5 Jumadil-Awwal 1444  |  Selasa 29 Nopember 2022

basmalah.png

Hingga Jin pun Beriman Kepada Rasulullah Saw

Hingga Jin pun Beriman Kepada Rasulullah Saw

Fiqhislam.com - Berimannya Jin Nashibin merupakan hiburan yang mampu meringankan dan menghilangkan rasa sakit yang diderita Rasulullah akibat perlakuan warga Bani Tsaqif

Setelah upaya pencarian nushrah (pertolongan) kepada para pembesar Thaif gagal, akhirnya Rasulullah memutuskan kembali ke Makkah. Walau dengan penuh kesedihan. Ketika beliau telah sampai di lembah kurma, di tengah malam beliau mendirikan shalat. Saat itulah, tujuh rombongan jin dari komunitas Nashibin melintasi Rasulullah Saw. Merekapun mendengarkan apa yang beliau baca. Setelah beliau selesai shalat, para rombongan jin kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan. Mereka benar-benar telah beriman dan merespon dengan baik apa yang telah mereka dengar.

Kisah ini telah difirmankan Allah Swt di dua tempat dalam Al Qur’an. Satu tempat dalam surat Al Ahqaf ayat 29-31:

dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, Maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: "Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)". ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: "Hai kaum Kami, Sesungguhnya Kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum Kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.

Satu lagi dalam Surat Al Jin:
Katakanlah (hai Muhammad): "Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya Kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu Kami beriman kepadanya. dan Kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan Kami,......” (QS. Al Jin ayat 1-2).


Begitu seterusnya hingga ayat 15.

Sungguh berimannya jin kepada Rasulullah Saw setelah beliau mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi dari orang-orang Bani Tsaqif merupakan hiburan yang mampu meringankan bahkan menghilangkan rasa sakit yang sedang beliau rasakan. Berimannya jin ini juga menjadi penegasan baru bagi Rasulullah bahwa Allah sekali-kali tidak akan mengabaikannya, bahkan Allah senantiasa menyertainya.

Allah Swt mengubah kesedihan yang dihadapi menjadi cahaya yang meneranginya dan mengubah perasaan sakit menjadi hiburan. Hal ini juga menegaskan bahwa bila penduduk bumi mengabaikan bahkan menganiaya Rasulullah, maka di dunia lain, yakni dunia jin dan malaikat ada yang akan membantu, menolong dan menyerukan dakwahnya. Berimannya jin ini juga merupakan cita-cita baru bagi Rasulullah dalam mengubah masyarakat dari kesombongan dan ketololan orang-orang kafir menjadi beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana berubahnya jin, yang pada asalnya adalah makhluk Allah yang paling jahat diantara keturunan iblis laknatullah, menjadi kaum yang beriman. Bahkan mereka menjadi para juru dakwah bagi dinul Islam. 

Dengan pertolongan dan adanya kabar gembira dari Allah Swt itu,  riak-riak awan kesedihan dan keputusasaan menjadi tersibak, yang semenjak pergi ke Thaif wajah beliau selalu muram, bahkan setelah kembali pun beliau masih tampak muram. Dengan kondisi seperti ini beliau menyusun langkah baru untuk menyebarkan Islam dan menyampaikan risalah Allah dengan semangat baru dan optimisme baru pula.

Setelah itu Rasulullah mencari cara untuk masuk ke kota Makkah. Bagaimanapun juga intelijen kaum Qurays telah tersebar dan mengetahui kegagalan upaya Rasulullah di Thaif. Beliau meminta bantuan Akhnas bin Syuraiq dan Suhail bin Amr untuk melindunginya ketika masuk Makkah, tapi keduanya tidak bersedia membantu.

Rasulullah akhirnya mendapatkan jaminan perlindungan dari Muth’im bin Adi. Dengan pengawalan Muth’im bin Adi dan kaumnya beliau berhasil masuk kembali ke kota Makkah dengan aman. Tak ada seorangpun yang berani mengganggu beliau. Wa al hamdulillahi Rabbil Alamin.

oleh Shodiq Ramadhan

suara-islam.com

 

Hingga Jin pun Beriman Kepada Rasulullah Saw

Fiqhislam.com - Berimannya Jin Nashibin merupakan hiburan yang mampu meringankan dan menghilangkan rasa sakit yang diderita Rasulullah akibat perlakuan warga Bani Tsaqif

Setelah upaya pencarian nushrah (pertolongan) kepada para pembesar Thaif gagal, akhirnya Rasulullah memutuskan kembali ke Makkah. Walau dengan penuh kesedihan. Ketika beliau telah sampai di lembah kurma, di tengah malam beliau mendirikan shalat. Saat itulah, tujuh rombongan jin dari komunitas Nashibin melintasi Rasulullah Saw. Merekapun mendengarkan apa yang beliau baca. Setelah beliau selesai shalat, para rombongan jin kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan. Mereka benar-benar telah beriman dan merespon dengan baik apa yang telah mereka dengar.

Kisah ini telah difirmankan Allah Swt di dua tempat dalam Al Qur’an. Satu tempat dalam surat Al Ahqaf ayat 29-31:

dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, Maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: "Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)". ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: "Hai kaum Kami, Sesungguhnya Kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum Kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.

Satu lagi dalam Surat Al Jin:
Katakanlah (hai Muhammad): "Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya Kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu Kami beriman kepadanya. dan Kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan Kami,......” (QS. Al Jin ayat 1-2).


Begitu seterusnya hingga ayat 15.

Sungguh berimannya jin kepada Rasulullah Saw setelah beliau mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi dari orang-orang Bani Tsaqif merupakan hiburan yang mampu meringankan bahkan menghilangkan rasa sakit yang sedang beliau rasakan. Berimannya jin ini juga menjadi penegasan baru bagi Rasulullah bahwa Allah sekali-kali tidak akan mengabaikannya, bahkan Allah senantiasa menyertainya.

Allah Swt mengubah kesedihan yang dihadapi menjadi cahaya yang meneranginya dan mengubah perasaan sakit menjadi hiburan. Hal ini juga menegaskan bahwa bila penduduk bumi mengabaikan bahkan menganiaya Rasulullah, maka di dunia lain, yakni dunia jin dan malaikat ada yang akan membantu, menolong dan menyerukan dakwahnya. Berimannya jin ini juga merupakan cita-cita baru bagi Rasulullah dalam mengubah masyarakat dari kesombongan dan ketololan orang-orang kafir menjadi beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana berubahnya jin, yang pada asalnya adalah makhluk Allah yang paling jahat diantara keturunan iblis laknatullah, menjadi kaum yang beriman. Bahkan mereka menjadi para juru dakwah bagi dinul Islam. 

Dengan pertolongan dan adanya kabar gembira dari Allah Swt itu,  riak-riak awan kesedihan dan keputusasaan menjadi tersibak, yang semenjak pergi ke Thaif wajah beliau selalu muram, bahkan setelah kembali pun beliau masih tampak muram. Dengan kondisi seperti ini beliau menyusun langkah baru untuk menyebarkan Islam dan menyampaikan risalah Allah dengan semangat baru dan optimisme baru pula.

Setelah itu Rasulullah mencari cara untuk masuk ke kota Makkah. Bagaimanapun juga intelijen kaum Qurays telah tersebar dan mengetahui kegagalan upaya Rasulullah di Thaif. Beliau meminta bantuan Akhnas bin Syuraiq dan Suhail bin Amr untuk melindunginya ketika masuk Makkah, tapi keduanya tidak bersedia membantu.

Rasulullah akhirnya mendapatkan jaminan perlindungan dari Muth’im bin Adi. Dengan pengawalan Muth’im bin Adi dan kaumnya beliau berhasil masuk kembali ke kota Makkah dengan aman. Tak ada seorangpun yang berani mengganggu beliau. Wa al hamdulillahi Rabbil Alamin.

oleh Shodiq Ramadhan

suara-islam.com

 

JIN MUKMIN DALAM SURAH JIN

JIN MUKMIN DALAM SURAH JIN

Dalam kurun waktu sangat lama, bangsa jin tunduk kepada iblis dan meyakini bahwa apa yang disampaikan iblis mengenai Allah adalah benar. Mereka telah disesatkan dan digiring ke jalan kekafiran, sampai akhirnya, ketika mereka melintasi kawasan ‘Ukâzh mereka mendengar Al-Quran yang sedang dibaca oleh Rasulullah SAW pada waktu menunaikan salat Subuh. Sejak itulah mereka menyadari bahwa apa yang disampaikan Allah melalui Al-Quran itu benar sedangkan iblis salah, bohong, dan menyesatkan. Mereka juga tahu bahwa perkataan iblis selama ini tentang Allah adalah dusta yang menjerumuskan.

Peristiwa ini kemudian menjadi titik awal yang mengubah pandangan dan keyakinan bangsa jin pada masa Rasulullah SAW sehingga mereka berbondong-bondong masuk Islam dan menjadi mukmin. Al-Quran mengabadikan peristiwa tersebut dalam surah Al-Jin ayat 1-2,

“Katakanlah (hai Muhammad): Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengar-kan (Al-Quran), lalu mereka berkata: 'Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Quran yang menakjubkan. yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami.'" (QS. Al-Jin [72]: 1-2).

Di sini, Rasulullah SAW diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyampaikan pada manusia bahwa ada sekelompok bangsa jin telah mendengarkan Al-Quran yang dibaca oleh Rasulullah SAW. Lalu, ketika mereka kembali pada kaumnya, mereka berkata, "Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Quran yang sangat menakjubkan dan memberi petunjuk kepada kebenaran. Kami telah beriman dan mengakui kebenarannya serta tidak menyekutukan Tuhan kami dengan seorang pun dari makhluk-Nya.”

Ayat ini adalah perintah dari Allah kepada Nabi untuk menyampaikan wahyu tentang peristiwa sekelompok jin ini kepada manusia sehingga mereka tahu bahwa beliau SAW tidak hanya diutus kepada manusia, tetapi kepada bangsa jin juga. Ayat ini juga merupakan cemoohan kepada kaum musyrik Mekah yang enggan beriman setelah sekian tahun lamanya Rasulullah berdakwah pada mereka, seolah-olah ingin menyatakan,

"Wahai manusia, bukankah di hadapan kalian seorang utusan Allah berdiri menyeru kalian untuk beriman kepada-Nya dan membuang jauh-jauh kemusyrikan? Seharusnya kalian malu pada sekelompok jin yang begitu mendengar Al-Quran, langsung menyatakan beriman dan tidak menyekutukan Allah. Sementara, kalian semua tetap berkubang dalam lumpur kekafiran dan kemusyrikan."

Dalam tata bahasa Arab, lafaz Nafarun yang terangkai dalam kalimat, Nafarun minal jinni (sekelompok bangsa jin) pada ayat di atas menunjukkan jumlah hitungan lebih dari tiga hingga sembilan kelompok. Sebagaimana halnya Lafaz bidh'i dalam kalimat fî bidh'i sinin (dalam beberapa tahun) yang termaktub dalam surah Ar-Rum [30]: 4 yang juga menunjukkan bilangan hitungan (jumlah) antara tiga hingga sembilan tahun. Oleh karena itu dapat difahami bahwa jin yang mendengarkan Al-Quran yang dibaca rasul dalam shalatnya itu lebih dari tiga kelompok (suku).

Para ulama tafsir menyebutkan bahwa jin-jin tersebut berasal dari Nasibin (Nashibain). Terletak di sebuah dusun terpencil di daerah Syam. Saat itu mereka melintas di lokasi Rasulullah SAW melaksanakan shalat subuh. Sebelum peristiwa ini terjadi, tak terbersit dalam benak sekelompok jin di atas bahwa ada jin dan manusia yang lancang berbohong mengenai Allah sehingga mereka menerima begitu saja apa-apa yang disampaikan kepada mereka oleh iblis dan jin kafir (setan). Hal ini tidak terlepas dari jauhnya jarak masa kenabian antara Nabi Isa AS dengan Nabi Muhammad SAW. Di antara masa itu tertiup berita bohong yang dihembuskan oleh iblis dan sekutu-sekutunya bahwa Allah tidak akan menurunkan seorang rasul bagi manusia.

"Dan sesungguhnya mereka (jin) menyangka sebagaimana persangkaan kamu (orang-orang kafir Mekah), bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkit-kan seorang (rasul) pun" (QS. Al-Jin [72]: 7).
Namun ketika sampai pada saat di mana Rasulullah SAW diutus oleh Allah SWT, citarasa yang baik dari sekelompok jin ini—yang menganggap berbohong kepada Allah itu buruk—membuka ruang di hati mereka untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Tidak sedikit manusia yang berhati bersih disesatkan oleh manusia lain yang berhati busuk dengan jalan membisikkan kata-kata bohong dan penuh tipu daya di telinga mereka. Tidak sedikit pula manusia yang tadinya baik tiba-tiba menjadi jahat akibat pengaruh buruk yang ditimbulkan dari seorang manusia yang jahat. Sekelompok jin itu pun tahu—setelah mendengar langsung—bahwa Al-Quran itu benar dan memberi petunjuk kepada kebenaran. Mereka baru menyadari bahwa apa yang selama ini mereka dengar tentang Allah dari iblis dan jin kafir (setan) adalah bualan kosong yang justru menjauhkan mereka dari cahaya kebenaran. Kesadaran inilah yang menggugah mereka mengimani Al-Quran.

Seharusnya, kaum musyrik Mekah lah yang lebih layak beriman sebagaimana yang diperbuat sekelompok jin itu. Tetapi, mereka tidak melakukannya. Hati mereka berbeda seratus delapan puluh derajat dengan hati sekelompok jin tersebut. Hati jin ini sebenarnya suci dan bersih sebagaimana Allah ciptakan fitrah hati untuk manusia, tetapi kemudian disesatkan oleh setan yang berbicara bohong tentang Tuhan, di antaranya menyatakan bahwa, Tuhan itu beristri, memiliki anak, dan sebagainya. Begitu kebenaran tersingkap di hadapan mereka, maka akal dan hati mereka terbuka. Mereka lalu menyatakan diri beriman pada risalah yang dibawa oleh Muhammad SAW.8

Sementara itu, hati kaum musyrik Mekah—dan hati siapa pun yang membatu seperti hati mereka, di mana pun dan kapan pun mereka hidup adalah hati yang rapuh, gelap, dan tertutup dari kebenaran Al-Quran. Hati yang bersih dapat dengan mudah menangkap cahaya Al-Quran, dan menembus jauh ke lubuk terdalam, sedangkan hati yang rusak dan sesat tidak dapat menangkap cahaya agung itu dan tidak memperoleh petunjuk.

Begitulah keadaan hati sekelompok jin itu jika dibandingkan dengan hati kaum musyrik Mekah dan hati siapa saja yang seperti mereka di sepanjang masa. Sekelompok jin mukmin ini, dengan antusias mengelilingi Rasulullah SAW demi mendengarkan Al-Quran yang dibaca oleh beliau. Al-Quran menuturkan bagaimana tingginya apresiasi yang ditunjukkan oleh sekelompok jin mukmin ini tatkala berada di tengah-tengah Rasulullah SAW saat beliau melaksanakan shalat,

Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadah), hampir saja jin-jin itu desak-mendesak mengerumuninya. (QS. Al-Jin [72]: 19)

Sebagian ulama mengatakan bahwa ayat di atas menceritakan sekelompok jin yang berkumpul untuk menyimak bacaan Al-Quran dari Rasulullah SAW itu saling dorong dan tumpang tindih demi berebut tempat paling dekat dengan beliau agar dapat menyimak bacaan Al-Quran lebih jelas dan antusias. Mereka juga kagum menyaksikan cara ibadah Rasulullah SAW dengan melakukan rukuk, sujud, dan berdiri. Allah melukiskan bagaimana mereka berkumpul dan bersesak-sesak mengitari Rasulullah dengan berfirman, “hampir saja mereka itu desak- mendesak mengerumuninya.”

Dari berbagai sisi, Al-Quran yang penuh dengan mukjizat Ilahi serta mengandung nilai sastra yang tinggi itu telah mengundang rasa takjub dan kekaguman bagi mereka. Dan pada gilirannya menghantarkan mereka kepada keimanan "... Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur'an yang menakjubkan. (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami." (QS. Al-Jin [72]: 1-2).

Tingginya apresiasi yang ditunjukkan jin-jin saleh ini dapat dilacak pula pada hadis yang diriwayatkan Ibn Jarîr. Beliau mengatakan bahwa pada suatu malam Rasulullah SAW membacakan surat al-Rahmân kepada utusan-utusan kaum jin. Kepada para sahabat beliau bersabda, “Tanggapan mereka lebih baik dibanding kalian. Setiap sampai pada firman Allah “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Mereka lalu berkata: ‘Tidak sedikit pun dari nikmat-Mu yang kami dustakan, wahai Tuhan kami. Maka, hanya bagi-Mu segala puji.’”

Catatan Kaki

1 “(Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah [2] : 2-3).

Yang disebut sebagai beriman adalah kepercayaan yang teguh dan disertai dengan ketundukan serta penyerahan jiwa. Tanda-tanda adanya iman ditunjukkan dengan mengerjakan apa yang dikehendaki oleh iman itu. Pada titik ini, yang dimaksud dengan beriman kepada yang gaib adalah dengan meyakini (mengi’tikadkan) adanya sesuatu yang maujud namun tidak dapat ditangkap oleh pancaindera manusia. Akan tetapi karena ada dalil yang menunjukkan kepada adanya, seperti: adanya Allah, malaikat-malaikat, jin, iblis, hari akhirat, dan sebagainya, maka manusia wajib mengimaninya.

2 Simaklah pengakuan kaum jin tentang kebiasaan bangsa Arab Jahiliyah yang diabadikan oleh Al-Quran, ”Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al-Jin [72] : 6)

3 Lihat pula QS. Ar-Rahmân [55]:15, “Dan Kami telah menciptakan jin dari nyala api.”

4 “Sesungguhnya ia (jin) dan pengikut-pengikutnya melihat kalian (hai manusia) dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (QS. Al-A’raf [7] :27).

5 Lihat surat Al-Anfâl [8]: 48.

6 Dalam kesempatan yang berbeda Rasulullah SAW menuturkan bahwa setan yang mengganggu orang-orang mukmin saat melaksanakan shalat bernama Khinzab.

7 Lihat QS. Adz-Dzariyat ayat 56: ”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”

8 Kebohongan iblis dan jin musyrik (setan) pada kelompok/bangsa jin lainnya dapat dilacak pada surah Al-Jin ayat 3-5
Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak. Dan bahwasanya: orang yang kurang akal daripada kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah, dan sesungguhnya kami mengira, bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah.