15 Safar 1443  |  Kamis 23 September 2021

basmalah.png

Sejarah Hidup Muhammad Saw: Berbondong-Bondong Memeluk Islam

Sejarah Hidup Muhammad Saw: Berbondong-Bondong Memeluk Islam

Fiqhislam.com - Sejak Ali bin Abi Thalib membacakan awal Surat Bara'ah kepada orang-orang yang pergi haji, yang terdiri dari orang-orang Islam dan musyrik, waktu Abu Bakar memimpin  jemaah  haji.

Dan sejak ia mengumumkan kepada mereka, bahwa orang kafir tidak akan masuk surga, dan sesudah tahun ini orang musyrik tidak boleh lagi naik haji, tidak boleh lagi thawaf di Ka'bah dengan telanjang, sejak itu pula orang-orang musyrik di Jazirah Arab yakin bahwa tak lagi ada tempat untuk terus hidup dalam paganisme.

Dan kalau masih juga mereka melakukan itu, akan ada pengumuman perang dari Allah dan Rasul-Nya. Hal ini juga berlaku bagi penduduk daerah selatan Jazirah Arab, yaitu Yaman dan Hadzramaut. Sebab, buat daerah Hijaz dan sekitarnya sampai ke utara mereka sudah masuk Islam dan bernaung di bawah bendera agama baru ini. 

Di bagian selatan itu sebenarnya masih terbagi antara penganut paganisme dan penganut Kristen. Tetapi orang-orang pagan ini kemudian menerima Islam juga. Secara berbondong-bondong mereka masuk Islam, dan mengirim utusan ke Madinah. Dan Nabi pun menyambut mereka dengan sangat baik sekali, yang kiranya membuat mereka lebih gembira lagi menerima Islam.

Seruan yang telah disampaikan oleh Ali tatkala Abu Bakar memimpin jamaah haji itu merupakan puncak dari masuknya penduduk jazirah bagian selatan ke dalam Islam. Setelah Islam tersiar di kawasan Yaman, Nabi mengutus Mu'adz bin Jabal ke daerah itu untuk memberikan pelajaran kepada penduduk serta untuk memperdalam hukum Islam.

Rasulullah berpesan kepada Mu'adz, "Permudahlah dan jangan dipersulit. Gembirakan dan jangan ditakut-takuti. Engkau akan bertemu dengan golongan Ahli Kitab yang akan bertanya kepadamu, 'Apa kunci surga?' Maka jawablah, 'Suatu  kesaksian, bahwa tak ada tuhan selain Allah Yang tiada bersekutu."
 
Mu'adz pun berangkat, disertai beberapa orang dari kalangan Muslimin. Dengan tersebarnya Islam di seluruh kawasan jazirah itu—dari timur sampai ke barat, dari utara sampai ke selatan—maka seluruh lingkungan itu telah menjadi satu di bawah satu panji, yaitu panji Muhammad Rasulullah SAW. Dan berada dalam satu agama, yaitu Islam. Jantung mereka pun hanya satu pula arahnya, yaitu menyembah Allah Yang Tunggal tiada bersekutu.

Sebelum 20 tahun yang lalu, kabilah-kabilah itu saling bermusuhan, satu sama lain serang menyerang dalam peperangan, setiap ada kesempatan. Tetapi dengan penggabungan mereka di bawah panji Islam; mereka menjadi bersih dari segala noda paganisme, mereka hidup tenteram di bawah undang-undang Allah Yang Maha   Kuasa. 

Dengan demikian, permusuhan di kalangan penduduk itu sudah tak ada lagi. Perang dan permusuhan sudah tidak punya tempat. Tak ada lagi orang yang akan menghunus pedang, kecuali jika hendak mempertahankan tanah air, membela agama Allah dari serangan pihak lain.

Akan tetapi, masih ada sekelompok orang-orang Nasrani Najran yang masih berpegang pada agama mereka, yang berbeda dengan sebagian besar mereka, yaitu Bani  Harits yang sudah lebih dahulu masuk Islam. Kepada mereka ini Nabi mengutus Khalid bin Walid, mengajak mereka menganut Islam.

Disamping itu ada lagi sekelompok masyarakat Yaman yang masih merasa enggan sekali tunduk di bawah panji Islam. Sebab, Islam lahir di Hijaz, sedang biasanya Yaman yang menyerbu Hijaz. Sebaliknya, sebelum itu Hijaz tidak pernah menyerang Yaman.

Kepada mereka ini Nabi mengutus Ali bin Abi Thalib dengan tugas mengajak mereka ke dalam Islam. Pada mulanya mereka sangat congkak, dan menyambut ajakan Ali dengan serangan. Namun, Ali—dengan usianya yang masih begitu muda dan hanya membawa 300 orang—mampu membuat mereka cerai-berai. Mereka pun menyerah. Dengan demikian, mereka lalu masuk Islam dan menjadi Muslim yang baik.

Sementara Ali sedang bersiap-siap kembali ke Makkah, Nabi pun sedang dalam persiapan pula hendak menunaikan ibadah haji. Dan beliau meminta kaum Muslimin untuk bersiap-siap. [yy/republika]

Sumber: Sejarah Hidup Muhammad oleh Muhammad Husain Haekal