pustaka.png.orig
basmalah.png.orig


15 Dzulqa'dah 1442  |  Jumat 25 Juni 2021

Bagaimana Kita Tahu Quran Itu Tidak Berubah?

Bagaimana Kita Tahu Quran Itu Tidak Berubah?

Fiqhislam.com - Kebangkitan Eropa dari zaman kegelapan dan pencerahan intelektual di tahun 1600-1800 M merupakan salah satu gerakan yang paling kuat dalam sejarah modern. Dedikasi untuk ilmu pengetahuan empiris, berpikir kritis, dan wacana intelektual dibawa ke benua Eropa. Sementara sebagian besar ilmu tersebut berasal dari sejarah intelektual dunia Muslim, melalui titik awal masuknya Umat Muslim ke Eropa seperti Spanyol, Sisilia, dan Eropa Tenggara.

Kemajuan intelektual ini bertepatan dengan periode imperialisme dan kolonialisme Eropa atas dunia Muslim. Negara-negara Eropa seperti Inggris, Perancis, dan Rusia perlahan-lahan menaklukkan bagian-bagian dari dunia Muslim, lalu membaginya di antara mereka sendiri. Melalui pencerahan intelektual, serta imperialism di seluruh umat Muslim, menbuat orang Eropa melihat hal ini sebagai studi kritis terhadap dunia Islam, sejarah, keyakinan, dan ajaran. Kemudian gerakan ini pun dikenal sebagai orientalisme. Bagaimanapun, salah satu kelemahan terbesar dari Orientalisme adalah mengabaikan karya-karya akademis yang merupakan buah pikiran umat Muslim sejak zaman Nabi Muhammad.

Salah satu aspek paling berbahaya dari orientalisme adalah studi kritis terhadap Al Quran. Orientalis percaya, bila kitab suci Taurat dan Perjanjian Baru telah berubah dari kitab aslinya selama berabad-abad.Upaya mereka semata-mata untuk membuktikan keyakinan mereka bahwa Al-Quran telah diubah dan tidak otentik hingga menghasilkan studi dan karya prestasi ilmiah yang rendah. Artikel ini akan menganalisis secara kritis asal-usul Al-Quran, transmisi, dan kompilasi untuk memahami mengapa umat Islam menerima salinan Al-Qur'an yang mereka miliki di rumah mereka menjadi kata-kata yang sama persis yang diucapkan oleh Nabi Muhammad ﷺ di tahun 600 M.

Janji Allah untuk Melindungi Al-Quran

Umat muslim percaya bahwa Allah telah berjanji untuk melindungi Al-Quran dari perubahan dan kesalahan yang terjadi pada teks-teks suci sebelumnya. Allah menyatakan dalam Al-Quran dalam Surat al-Hijr ayat 9:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

"Sesungguhnya Kami lah yang menurunkan Adz-Dzikir (Al-Qur'an) dan sesungguhnya Kami pula yang memeliharanya (menjaganya)".

Bagi umat Islam, ayat ini merupakan janji Allah bahwa Dia memang akan melindungi Quran dari kesalahan dan perubahan dari waktu ke waktu. Bagaimanapun bagi orang yang tidak menerima keaslian Al-Quran, jelas ayat ini tidak bisa dijadikan sebagai bukti keasliannya karena dalam Al-Qur'an itu sendiri.

Pencatatan Isi Al-Quran oleh Para Sahabat

Wahyu turunnya Al-Quran bukanlah peristiwa yang terisolasi dalam waktu. Ayat demi ayat diturunkan kepada Nabi Muhammad selama 23 tahun kenabian di Makkah dan Madinah. Nabi Muhammad telah menunjuk banyak sahabat sebagai juru tulis. Ini dimaksudkan untuk membantu Nabi menuliskan ayat-ayat terbaru setelah mereka diturunkan. Muawiyah bin Abu Sufyan dan Zaid bin Tsabit berada di antara para ahli Taurat yang memiliki kewajiban ini. Sebagian besar, ayat-ayat baru akan ditulis pada potongan-potongan tulang, menyembunyikan, atau perkamen, karena kertas belum diimpor dari China. Penting untuk dicatat bahwa Nabi Muhammad ﷺ memiliki para ahli Taurat untuk membaca kembali ayat-ayat kepadanya setelah menuliskannya, sehingga ia dapat mengoreksi dan memastikan tidak ada kesalahan.1

Untuk lebih memastikan bahwa tidak ada kesalahan, Nabi Muhammad ﷺ memerintahkan bahwa tidak ada catatan apa pun, bahkan tidak kata-katanya maupun hadits pada lembar yang sama dengan Al-Quran. Mengenai lembar Al-Quran yang merupakan tulisan yang ditulis, Nabi menyatakan "dan siapa pun yang telah menulis sesuatu dariku selain Al-Quran harus menghapusnya" 2. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada kata lain yang sengaja dianggap bagian dari teks Al-Quran.

Bagaimanapun, hal ini penting untuk dipahami bahwa menulis Al-Quran bukanlah cara utama Al-Quran disimpan. Bangsa Arab di tahun 600s adalah masyarakat lisan. Sangat sedikit orang yang bisa membaca dan menulis, sehingga penekanan besar ditempatkan pada kemampuan untuk menghafal puisi-puisi panjang, surat, dan pesan lainnya. Sebelum Islam, Makkah adalah pusat dari puisi Arab. Festival tahunan yang diadakan setiap tahun dengan membawa para penyair terbaik dari seluruh Semenanjung Arab. Dengan demikian, dalam masyarakat lisan, sebagian besar para sahabat belajar dan mencatat Al-Quran dengan menghafal. Selain kemampuan alami mereka untuk menghafal, sifat ritmis dari Al-Quran membuat hafalan yang jauh lebih mudah.

Al-Qur'an tidak hanya diriwayatkan ke beberapa sahabat. Namun didengar dan dihafal oleh ratusan bahkan ribuan orang, dan banyak dari mereka hijrah ke Madinah. Dengan demikian, surah dan ayat Al-Quran dengan cepat menyebar selama kehidupan Nabi Muhammad ke seluruh pelosok Jazirah Arab. Mereka yang telah mendengar ayat-ayat dari Nabi Muhammad akan pergi dan menyebarkannya ke suku-suku jauh, yang juga akan dihafal oleh mereka. Dengan cara ini, Al-Quran menjadi sastra yang dikenal di kalangan orang-orang Arab sebagai mutawatir. Mutawatir berarti menyebarluaskan secara luas kepada banyak kelompok orang yang berbeda, dimana semuanya memiliki kata-kata yang sama persis, dan yang tidak dapat dibayangkan bahwa bahwa setiap satu orang atau kelompok bisa memalsukannya. Beberapa ucapan Nabi Muhammad ﷺ diketahui otentik melalui mutawatir, namu pada dasarnya Al-Quran itu sendiri diterima sebagai mutawatir, karena penyebarannya yang luas selama kehidupan Nabi Muhammad ﷺ melalui cara-cara oral.


Pengumpulan Al-Quran Setelah Kematian Nabi Saw

Kami sejauh ini melihat bagaimna Al-Quran diajarkan kepada banyak sahabat Nabi Muhammad ﷺ untuk menghindari pemalsuan dan melindungi orang-orang. Sebagaimana ayat-ayat Al-Quran tersebar luas di seluruh dunia Islam, sehingga tidak mungkin bagi mereka untuk mengubahnya tanpa umat Muslim di bagian lain yang memperhatikan dunia dan mengoreksi mereka. Selain itu, selama kehidupan Nabi Muhammad ﷺ, malaikat Jibril akan membacakan seluruh Al-Quran setahun sekali, selama bulan Ramadhan. Ketika Al-Quran selesai terungkap menjelang akhir kehidupan Nabi Muhammad ﷺ 's, Jibril memastikan bahwa banyak sahabat Nabi yang tahu seluruh isi Al-Quran dengan hati mereka.

Selama pemerintahan khalifah pertama, kebutuhan untuk mengkompilasi semua ayat menjadi sebuah buku sentral pun muncul. Mengambil tindakan preventif, para khalifah yang memerintah dunia Islam setelah kematian Nabi Muhammad ﷺ takut jika jumlah orang yang hafal Al-Quran akan terlalu rendah sehingga masyarakat takut akan kehilangan Al-Quran selamanya. Oleh karena itu, khalifah pertama, Abu Bakr (632-634 M) memerintahkan untuk membentuk sebuah komite di bawah pimpinan Zaid bin Tsabit, untuk mengumpulkan semua potongan tertulis Al-Quran yang tersebar di seluruh komunitas umat Muslim. Rencananya adalah untuk mengumpulkan mereka semua ke dalam satu buku utama yang bisa dipertahankan. Zaid sangat teliti dari siapa saja ia menerima ayat-ayat tersebut. Dan ia hanya menerima potongan Al-Quran yang mereka tulis di hadapan Nabi Muhammad ﷺ dan harus ada dua saksi yang bisa membuktikan bahwa itu benar.3

Potongan-potongan Al- Quran yang ia kumpulkan masing-masing dibandingkan dengan hafalan Al-Quran itu sendiri, memastikan bahwa tidak ada perbedaan antara versi tertulis dan lisan. Setelah sebuah buku diselesaikan dari semua ayat yang disusun dan kemudian disajikan kepada Abu Bakr, yang menjamin arsip negara umat Muslim di Madinah. Hal ini dapat diasumsikan dengan pasti bahwa salinan tersebut sama persis sesuai kata-kata yang Nabi Muhammad ﷺ bicarakan. Seandainya ada perbedaan, orang-orang dari Madinah akan mengangkat masalah ini.

Mushaf Utsman

Selama kekhalifahan Utsman (644-656 M) masalah baru mengenai Al-Quran muncul di komunitas umat Muslim yakni pengucapan. Selama kehidupan Nabi Muhammad ﷺ, Al-Quran diturunkan dalam tujuh dialek yang berbeda - qira'as. Dialek berbeda sedikit dalam pengucapan mereka, huruf dan kata-kata tertentu, tapi arti secara keseluruhan tidak berubah. Namun, ada banyak perkataannya yang menggambarkan keaslian semua tujuh dialek yang dicatat dalam kompilasi hadits Bukhari dan Muslim. Alasan untuk adanya dialek yang berbeda dalam Al-Quran adalah untuk membuatnya lebih mudah bagi suku-suku yang berbeda di seluruh Jazirah Arab untuk kemudian diperlajari dan dipahami.

Selama pemerintahan Usman, banyak orang pinggiran yang datang ke dunia Muslim untuk mulai mempelajari Al-Quran seperti Persia, Azerbaijan, Armenia, dan Afrika Utara. Masalah baru pun kemudian muncul karena perbedaan cara membaca Al-Quran diantara mereka. Utsman akhirnya mengangkat kelompok untuk mengatur Al-Quran menurut dialek suku Quraisy (suku Nabi ﷺ 's), dan menyebarkan dialek Quraisy tersebut ke seluruh bagian kekaisaran. Tim Utsman (termasuk Zaid bin Tsabit) menyusun Al-Quran menjadi satu buku (dikenal sebagai mus'haf - dari kata halaman, sahifa) berdasarkan naskah yang disalin dari para pengajar (qari) Al-Quran terbaik dari Madinah. Mus'haf ini kemudian dibandingkan dengan salinan Abu Bakar untuk memastikan tidak ada perbedaan. Utsman kemudian memerintahkan sejumlah salinan mus'haf yang akan dibuat untuk dikirim ke berbagai provinsi di seluruh kekaisaran, bersama dengan para pengajar (qari) yang akan mengajarkan Al-Quran.

Karena Al-Quran sekarang disusun dan diproduksi secara teratur, Ustman kemudian memerintahkan agar potongan-potongan ayat dihancurkan sehingga mereka tidak dapat digunakan lagi di masa depan khawatir menimbulkan kebingungan di antara masyarakat. Selain itu, seluruh masyarakat di Madinah, termasuk sejumlah sahabat terkemuka seperti Ali bin Abi Thalib, rela pergi bersama dengan rencana ini. Apakah ia telah menghilangkan perbedaan yang sah, orang-orang dari Madinah akan pasti keberatan atau bahkan memberontak terhadap Utsman, baik yang telah terjadi. Namun sebaliknya, mus'haf Utsman diterima oleh seluruh masyarakat sebagai otentik dan benar.

Tanda Diakritik Al-Quran

Tuduhan lain yang orientalis buat adalah bahwa Mus'haf Utsman tidak memiliki tanda diakritik (titik yang membedakan huruf vokal dan tanda-tanda). Surat-surat yang terlihat dalam mus'haf nya hanya dasar kerangka huruf Arab. Sebagai contoh, kata قيل (dia berkata), tanpa tanda diakritik akan terlihat seperti ini: ڡٮل. Menurut klaim orientalis, pembaca kemudian dapat membaca kata sebagai فيل (gajah), قبل (sebelum), atau قبل (dia mencium). Jelas, membaca kata-kata yang berbeda tersebut akan memiliki perbedaan besar dalam arti. Orientalis seperti profesor Australia awal 1900-an, Arthur Jeffery, mengklaim bahwa salinan Al-Quran Ustman memiliki kekurangan dimana kurangnya tanda diakritik yang memungkinkan untuk varian bacaan, dan dengan demikian makna tersebut beragam sehingga membuat Al-Quran saat ini tidak otentik.

Kelemahan Tuduhan Arthur Jeffery

Pertama, fakta bahwa Utsman tidak hanya mengirim mus'haf, melainkan juga para pengajarnya (qari). Kita harus ingat bahwa cara utama Al-Quran dipertahankan adalah secara lisan, dan salinan tertulis hanya dimaksudkan untuk menjadi suplemen untuk bacaan oral. Jika seseorang telah hafal, maka salinan mus'haf Utsman hanya sebagai alat bantu visual ketika membaca. Untuk menggambarkan contoh ini, kita dapat melihat tulisan berikut pada bagian dalam Kubah Batu, di Yerusalem. Bangunan ini dibangun pada akhir 600s dan fitur salah satu prasasti kaligrafi tertua dalam bahasa Arab di bagian dalam bangunannya yang ditulis dalam huruf Kufi sama seperti mus'haf Utsman:

Untuk seseorang yang akrab dengan bahasa Arab dan beberapa frasa umum dasar tentang supremasi Allah, mudah untuk tahu isi dari prasasti tersebut:

بسم الله الرحمن الرحيم لا اله الا  الله وحده لا

شريك له له الملك و له الحمد  يحي و يميت و هو

على كل شئ قدير محمد عبد الله و رسوله

"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Tiada Tuhan yang disembah selain Allah, Maha Esa bagi Allah tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nyalah segala kekuasaan, dan bagi-Nyalah segala Pujian, dan Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa. Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya"4

Dengan cara seperti ini, mus'haf Utsman dapat dengan mudah dibaca oleh seseorang yang akrab dengan ayat-ayat dan tulisan Arab. Jadi klaim bahwa kurangnya tanda diakritik tidak memungkinkan bentuk aslinya adalah jelas tidak berdasar.

Masih berkaitan dengan tuduhan Jeffery. Mari kita asumsikan sejenak bahwa tidak ada pengajar (qari) untuk menjelaskan bagaimana ayat harus dibaca dari mus'haf Utsman. Kembali ke kata ڡٮل sebagai contoh kasus. Kata tersebut bisa memiliki beberapa arti yang berbeda, berdasarkan posisi tanda diakritik diletakan dimana. Namun demikian dari petunjuk konteks, pembaca terdidik dapat dengan mudah mengetahui arti kata itu yang seharusnya. Hampir mustahil pembaca terdidik menggunakan kata "sebelum" dengan "gajah" karena arti kalimat secara keseluruhan akan rusak. Pada beberapa kasus bisa saja pembaca tak sengaja salah mengartikan kata dari yang seharusnya. namun ini jarang terjadi sebab cara membaca bahasa arab sudah diatur.

Seiring dengan waktu pada tahun 700-800 M tanda diakritik mulai ditambahkan ke mus’haf-mus’haf seluruh dunia muslim. Sebab semakin banyak masyarakat muslim yang dapat membaca dan menulis. Dunia muslim mulai bergeser dari masyarakat lisan menjadi masyarakat tertulis. Dan hari ini hampir semua mushaf Al Quran modern memiliki tanda diakritik dan tanda vokal untuk memudahkan membaca Al-Quran.

Sistem Isnad

Salah satu masalah yang paling mendesak di mata umat Islam adalah melindungi kesucian Al-Quran. Dalam hal ini, kaum Muslim diingatkan bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen telah merubah isi kitab mereka dari waktu ke waktu, yang kini tidak dapat dianggap sebagai otentik. Oleh karena itu, umat Islam mengembangkan sistem untuk memastikan bahwa Al-Quran dan hadits tidak akan berubah oleh kesalahan manusia, baik disengaja atau tidak disengaja.

Sistem yang dikembangkan dikenal sebagai sistem isnad. Sistem isnad menekankan sanad, dari pepatah tertentu. Misalnya, dalam kompilasi hadis Bukhari, masing-masing hadits didahului dengan rantai perawi yang berlangsung dari Bukhari kembali kepada Nabi Muhammad ﷺ. Rantai ini dikenal sebagai sanad. Untuk memastikan bahwa hadits itu asli, masing-masing narator dalam rantai harus diketahui dan dapat diandalkan, memiliki ingatan yang baik, dapat dipercaya, dan memiliki kualitas yang benar lainnya.

Masyarakat Islam menempatkan sistem ini untuk menentukan keaslian hadits serta ayat-ayat dari Al-Qur'an. Jika ada orang yang mengklaim telah memiliki sebuah ayat yang tidak ada dalam teks kanonik mus'haf Usman, ulama akan melihat periwayatnya atau sanad. Jelas dalam hal ini dapat ditentukan otentik atau tidaknya. Melaui sistem sanad dapat diketahui apakah sanad tersebut terhubung hingga ke nabi ﷺ atau tidak.

Sistem isnad hingga kini menjaga kesucian Al-Quran serta hadits, karena mencegah orang dari membuat klaim yang keliru yang kemudian dapat diterima sebagai fakta. Melalui fokus pada keandalan sanad, keandalan ayat-ayat atau hadits sendiri bisa dipastikan. Zaid bin Tsabit menggunakan sistem proto-isnad dalam karyanya menyusun Al-Quran selama kekhalifahan Abu Bakar, dan pertumbuhan sistem isnad dalam dekade berikutnya membantu melindungi teks dari macam perubahan.

Kesimpulan

Artikel ini tidak dimaksudkan untuk menjadi sebuah studi lengkap sepenuhnya tentang sejarah Al-Quran. Namun, jelas melalui isu-isu pengantar disebutkan di sini bahwa teks Al-Quran jelas tidak berubah dari zaman Nabi Muhammad ﷺ sampai sekarang. Kompilasi teks oleh Abu Bakr dan Utsman memelihara dan menjaga Al-Quran dari kepunahan. Hingga akhirnya, sistem isnad membantu menjaga keaslian Al-Quran. Kesimpulannya, tuduhan orientalis bahwa Al-Quran telah diubah sebagaimana halnya Alkitab dan Taurat telah jelas menyesatkan. Tidak ada bukti maupun gagasan bahwa Quran telah berubah, dan Allah telah menjamin akan menjaga Al-Quran.

yy/rimanews.com

_________________________________________

Footnotes:
1 – Al-Suli, Adab al-Kuttab
2 – Sahih Muslim, al-Zuhd:72
3 – Ibn Hajar, Fath al-Bari
Bibliography:
Al-Azami, M.M. The History of the Quranic Text: From Revelation to Compilation. Leicester: UK Islamic Academy, 2003. Print.
Ochsenwald, William, and Sydney Fisher. The Middle East: A History. 6th. New York: McGraw-Hill, 2003. Print.
 
 

Fakta dan Keserasian Penggunaan Kata dalam Al-Quran

Berapa Jumlah Ayat Al-Quran Sebenarnya?

Mengapa Makna Ayat-Ayat Al-Quran Sering Berbeda?

Benarkah Al Quran Kehilangan 127 Ayat?