<
pustaka.png
basmalah.png

Ketidakmampuan Orang Kafir Menemukan Satu pun Kekurangan Nabi Muhammad Saw

Ketidakmampuan Orang Kafir Menemukan Satu pun Kekurangan Nabi Muhammad Saw

Fiqhislam.com - Kaum kafir di Makkah kesulitan untuk menjatuhkan perjuangan dan kesabaran Nabi Muhammad SAW serta umat Islam.

Sejak memuncaknya permusuhan antara kaum kafir Quraisy di Makkah dengan Nabi Muhammad SAW, terpikir oleh kaum kafir untuk menyusun alat propaganda anti Nabi Muhammad SAW.

Dilansir dari buku Sejarah Hidup Nabi Muhammad SAW yang ditulis oleh Muhammad Husain Haekal, disebutkan suatu ketika, beberapa orang dari kalangan Quraisy datang berunding dan mengadakan pertemuan di rumah Walid bin al-Mughirah.

Maksudnya supaya dalam menghadapi Nabi Muhammad SAW itu satu sama lain di antara mereka tidak bertentangan, dan tidak saling mendustakan mengenai apa yang harus mereka katakan kepada orang-orang Arab yang datang pada musim ziarah itu.

Di antara kaum kafir Quraisy, ada yang mengusulkan, supaya dikatakan saja, bahwa Nabi Muhammad SAW itu dukun. Tetapi Walid menolak pendapat ini, sebab apa yang dikatakan Nabi Muhammad SAW bukan kumat-kamit seperti seorang dukun.

Kemudian kaum kafir mengusulkan lagi, agar dibuat propaganda bahwa Nabi Muhammad SAW itu orang gila. Walid pun menolak pendapat ini, sebab gejala atas tuduhan orang gila tidak tampak pada diri Nabi Muhammad SAW yang sangat baik akhlak dan fisiknya.

Ada lagi kaum kafir yang menyarankan supaya Nabi Muhammad SAW dikatakan sebagai tukang sihir. Pendapat ini juga ditolak Walid, sebab Nabi Muhammad SAW tidak mengerjakan rahasia juru tenung atau sesuatu pekerjaan tukang-tukang sihir.

Sesudah terjadi diskusi akhirnya Walid mengusulkan supaya kepada peziarah-peziarah orang-orang Arab itu dikatakan bahwa dia (Nabi Muhammad) seorang juru penerang yang mempesonakan.

Apa yang dikatakan Nabi Muhammad SAW merupakan pesona yang akan memecah-belah orang dengan orangtuanya, dengan saudaranya, dengan istri dan keluarganya.

Menurut Walid, apa yang dituduhkan terhadap Nabi Muhammad SAW dan disampaikan kepada orang-orang Arab pendatang itu merupakan bukti, sebab penduduk Makkah sudah ditimpa perpecahan dan permusuhan. Padahal sebelum itu penduduk Makkah merupakan suatu contoh solidaritas dan ikatan yang paling kuat.

Pihak kafir Quraisy pada musim ziarah itu segera menyongsong orang-orang yang datang berziarah ke Makkah dengan memperingatkan mereka jangan mendengarkan perkataan Nabi Muhammad SAW dan pesona bahasanya. Jangan sampai mereka itu mengalami bencana seperti yang dialami penduduk Makkah dan menjadi api fitnah yang akan membakar seluruh jazirah Arab.

Akan tetapi, propaganda begini tidak dapat berdiri sendiri, juga tidak dapat melawan penerangan yang mempesonakan yang sudah dipercayai orang-orang.

Kalau memang kebenaran yang dibawa oleh penerangan Nabi Muhammad SAWyang mempesonakan itu, apa salahnya orang mempercayainya?

Di samping propaganda itu, Quraisy harus punya propaganda lain lagi. Untuk propaganda itu Quraisy akan mendapatkannya pada An-Nadhr Ibn Harits.

An-Nadhr Ibn Harits ini adalah setannya kaum kafir Quraisy, orang yang pernah pergi ke Hira dan mempelajari cerita raja-raja Persia, peraturan-peraturan agamanya, ajaran-ajarannya tentang kebaikan dan kejahatan serta tentang asal-usul alam semesta.

Ketika dalam pertemuan, Nabi Muhammad SAW mengajak orang-orang kepada Allah SAW, serta memperingatkan mereka tentang akibat-akibat yang telah menimpa bangsa-bangsa sebelumnya yang menentang peribadatan kepada Allah. An-Nadhr Ibn Harits lalu datang menggantikan tempat Nabi Muhammad dalam pertemuan itu.

Maka berceritalah An-Nadhr Ibn Harits kepada kaum Quraisy tentang sejarah dan agamanya. "Dengan cara apa (Nabi) Muhammad membawakan ceritanya lebih baik daripada aku? Bukankah (Nabi) Muhammad membacakan cerita-cerita orang dahulu seperti yang kubacakan juga?" kata An-Nadhr Ibn Harits.

Quraisy pun lalu menyebarkan kisah-kisah An-Nadhr Ibn Harits itu dengan jalan bercerita lagi sebagai propaganda atas peringatan dan ajakan (Nabi) Muhammad kepada mereka itu.

Kemudian, orang-orang Quraisy menuduh bahwa sebagian besar apa yang dibawa Nabi Muhammad itu adalah pelajaran dari Jabr yang beragama Nasrani.

Kaum kafir mengatakan, apabila ada orang yang mau meninggalkan kepercayaan nenek-moyangnya, maka agama Nasrani inilah yang lebih utama. Jadi tuduhan inilah yang di desas-desuskan oleh Quraisy. Untuk itulah Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَلَقَدْ نَعْلَمُ اَنَّهُمْ يَقُوْلُوْنَ اِنَّمَا يُعَلِّمُهٗ بَشَرٌۗ لِسَانُ الَّذِيْ يُلْحِدُوْنَ اِلَيْهِ اَعْجَمِيٌّ و وَّهٰذَاا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُّبِيْنٌ

Sungguh, Kami benar-benar mengetahui bahwa mereka berkata, “Sesungguhnya ia (Al Quran) hanyalah diajarkan kepadanya (Nabi Muhammad) oleh seorang manusia.” Bahasa orang yang mereka tuduh (bahwa Nabi Muhammad belajar kepadanya) adalah bahasa ajam (bukan bahasa Arab). Padahal, ini (Al Quran) adalah bahasa Arab yang jelas.” (QS An-Nahl ayat 103)

Dengan propaganda semacam itu, kaum kafir Quraisy memerangi Nabi Muhammad SAW. Kaum kafir berharap propagandanya akan lebih ampuh daripada gangguan dan siksaan kaum kafir kepada Nabi Muhammad SAW dan umat Islam.

Akan tetapi kuatnya kebenaran dalam bentuk yang jelas dan sederhana yang dilukiskan melalui ucapan Nabi Muhammad SAW, lebih tinggi dari kebohongan yang dikatakan kaum kafir. Semakin hari, semakin tersebar juga ajaran Islam di kalangan orang-orang Arab. [yy/fuji e permana/republika]

 

top