15 Safar 1443  |  Kamis 23 September 2021

basmalah.png

Pengumpulan dan Pelembagaan Al Quran

Pengumpulan dan Pelembagaan Al Quran

Fiqhislam.com - Pengumpulan dan pelembagaan Alquran berlangsung selama tiga masa, yakni masa Rasulullah Saw, masa Khalifah Abu Bakar, dan masa Khalifah Utsman bin Affan.

Telah disebutkan dalam hadits-hadits shahih, ketika satu atau lebih ayat Alquran diturunkan kepada Nabi Saw, beliau segera memerintah seorang penulis wahyu untuk menuliskannya. Setelah itu, beliau menyampaikan Alquran kepada sejumlah umat Islam, sehingga perkataan mereka menjadi hujjah yang pasti bagi mereka. Hingga akhirnya, orang-orang yang mendengarkan ayat-ayat Alquran mencapai jumlah yang tawaatur. Mereka pun menghafalkan Alquran, baik satu atau beberapa ayat. Pada setiap ayat Alquran terdapat penghafal yang jumlahnya mencapai derajat tawaatur, terlebih pada saat penulisannya.

At tawaatur adalah nash yang diriwayatkan oleh sejumlah orang yang mustahil secara adat mereka bersepakat untuk berdusta.

Mengenai pemeliharaan Alquran (hifzh ul qur’an) pada masa Rasulullah saw dilakukan dengan dua jalan:

Pertama, penjagaan Alquran di dalam dada sejumlah besar sahabat dan umat Islam yang jumlahnya mencapai batas tawaatur

Kedua, penulisan Alquran oleh para penulis wahyu (kuttaab ul wahyi) yang dipilih Rasulullah. Diantara mereka terdapat al-Khulafaa al-Raasyiduun yang empat, Mu’awiyah, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Khalid bin al Walid, dan Tsabit bin Qays. Rasulullah Saw memerintahkan mereka untuk menulis setiap ayat Alquran yang turun, di atas ruqqaa’ (bentuk jamak dari kata ruq’ah, yang artinya papan. Kadang-kadang ditulis di atas bebatuan, berupa pelepah kurma, tulang unta, domba, kayu, ataupun kulit)

Penyusunan ayat dan surat bersifat tauqiifiy, yakni merupakan hak prerogatif Allah Swt. Allah memerintahkan Rasul-Nya, melalui jalan wahyu, untuk menempatkan setiap ayat di dalam sebuah surat pada posisinya masing-masing. Rasul Saw bersabda, “Jibril mendatangiku, kemudian memintaku untuk meletakkan ayat ini pada posisi ini di surat ini… Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berbuat adil dan berbuat baik, memberi pertolongan kepada kerabat, hingga akhir ayat (An Nahl: 90). [HR. Ahmad dengan isnad yang shahih].

Dan telah terbukti bahwa beliau Saw membaca sejumlah surat dengan tartib (susunan) ayatnya di dalam shalat atau pada saat beliau Saw berkhuthbah Jumat, dengan disaksikan oleh para sahabat. Ini merupakan bukti, bahwa penyusunan ayat-ayat Alquran bersifat tauqiifiy. Selama sahabat menyusun ayat sesuai tartiib (penyusunan) yang mereka dengar dari Nabi Saw yang telah membacakan Alquran, dan telah mencapai derajat tawaatur, maka penyusunan surat di dalam mushafpun bersifat tauqifiy. Meskipun demikian ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa sebagian bersifat tauqiifiy dan sebagian lainnya bersifat ijtihaadiy. [lihat Al Itqaan fiy ‘Uluum Al-Qur’aan, karya Imam As-Suyuthiy].

Bukti bahwa susunan surat bersifat tauqifiy adalah susunan surat yang disusun oleh ‘Utsman yang tercantum di dalam mushhaf-mushhaf, dilembagakan dengan susunan seperti itu. (lihat Mabaahits fi ‘Uluum Alqur’an, Shubhiy al-Shaalih).

Susunan tersebut tidak diingkari oleh seorang sahabatpun, ataupun mereka menyangkal penyusunan seperti itu. Oleh karena itu, pelembagaan Alquran tersebut termasuk bagian dari ijma’ sahabat. Padahal, ijma’ sahabat merupakan salah satu dalil yang diakui secara syar’i.

Pengumpulan Alquran pada Masa Khalifah Abu Bakar

Imam Bukhari di dalam kitab Shahih-nya telah meriwayatkan bahwa Zaid bin Tsabit ra pernah berkata, “Di saat berkecamuknya Perang Yamamah, Abu Bakar meminta agar aku datang kepadanya. Setibanya aku di rumahnya, kulihat Umar bin al-Khaththab sudah berada di sana. Abu Bakar lalu berkata, “’Umar datang kepadaku melaporkan bahwa perang Yamamah bertambah sengit dan banyak para penghafal Quran yang gugur. Ia khawatir kalau-kalau peperangan dahsyat itu akan mengakibatkan lebih banyak lagi para penghafal Quran yang gugur. Karena itu ia berpendapat sebaiknya aku segera memerintahkan pengumpulan (kodifikasi) Alquran.’ Aku katakan kepada ‘Umar,”Bagaimana mungkin kita melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah Saw?! Umar menyahut, “Demi Allah, itu (pengumpulan Alquran) adalah kebajikan. ‘Umar berulang-ulang mendesak dan pada akhirnya Allah swt membukakan dadaku sehingga aku sependapat dengannya.” Zaid kemudian berkata,”Abu Bakar berkata kepadaku, “Engkau adalah seorang pemuda yang cerdas, dan terpercaya. Dahulu engkau bertugas sebagai pencatat wahyu bagi Rasulullah Saw. Dan seterusnya engkau mengikuti Alquran, karena itu, laksanakanlah tugas mengumpulkan Alquran. Zaid berkata, “Demi Allah seandainya orang membebani kewajiban kepadaku untuk memindahkan sebuah gunung, kurasa tidak lebih berat daripada perintah pengumpulan Alquran yang diberikan kepadaku. Kukatakan kepada Abu Bakar ra ,”Bagaimana kita boleh melakukan suatu pekerjaan yang tidak dilakukan oleh Rasulullah Saw?! Abu Bakar menjawab,”Demi Allah pekerjaan itu adalah kebajikan!” Abu Bakar terus-menerus menghimbau sampai Allah Swt membukakan dadaku sebagaimana Allah Swt membukakan dada bagi Abu Bakar dan Umar. Kemudian aku mulai bekerja menelusuri ayat-ayat dan aku himpun dari catatan-catatan pada pelepah kurma, batu-batu, dan di dalam dada para penghafal Alquran. Akhir surat al-Taubah aku temukan pada Khuzaimah al-Anshari, tidak pada orang lain, yaitu firman Allah Swt, “Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang Rasul dan kaum kalian sendiri, ia turut merasakan betapa berat penderitaan kalian…[al-Taubah: 128-129]. Lembaran-lembaran Alquran itu berada pada Abu Bakar ra hingga wafatnya, kemudian pindah ke tangan Umar, setelah Umar wafat seluruh lembaran disimpan Hafshah binti Umar.” [lihat, Shahih al-Bukhari, bab Fadhaail Alquran].

Dengan demikian, Alquran yang dikumpulkan oleh Zaid bin Tsaabit adalah Alquran yang telah ditulis oleh para penulis wahyu zaman Rasulullah Saw, kemudian dikumpulkan, dan dijahit. Abu Bakar menyebutnya sebagai mushhaf. Demikianlah, mushhaf ini telah diperoleh dengan ijma’ umat, dan yang ada di dalamnya bersifat mutawatir.

Pengumpulan dan Pelembagaan Alquran pada Masa Khalifah Utsman bin Affan

Imam Bukhari di dalam Shahih-nya telah meriwayatkan bahwa, “Pada saat-saat pasukan Syam bersama pasukan Irak berperang membela dakwah agama Islam di Armenia dan Adzerbaijan, Hudzaifah al-Yamani datang menghadap khalifah Utsman bin Affan. Hudzaifah menyatakan kekhawatirannya tentang perbedaan bacaan Alquran di kalangan kaum muslim. Kepada Utsman, Hudzaifah al-Yaman berkata,”Ya Amirul Mukminin, persatukanlah segera umat ini sebelum mereka berselisih mengenai Kitabullah, sebagaimana yang terjadi di kalangan Yahudi dan Nasrani. Khalifah Utsman kemudian mengirimkan sepucuk surat kepada Hafshah, dan di dalamnya menyatakan, “Kirimkanlah kepada kami mushhaf agar kami bisa menyalinnya ke dalam mushhaf, setelah itu akan kami kembalikan lagi kepadamu”. Hafshahpun mengirimkan mushhaf yang disimpannya kepada Utsman. Beliau ra kemudian menugaskan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin al ‘Ash, dan Abdurrahman bin al-Haarits bin Hisyaam. Merekapun bertiga kemudian menyalin mushhaf menjadi beberapa naskah. Utsmaan berpesan kepada ketiga orang Quraisy itu,”Apabila kalian berbeda pendapat mengenai sesuatu tentang Alquran maka tulislah menurut dialek orang Quraisy, sebab, Alquran itu diturunkan dengan dialek mereka.” Merekapun segera melaksanakan tugas itu, hingga berhasil menyalin mushhaf menjadi beberapa naskah. Kemudian Utsman mengembalikan mushhaf yang asli kepada Hafshah, sedangkan mushhaf yang telah mereka salin dikirimkan ke seluruh wilayah. Kemudian khalifah memerintahkan untuk membakar setiap lembaran-lembaran atau mushhaf lama yang berisi Alquran. (lihat Shahih al-Bukhari, Bab Fadhaail al-Qur’an).

Sebagian besar ulama mengatakan bahwa tatkala Utsman menyalin mushaf maka beliau membuatnya menjadi empat naskah, kemudian dikirimkan ke tiap penjuru, satu salinan, yakni Kuffah, Bashrah, dan Syam. Sedangkan satu naskah lagi dibiarkan berada di Madinah. Akan tetapi ada juga yang mengatakan bahwa beliau menyalinnya menjadi tujuh naskah lalu masing-masing dikirimkan ke Mekkah, Yaman, dan Bahrain. Pendapat pertama adalah pendapat yang paling kuat.

Adapun mushhaf Hafshah, telah dibakar oleh Marwan bin al-Hakam setelah wafatnya Hafshah. Saat itu, Mushhaf Utsmani masih belum memiliki syakal dan titik. Perbaikan penulisan Alquran sendiri tidaklah sempurna sekaligus, melainkan berlangsung secara bertahap dari satu generasi ke generasi hingga sampai pada puncaknya pada akhir abad 13 hijriyah.

KH A Cholil Ridwan, Lc
Ketua MUI Pusat, Pengasuh Pesantren Husnayain, Jakarta
Pertanyaan dikirim ke: redaksi@suara-islam.com