pustaka.png.orig
basmalah.png


8 Dzulqa'dah 1442  |  Jumat 18 Juni 2021

Nabi, Madinah dan Pemakaman Baqi

Nabi, Madinah dan Pemakaman BaqiFiqhislam.com - Madinah benar-benar menjadi Al Munawwarah (yang bercahaya) ketika Islam datang. Cahaya Islam benar-benar merasuki setiap rumah-rumah, masuk ke balik dinding, merasuk ke relung hati tiap penduduknya. Para kepala suku menyatakan keislamannya. Sang Nabi pun tiba di sana, dan membuat kota itu menjadi Kota Nabi, tempat sang Rasul mengatur urusan negara dan agama.

Sang Nabi, dengan lembut membangun tatanan masyarakat baru dengan Islam, tak terkecuali ihwal pemakaman.  As’ad Ibn Zurarah, seorang pemuka Madinah itu kini telah tiada. Orang yang hadir dalam Baiat Aqabah itu menjadi sahabat pertama yang wafat setelah kedatangan Sang Nabi.

Rasulullah pun mengajarkan kita, bagaimana Allah mengatur urusan pemakaman. Nabi sendiri yang datang memandikan, mengafani dengan tiga lembar pakaian, hingga mengantarkan jenazah ke sebelah Timur Kota Madinah, beliau turun, dan menguburkan jenazah.

Baqi Al Gharqad, sebuah wilayah yang dipenuhi pohon-pohon Gharqad (berduri). Ditebangnya pepohonan oleh para sahabat. Nabi menguburkan As’ad dan meratakan tanahnya. Nabi tak menembok kuburannya, atau pun membangun bangunan di atasnya, atau meninggikannya lebih dari satu jengkal. Tak ada upacara tabur bunga, atau lainnya. Rasul memerintahkan agar Baqi menjadi wilayah pemakaman khusus umat Islam. Beliau melarang mencampur kuburan orang Islam dan nonIslam.

Tiga puluh purnama berlalu di Kota Nabi. Kini, sahabat muhajirin pertama wafat di kota yang bercahaya itu, Utsman Ibn Mazh’um. Utsman Ibn Mazh’um, sahabat besar yang hijrah ke Habasyah dan ikut berperang dalam perang Badar. Air mata bertumpuk di mata para sahabat, hingga menetes merasa kehilangan sosok pahlawan Badar ini.

Nabi datang mengafani Utsman. Sang Nabi tak dapat menahan tangis harunya, Ia menyingkir sejenak. Sambil menangis Nabi berkata: "Semoga Allah merahmatimu wahai Ayah Saib. Engkau pergi, semua sudah jelas, tak ada yang perlu dikaburkan." Nabi dengan pilu dalam haru ikut mentakbirkannya empat kali dan menguburkannya.

Setelah selesai, beliau meratakan tanah di atas kuburannya dan menyuruh memberi batu. Seorang sahabat bangkit menuju sebongkah batu, tetapi tak kuat membawanya. Nabi pun turun tangan, dibentangkan kedua lengannya, dibawanya batu itu dan ditaruh di atas tanah rata kuburan Utsman lurus dengan posisi kepala.

“Dengan batu ini aku dapat mengenali kuburannya, dan akan dikuburkan di dekat keluargaku yang meninggal,” sabda beliau.

Pemakaman Baqi menjadi saksi para sahabat-sahabat yang dikuburkan di sana. Suatu saat, Zainab –dalam beberapa riwayat Ruqayah- wafat. Para wanita menangisi kepergian putri Nabi tersebut. Hal ini membuat Umar geram, hingga melarang para wanita menangis dan mengancamnya. Tidak suka melihat Umar begitu keras, Rasul nan mulia menegur Umar. "Biarkanlah mereka, Umar!”

Lalu Rasul bersabda pada para wanita yang menangis.  “Jangan meraung seperti setan. Apa yang keluar dari mata dan hati, itu dari Allah dan wujud cinta, sementara yang keluar dari mulut dan tangan, itu dari setan.”

Di tepi kuburan saudaranya, Fatimah, putri Rasul yang lain tak dapat menahan haru. Bintik-bintik bening meleleh di pelupuk mata. Dengan penuh kasih, sang Nabi mengusap dengan ujung bajunya. Suatu saat, rasul pun mengalami hal yang sama dengan para manusia umumnya. Kini, putera satu-satunya, Ibrahim wafat.

Air mata itu mengalir deras di pipi Rasul nan mulia. Disekanya berkali-kali. Wajahnya tampak tegar, tapi matanya berkata bahwa Nabi pun manusia biasa. Usai dikuburkan di Baqi, nabi meratakan kuburannya, tanpa gundukan tanah. “Rasulullah memerintahkan kami meratakan kuburan,” kata Fadhalah Radhiyallahuanhu (HR Muslim).

Dengan tangannya sendiri, ia meratakan kuburannya, memercikan air, menaburkan tanah dengan dua tangan, meletakkan pasir, dan memberinya tanda. Rasul nan mulia bermaksud memberikan bimbingan pada sahabat, beliau bersabda,”Tanda memang tidak mendatangkan manfaat juga mudharat. Tetapi, ia dapat menyejukkan mata yang hidup. Lagi pula, bila seorang hamba mengerjakan sesuatu, Allah senang ia menyempurnakannya.”

Peristiwa penguburan Ibrahim di Baqi mengundang perhatian khusus dari para sahabat. Mereka mulai menebangi pohon-pohon liar, merapikan baqi hingga terlihat rapi. Membuat jarak antar pemakaman. Tiap kabilah mulai membuat kavling sendiri-sendiri, sehingga dengan begitu tiap orang yang meninggal dapat dikenali kuburannya.

Rasul melarang membangun Masjid di atas Kuburan, atau mengubur orang di dalam Masjid. Rasul pun melarang meninggikan makam, membangun bangunan di atasnya. Baqi pun dijadikan tempat pemakaman umum kaum muslimin. Rasul nan mulia tidak mempercantik tiap kuburan, tapi beliau merawat Baqi, dan beberapa kali menziarahi Baqi, dan mendoakan para ahli kubur di samping kuburan mereka.

Nabi selalu gelisah menyangkut Baqi dan penghuninya. Ibn Abi Muwaihibah, hamba sahaya Rasulullah menuturkan,” Rasulullah membangunkanku pada tengah malam. ‘Aku diperintahkan memohonkan ampun untuk ahli Baqi. Ikuti Aku!’ sabda beliau.”

Maka berangkatlah Rasul ke Baqi. Setelah memandangi pekuburan, beliau bergerak ke depan dan menyapa segenap penghuni di Baqi. “Keselamatan atas kalian semua, Ahli Kubur! Andai kalian tahu apa yang telah Allah selamatkan kalian darinya, niscaya ringanlah apa yang kalian alami ketimbang apa yang dialami orang-orang saat ini. Fitnah telah merajalela bak potongan-potongan malam yang gelap, susul menyusul yang akhir ke awal. Tetapi, yang akhir jauh lebih buruk ketimbang yang awal.”

Kemudian Nabi memohonkan ampun untuk mereka, lama sekali. Di hari lain, bila nabi datang ke kuburan Baqi, Nabi mengucap,” Insya Allah kami akan menyusul kalian. Ya Allah, ampunilah penghuni kubur Baqi Al Gharqad.” Pernah, suatu malam Aisyah mengikuti Nabi karena disangka akan pergi ke tempat istrinya yang lain. Tetapi Nabi malah ke Baqi, mengucap salam dan berdoa.

Kembali dari Baqi, Aisyah bertanya kepada Nabi beliau dari mana. “Aku diperintahkan ke ahli Baqi, berdoa dan mengerjakan shalat untuk mereka,” jawab sang Nabil. Kemudian nabi mengajarkan apabila kita masuk ke kawasan pemakaman, maka bacalah,” Keselamatan atas  penduduk negeri kaum mukmin dan muslim. Semoga Allah melimpahkan rahmat atas mereka yang mendahului kami, yang lama maupun yang baru. Dan kami, Insya Allah, akan menyusul kalian.” (HR Muslim).

Nabi sangat mencintai ahli Baqi dan selalu memohonkan ampun untuk mereka. Ibahim putra nabi, bersebelahan dengan makam Utsman Ibn Mazh’um. Di area utara pemakaman Baqi, ada kuburan Fathimah binti Asad, istri mendiang Abu Thalib. Nabi mengurus dengan sangat detil, penuh perhatian dan totalitas ihwal penguburannya.

Sebagai penutup, awalnya Nabi melarang ziarah kubur. Namun, setelah iman para sahabat kian mantap, beliau bersabda meluruskan,”Dulu kularang kalian berziarah ke kubur, sekarang tidak lagi. Berziarahlah, sebab kubur melunakkan hati, melinangkan air mata, dan mengingatkan akhirat. Tetapi jangan berkata-kata kotor!” (HR Muslim). Wallahu a’lam. [yy/republika]

Oleh Asep Irawan
Direktur WakafPro 99 – Sinergi Foundation
(Diramu dari buku Dr. Nizar Abazhah ‘Ketika Nabi di Kota’ sub bab Pekuburan)

 

Tags: nabi saw | madinah | baqi | nabawi