28 Safar 1444  |  Minggu 25 September 2022

basmalah.png

Meluruskan Riwayat Pernikahan Rasulullah Saw dengan Aisyah r.a

Meluruskan Riwayat Pernikahan Rasulullah Saw dengan Aisyah r.a

Fiqhislam.com - Seperti diketahui bahwa sebagian orientalis yang membenci Islam dan ummat muslimin menyerang pribadi Rasulullah SAW dengan mempergunakan riwayat bahwa `Aisyah r a dinikahkan pada umur 6 tahun dan baru umur 9 tahun serumah dengan Nabi Muhammad SAW. Mereka menuduh Rasulullah SAW seorang yang menikah dengan anak di bawah umur.

Ada dua alasan yang dapat di kemukaan dalam hal ini. Pertama dengan asumsi bahwa hadist Aisyah r.a berumur 9 tahun dapat dijadikan hujjah dan Kedua jika hadist tentang umur Aisyah r.a bermasalah. Jika kita mengasumsikan kehujjahan hadist umur Aisyah r.a tidak bermasalah, jalan paling objektif melihat umur pernikahan dan analisa sosiologis budaya arab saat itu.

Aisyah r.a dipersunting oleh Rasulullah SAW berdasarkan perintah Allah melalui wahyu dalam mimpi beliau. Rasulullah SAW mengisahkan mimpi beliau kepada Aisyah r.a ,”Aku melihatmu dalam mimpiku selama tiga malam, ketika itu datang bersamamu malaikat yang berkata : ini adalah istrimu. Lalu aku singkap tirai yang menyembunyikan wajahmu, lalu aku berkata sesungguhnya hal itu telah di tetapkan disisi Allah.” ( HR. Bukhari Muslim )

Perlu di catat Aisyah r.a juga merupakan istri Rasulullah SAW satu satunya yang dipersunting di waktu gadis dan muda. Keadaan ini sangat penting untuk menginformasikan kepadaUmmat tentang berbagai aspek kehidupan keluarga yang membutuhkan arahan hokum dan suri tauladan Rasulullah SAW. Hal ini tidak mungkin bisa di informasikan kecuali melalui orang terdekat yang serumah dengan beliau dan memiliki cukup waktu dan tenaga untuk mencatat dan mendakwahkannya kembali kepada ummat. Adalah rahasia Illahi memilih Aisyah r.a untuk mengemban tugas ini. Menurut berbagai kajian, Sepeninggal Rasulullah SAW, Aisyah r.a mengisi hari harinya dengan mengajarkan Al Qur’an dan Hadist dibalik hijab bagi kaum laki laki pada masanya.

Perlu ditambahkan juga usia pernikahan memang sangat relative dari satu masyarakat ke masyarakat lain dan dari seorang gadis ke gadis lain demikian juga dari seorang pria ke pria lain. Untuk masyarakat perkotaan modern usia pernikahan seorang wanita berkisar dari 20 hingga 25 tahun. 25 tahun biasanya sudah dianggap terlambat dan puncaknya adalah 30, diatas 30 semakin berat seorang gadis melawan anggapan “gadis yang belum laku” atau “ terlalu pilih pilih alias jual mahal”.

Lain halnya dengan masyarakat pedesaan sangat banyak sekali gadis gadis desa yang menikah tidak lama setelah lulus sekolah Dasar ( SD ). Saat ini kebanyakan usia berkisar anatar 12 hingga 14 tahun. Boleh jadi masyarakat Arab badui yang belum mengenal sekolah formal seperti saat ini tidak terlalu berbeda dari masyarakat pedesaan di Indonesia yang menikahkan putrid putrinya tidak lama setelah usia SD. Dari kualitas keilmuan dan kepandaiannya, Aisyah r.a menunjukkan ia jauh lebih dewasa dari umurnya dalam keilmuan dan kepribadian.

Disamping alas an pertama tadi ada baiknya kita lihat penelitian terhadaphadist Aisyah r.a seperti berikut ini. Hadits ini mengenai umur ‘Aisyah r.a tatkala dinikahkan adalah problematic alias dha’if ( Lemah). Beberapa riwayat yang termaktub dalam buku buku hadits berasal hanya satu satunya dari Hisyam bin `Urwah yang didengar sendiri dari ayahnya. Mengherankan mengapa Hisyam saja satu satunya yang pernah menyuarakan tentang umur pernikahan `Aisyah r.a tersebut. Bahkan tidak oleh Abu Hurairah ataupun Malik ibn Anas. Itupun baru diutarakan Hisyam tatkala telah bermukim di Iraq. Hisyam pindah bermukim ke negeri itu dalam umur 71 tahun.

Mengenai Hisyam ini Ya’qub ibn Syaibah berkata, “Apa yang dituturkan oleh Hisyam sangat terpercaya, kecuali yang disebutkannya tatkala ia sudah pindah ke Iraq.” Syaibah menambahkan, bahwa Malik ibn Anas menolak penuturan Hisyam yang dilaporkan oleh penduduk Iraq. Termaktub pula dalam buku tentang sketsa kehidupan para perawi hadits, bahwa tatkala Hisyam berusia lanjut ingatannya sangat menurun ( Al Maktabah Al Athriyyah, Jilid 4, hal.301). Al Hasil, riwayat umur pernikahan ‘Aisyah r.a yang bersumber dari Hisyam ibn ‘Urwah tertolak.

Untuk selanjutnya terlebih dahulu dikemukakan beberapa peristiwa penting secara Kronologis :

Pra-610 M : Zaman Jahiliyah
610 M : Permulaan Wahyu turun
610 M : Abu Bakar r.a masuk Islam.
613 M : Nabi Muhammad SAW mulai meyiarkan Islam secara terbuka.
615 M : Ummat Islam Hijrah I ke Habasyah
616 M : Umar bin Khattab masuk Islam.
620 M : `Aisyah r.a Dinikahkan.
622 M : Hijrah ke Madinah
623/624 M : ‘Aisyah r.a serumah sebagai suami istri dengan Nabi Muhammad SAW

Menurut Al Thabari, keempat anak Abu Bakar r.a dilahirkan oleh istrinya pada zaman jahiliyah, artinya sebelum 610 M.(Al Thabari. Tarikh Al Mamluk, Jilid 4, hal 50. Thabari meninggal 922 M )

Jika ‘Aisyah r.a dinikahkan dalam umur 6 tahun berarti ‘Aisyah r.a lahir pada tahun 613 M. padahal menurut Thabari semua keempat anak Abu Bakar r.a lahir pada zaman Jahilyah, yaitu sebelum tahun 610 M. al hasil berdasar atas Thabari ‘Aisyah r.a tidak dilahirkan 613 M melainkan sebelu 610 M. Jadi kalau ‘Aisyah r.a dinikahkan sebelum 620 M, maka beliau dinikahkan pada umur di atas 10 tahun dan hidup sebagai suami istri diatas 13 tahun, dalam umur berapa? Untuk itulah marilah kita menengok kepada kakak perempuan ‘Aisyah r.a, yaitu Asmah.

Menurut Abd. Al Rahman ibn Abi Zannad, “Asmah 10 tahun lebih tua dari ‘Aisyah r.a. (Al Zahabi. Muassasah al Risalah. Jilid 2 hal. 289 ).

Menurut Ibn hajar al Asqalani, Asmah hidup hingga usia 100 tahun dan meninggal tahun 73 atau 74 Hijriah ( Al Asqalani. Tarib Al Tahzib, hal 654). Artinya, apabila Asmah meninggal dalam usia 100 tahun dan meninggal dunia dalam tahun 73 atau 74 Hijriyah, maka Asmah berusia 27 atau 28 tahun pada waktu Hijrah ke Madinah, Sehingga ‘Aisyah r.a berumur (27 atau 28 ) – 10 = 17 atau 18 tahun pada waktu Hijrah ke Madinah, Dengan demikian berarti ‘Aisyah r.a mulai hidup berumah tangga dengan Nabi Muhammad SAW pada waktu berumur 19 atau 20 tahun. Wallahu a’lamu bi al-shawab

Diambil dari buku The Super Leader Super Manager Muhammad SAW
karya Dr. Muhammad Syafii Antonio,M. Ec ( Nio Gwan Chung )