14 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 21 Oktober 2021

basmalah.png

Tafsir Surat Al-Ikhlash

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (١

Tafsir Surat Al-Ikhlash1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa”.

رواه أبو روق عن الضحاك أن المشركين أرسلوا عامر بن الطفيل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالوا : قل له شققت عصانا وسببت آلهتنا وخالفت دين آبائك ، فإن كنت فقيراً أغنيناك وإن كنت مجنوناً داويناك ، وإن هويت امرأة زوجناكها ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « لست بفقير ولا مجنون ولا هويت امرأة ، أنا رسول الله إليكم ، أدعوكم من عبادة الأصنام إلى عبادته » ، أرسلوه ثانية وقالوا له : قل له بيّن لنا جنس معبودك ، أمن ذهب أو فضة ، فأنزل الله هذه السورة

Abu Rauq meriwayatkan dari Adh-Dhahhak bahwa orang-orang musyrik mengutus Amir bin Tufail kepada Nabi Muhammad s.a.w. untuk menyampaikan amanah mereka kepada beliau. Ia berkata: “Ya Muhammad, Engkau telah memecahbelah keutuhan kami, memaki-maki “tuhan” kami, mengubah ajaran agama nenek moyangmu. Jika engkau miskin dan mau kaya kami berikan engkau harta. Jika engkau gila kami obati. Jika engkau ingin wanita cantik akan kami kawinkan engkau dengannya”. Nabi Muhammad s.a.w. pun menjawab: “Aku tidak miskin, tidak gila, tidak ingin kepada wanita. Aku adalah Rasul Allah yang mengajak kamu sekalian untuk meninggalkan penyembahan berhala dan mulai menyembah Allah Yang Maha Esa”. Kemudian mereka mengutus utusannya yang kedua kalinya dan bertanya kepada Rasulullah s.a.w.: “Terangkanlah kepada kami macam Tuhan yang engkau sembah itu. Apakah Dia dari emas atau perak?”, lalu Allah menurunkan surat ini. (Ar-Razi, Mafâtîh al-Ghaib, 4/470)

Surat ini meliputi dasar yang paling penting dari risalah Nabi s.a.w., yaitu mentauhidkan Allah dan menyucikan-Nya serta meletakkan pedoman umum dalam beramal sambil menerangkan amal perbuatan yang baik dan yang jahat, menyatakan keadaan manusia sesudah mati mulai dari sejak berbangkit sampai dengan menerima balasannya berupa pahala atau dosa.

Telah diriwayatkan dalam hadis, “Bahwa surat ini sebanding dengan sepertiga al-Quran,” karena barang siapa menyelami artinya dengan bertafakur yang mendalam, niscaya jelaslah kepadanya bahwa semua penjelasan dan keterangan yang terdapat dalam Islam tentang tauhid dan kesucian Allah dari segala macam kekurangan merupakan perincian dari isi surat ini.

Pada ayat ini Allah menyuruh Nabi-Nya menjawab pertanyaan orang-orang yang menanyakan tentang sifat Tuhannya, bahwa Dia adalah Allah Yang Maha Esa, tidak tersusun dan tidak berbilang, karena berbilang dalam susunan zat berarti bahwa bagian kumpulan itu memerlukan bagian yang lain, sedang Allah sama sekali tidak memerlukan sesuatu apapun. Tegasnya keesaan Allah itu meliputi tiga hal: Dia Maha Esa pada zat-Nya, Maha Esa pada sifat-Nya dan Maha Esa pada af’âl (perbuatan)-Nya.

Maha Esa pada zat-Nya berarti zat-Nya tidak tersusun dari beberapa zat atau bagian. Maha Esa pada sifat-Nya berarti tidak ada satu sifat makhlukpun yang menyamai-Nya dan Maha Esa pada af’al-Nya berarti hanya Dialah yang membuat semua perbuatan sesuai dengan firman-Nya.

Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. (QS Yasin, 36: 82).

اللَّهُ الصَّمَدُ

2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

Pada ayat ini Allah menambahkan penjelasan tentang sifat Tuhan Yang Maha Esa itu, yaitu Dia adalah Tuhan tempat meminta dan memohon.

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan

Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa Maha Suci Dia dari mempunyai anak. Ayat ini juga menentang dakwaan orang-orang musyrik Arab yang mengatakan bahwa malaikat-malaikat adalah anak-anak perempuan Allah dan dakwaan orang Nasrani bahwa Isa anak laki-laki Allah.

Dalam ayat lain yang sama artinya Allah berfirman:

Tanyakanlah (ya Muhammad) kepada mereka (orang-orang kafir Mekah) “Apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak-anak laki-laki, atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan (nya)? Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan: “Allah beranak”. Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta. (QS ash-Shaffât, 37: 149-152).

Dan Dia tidak beranak, tidak pula diperanakkan.

Dengan demikian Dia tidak sama dengan makhluk lainnya, Dia berada tidak didahului oleh tidak ada. Maha suci Allah dari apa yang tersebut.

Ibnu ‘Abbas berkata: “Dia tidak beranak sebagaimana Maryam melahirkan Isa a.s., dan tidak pula diperanakkan. Ini adalah bantahan terhadap orang-orang Nasrani yang mengatakan Isa Al-Masih adalah anak Allah dan bantahan terhadap orang-orang Yahudi yang mengatakan Uzair adalah anak Allah.

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.

Dalam ayat ini Allah menjelaskan lagi bahwa tidak ada yang setara dan sebanding dengan Dia dalam zat, sifat dan perbuatan-Nya. Ini adalah tantangan terhadap orang-orang yang beri’tiqad (berkeyakinan) bahwa ada yang setara dan menyerupai Allah dalam perbuatannya, sebagaimana pendirian orang-orang musyrik Arab yang menyatakan bahwa malaikat itu adalah sekutu Allah.

Untuk meresapkan arti ketauhidan kepada Allah yang terkandung dalam surat al-Ikhlash, kita harus membaca dengan motivasi tinggi untuk memahaminya dengan bekal iman dan ilmu yang memadai. Dan yang paling penting adalah: “adanya keseriusan untuk menjadikannya sebagai pijakan beramal”. Karena kandungan makna “lâ ilâha illallâh“, hanya akan dapat menggerakkan diri kita untuk menjadi “muslim kâffah” ketika kita mampu membacanya sepenuh hati. Seperti ungkapan Ibnu Hajar al-Atsqalani dalam kitab Fath al-Bâri, mengutip perkataan Ibnu Ishak, ketika Rasulullah s.a.w. mengutus al-Ala’ bin al-Hadhrami, beliau bersabda:

إِذَا سُئِلْتَ عَنْ مِفْتَاحِ الْجَنَّةِ فَقُلْ مِفْتَاحُهَا لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

Apabila engkau ditanya tentang kunci surga, katakanlah kuncinya adalah lâ ilâha illallâh (tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah).

Dr. Shaleh bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan berkata, bahwa sebanyak apa pun kalimat lâ Ilâha illallâh dibaca, tidak akan memberikan manfaat sedikit pun kepada yang mengucapkannya, kecuali telah memenuhi tujuh syarat:

Pertama, mengetahui maknanya. Yakni, mengetahui makna yang meniadakan dan yang menetapkan. Oleh karena itu, siapa saja yang mengucapkan lâ Ilâha illallâh, sedangkan ia tidak mengerti makna dan apa yang menjadi tuntutannya, maka ucapannya tidak akan bermanfaat baginya. Sebab, jangankan yakin dengan apa yang diucapkannya, tahu artinya saja tidak. Ini sama dengan orang yang berbicara dengan suatu bahasa, namun ia tidak paham bahasa itu.

Kedua, disertai keyakinan. Keyakinan adalah bentuk kesempurnaan pengetahuan. Dan dengan keyakinan ini setiap bentuk keraguan dan kebimbangan akan dihilangkan.

Ketiga, dibarengi keikhlasan. Keikhlasan akan meniadakan segala bentuk kesyirikan. Dan keikhlasan inilah yang dikehendaki dari lâ Ilâha illallâh.

Keempat, kejujuran. Kejujuran akan mencegah timbulnya kemunafikan. Seperti mereka mengucapkan lâ Ilâha illallâh dengan mulut mereka, sementara hatinya tidak meyakini maknanya.

Kelima, mencintai kalimat itu, sehingga, ketika mengucapkannya wajahnya tampak berseri. Dengan demikian, berbeda dengan wajah yang diperlihatkan oleh orang-orang munafik.

Keenam, tunduk untuk melaksanakan hak-hak lâ Ilâha illallâh. Yaitu melaksanakan amal-amal wajib, ikhlas karena Allah dan hanya mencari ridha-Nya. Dan demikian inilah tindakan yang dikehendaki dari lâ Ilâha illallâh.

Ketujuh, adanya penerimaan yang meniadakan bentuk penolakan. Hal ini dibuktikan dengan melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya.

Inilah syarat-syarat yang telah digali oleh para ulama dari al-Quran dan sunah agar lâ Ilâha illallâh dapat menjadi kunci yang akan membuka pintu surga.

muhsinhar.staff.umy.ac.id