pustaka.png
basmalah.png


14 Dzulqa'dah 1442  |  Kamis 24 Juni 2021

Sekilas Tentang Kalam

Sekilas Tentang KalamFiqhislam.com - Istilah kalam, sering digunakan untuk menyebut deretan wahyu yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Muhammad SAW.

Kesemuanya itu tertuang dalam Alquran. Seperti apa dinamika penggunaan istilah kalam?

Secara tata bahasa, mengutip Ensiklopedi Islam, kalam adalah kata benda umum tentang perkataan, sedikit atau banyak.

Rangkaian kata itu dapat digunakan untuk setiap bentuk pembicaraan atau ekspresi suara yang berturut-turut hingga pesan-pesan suara itu jelas maksudnya. Konteks kata tersebut bisa ditelusuri dalam akar bahasa Arab.

Dalam Alquran, misalnya surah al-A’raf ayat 144. Disebutkan kata bi kalami yang ditujukan kepada Musa AS. Sedangkan, lafal kalam Allah pada surah al-Fath ayat 15 berarti janji atau ketentuan Allah yang wajib diikuti segenap manusia.

Ada dua pengertian kalam sebagai kata benda, yaitu berbicara dan hukum (undang-undang). Terkait makna yang pertama, sebagaimana disebutkan surah al-Baqarah ayat 75. Sedangkan, pemaknaan yang kedua, yaitu kalam diartikan sebagai hukum, seperti tertulis di surah at-Taubah ayat 6.

Smentara, kalam sebagai kata kerja banyak digunakan dalam Alquran, yang artinya berbicara pada seseorang yang dikenai perbuatan. Ini seperti dikuatkan oleh pendapat Abu Musa al-Asy’ari di kitab “Al-Ibanah”.

Sejalan dengan dinamika perkembangan ilmu pengetahuan dan sosial keagamaan kala itu, secara teknis kalam menjadi salah satu penamaan bagi ilmu. Ini kemudian disebut dengan ilmu kalam.

Awalnya, kalam sebagai ilmu berkorelasi dengan kajian seputar kalam Allah, Alquran, dan sifat-sifat-Nya. Ada banyak istilah yang lekat dengan ilmu kalam, yakni ilmu tauhid, ushuludin, ataupun ilmu aqaid.

Ada banyak istilah yang lekat dengan ilmu kalam, yakni ilmu tauhid, ushuludin, ataupun ilmu aqaid.
 
Ilmu ini memang belum dikenal sebagai disiplin ilmu tersendiri pada periode Rasulullah.

Ilmu ini menjadi disiplin tersendiri ketika satu persatu cabang ilmu bermunculan. Tepatnya, ketika pembicaraan soal metafisika dan alam gaib banyak mengemuka di publik.

Sebagai ilmu disiplin kalam berdiri sendiri pada masa Dinasti Abbasiyah. Ketika periode Khalifah al-Ma’mun (218 H), para ulama bermazhab Muktazilah banyak menelaah literatur filsafat.

Sebagian besar referensi itu merupakan hasil terjemahan dari non-Islam. Kondisi tersebut menciptakan suasana baru dalam dinamika ilmu kalam. Sebelum masa al-Ma’mun, kajian kalam lebih dikenal dengan istilah fikih akbar (al-fiqh al-akbar).

Di kalangan Barat, belakangan disi plin ilmu ini lebih dikenal dengan teologi Islam. Ulama yang fokus pada cabang ilmu ini disebut dengan mutakallim. Ada banyak alasan, mengapa cabang ilmu ini dinamakan dengan ilmu kalam.

Alasan itu, antara lain, topik panas yang diperbincangkan pertama kali ialah soal keazalian kalam Allah.

Ke dua, pembuktian kepercayaan agama menyerupai logika dan filsafat. Karenanya, disebut dengan ilmu kalam. Dasar argumentasinya pun kerap bersifat rasional. [yy/republika]