18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

Kehambaan Kita dalam Al Fatihah

Kehambaan Kita dalam Al Fatihah

Fiqhislam.com - Al Fatihah, kesemuanya, adalah bangunan kokoh yang menggambarkan kehambaan. Pengabdian itu dapat berujud cinta, harap, maupun takut.

Maka terhimpun; “AlhamduliLlahi Rabbil ‘Alamin” adalah cinta, “Arrahamanir Rahim” adalah harap, & “Maliki Yaumiddin” adalah takut.

Di antara Adab meminta; dahului dengan puja. Sebab dalam ketiganya terkandung pujian & pemuliaan pada Allah; setelah itu, berdoalah.

Tapi sebelum permohonan terucap; jelaskan hubungan kita dengan Dzat yang dipintai; sesetia apakah, setulus apakah, semesra apakah.

IyyaKa na’budu“, padanya terkandung Ghayah {tujuan} dari segala penghambaan, “Wa iyyaKa nasta’in” di situlah Wasilah {sarananya}.

Sebagai ikrar Tauhid, di dalamnya juga terkandung pengakuan jujur bahwa kita takkan mampu mengibadahi Allah tanpa pertolonganNya.

Maka kita mengesakan Allah, menyembahNya, mengabdikan hidup & mati; dengan mengandalkanNya, bergantung padaNya, bertawakkal atasNya.

Ialah juga titik pembagi antara hak Allah & hak hamba dalam keseluruhan surat; apa yang sesudahnya adalah ijabah dariNya tuk mereka.

Sesudah itu kita berdoa; tak sembarang pinta; hanya memohon hal paling berharga dalam hayat kita; hidayah tuk istiqamah di jalanNya.

Shirathalladzina an’amta ‘alaihim“; maka kita tahu, hidayah adalah nikmat setinggi-tingginya, seagung-agungnya, seindah-indahnya.

Dalam pendakian menjemput hidayah, penyakit-penyakit hati kita mohon agar digugurkanNya. Maka “IyyaKa na’budu” adalah obat Riya’.

“IyyaKa nasta’in” ialah obat takabbur. Dan “Ihdinash shirathal mustaqim” selain pinta jugalah pengakuan, ia obat tuk bodoh & sesat.

“Shirathalladzina an’amTa ‘alaihim” juga memberi kita isyarat ketersambungan Risalah; kita muslim, & telah didahului para gemilang.

Orang-orang yang diberi nikmat itu ialah para Nabi, Shiddiqin, Syuhada’, & Shalihin yang kisah mereka sepanjang Quran jadi teladan.

Mereka terbimbing untuk bersikap terbaik dengan imannya; dalam sempit & lapang, susah & senang, lebih & kurang, tenang & goncang.

Mereka terjaga dari 2 bahaya; murka Allah & tersesat dari jalan ridhaNya. Yang dimurka itu sebab berilmu tanpa amal & menyalahguna.

Yang tersesat sebab mengikuti sangka & maksud baik tanpa mau mengkaji & mendalami pengajaranNya. Dua ini Ifrath & Tafrith beragama.

Yang menyeksamai Tafsirpun tak boleh lena. Benar bahwa Al Maghdhub ‘Alaihim melanda Yahudi & gelar Adh Dhaallun mengenai Nashrani.

Tapi jika kita sebagai muslim diminta mengulang doa agar selamat dari keduanya minimal 17 kali sehari; betapa rawannya kita serupa.

Mari tak henti hayati Ummul Kitab ini; tuk menyempurnakan kehambaan, mengkhusyukkan ibadah, & mencahayai hidup dengan petunjukNya.

Maka segala puji bagi Allah; yang menyelimutkan malam, mengistirahatkan insan, menyembunyikan aib, & mengampuni kesalahan.

Oleh Salim A Fillah
yy/hidayatullah