22 Dzulhijjah 1442  |  Minggu 01 Agustus 2021

basmalah.png

Aminah binti Wahb: Dari Rahimnya Lahir Rasulullah

Aminah binti Wahb: Dari Rahimnya Lahir Rasulullah

Fiqhislam.com - Allah SWT berfirman. "Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?." (al-Dhuha [93): 6). Dialah ibunda Rasulullah SAW. Nama lengkapnya Aminah binti Wahb ibn Abdu Manaf, yang populer dengan julukan Ibnu Zuhrah. Aminah juga dikenal dengan penghulu para wanita Bani Zuhrah

Ibunya bernama Barrah binti 'Abdul "Uzza ibn 'Utsman ibn "Abdud Dar ibn Qushay ibn Kilab. Nenek dari ibunya bernama Ummu Habib binti Asad ibn 'Abdul Uzza ibn Qushay.

Dalam kaitan ini. Ibnu Qutaibah mengatakan, "Tidak diketahui Aminah binti Wahb memiliki saudara laki-laki, sehingga menjadi paman Nabi SAW dari pihak ibu. Namun, orang-orang Bani Zuhrah mengatakan, 'Kami adalah paman Nabi SAW. Hal itu bisa dimaklumi karena Aminah berasal dari kalangan mereka."

Di tengah kaum Quraisy, Siti Aminah adalah wanita terbaik dari sisi nasab, kota asal kelahiran, dan kedudukan. Berdasarkan dialek yang biasa digunakan, Siti Aminah berasal dari kota Makkah.

Saudara-saudaranya juga tinggal di kota Makkah. Petikan kisah Siti Aminah binti Wahb menyebutkan ibunda Nabi SAW ini lahir dan dibesarkan di rumah kuno Bani Zuhrah.

Siti Aminah tumbuh dewasa di dekat Baitul 'Atiq (Baitullah). Bersama teman-teman sebayanya, ia sering pergi ke Ka'bah, melihat rumah-rumah di sekeliling Baitul Haram. Kebetulan, rumah-rumah Bani Zuhrah dan Bani Hasyim termasuk rumah yang paling dekat dengan Baitul Atiq.

Konon perkampungan Bani Zuhrah dan Bani Hasyim sendiri merupakan perkampungan Arab paling mulia kala itu. Masa kecil Siti Aminah binti Wahb sederhana.

Dalam Ensiklopedia Wanita Al-Qur'an, Imad al-Hilali menulis Aminah kerap berdiri dekat Ka'bah menyaksikan orang-orang bertawaf, serta sumur Zamzam yang airnya melepas dahaga orang-orang berhaji. Demikian pula kedudukan dan kemuliaan yang diberikan Allah kepada kaum Quraisy. Walau usia masih terbilang muda, tetapi Siti Aminah bisa menyadari dirinya berasal dari keluarga kaum Quraisy paling mulia.

Namun, rupanya kesederhanaan itu belum mampu disadari sepenuhnya oleh Siti Aminah. Tak sadar jika dirinya juga berdiri di antara bukit Shafa dan Marwah.

Tak sadar jika dirinya adalah wanita paling mulia yang menginjakkan kedua kakinya di atas butiran-butiran pasir yang pernah diinjak oleh seorang wanita mulia pada zamannya. Darinya akan terlahir cahaya Makkah yang kemudian memancar ke seantero muka bumi.

Bersama teman sebayanya, Siti Aminah kecil juga kerap menghabiskan waktunya untuk masuk ke Baitul Haram, melihat ma qam Ibrahim a.s. dan sumur Zamzam. Ia pergi bersama teman teman kecilnya ke sumur itu dan meminum airnya. Setelah itu, Siti Aminah kecil kembali ke Baitul Haram untuk bertawaf bersama para tha'ifin.

Kala itu, berhala-berhala masih tegak berdiri di dalam dan di sekitaran Ka'bah. Tak sedikit para penyembah berhala yang mengatakan perbuatan nista mereka itu bertujuan mendekatkan diri kepada Allah.

Sementara Siti Aminah hanya bisa menyaksikan dengan penuh keraguan. Kendati demikian, dirinya tahu kakeknya Abu Kabasyah hanya bisa membiarkan, namun mengingkari berhala berhala tersebut.

Tak sungkan ia mengejek bahwa menyembah berhala tak bisa memberi manfaat atau pun madarat. Walau demikian, Siti Aminah tahu dari keluarganya bahwa Abu Kabasyah juga menyeru untuk menyembah bintang al Sya'ri sebagaimana tradisi menyembah bintang-bintang yang biasa ditempuh masyarakat Arab kala itu.

Waktu terus berlalu. Aminah binti Wahb kian dewasa. Apa yang tergambar dalam benaknya kian banyak. Sering sekali ia mendengar kabar dari para rahib dan juru ramal akan ada seorang nabi di tengah umat ini.

Para wanita Arab pun berharap nabi itu lahir dari rahim mereka. Terlebih ada bocoran nabi tersebut akan muncul di tengah masyarakat Arab, tepatnya di tengah penduduk kota Makkah.

Konon, para wanita Quraisy kala itu dikenal dengan ketajaman firasatnya yang mampu meramal wajah para pemuda mereka. Bahkan, sebagian dari mereka sudah mampu mengarahkan firasatnya kepada Abdullah ibn Abdul Muththalib, ayahanda Nabi SAW.

Kecenderungan hati mereka kuat kepadanya. Sang nabi akan lahir dari tulang rusuknya. Rupanya, dugaan itu digali dari ketampanan wajahnya dan pancaran cahaya keningnya.

Dalam Ensiklopedia Wanita Al-Qur'an, Imad al-Hilali menulis, pada suatu hari, Siti Aminah masuk kamar pribadinya. Tiba tiba, dirinya melihat kedua orang tuanya memperhatikan. Memandang dirinya dengan tajam.

Tak lama, ia mendengar mereka bermunajat dengan suara lirih. Tetapi, sang ibunda Barrah bin ti 'Abdul 'Uzza adalah seorang wanita cerdas nan bijak. Ia segera menghampiri, lalu berkata dengan tenang, "Wahai Aminah, ayah mu akan membawamu ke Darun Nadwah. Maka bersiaplah.

Pikiran di benak Siti Aminah mulai berputar. Terpikirlah bahwa Darun Nadwah menjadi batas pemisah antara masa kanak-kanak dan masa remajanya.

Kini Aminah kian dewasa. Masa kanak-kanak perlahan ia tinggalkan dan masa dewasa, ia masuki. Aminah juga sudah dewasa sehingga harus menutup aurat dengan baik. Singkat cerita, Siti Aminah berkemas untuk berangkat ke Darun Nadwah bersama sang ayah.

Sebelumnya, tak lupa mereka terlebih dahulu menemui Ka'bah dan bertawaf tujuh putaran. Setelah itu, barulah mereka bertolak ke Darun Nadwah, yang tak lain adalah rumah Bani Abdud Dar ibn Qushay.

Di rumah itu, mereka mengadakan semua acara pernikahan, khitanan, atau penyelesaian masalah di antara mereka. Setiba di Darun Nadwah, Siti Aminah dibawakan hijab dan pakaian gamis. Wajahnya ditutup.

Pertanda bahwa Siti Aminah sudah dewasa dan diwajibkan menutup aurat. Kemudian, Siti Aminah pun kembali ke rumah Bani Zuhrah. Namun, masa kanak-kanak dengan dirinya sudah terhalang. [yy/republika]