fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


29 Ramadhan 1442  |  Selasa 11 Mei 2021

Sejarah dan Kodifikasi Al-Quran

Sejarah dan Kodifikasi Al-QuranAL-QUR’AN

Kalam (perkataan) Allah SWT yang diwahyukankepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril dengan lafal dan maknanya (QS. 26: 192-195). Al-Qur’an sebagai kitab Allah menempatiposisi sebagai sumber pertama dan utama dari seluruh ajaran Islam danberfungsi sebagai petunjuk atau pedoman bagi umat manusia dalammencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Kata Al-Qur’anberasal dari kata kerja qara’a yang berarti membaca dan bentuk masdar(kata dasar)-nya adalah qur’an yang berarti bacaan. Al-Qur’an denganmakna bacaan di nyatakan oleh Allah SWT dalam beberapa ayat, antara laindalam surah2 al-Qiyamah ayat 16-18,al-Baqarah ayat 185, al-Hijr ayat 87.

SEJARAH AL-QUR’AN

Sebagai wahyu (QS. 4:163), surah2 dan ayat2 Al-Qur’an diturunkan oleh AllahSWTsecara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW selama kurang lebih duapuluhtiga tahun masa kenabiannya. Hikmah diturunkannya Al-Qur’an secaraberangsur-angsur ini antara lain adalah:

(1) untuk meneguhkan hati Rasulullah SAW dengan cara mengingatkannya terus-menerus,

(2) lebih mudah dimengerti dan diamalkan oleh pengikut2 rasulullah SAW,

(3)diantara ayat2 itu ada yang merupakan jawaban atau penjelasan dari suatupertanyaan atau masalah yang diajukan kepada Nabi SAW sesuai dengankeperluan,

(4) hukum2 Allah SWT yang terkandung di dalamnya mudahditerapkan secara bertahap, dan

(5) memudahkan penghafalan.

Setiap kali menerima wahyu, Nabi SAW lalu menghafalkannya (QS. 75: 16-19). Hafalan Nabi SAW ini selalu dikontrol oleh Malaikat Jibril. Setelah itu Nabi SAW segera mengumpulkan sahabat- sahabatnya untuk menyampaikan wahyu yang baru diterimanya. Nabi SAW pun menyuruh para sahabat untuk menghafalkan wahyu yang diterimanya. Di samping itu, Nabi SAW juga menyuruhsahabat-sahabatnya yang pandai menulis untuk menuliskan ayat2 yang diturunkan. Ketika di Madinah, Nabi SAW memiliki beberapa orang jurutulis, di antaranya yang terkenal ialah Zaid bin Sabit.

KODIFIKASI AL-QUR’AN

Kodifikasiatau pengumpulan Al-Qur’an telah dimulai sejak zaman Rasulullah SAW,bahkan telah dimulai sejak masa2 awal turunnyaAl-Qur’an. Sebagaimanadiketahui, Al-Qur’an diwahyukan secara berangsur-angsur. Setiap kalimenerima wahyu, Nabi SAW lalu membacakannya di hadapan para sahabatkarena ia memang diperintahkan untuk mengajarkan Al-Qur’an kepadamereka (QS.16:44).

Di samping menyuruh sahabat menghafalkan ayat2 yangdiajarkannya, Nabi SAW juga memerintahkan sahabat yang pandai menulisuntuk menuliskannya di atas pelepah2 kurma, lempengan2 batu, dankepingan2 tulang. Dalam pada itu, para sahabat pun sangatbersungguh-sungguh dalam menghafalkan atau mempelajari Al-Qur’an.Sahabat yang pandai menulis juga sangat berhati-hati menuliskan ayat2. Hal ini didorong oleh keyakinan mereka bahwa Al-Qur’an adalah firmanAllah SWT yang harus dijadikan pedoman hidup, sehingga perlu dijagadengan baik.

Setelah ayat2 yang diturunkan cukup satu surah, Nabi SAWmemberi nama surah tersebut untuk membedakannya dari surah yang lain.Nabi SAW juga memberi petunjuk tentang urutan penempatan surah di dalamAl-Qur’an. Penyusunan ayat2 dan penempatannya di dalam susunanAl-Qur’an juga dilakukan berdasarkan petunjuk Nabi SAW. Carapengumpulan Al-Qur’an yang dilakukan di masa Nabi SAW tersebutberlangsung sampai Al- Qur’an sempurna diturunkan dalam masa kuranglebih 23 tahun. Untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, setiap tahun MalaikatJibrildatang kepada Nabi SAW untuk memeriksa bacaannya.

Bahkan pada tahunwafat Nabi SAW, Malaikat Jibril datang dua kali. MalaikatJibrilmengontrol bacaan Nabi SAW dengan cara menyuruhnya mengulangibacaan ayat2 yang telah di wahyukan. Kemudian Nabi SAW sendiri jugamelakukanhal yang sama, yaitu mengontrol bacaan sahabat-sahabatnyasehingga dengan demikian terpeliharalah Al-Qur’an dari kesalahan dankekeliruan. Pada masa Rasulullah SAW, sudah banyak sahabat ( baik darikalangan Muhajirin maupun Ansar) yang menghafal beberapa puluh surah.Bahkan banyak juga yang telah menghafal setengah Al-Qur’an dan seluruhisinya dengan lancar.

Di antara yang menghafal seluruhnya ialah Abu Bakaras-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Talib,Talhah, Sa’ad, Huzaifah, Abu Hurairah, Abdullah bin Mas’ud, Abdullahbin Umar binKhattab, Abdullah bin Abbas, Amr bin As, Mu’awiyah bin AbuSufyan, Abdullah bin Zubair, Aisyah binti Abu Bakar, Hafsah binti Umar, UmmuSalamah, Ubay bin Ka’b, Mu’az bin Jabal, Zaid bin sabit, Abu Darda,dan Anas bin Malik. Adapun sahabat2 yang menjadi juru tulis wahyu, antaralain adalah : Abu Bakar as Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan,Ali bin Abi Talib, Amir bin Fuhairah, Zaid bin Sabit, Ubay bin Ka’b,Mu’awiyah bin Abu Sufyan, Zubair bin Awwam, Khalid bin Walid, dan Amrbin As. Tulisan ayat2 Al-Qur’an yang ditulis oleh mereka disimpan dirumahRasulullah SAW. Mereka pun masing2 menulis untuk disimpan sendiri.

Walaupun demikian, tulisan2 itu belum dikumpulkan dalam satu mushaf(sebuah buku yang terjilid seperti yang dijumpai sekarang), melainkan masihberserakan.

Setelah Rasulullah SAW wafat danAbu Bakar dipilih menjadi Khalifah . Terjadinya Perang Yamamah yangmerenggut korban kurang lebih tujuh puluh sahabat penghafal Al-Qur’anmembuat Umar bin Khattab lalu menyarankan kepada Khalifah Abu Bakaragar menghimpun surah2 dan ayat2 yang masih berserakan ke dalam satumushaf.

Khafilah Abu Bakar lalu memerintahkan Zaid bin Sabit untukmemimpin tugas kodifikasi ini dengan dibantu oleh Ubay bin Ka’b, Alibin Abi Talib, Usman bin Affan, dan beberapa sahabat qurra’ (pembaca2)lainnya. Meskipun Zaid bin Sabit seorang penghafal Al-Qur’an dan banyakmenuliskan ayat2 di masa Nabi SAW, ia tetap sangat berhati-hati dalammelakukan pengumpulan ayat2 Al- Qur’an itu.

Di dalam usaha kodifikasiini, Zaid bin Sabit berpegang pada tulisan2 yang tersimpan di rumahRasulullah SAW, hafalan2 dari sahabat, dan naskah2 yang ditulis oleh parasahabat untuk mereka sendiri. Zaid bin Sabit menghimpun surah2 danayat2 Al-Qur’an sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW sebelum wafat danmenulisnya di atas lembaran2 kertas yang di sebut Suhuf2. Suhuf2 itu laludisusun menjadi satu mushaf dan kemudian diserahkan kepada Abu Bakar.

Mushaf ini tetap disimpan Abu Bakar sampai ia wafat. Ketika Umarmenjabat khalifah, mushaf itupun berada dalam pengawasannya. SetelahUmar wafat, mushaf ini disimpan di rumah Hafsah, putrinya yang juga adalahistri Rasulullah SAW. Pada masa Khalifah Usman bin Affan, timbulperbedaan pendapat di kalangan umat Islam mengenai soal kiraah (caramembaca Al- Qur’an).

Perbedaan pendapat ini mulanya disebabkan olehsikap Rasulullah SAW yang memberi kelonggaran kepada kabilah2 Arab yang adapada masa itu untuk membaca dan melafalkan Al-Qur’ an menurut lahjah(dialek) mereka masing2. Kelonggaran ini diberikan oleh Nabi SAW denganmaksud agar mereka mudah menghafal Al-Qur’an. Akan tetapi dalamperkembangan Islam kemudian, terutama setelah bangsa2 yang memeluk Islamsemakin beragam sebagai akibat dari bertambah luasnya daerah Islam, cara membaca Al-Qur’an pun menjadi semakin bervariasi sesuai dengandialek masing2.

Hal inilah yang menimbulkan perselisihan masalah kiraah.Masing2 kabilah menganggap dialeknyalah yang benar sedangkan dialeklainnya salah. Atas usul Huzaifah, Khalifah Usman lalu membentuk suatulajnah (panitia) yang terdiri atas Zaid bin Sabit sebagai ketua dananggota- anggotanya adalah Abdullah bin Zubair, Sa’id bin As, danA bdurrahman bin Haris. Kemudian Usman meminjam mushaf Al-Qur’an yang disimpan di rumah Hafsah dan memberikannya kepada panitia yang telahterbentuk. Tugas utama lajnah ialah menyalin mushaf itu ke dalam beberapa naskah sambil menyeragamkan dialek yang digunakan, yaitu dialekKuraisy (Al-Qur’an diturunkan melalui dialek Kuraisy).

Setelah tugaspanitia selesai, Usman mengembalikan mushaf yang telah disalin itu kepadaHafsah. Al-Qur’an yang telah disalin dengan dialek yang seragam itulah yangdisebut Mushaf Usmani. Semuanya berjumlah lima buah. Satu mushafdisimpan di Madinah, yang kemudian dikenal dengan mushaf al-Imam.

Empat lainnya dikirim ke Mekah, Suriah, Basra, dan Kufah untuk disalin dandiperbanyak. Selanjutnya Usman memerintahkan agar mengumpulkan semuatulisan Al-Qur’an selain dari mushaf Usmani untuk dimusnahkan dan hanya boleh menyalin dan memperbanyak tulisan Al-Qur’an dari mushaf yang resmi, yaitu mushaf Usmani. Usaha kodifikasi Al-Qur’an di masa Usman membawabeberapa keuntungan, antara lain sebagai berikut.

(1) Menyatukan umatIslam yang berselisih dalam masalah kiraah.

(2) Menyeragamkan dialekbacaan Al-Qur’an.

(3) Menyatukan tertib susunan surah2 menurut tertiburut mushaf2 yang dijumpai sekarang.

Dalam perkembangan selanjutnya,mushaf yang dikirimkan Usman ke berbagai propinsi Islam itu mendapatsambutan yang positif di kalangan umat Islam. Mereka menyalin danmemperbanyak mushaf2 itu dengan sangat hati2. Diriwayatkan bahwa AbdulAziz bin Marwan (gubernur Mesir) setelah menulis mushaf-nya, menyuruhorang lain untuk memeriksanya sambil menjanjikan bahwa siapapun yang dapatmenemukan suatu kesalahan dalam tulisannya akan diberi hadiah berupa seekor kuda dan tiga puluh dinar.

oleh : Peace Able | cahyaiman.wordpress.com