Kebaikan Maria Al-Qibthiyah dan Cinta Rasulullah Kepadanya

Fiqhislam.com - Abdullah ibn Abdul Rahman ibn Abi Sha‘sha‘ah meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw sangat terpukau dengan Maria Al~Qibthiyah. Dia adalah seorang perempuan yang berkulit putih, berambut keriting, dan berparas cantik. Pertama kali, Maria dan saudarinya tinggal di rumah Ummu Sulaim bind Malhan. Ketika mereka berada di rumah tersebut, Rasulullah SAW. mengajak keduanya untuk masuk Islam.

Lalu, keduanya menerirna ajakan itu, dan memeluk Islam. Nabi bermalam bersama Maria dengan status “milk al-yamin” (hamba sahaya). Lalu, beliau mengubah status Maria menjadi istrinya di kalangan keluarganya. Maria adalah seorang perempuan yang memiliki pemahaman agama yang bagus. Rasulullah Saw. menghadiahkan saudarinya, Sirin, kepada Hassan ibn Tsabit, sang penyair. Dari Sirin, lahirlah seorang anak bernama Abdul Rahman. Sedangkan Maria sendiri melahirkan seorang anak bernama Ibrahim.

Pada hari yang ketujuh dari tanggal kelahiran anaknya, Rasulullah Saw menunaikan aqiqahnya dengan menyembelih dua ekor domba yang besar, mencukur rambut bayi, dan bersedekah kepada orang miskin dengan harta senilai perak yang seukuran dengan timbangan rambut Ibrahim yang telah dicukur. Selain itu, beliau menyuruh agar rambutnya dikubur (Inilah yang menjadi contoh sunnah aqikah). Lalu, beliau menamai bayi tersebut dengan Ibrahim. Ketika Sahna, seorang pembantu Nabi Saw, mengetahui kelahiran putra Nabi, dia langsung memberitahukan hal tersebut kepada suaminya, Abu Rafi‘. Setelah diberi tahu, Abu Rafi‘ datang menemui Nabi Saw untuk turut menyampaikan rasa gembira dan menghadiahkan seorang hamba sahaya.

Menyaksikan hal tersebut, istri-istri Nabi merasa cemburu. Dan kecemburuan itu semakin memuncak saat Nabi dikaruniai anak laki-laki dari Maria. Setelah itu, beliau segera menemui Maria Al-Qibthiyah, sang istri tercinta, untuk mengucapkan selamat kepadanya. Kelahiran putranya itu telah membebaskan dirinya dari status budak.

Beliau pun memangku sang bayi, menggendongnya ke hadapan Maria, sebagai kegembiraan dan kasih sayang. Rasulullah Saw pun memberi nama putranya itu dengan mama nenek moyang beliau, Ibrahim A.S Ibu-ibu kaum Anshar berebut untuk menyusuinya. Mereka ingin agar Maria dapat tenang melayani Rasulullah SAW, karena mereka mengerti bahwa beliau sangat menyayanginya. Ibrahim kemudian disusui seorang istri tukang pandai besi bernama Abu Saif yang tinggal di perbukitan Madinah.

Ibrahim adalah putra beliau satu-satunya yang lahir selepas beliau diangkat sebagai utusan Allah. Betapa gembira beliau menerima karunia Allah tersebut. Apalagi, kala itu usia beliau telah memasuki kepala enam. Kelahiran Ibrahim merupakan suaru kebahagiaan tersendiri.

Dengan kelahiran putranya itu, perhatian beliau menjadi sangat besar terhadap sang putra dan juga ibunya. Dan hal itu membangkitkan kecemburuan istri-istri beliau yang lainnya terhadap Maria Al-Qibthiyah.

yy/islampos.com
Dikutif dari: wanita di sekitar Rasulullah SAW/ karya: S.Tabrani/Bintang Indonesia Jakarta