9 Safar 1443  |  Jumat 17 September 2021

basmalah.png

Kisah Sapi Betina dan Bani Israel 'Ngeyel'

Kisah Sapi Betina dan Bani Israel 'Ngeyel'

Fiqhislam.com - Salah satu nama surat dalam Al-Quran ialah surah al-Baqarah (Sapi Betina). Surat ini terpanjang dalam Al-Quran, hampir tiga juz, 286 ayat.

Kita tidak tahu mengapa Tuhan memberi nama surah dengan al-Baqarah. Yang jelas dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak bisa membayangkan seandainya tidak ada air susu sapi betina betapa banyak bayi yang tak tertolong, terutama ibu-ibu mereka yang tidak mempunyai air susu ibu (ASI).

Nama surat ini diambil dari kisah seorang konglomerat dari Bani Israil yang meninggal misterius, tidak jelas siapa pembunuhnya. Masyarakat bingung siapa pembunuhnya. Saat itulah muncul tetua adat yang menginformasikan jika ingin mengetahui siapa pembunuh orang kaya ini maka diperlukan seekor sapi.

Bani Israil yang terkenal sejak dulu dikenal tukang kritis dan kadang keras kepala bertanya sapi jenis apa yang dibutuhkan, apakah sapi jantan atau betina? Lalu dijawab apakah engkau akan mempermalukan kami (Bani Israil) dengan menyuruh kami menyembelih sapi betina? Dijawab oleh Nabi Musa: Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil (Q.S.al-Baqarah/67-74).

Pertanyaan diteruskan oleh mereka, apa jenis kelamin sapi itu, jantan atau betina? Dijawab "sapi betina". Tuhan minta mereka agar melaksanakan perintah itu, tetapi masih "ngeyel" dan masih terus bertanya. Sapi betina muda atau tua? Dijawab tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu). Mereka terus bertanya, apa warna sapi betina itu: Dijawab "sapi betina yang kuning". Mereka yang bertanya lagi kuning bagaimana, kuning tua atau kuning muda? Di jawab: kuning tua).

Mereka terus bertanya tanpa henti, yang pertanyaan-pertanyaan itu sesungguhnya semakin memojokkan diri mereka sendiri. Pertanyaan selanjutnya, kuning tua yang bagaimana? Dijawab: Kuning yang menyenangkan semua orang memandangnya (tasur al-nadhirin). Kata al-nadhirin adalah bentuk jamak, jadi kuning di sini bukan hanya yang menyenangkan segolongan orang, tetapi kepada semua orang. Ini yang berat, karena boleh jadi satu pilihan hanya menyenangkan segolongan orang tetapi tidak yang lainnya.

Surah al-Baqarah seperti mendemonstrasikan betapa keras kepalanya Bani Israil. Seteleh mereka semakin terpojok dengan jawaban-jawaban pertanyaannya sendiri, masih saja mencari cela pertanyaan. Yang mereka pertanyaan ialah: Hakekat wujud sapi itu seperti apa? Dijawab: Belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya).

Dalam waktu yang bersamaan, ada seorang anak yatim yang didhalimi oleh keluarga dekatnya sendiri. Harta kekayaan di ambil kakak-kakaknya yang lebih tua, sementara si anak bungsu yang masih kecil hanya diberi seekor anak sapi. Si anak yatim yang diasuh kakeknya hidup dengan penuh keterbatasan. Anak sapi dipeliharanya itu kemudian semakin hari semakin menunjukkan kekhususan, dari segi warna dan prilakunya. Nabi Musa menasehati keluarga itu agar jangan menjual sapinya sekarang tetapi tunggu sampai tumbuh agak lebih besar, karena sapi ini akan dicari orang dan akan dibeli mahal.

Sikap kritis berlebihan Bani Israil ini diistilahkan dalam Al-Quran dengan: Hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi (ka al-hijarah au asyaddu qaswah). Akhirnya Bani Israil menyadari bahwa tuntutan dan pertanyaan-pertanyaan yang berlebihan semakin memberatkan mereka, lalu mereka memohon kepada Nabi Musa sebagai pemimpin spiritual di negeri itu untuk membantu menemukan sapi itu.

Mereka yakin melalui Nabi Musa akan menemukan sapi itu. Sejelek-jeleknya mereka masih punya itikad baik dengan mengatakan: Sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu.

Sapi yang dicari oleh keluarga Bani Israil ialah sapi peliharaan anak yatim tadi. Sapi ini dibeli sangat mahal, lebih mahal dari harta yang dikorup oleh kakak-kakaknya. Sapi ini disembelih, lalu ekornya digunakan untuk memukul oleh orang kaya yang dibunuh oleh kemenakannya sendiri karena tergila-gila dengan harta warisan pamannya. Setelah menunjuk si pembunuhnya maka ia mati kembali. Orang yang tergila-gila dengan harta warisan dengan membunuh pamannya ditahan dan dipenjara.

Pelajaran berharga yang bisa dipetik dari kisah yang dipilih menjadi nama surat ini ialah segala sesuatu yang berlebihan, sungguhpun itu sesuatu yang pada dasarnya baik, tetap dipandang tidak baik oleh Al-Quran. Allah Swt menegaskan: "Janganlah kamu menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, justru menyusahkan kamu" (Q.S. al-Maidah/5:101). Mengeritik boleh tetapi sebaiknya tetap di dalam batas-batas kewajaran, agar hasilnya produktif bukan kontra-produktif. Tuntutan dan pertanyaan yang berlebihan seringkali merepotkan semua pihak. [yy/inilah]