14 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 24 Juli 2021

basmalah.png

Cinta pada Rasulullah

Cinta kepadanya merupakan tuntutan ajaran agama yang harus tertanam kokoh dalam diri setiap pribadi Muslim. Karena tidak akan dapat menggapai cinta Allah tanpa melalui “jalur” cinta Rasulullah Saw.

Sebagaimana yang disitir al-Qur’an dalam surat Ali Imran ayat 31, “ Katakanlah (wahai Muhammad): Jika kamu benar-benar mencintai Allah ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.”

Rasulullah merupakan “lampu” yang ditakdirkan Allah sebagai pembimbing manusia dalam beribadah kepada-Nya. Sehingga, dengan mengikuti dan meneladani sunnah-sunnah Rasulullah serta memperbanyak shalawat kepadanya akan menghantarkan kita ke arah inti cinta kepada Allah dan rasul-Nya.

Dengan ungkapan lain, hanya dengan mengaktualisasikan kecintaan kepada Rasulullah yang diiringi mengikuti segala bentuk sikap dan perbuatan yang disandarkan kepada perilakunya, barulah seorang muslim dapat dikatakan mencintai Rasulullah.

Karena “terminal” akhir dari rasa cinta kepada Rasulullah adanya peningkatan kualitas diri dalam pengamalan ajaran agama yang dibawanya. Karena itu, memang, benar-benar Rasulullah seorang kekasih Allah sehingga ia berani dengan lantang berkata, “Tidak sempurna iman seorang diantara kamu sehingga aku lebih dicintai dari ayahnya dan anaknya dan manusia sekalian.”(HR. Bukhari)

Pengakuan cinta kepada Rasulullah haruslah disertai perbuatan yang mencerminkan kecintaan kepadanya. Bila tidak, maka sama saja hal itu bohong adanya. Sehingga tak salah bila Hatim al-Asham mengatakan, “Siapa yang mengaku cinta kepada Rasulullah Saw. tanpa mau mengikuti perilakunya, maka ia adalah seorang pembohong.”

Ikutilah Tauladan Rasulullah

Rasulullah adalah ‘cermin’ perilaku yang mulia (khuluquhu al-Qur’an), dan bila diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari akan mampu menjadi penawar akan setiap persoalan yang ada. Misalnya saja, bagaimana cara Rasulullah bertoleransi, mengagas silaturrahmi antar umat, dan membina ukhuwah islamiyah di antara umat Islam. Sejatinya, inilah esensi utama yang kita ingat saat ingin menunjukkan bahwa Islam benar-benar agama penyebar kedamaian dan ketentraman (rahmatan lil ‘alamiin).

Bila ditilik sejarah, apa yang pernah terjadi pada diri kita juga pernah terjadi pada Rasulullah. Bila negara kita mengalami krisis multidimensi, di saat Rasulullah menjadi pemimpin juga pernah mengalami hal yang sama. Sejatinya, kita dapat bercermin bagaimana langkah Rasulullah mengatasi hal itu. Sayang, saat ini, umat Islam kurang bijaksana dalam menilai segala yang terjadi, baik berkaitan dengan pribadinya maupun negaranya.

Sejarah mencatat, situasi tanah Arab ketika Muhammad bin Abdullah dinobatkan menjadi rasul dalam kemerosotan yang sangat tajam. Antara satu suku dengan suku yang lain saling bermusuhan. Agama Yahudi dan Nasrani yang sebelumnya telah berkembang di benua Arab tak lagi memiliki daya untuk menahan laju kemerosotan moral.

Di bidang politik, etika perpolitikan pada waktu telah diinjak-injak, sehingga kekuasaan dan kepemimpinan berdasarkan otot dan fisik. Hukum yang berlaku sama dengan hukum rimba, siapa yang kuat dia yang berkuasa. Akal dan kecerdasan tidak lagi mempunyai nilai dalam menjunjung tinggi nilai-nilai moral.

Di bidang ekonomi, alam “penghisap” kian merebak. Yang kaya semakin menjadi-jadi menindas yang miskin, tidak ada lagi rasa kemanusian antara yang kuat dengan yang lemah.

Kemerosotan dan kerusakan yang begitu parah itu dimaktubkan Allah di dalam al-Qur’an dengan visualisasi kata-kata yang tepat, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Qs. Ar-Ruum [30]: 41)

Kata “fasad” yang digunakan dalam ayat di atas mengandung cakupan makna dan pengertian yang cukup luas. Di samping memiliki makna kerusakan juga memiliki makna kemerosotan, kebinasaan, kekejaman, kebatilan, kekejian, kehancuran dan sebagainya. Dari sekian banyaknya makna yang tersimpan dalam kata “fasad”, pada intinya menunjukkan hal yang negatif.

Kehadiran Rasulullah yang “ditugaskan” di dunia ini untuk menolong manusia dari kehancuran dan kezaliman. Karena itu, lazim buat umatnya untuk selalu meneladani dan mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah, dan sebagaimana tugas Rasulullah sebagai qudwah hasanah.

Langkah Rasulullah menyelamatkan umat

Ketika kondisi tanah Arab bagaikan hutan rimba, prioritas utama yang menjadi garapan Rasulullah dan berhasil ia “jebol” adalah bidang akidah. Karena akidah adalah sumber utama dan akar “tunggal” dari kehidupan umat.

Bila kita “bolak-balik” sejarah pada waktu, pada umumnya, sebagaian besar manusia tidak lagi mempercayai bahwa Allah Tuhan Yang Maha Esa. Sekalipun mereka percaya kepada Allah, namun mereka serikatkan Allah dengan hal-hal yang bersifat “binasa” dalam setiap peribadatannya. Pelbagai perbuatan syirik dilakonkan masyarakat Arab pada waktu.

Maka tak ayal, bila Rasulullah selama 13 tahun di Makkah memperioritaskan keimanan dan ketauhidan kepada Allah. Hanya Allah tempat meminta dan memohon pertolongan. Inilah inti “gerak” Rasulullah di awal kerasulannya.

Dengan penggusuran paham syirik dan membangun akidah salimah dengan dasar ‘permanen’, akhirnya menyampaikan Rasulullah untuk merubah pola pikir manusia sebagai langkah selanjutnya. Tauhid yang digagas laksana air yang memancarkan air jernih dan bening ditengah kehausan bangsa Arab. Gagas tauhid merupakan energi utama untuk memotivasi dan mengalirkan perubahan-perubahan dalam aspek kehidupan manusia.

Setelah akidah masyarakat Arab kembali ke “rel” yang benar. Rasulullah dengan bijaksana merubah sistem sosial yang ada pada waktu itu. Sistem pemerintahan yang diktator dan semena-mena direnovasi dengan nilai-nilai demokrasi, musyawarah dan keadilan sosial.

Tidak ada lagi penindasan yang kuat terhadap yang kecil. Di mata hukum semuanya dipandang sama. Segala tindakan dan pembaharuan dalam kehidupan politik hanya merujuk kepada keputusan yang “Abadi”, al-Qur’an.

Seiring dengan perenovasian sistem politik dan kekuasaan, Rasulullah juga berhasil ‘mendobrak’ lini ekonomi pada waktu itu. Pemberantasan kemiskinan dilakukan dengan gerakan zakat “produktif”. Setiap orang diberi kebebasan dan kesempatan untuk “mengais” kekayaan dan keuntungan, namun dengan ketetapan harus mengeluarkan zakat dan infak untuk menyantuni kaum yang lemah.

Sehingga hal ini juga berimbas kepada penanaman rasa persaudaraan antar sesama. Tidak ada lagi diskriminasi antar masyarakat. Yang kaya dan yang miskin berkedudukan sama di mata Allah, hanya takwa yang membedakannya.

Adapun lini terakhir yang diajarkan Rasulullah adalah penanaman akhlak. Bidang ini mampu meningkatkan perubahan yang pesat pada diri masyarakat pada waktu itu, karena Rasulullah sendiri memvisualisasikan inti-inti akhlak yang mulia itu.

Dengan kekokohan bangunan akhlak yang digagas Rasulullah, lambat laun sifat-sifat tercela yang semula mendarah daging itu terlepas dan tergusur dari realitas kehidupan. Tak ada lagi ayah membunuh anak perempuannya, tidak ada perempasan harta anak yatim dan penindasan terhadap wanita.

Sungguh akhlak Rasulullah sangat tinggi dan mulia, bahkan Allah Swt. memaktubkan ketinggian akhlaknya di dalam kalam-Nya, “Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Qs. Al-Qalam [68]: 4)

Demikianlah langkah Rasulullah merubah umat manusia. Hanya tinggal manusia yang hidup saat ini berkewajiban untuk meneladani dan mengikuti langkahnya tersebut. Semoga Allah senantiasa memberikan taufik-Nya kepada kita sehingga kita dapat mengikuti jejak Rasulullah dan sebagai bukti bahwa kita cinta Rasulullah Saw. “Siapa yang mencintai sunnahku, maka sungguh ia telah mencintai aku dan ia pun kelak bersamaku di surga ” (al-hadits).

 

Sumber Cybermq.com

Penulis adalah mahasiswa universitas al-Azhar Kairo, Mesir, Fakultas Syariah Islamiyah, tingkat IV, dan kru media TëROBOSAN Kairo, Mesir.