18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

Gambar Nabi Muhammad di Mata Orang Barat Non-Muslim

Gambar Nabi Muhammad di Mata Orang Barat Non-Muslim

Fiqhislam.com - Soal sosok atau gambar Nabi Muhammad sampai sekarang bagi orang yang hidup dalam budaya kebebasan ala Barat dan non Muslim, selalu menjadi tanda tanya. Mereka terus menganggap bahwa ‘harus’ dan pasti ada gambar Nabi Muhammad yang mereka anggap sebagai ‘pendiri Islam’.

Mengapa sikap keras kepala ini terjadi? Ini karena mereka banyak mengacu pada berbagai ilustrasi di buku karya-karya Islam klasik di masa kekhalifahan Islam yang mereka yakini sebagai gambar sosok Nabi Muhammad. Mereka terus berkeras bahwa gambar itu ada karena bagi mereka pada saat yang sama gambar Yesus dalam agama Kristen pun ada.

Mereka menganggap kalau gambar Yesus ada, mengapa gambar Nabi Muhammad yang lahir sekitar 500-an tahun kemudian tak ada.

Mereka beranggapan pula seharusnya setiap masuk ke masjid juga ada gambar Nabi Muhammad seperti halnya masuk ke gereja yang pasti menemukan gambar Yesus Kristus. Padahal, kalau kita baca di berbagai buku terbitan internasional, sosok gambar atau figur Yesus digambarkan berbeda-beda. Ada sosok Yesus ala orang China, ala orang Afrika, dan lainnya.

Bahkan, semua tahu sosok Yesus yang ada lazim dikenal sekarang itu sosok gambar Yesus karya pelukis Italia yang terkenal, Michelangelo. Gambar Yesus dengan wajah ala orang Eropa ini mendasarkan pada temuan kain kafan dari kota di jazirah Eropa selatan, yakni Turin di Italia. Kain kafan ini diklaim sebagai kain kafan pembungkus jenazah tubuh Yesus Kristus. Di kain itu lamat-lamat ada gambar muka dan bekas kekerasan yang terjadi pada tubuh tersebut.

Adanya gambaran itulah, maka orang Barat non-Muslim berkeras harus ada gambar Nabi Muhammad. Hal itu tercermin dalam tulisan Shaamer Rahim, di Majalan Seni Internasional (The International Art Magazine), Apalollo. Feature atau artikel ini ditulis pada 19 Desember 2019. Tulisan itu bertajuk, ‘Eye of the beholder –how the Prophet Muhammad has been depicted through the Centuries’.

Adanya artikel itu maka kami berusaha menerjemahkan dan menyuntingnya dengan menghilangkan banyak hal yang sangat sensisitif bagi kaum Muslim. Sebab, sampai kini gambar Nabi Muhammad memang mutlak dilarang adanya. Bahkan, dalam film Hollywood yang terkenal karena bercerita soal perjuangan Rasulullah ‘Dawn of Islam’ pada dekade 1970-an, gambar Nabi tak pernah terlihat. Caranya, bila ada stok adegan perbincangan dengan Nabi SAW, kamera hanya disorotkan ke arah pembicara. Begitu juga ketika berada di punggung onta, misalnya, yang tampak hanya ontanya saja, bahkan hanya tali kekangnya saja.

Artikel Shaamer Rahim itu begini lengkapnya:

"Di sebuah tempat tersembunyi yang ada di Tropenmuseum di Amsterdam terdapat sebuah medali perunggu luar biasa yang menampilkan seorang lelaki berpenampilan mulia memegang sebuah buku. Halo (gambar lingkaran di atas kepala orang suci/santo dalam tradisi Kristen Eropa, red) dan janggutnya membuatnya menyerupai Yesus. Ada doa Islami yang melingkar di tepi menunjukkan bahwa ini, mereka percaya itu sebagai gambar Nabi Muhammad yang berpose dengan sebuah Qur'an."

Pada saat pembelian koin itu pada tahun 1976, pihak penjual yang berasal dari Iran bersikeras bahwa itu memang gambar Muhammad. Namun, kurator Tropenmuseum ragu-ragu: seperti banyak yang lain, kurator percaya bahwa Islam tidak menyukai seni figuratif, bahkan secara umum melarang keras gambar pendiri agamanya itu. Koin itu kemudian disimpan.

Hanya sekarang, 40 tahun kemudian, setelah membandingkannya dengan lukisan yang diklaim sebagai lukisan nabi yang ditemukan pada abad ke-19  pihak Tropenmuseum mulai mengakui kejujuran penjual koin antik dari Iran itu.

Pengakuan lambat atas keberadaan gambar-gambar semacam itu belum terbantu oleh kontroversi baru-baru ini. Sejak protes tahun 2006 terhadap surat kabar Denmark Jyllands-Posten dan serangan pembunuhan terhadap majalah Prancis Charlie Hebdo pada tahun 2015, yang keduanya telah mencetak karikatur Nabi, para kurator menjadi semakin cemas tentang apa yang mungkin bersembunyi di koleksi mereka.

Ini karena adanya gambar Nabi Muhammad sangat umum, terutama dalam buku-buku bergambar kaya yang dibuat di pengadilan Persia dan Ottoman, baik Sunni dan Syiah, antara 1300 dan 1800. Dalam wazir Ilkhanid Rashid ad-Din sejarah dunia tahun 1314, ada beberapa yang menarik yang bisa menjadi contoh awalnya. Tetapi ketika University of Edinburgh menampilkan folio-folio itu pada tahun 2014, gambar-gambar Nabi hilang secara misterius.

Persepsi Perlakuan Gambar Yesus Kristus Terhadap Gambar Nabi

Maka, dalam suasana 'deman' pasca-Charlie Hebdo, Museum Victoria dan Albert bahkan kemudian menghapus dari basis data daring sebuah poster Iran tentang seorang pemuda yang diklaim bernama Muhammad. Seorang juru bicara lembaga ini mengklaim bahwa 'timnya telah membuat itu keputusan menghapus demi keamanan'.

Stefano Carboni, direktur Galeri Seni Australia Barat, Perth, telah mencoba untuk mengadakan pameran untuk berjalan secara paralel dengan koleksi esai baru yang bertajuk ’Debat Gambar: Representasi Gambar dalam Islam dan Melintasi Dunia’.

Carboni memberi tahu melalui e-mail bahwa sejumlah lembaga Australia, Asia, dan AS tidak berkomitmen ada rencana atau proyek ini sebab adanya 'risiko yang akan dari pameran, termasuk gambar-gambar Nabi Muhammad ini apakah akan diterima, khususnya oleh komunitas Muslim'.

Mereka sadar betul bahwa soal adanya gambar Nabi Muhammad memang di satu sisi Islam ikonik, di sisi lain gambar ini akan memancing protes bahkan ancaman kekerasan. Karenanya karya-karya seperti itu harus dijelaskan --itu bukan dia (Nabi Muhammad)-- atau disembunyikan dari masyarakat umum.

Syukurlah, pemikiran seperti ini sekarang dipertanyakan. Pakar terkemuka dalam bidang ini adalah Christiane Gruber, seorang profesor seni Islam di University of Michigan. Buku terbarunya, "The Praiseworthy One: Nabi Muhammad dalam Teks dan Gambar Islam" (diterbitkan Indiana University Press) adalah yang pertama berani memuatnya. (Salah satunya ketika dia mengedit tentang apa yang disebut: The Image Debate).

Ketika saya bertemu dengannya di London pada Juni, dia memberi tahu saya bahwa kurator harus lebih berani. 'Setahu saya,' katanya, 'tidak pernah ada reaksi keras atau negatif terhadap pameran publik Muhammad di museum.'

Memang, Gruber percaya bahwa kurator yang menutup mata mereka pada tradisi figuratif ini hanya memperkuat kaum fundamentalis: "Itulah semacam ruang gema dari efek sikap buruk kaum orientalis di masa lalu atau kini dari sikap kaum Salafi yang saya pikir sangat merugikan warisan Islam."

Masalahnya, sebagian mengarah pada kebingungan kategori. Kartun Charlie Hebdo tidak memprovokasi kemarahan karena mereka menggambarkan Nabi --tetapi itu adalah kesengajaan mereka yang disengaja. Ejekan kepada Nabi Muhammad seperti itu memang harus diakui mengakar dalam budaya Barat. Di Eropa abad pertengahan, Nabi adalah tokoh cemoohan.

Hal tersebut misalnya terdapat dalam buku baru John Tolan, "Faces of Muhammad" (Princeton University Press). Buku itu mencetak ulang ilustrasi mengerikan dari manuskrip John Lydgate, puisi abad ke-15, The Fall of Princes, di mana Muhammad digambarkan sebagai sosok manusia palsu yang duduk di antara setan.

*****

Di dunia pasca hancurnya Menara Kembar di New York pada 11 Setember 2001, gambar provokatif tentang Nabi Muhammad diaktifkan kembali. Gambar ini tidak hanya untuk menyerang agama, tetapi juga untuk mengejek minoritas Muslim yang tinggal di Barat.

Maka menurut Gruber, di masa kini kita hidup, tak terhindarkan, dalam apa yang disebut sebagai dunia 'pasca-kartun'. Tapi setidaknya kita bisa mencoba kehilangan sebagian dari khazanah budaya modern kita. "Bagaimana jika kita mundur 30 tahun, mundur ke abad ke-16?" Begitu dia bertanya padaku (penulis, red).

"Bagaimana kita menempatkan diri kita ke dalamnya?" Terutama, dia tidak mereproduksi gambar satir seperti dalam "The Praiseworthy One", atau koleksi esai yang menghina sosok Nabi Muhammad.

Untuk analisis sejarah yang lebih bernuansa, maka kita perlu melupakan masalah-masalah modern seperti kebebasan berbicara dan terorisme, selanjutnya kemudian membayangkan diri kita berada dalam lingkungan seniman dan para pelindung Muslim yang menghormati Nabi melalui lukisannya.

Pada akhir abad pertengahan, dalam karya-karya Sunni dan Syiah, menjadi tidak umum untuk menunjukkan wajah Nabi. Dalam satu biografi Ottoman terkenal yang ditugaskan oleh Murad III, bahkan wajah bayi Muhammad ditutupi. Di sana ternyata kekhawatiran atas penyembahan Nabi Muhammad seperti berhala tetap ada.

Sebuah manuskrip Persia abad ke-16 yang dibuat di Shiraz juga memperlihatkan Muhammad yang terselubung dan menantunya Ali, di pundaknya, mengeluarkan berhala berbentuk monyet dari Ka'bah. Namun ini bukan pengembalian sederhana untuk ikonik sosok Nabi.  

Memang ada yang menggambarkan bahwa penghancuran berhala di Ka'bah itu sendiri dirayakan dengan gambar. Ada gambar sosok Nabi secara utuh karena bertuliskan 'Muhammad' dengan memakai tinta emas.

Namun, jika kemudian gambar itu dilihat dari dekat ternyata wajah di nama mirip lukisan kubisme, yakni dua huruf mim menyerupai mata, ha hidung, dan dal mulut.

Nah, apakah tersebut semacam gambar teka-teki yang mengharuskan pemirsa menggunakan imajinasi mereka sendiri? Dan sementara wajah Ali yang ada digambar itu telah rusak, ini bisa karena ada orang yang selalu menggosok, mencium atau mungkin menjilatnya.

Dan berbeda dengan mereka yang sibuk membuat gambar Nabi, para sufi, misalnya, menekankan keintiman mereka dengan Nabi Muhammad dalam cara lain. Dalam miniatur Bukharan yang sangat indah yang dibuat pada tahun 1530-an, ada gambaran dari tiga orang sufi memunculkannya sosok Nabi dalam pikiran mereka.

Dalam gambar tiga orang sufi tersebut, tampak sebuah Al-Qur'an di dekat sebuah sosok meledak ke dalam nyala api yang sebagai ilustrasi gambar Muhammad di Buraq.

Para seniman penulis kisah itu menampulkan para sufi membayangkan Nabi sebagai kehadiran nyata. Ini dilakukannya melalui fitur-fitur gambar lembut yang menawarkan model yang sempurna untuk seorang mistikus yang pengasih.

Ilustrasi sosok Nabi Muhammad sebagai prajurit, raja, petualang langit dan sufi --ini hanya empat dari gambar sosok Muhammad yang populer. Saat ini Anda kemungkinan besar akan melihat representasi abstrak seperti jejak sandal atau bunga mawar. Penggambaran ini, kita harus perhatikan, tidak kurang bermakna untuk menjadi non-figural.

Salah satu kurator seni Islam di koleksi pribadi di London, yang tak ingin namanya disebut, memberi tahu saya bahwa pembingkaian proyek Gruber untuk 'mengembalikan ke warisan budaya artistiknya yang kaya' kepada Islam, seperti yang dikemukakan oleh The Praiseworthy One, memiliki masalah.

Katanya, “Semua orang tahu betapa pentingnya Muhammad bagi umat Islam [...] dan Islam tidak memerlukan budayanya gambar sosok Nabi dikembalikan padanya."

Dan Gruber pun kemudian mengakui keberatannya. "Ini bukan tentang gambar yang diambil, dan kemudian diberikan kembali kepada umat Islam," katanya padaku.

"Ini tentang mengembalikan wacana yang tepat di sekitar gambar dengan cara yang bebas dari jenis agenda lainnya,'' katanya lagi.

Jadi semua itu hanya bisa terjadi, tentu saja, jika kita dapat melihat gambar dalam konteks yang tepat --bukan pada situs web anti-Muslim tempat mereka sering berkumpul.

Untungnya, semuanya berubah. Museum Rietberg di Zurich menyelenggarakan acara di musim gugur 2020 tentang ikonoklasma dan ikonografi di mana gambar-gambar Nabi akan dimasukkan. Pameran tertunda itu digagas Stefano Carboni katanya kepada saya, "Hampir dipastikan pameran akan diadakan di sebuah lembaga Amerika Utara" tahun depan.

Menurut Carboni dengan bersikeras, "Beberapa Muslim tidak akan pernah ingin melihat Nabi mereka digambarkan. Itu hak mereka. Tapi kami tidak bisa berpura-pura bahwa gambar seperti itu tidak pernah ada."

"Para cendekiawan dan kurator harus memainkan peran mereka dalam memungkinkan umat Islam dan orang lain untuk berbicara satu sama lain sepanjang waktu tentang beragam cara yang telah dianggap Nabi. Karena kepribadian yang mengubah dunia ini selalu ada di mata yang melihatnya," ujar Carboni.

Asal Mula Kontroversi Gambar Nabi

Memang. Setiap kali kunjungi gereja dan Anda akan melihat Kristus, tetapi Muhammad tidak pernah muncul di masjid. Al-Qur'an menuduh orang Kristen salah mendewakan Yesus, dan dengan jelas menggambarkan Nabi Muhammad sebagai 'pemberi peringatan belaka'.

Soal penyembahan berhala juga menjadi perhatian. Tapi di mana pun Al-Qur'an melarang melukis figuratif; bahkan, dalam ayat-ayat yang dikutip oleh seniman-seniman Muslim kemudian.

Apalagi kemudian ada kisah-kisah biografis tentang Nabi yang mengirim pesan beragam. Ada klaim di Barat, ketika beliau setelah menaklukkan Makkah, ia memindahkan patung-patung berhala dari Ka'bah yang suci --tetapi menyimpan ikon Maria dan Yesus. Dia mencaci istrinya Aisyah karena memasang tirai yang dihiasi binatang.

Sejarawan seni Mika Natif berpendapat bahwa keputusan tidak adanya gambar Nabi Muhammad semakin kuat di era Abbasiyah sebagai cara untuk menegur dinasti pendahulunya, Umayyah, yang kegembiraan dalam potret dianggap sebagai gejala kemundurannya.

Sikap dari para pemimpin di era dinasti Abbasiyah mungkin benar. Dinding-dinding pemandian Umayyah yang dipengaruhi Yunani di Qasr Amra, yang sekarang bernama Yordania, di era sebelumnya harus ditutup karena penuh dengan gambar raja-raja mereka. Bahkan, gambar figur pemimpin dinasti Umayyah itu diperkaya dengan lukisan wanita-wanita telanjang dan hewan-hewan pertunjukan --misalnya beruang yang memainkan mandolin yang dianggap sebagai favorit.

Namun gambar Nabi Muhammad mungkin muncul di koin Umayyah dalam 60 tahun setelah kematiannya. Pada tahun 690-an, Khalifah Abdel Malik mencetak dinar emas yang menggambarkan sosok berdiri dengan janggut panjang, memegang pedang. (Kini ada satu di British Museum).

Untuk waktu yang lama, gambar di koin ini diasumsikan ada kemiripan dengan diri Nabi Muhammad. Tetapi perbandingan baru-baru ini dengan koin Bizantium yang sezaman yang menunjukkan bahwa Yesus berjanggut mengubah semua konsensus atas gambar sosok yang diklaim Nabi Muhammad itu.

Alhasil, meski sosok yang mirip berdiri di koin tembaga memiliki nama 'Muhammad' dan jelas tertulis di samping, kemungkinan besar itu bukan potret dari kehidupannya.

Sebaliknya, gambar itu hanya merangkum model prajurit Nabi Muhammad selama apa yang di Barat disebut sebagai era penaklukan Islam. Jadi, bahkan jika itu adalah Nabi, itu tetap saja bukan dia, paling maksimal itu hanya gambar seorang khalifah.

Soal gambar di koin seperti itu segera memudar dari anggapan umum, dan tidak ada gambar yang bertahan dari Nabi selama lima abad berikutnya. Dia muncul kembali, secara tidak biasa, dalam sebuah karya yang sebenarnya bukan tentang berkisah tentang sosok Nabi Muhammad.

Gambar itu pada sebuah akhir dalam cerita romansa Persia, Varqa dan Gulshah. Di kisah ini memang ada sentuhan religius ketika para kekasih secara ajaib dibangkitkan oleh Nabi.

Lestari sebagai Teka-teki Sejarah

Selain itu, ada satu naskah dari dinasti Seljuk dari kisah yang dibuat di Konya, Anatolia Tengah, antara tahun 1200 dan 1250. Di sana ada gambar yang menunjukkan figur Muhammad duduk bersila di atas takhta hijau yang dihadiri oleh empat khalifah penerusnya. Dengan ciri-ciri Turki dengan baju panjang berwarna hitam. Tapi sayangnya ini juga tidak menyakinkan karena ini jelas gaya seorang raja Seljuk.

Bukan hanya itu, gambar dengan gaya Seljuk itu bahkan lebih terlihat berkuasa seperti disebut dalam prolog ke edisi abad ke-14 dari puisi epik Ferdowsi Shahnameh, yang mana Nabi Muhammad dibayangkan sebagai prototipe ideal untuk raja-raja Persia kuno yang memerintah.

Namun memang ada satu subjek yang sangat populer untuk disebut sebagai ilustrasi gambar Nabi Muhammad. Gambar ini adalah terkait dengan Isra Mi'raj.

Ilustrasi dalam buku itu merupakan gambar yang berasal dari beberapa ayat Al-Qur'an pendek, dan narasi diuraikan menjadi petualangan yang hidup. Di sana ada gambar Nabi Muhammad yang tampak menunggang kuda terbang yang disebut Buraq melalui surga.

Namun, kisah magis ini pun sebenarnya hanya mengakomodasi ikonografi pra-Islam. Dua buku kenaikan Timurid yang dibuat pada Herat abad ke-15 menampilkan seorang malaikat yang digambarkan sebaga ayam jago putih yang memenuhi profesi iman di seluruh dunia.

Selain itu juga gambar yang disebut gambar Nabi Muhammad ala seorang malaikat seperti gambar Buddha dalam lingkar gambar yang setengah api, setengah salju. Sosok Muhammad dalam gambar itu digambarkan di sana seperti tengah bertemu Tuhan di tengah awan emas yang berputar-putar. Nabi Muhammad digambarkan tengah bersujud dalam doa.

Dan, terkait ilustrasi ini, seniman Iran kontemporer Shahpour Pouyan yang mereproduksi halaman dari buku kenaikan dari dinasti Timurid pada tahun 1436–1437 itu, tetap mengosongkan sosok gambar Nabi maupun cahaya ilahi. Yang tersisa adalah kotak biru tua. Gambar kosong ini kemudian dikasih komentar yang penuh teka-teki tentang sikap Muslim modern untuk memvisualisasikan Nabi.

*****

Alhasil sebagai simpulan, artikel Shaamer Rahim itu juga tak berani memastikan bahwa ada gambar Nabi Muhammad SAW yang pasti. Jadi sampai kini sosok fisual Nabi tak pernah ada yang baku dan terus menjadi teka-teki sepanjang sejarah.

Dan bagi Muslim itu tak masalah. Sebab, selain ada larangan yang keras soal gambar Nabi, para penganut Muhammad tidak kebingungan atas tidak ada gambar dirinya. Mereka hanya menyakini dan mengikuti ajaran dan segala peringatan dari Muhammad SAW. Gambar Nabi Muhammad menjadi sangat tidak penting! [yy/republika]

Oleh Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika