fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


29 Ramadhan 1442  |  Selasa 11 Mei 2021

Apakah Al-Quran Bertentangan Dengan Kristen Dan Yahudi?

Apakah Al-Quran Bertentangan Dengan Kristen Dan Yahudi?Fiqhislam.com - Ajaran Nabi Muhammad adalah ajaran baru karena itu dilihat dengan penuh kecurigaan dan dianggap tidak sah oleh sebagian besar kaum Yahudi dan Kristen pada saat itu, begitulah pendapat Leena El Ali, Direktur Kerjasama dalam Humanity, sebuah program yang mempromosikan hubungan konstruktif antara Muslim dan Barat, di organisasi transformasi konflik Search for Common Ground, Washington DC.

Ketika kekerasan dilakukan atas nama Islam, para pelaku seringkali mengatakan bahwa kaum Muslim tidak pernah ditakdirkan untuk mempunyai hubungan baik dengan penganut agama lain, terutama Yahudi dan Kristen. Mereka mengutip dari Al-Quran secara serampangan yang menurut mereka dapat membuktikan bahwa kaum Yahudi dan Kristen bersikap jahat pada kaum Muslim. Tidak mengherankan jika kemudian sejumlah non-Muslim menunjuk ke kutipan-kutipan tersebut sebagai bukti bahwa kaum Muslim adalah ancaman bagi kehidupan mereka, membenarkan permusuhan mereka terhadap Islam.

Namun, apa sebenarnya arti ayat-ayat itu?

Sering terlupakan oleh kita bahwa Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad selama 23 tahun periode kepemimpinan relijius dan politiknya, dimulai ketika ia berusia 40 tahun dan berakhir ketika ia wafat di tahun 632 M. Ayat-ayat Al-Quran diturunkan melalui perantara Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad untuk mengatasi tantangan yang dihadapi komunitas Muslim sebagai tambahan atas persoalan-persoalan teologis dan spiritual yang diajarkan dalam setiap agama.

Karena itu, sementara hampir dua pertiga isi Al-Quran mengisahkan kehidupan nabi-nabi kaum Yahudi dan kehidupan Yesus serta Siti Maryam sebagai ekspresi ide-ide spiritual, sepertiga sisanya memberikan peraturan spesifik bagi pengikut agama Islam dalam menjalani hidup.

Berbicara secara luas, peraturan-peraturan itu meliputi dua tema besar: perilaku baik dalam kehidupan personal, sosial, dan keluarga, serta memberikan komentar spesifik mengenai kejadian di masa lalu atau masa sekarang, termasuk problem komunitas dan politis.

Ayat-ayat yang dianggap "tidak bersahabat" terhadap kaum Yahudi dan Kristen jatuh ke dalam kategori terakhir. Contohnya, meskipun kedua komunitas sama-sama disebut sebagai "Orang-orang Kitab" – orang yang mendapatkan kitab sucinya sendiri dari Tuhan yang sama yang menurunkan Al-Quran kepada orang-orang di semenanjung Arab – Sebagian besar ayat berbicara mengenai ketegangan antara Kristen dan Yahudi dengan kaum Muslim pada masa-masa awal agama ini turun. Ajaran Nabi Muhammad adalah ajaran baru karena itu dilihat dengan penuh kecurigaan dan dianggap tidak sah oleh sebagian besar kaum Yahudi dan Kristen pada saat itu.

Ayat-ayat yang dianggap memusuhi kaum Yahudi dan Kristen harus dibaca sesuai konteks. Pada saat itu, contohnya, sebuah suku bangsa Yahudi yang merupakan sekutu Muslim, berkhianat. Secara alamiah, kaum Muslim kemudian mencari pelindung atau sekutu dari komunitas lain.

Taurat dan Injil disebutkan berkali-kali di dalam Al-Quran, selalu dengan kata-kata yang baik, dan digambarkan sebagai "panduan dan penerang" bagi umat manusia.

Nabi Musa disebut sebanyak 136 kali di dalam Al Quran. Sementara Yesus disebut dengan nama Isa dalam bahasa Arab sebanyak 25 kali. Kisah kehidupannya juga diceritakan kembali dalam Al-Quran, termasuk kelahirannya dari seorang perawan, menyembuhkan orang buta dan sakit lepra, dan membangkitkan orang yang sudah mati. Siti Maryam disebut sebanyak 34 kali, terdapat surat yang diberi namanya dan ia digambarkan sebagai wanita paling mulia dari semua ciptaan-Nya.

Tidak satupun ayat Al-Quran yang menyebut tentang Yesus, Injil, Musa, atau Taurat tanpa rasa penuh hormat dan keyakinan. Ada perbedaan teologis antara Islam dan Kristen, di mana Yesus dihargai sebagai seorang Nabi, bukan anak Tuhan. Namun tetap saja, pesan keseluruhannya adalah koeksistensi, bukan perpecahan.

suaramedia.com