15 Safar 1443  |  Kamis 23 September 2021

basmalah.png

4 Ujian yang Membuat Nabi Muhammad Lebih Kuat

4 Ujian yang Membuat Nabi Muhammad Lebih Kuat

Fiqhislam.com - Allah SWT mencintai Nabi Muhammad SAW lebih dari ciptaan-Nya yang lain. Allah berfirman, "Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur. Karena Tuhanmu yang mendidikmu dengan akhlak Alquran. (QS Al-Qolam Ayat 4)

Meski demikian, Nabi SAW juga mengalami kesulitan yang luar biasa dalam hidupnya. Kalau Rasulullah dicintai Allah SWT, lantas mengapa Allah menimpakan masalah kepada Nabi SAW? Ujian itu sesuai dengan keimanan seseorang. Yang paling berat ujiannya di antara manusia adalah para Nabi.

Nabi Muhammad bersabda, "Ketika saya jatuh sakit, rasa sakit saya seperti rasa sakit dua orang di antara kamu" (HR Bukhari).

Berikut ini adalah empat cobaan yang ditimpakan kepada Nabi Muhammad SAW yang menjadikan beliau punya karakter yang kuat.

1. Yatim Piatu

Kehidupan Nabi SAW sudah susah sejak lahir. Dia terlahir sebagai yatim piatu dan ibunya tidak hidup lebih lama lagi. Namun, menjadi yatim piatu adalah berkah tersembunyi. Pengaruhnya terhadap beliau SAW sangat luar biasa. Dia menjadi orang yang lebih kuat, baik secara spiritual maupun mental. Hal ini membuat dia siap untuk misi mulianya sebagai seorang Nabi yang akan segera datang.

2. Ditinggalkan Orang-Orang Tersayang

Nabi Muhammad pindah ke rumah pamannya, Abu Thalib, dan mulai ikut berdagang di mana ia bertemu istrinya kelak, Khadijah. Dalam kondisi ini, tampak bahwa Allah SWT memilih Muhammad untuk mengemban misi yang besar, yaitu kenabian.

Khadijah berdiri di sisinya, menawarkan tidak hanya dukungan emosional tetapi juga dukungan finansial kepada suaminya dan komunitas Muslim yang baru. Abu Thalib adalah pelindung yang kuat untuk keponakannya dalam menghadapi ancaman kejam dari orang-orang Makkah saat itu.

Namun, orang-orang yang menyayangi dan mendukung Nabi Muhammad lebih dulu dipanggil Allah SWT. Beliau kehilangan paman dan istri tercintanya Khadijah pada tahun yang sama, tahun kesedihan. Apalagi keturunannya semua juga meninggalkan beliau lebih dulu, kecuali Fatimah.

Lalu apakah ini membuat Nabi Muhammad SAW menyimpan dendam atas takdir yang telah ditetapkan Allah SWT? Sebaliknya, justru keseimbangan menjadi Nabi yang taat dan ayah yang berhati lembut terwujud dengan baik.

3. Kesulitan di Makkah

Selama 13 tahun pertama hidupnya di Makkah, ia dan para pengikutnya menghadapi banyak penganiayaan. Mereka bahkan tidak diberi makanan dan air. Dalam kelaparan inilah Khadijah istri tercintanya meninggal. Ketika musuh Nabi SAW sangat meningkatkan penganiayaan mereka, para sahabat memintanya untuk mengutuk mereka. Namun Nabi menjawab, "Aku tidak diutus untuk mengutuk manusia tetapi untuk menjadi berkah untuk mereka. (HR Muslim)

Nabi Muhammad ingin menuntaskan misinya meski harus melalui jalan terjal. Sifatnya yang mulia sangat sempurna. Hal ini tampak dalam kisah Taif. Dia pergi mengunjungi desa Taif, untuk mengajak masyarakatnya masuk Islam. Mereka menolaknya, melemparinya dengan batu, dan membuatnya berdarah.

Dalam hadits riwayat Bukhari, malaikat Jibril mendatanginya dan berkata:

"Allah telah mendengar apa yang dikatakan kaummu kepada engkau dan bagaimana mereka menolak engkau. Dia telah memerintahkan para malaikat untuk mematuhi apa pun yang engkau perintahkan kepada mereka. Kirim saya untuk melakukan apa yang engkau inginkan. Jika engkau mau, saya akan menghancurkan mereka di antara dua gunung Makkah."

Mendengar hal itu, Nabi SAW tidak ingin membalas orang-orang yang telah berbuat buruk kepadanya, dan justru mendoakan mereka agar menyembah Allah SWT dan tidak menyekutukan-Nya.

Bahkan Nabi SAW pernah saat akan berdiri untuk sholat, musuh-musuhnya mendekatinya dan bersiul serta bertepuk tangan untuk mengganggunya, tetapi Nabi SAW tidak pernah menunjukkan permusuhannya. Ketika Nabi sedang sholat di Ka'bah sementara musuh-musuhnya mengawasinya, salah satu lawannya meletakkan di punggungnya usus unta yang disembelih saat sujud. Nabi tidak bereaksi dan tetap dalam posisi itu. Putrinya, Fatimah, bergegas mengambil kotoran dari punggungnya dan membersihkannya.

Karena itu, bagaimana pun, cobaan dan musibah adalah ujian bagi para hamba Allah, dan merupakan tanda cinta Allah kepada seseorang. Dalam hadits shahih riwayat At-Tirmidzi, disebutkan:

"Hadiah terbesar datang dengan cobaan terbesar. Ketika Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Barang siapa yang menerimanya maka ia mendapatkan keridhaan-Nya, tetapi barang siapa yang tidak puas dengan itu maka ia mendapatkan murka-Nya.

4. Kesulitan di Madinah

Dalam perang Uhud, ketika musuh, yaitu orang-orang Makkah, menyerang kaum Muslim, Nabi Muhammad mengalami luka di kepala dan gigi depannya patah. Ketika darah mulai merembes dari kepalanya, dia menyekanya sambil berkata, "Jika setetes darahku jatuh ke bumi, orang-orang kafir itu akan dihancurkan oleh Allah."

Lalu Umar berkata kepadanya, "Wahai Rasulullah, kutuklah mereka!" Nabi menjawab, "Saya tidak diutus (oleh Allah) untuk mengutuk. Saya diutus sebagai rahmat." Lalu dia bersabda, "Ya Allah, bimbinglah umatku! (Dishahihkan oleh al-Albani)

Gambaran lain tentang bagaimana kesabaran Nabi Muhammad SAW adalah ketika ia mengalami kerugian yang dideritanya akibat seorang tetangganya yang Yahudi. Dilaporkan bahwa salah satu tetangga Nabi adalah seorang Yahudi yang membenci Nabi. Setiap hari Yahudi itu membuang sampah di jalan, tetapi Nabi tidak pernah menegurnya.

Suatu hari, orang Yahudi itu tidak muncul. Nabi bertanya tentang dia, dan diberitahu bahwa dia sakit. Jadi, dia pergi untuk menjenguknya. Setelah melihat ini, orang Yahudi itu memeluk Islam.

Nabi Muhammad SAW memiliki kesempatan membalas dendam ketika Makkah akhirnya menjadi miliknya lagi. Para pemimpin Makkah saat itu datang kepadanya karena takut dibantai oleh umat Muslim. Namun, Rasulullah bersabda, "Pergilah! Kalian semua bebas!" (Dishahihkan al-Albani). Dalam hadits riwayat Muslim, Aisyah berkata sifat Nabi adalah Alquran. [yy/republika]