18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

Ummu Ruman, Sang Bidadari di Mata Rasulullah

Ummu Ruman, Sang Bidadari di Mata Rasulullah

Fiqhislam.com - Diantara 39 tokoh perempuan pengukir sejarah Islam, ada satu yang dijuluki Nabi Muhammad SAW sebagai bidadari. Bidadari tersebut adalah ibunda Aisyah, Ummu Ruman.

Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang ingin melihat seorang bidadari maka hendaklah ia melihat Ummu Ruman."

Ummu Ruman, sahabat wanita yang agung, ahli tobat, dan bertakwa. lalah ibunda dari Ummul Mukminin yang belia dan bersih sekaligus istri dari Abu Bakar ash-Shiddiq.

la adalah Ummu Ruman binti 'Amir ibn 'Uwaimir ibn Abdi Syams ibn ‘Itab ... ibn Kinanah. Ada perselisihan pendapat tentang nama yang sebenarnya. Ada yang mengatakan Zainab dan ada yang mengatakan Da'd. la adalah ibunda dari Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. dan istri dari sahabat besar dan Khalifah Rasulullah, Abu Bakar ash-Shiddiq ra.

Ummu Ruman r.a. lahir dan tumbuh di atas Jazirah Arabia, yaitu di suatu wilayah yang disebut dengan as-Sadat. Setelah memasuki usia menikah, Ummu Ruman dilamar oleh salah seorang pemuda Jazirah Arab yang tergolong istimewa di antara para pemuda kaumnya. la adalah al-Hârits ibn Sukhairah al-Azdi. Dari pernikahan ini, Ummu Ruman memberikan seorang putra laki-laki yang diberi nama ath-Thufail.

Ketika sang suami, al-Hârits, memilih untuk menetap di Makah, ia membawa sang istri dan anaknya ke sana. Kehidupan di sana mengharuskannya ikut ke dalam blok dari salah seorang tokoh ternama demi melindungi dan mengatur perikehidupannya. Karena itu, al-Hârits bersekutu dengan Abdullah ibn Abi Qafâhah, Abu Bakar ash-Shiddiq r.a.

Peristiwa itu sebelum iman memasuki hati penduduk Makah dan sebelum Rasulullah SAW. memulai dakwah Islamnya.

Tidak lama kemudian, al-Hârits ibn Sukhairah, suami Ummu Ruman meninggal dunia. Alhasil, tidak ada yang dilakukan oleh Abu Bakar selain melamar Ummu Ruman sebagaimana kebiasaan bangsa Arab untuk menghormati sahabat yang meninggal.

Ummu Ruman bersedia menikah dengan Abu Bakar ash-Shiddiq sebagai suami yang mulia. Suami yang mampu menjaga dan melindungi dirinya bersama anaknya setelah ditinggalkan oleh al-Hârits, suaminya. Dari Abu Bakar ash-Shiddiq, Ummu Ruman melahirkan keturunan yang saleh, yakni seorang putra dan putri nan mulia: Abdurrahman dan Aisyah Ummul Mukminin r.a.

Hal yang tidak pernah mereka bayangkan bahwa anak-anak itu di kemudian hari mampu meninggalkan jejak-jejak yang bagus dan luar biasa sepanjang sejarah.

Ketika Rasulullah diutus untuk menyampaikan risalah Ilahiyah, Abu Bakar ash-Shiddiq adalah orang pertama yang beriman kepada Rasulullah dan mempercayai dakwah Islam yang Nabu bawa. Ia pun mengetahui kewajiban besar yang harus ia tunaikan, yaitu ikut andil dalam mendakwahkan Islam.

Mula-mula Abu Bakar mendekati istrinya, Ummu Ruman, dan menceritakan tentang agama baru yang dibawa oleh sahabatnya itu, sekaligus mengajak sang istri untuk memeluk agama ini. Ummu Ruman pun beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan menjadi muslimah yang baik. Namun, Abu Bakar memintanya untuk merahasiakan persoalan itu hingga Allah memberikan keputusan-Nya.

Rasulullah selalu berkunjung ke rumah Abu Bakar untuk mendapat keamanan dan ketenangan. Sementara itu, sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq menyambutnya dengan penuh cinta dan kehangatan. Demikian pula istrinya, Ummu Ruman, yang menyambut dengan senang dan gembira, serta memberi jamuan yang terbaik.

Ummu Ruman berusaha untuk menjamin segela ketenangan dan kenyamanan Rasulullah dengan menjadikan rumahnya sebagai rumah Islam pertama yang diliputi oleh kalimat Allah SWT. Semua itu semata-mata demi melaksanakan ajaran Rasulullah berupa ajaran-ajaran iman dan Islam, serta membantunya dalam menunaikan dakwah yang karenanya Nabu diutus.

Ummu Ruman merupakan contoh dari sosok istri setia, salehah, dan suci yang selalu berdiri di sisi suaminya untuk meringankan segala penderitaannya. la selalu menghibur sang suami selama hari-hari sulit yang dihadapi oleh kaum Muslimin awal. Bahkan, ia selalu mendukung sang suami dan membangkitkan semangatnya dalam mendakwahkan Islam, memperjuangkan kebenaran, dan membela Rasulullah saat menghadapi kaumnya yang kafir. Selain itu, ia juga membebaskan banyak budak lemah yang menyatakan masuk Islam dan semakin banyak mendapat siksaan dari kaum Quraisy maupun lainnya.

Di samping itu semua, Ummu Ruman merupakan ibu yang pengasih dan penyayang, dan begitu lembut dalam mendidik anak-anaknya. Ummu Ruman mendidik Abdurrahman dan Aisyah dengan kebesaran hati serta pendidikan yang benar dan baik. Pasalnya, mereka adalah anak-anak yang lahir dari sulbi yang suci dan penyayang. la rawat mereka sebaik-baiknya hingga Sayyidah Aisyah memasuki usia enam tahun, lalu datanglah Rasulullah SAW untuk meminang dan menikahinya. Hal ini terjadi sebagai bentuk ketaatannya kepada perintah Allah. Ibunda Aisyah pun merasakan kebahagiaan yang tiada tara atas terbangunnya hubungan kekeluargaan yang mulia dan tiada bandingnya itu.

Ketika Allah SWT mengizinkan Rasulullah dan sahabatnya, Abu Bakar ash-Shiddiq, untuk hijrah ke Madinah al-Munawwarah, Ummu Ruman tetap bersama anak-anak untuk mengemban tanggung jawab besar serta menanggung tekanan kaum jahiliyah yang terus mengancam dan meneror.

Kondisi demikian itu berlangsung hingga Rasulullah mengutus Zaid ibn Haritsah yang ditemani oleh Abu Râfi untuk menjemput keluarga Rasulullah dan keluarga Abu Bakar ash-Shiddiq. Ketika mereka semua tiba di Madinah al-Munawwarah, Rasulullah dan Abu Bakar menyambut dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Rasulullah telah membangun suatu rumah kecil untuk tempat tinggal Aisyah r.a bersama sang suami.

Hubungan kekeluargaan yang indah itu menjadi sebab lain yang semakin memperkuat hubungan antara kedua keluarga mulia tersebut. Kebahagiaan Ummu Ruman semakin besar tatkala melihat cinta Rasulullah yang begitu besar dilimpahkan kepada Aisyah. Selain itu, ia juga mendapat kesempatan untuk semakin sering berkunjung ke kediaman Rasulullah sehingga mendapat pancaran dari sumber iman yang paling jernih, Rasulullah SAW.

Ummu Ruman turut merasakan pengalaman yang begitu pahit saat menyaksikan putrinya, Ummul Mukminin Aisyah ra, menjadi korban kedustaan seorang gembong munafik, Ibnu Salul. Dusta yang dikenal dengan Minah al-Ifki, yang begitu ramai dipergunjingkan di tengah umat. Ummu Ruman pun sempat jatuh pingsan karena saking tertekannya oleh fitnah yang ia dengar berkaitan dengan sang putri tercinta, Aisyah r.a. Namun, Ummu Ruman menyembunyikan persoalan itu dari Aisyah, sebagai bentuk kasih sayangnya seraya merendahkan diri kepada Allah SWT agar Dia memberikan jalan keluar dengan cara yang terbaik. Akhirnya, Dia turunkan ayat-ayat mulia untuk membersihkan nama Aisyah r.a.

Allah menghendaki agar Aisyah mengetahui fitnah yang tersebar di tengah umat itu melalui Ummu Masthah ibn Utsatsah yang bercerita kepadanya. Oleh karena itu, Aisyah pulang ke rumah kedua orangtuanya seraya menangis mengadukan berita dusta tersebut. Dengan penuh haru disertai deraian air mata yang membasahi kedua pipi, sang ibu Ummu Ruman, mengatakan, "Wahai anakku, tenanglah, janganlah terlalu engkau pikirkan soal itu. Demi Allah, jarang sekali ada wanita cantik yang sangat dicintai suaminya dan mempunyai beberapa madu, kecuali pasti banyak berita kotor dilontarkan kepadanya."

Allah SWT mengabulkan doa dari hati yang beriman dan penuh kesungguhan dalam berdoa. Dia turunkan ayat-ayat yang mulia kepada Rasul-Nya untuk membersihkan nama Aisyah r.a. melalui Alquran yang dibaca dan dijadikan sebagai rujukan dalam beribadah kepada Allah oleh kaum Mukminin hingga hari kiamat dan selama-lamanya:

"Sesungguhnya, orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan itu adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar." (QS. An-Nûr: 11)

Fase ini merupakan masa paling berat yang pernah dialami dan dilalui oleh sang sahabat wanita agung, Ummu Ruman ini. Peristiwa ini sungguh mempengaruhi jiwanya hingga ia jatuh sakit. Ummul Mukminin Aisyah selalu merawat sang ibu selama sakit hingga mengembuskan napas terakhir. Bersama beberapa orang, Rasulullah SAW turun ke dalam liang lahad Ummu Ruman dan berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu apa yang telah dialami oleh Ummu Ruman karena Engkau dan karena Rasul-Mu."

Semoga Allah merahmati sang wanita suci yang beriman dan terlibat dalam hijrah serta penyebar Islam ke seluruh penjuru negeri, Ummu Ruman. Semoga Dia memberinya tempat dalam keluasan surga-Nya.

Demikian dikutip dari Buku Biografi 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam, halaman 229-233, karya Karya Dr.Bassam Muhammad Hamami. [yy/okezone]