang Muslim harus berusaha makan dari hasil jerih payah tangannya sendiri. Seorang Muslim harus berusaha memenuhi hajat hidupnya sendiri dan tidak bisa selalu mengharapkan belas kasihan orang.

"Sungguh, seseorang dari kalian mengambil tali, lalu membawa seikat kayu bakar di punggungnya, kemudian ia menjualnya, sehingga dengannya Allah menjaga kehormatannya. Itu lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada manusia. Mereka bisa memberi atau tidak memberi " (Riwayat Bukhari).

yy/nabawia.com