15 Safar 1443  |  Kamis 23 September 2021

basmalah.png

Al-Quran dan Sains (7): Ilmu Geologi

Al-Quran dan Sains (7): Ilmu GeologiFiqhislam.com - Yang dimaksud dengan Ilmu Geologi adalah ilmu yang berkaitan dengan pengamatan struktur batu-batuan yang ada di dalam bumi dan bentuk-bentuknya serta rekahan batu-batuan tersebut dan pengaruhnya. Sebagai sebuah ilmu, ia memiliki dasar dan cabang-cabangnya yang banyak. Namun yang akan menjadi perhatian kita dalam pembahasan ini adalah isyarat ilmiah yang terdapat pada beberapa ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan kondisi geologi bumi.

Penelitian yang dilakukan para ahli geologi, salah satunya berkaitan dengan struktur bumi yang memiliki tingkat ketinggian tertentu seperti gunung. Dari penelitian tersebut, didapatkan bahwa berdasarkan geomorphologi, gunung memiliki fungsi sebagai pasak yang menancapkan bumi di jagat alam raya ini. Di mana puncak gunung menjadi penahan keseimbangan bumi dari arah atas. Dan bagian yang  menancap di kedalaman bumi atau bagian akarnya menjaga keseimbangannya dari arah bawah dan berhubungan dengan inti bumi.

Dengan adanya gunung-gunung ini, keseimbangan bumi dapat terjaga, sehingga bumi tidak terlalu condong ke salah satu arah di tengah-tengah alam raya yang melingkupinya. Karenanya kita mendapatkan penyebaran gunung-gunung di bumi ini yang tampak teratur pada semua bagian dari permukaan bumi. Kita mendapatkan, di salah satu belahan bumi terdapat banyak dataran tinggi, sedangkan di tempat lain terdapat banyak dataran rendah.   

Demikianlah fungsi dari gunung-gunung ini. Dan hal ini, telah diisyaratkan Al-Qur'an dalam surah An-Nahl ayat 15. Allah SWT berfirman: "Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu."

Dengan memerhatikan ayat ini, kita mendapatkan ketelitian cara pengungkapan Al-Qur'an dalam memilih kata-kata yang dipergunakannya. Penggunaan kata ‘alqaa’, menunjukkan adanya peristiwa pemindahan materi-materi pembentuk gunung, baik yang berasal dari dasar bumi, lalu mengendap di permukaannya, maupun dari salah satu bagian dari permukaan bumi yang terbawa ke permukannya di bagian lain.

Contoh dari pemindahan yang terjadi dari dasar bumi ke permukaannya, terdapat pada gunung merapi yang menyemburkan lava dari kawahnya. Adapun contoh dari gunung yang terbentuk karena endapan yang terjadi di permukaan bumi, maka hal itu bisa diakibatkan karena kelapukan dan pengikisan, yang diiringi oleh serangkaian proses perubahan alami dan kimiawi sehingga endapan itu menjadi keras dan terkumpul menjadi materi pembentuk gunung.

Penggunaan kata ‘an tamida bikum’ menjelaskan fungsi gunung dalam menekan dan mengontrol gerakan bumi sehingga keseimbangannya di tengah-tengah jagat raya ini terjaga.

Inilah petunjuk Al-Qur'an yang menjelaskan tentang fungsi gunung-gunung. Di bagian lain, terdapat juga ayat Al-Qur'an yang menunjukkan adanya daratan rendah di permukaan bumi. Sebagai contoh, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an adalah wilayah tempat terjadinya peperangan (sebelum peperangan terakhir) antara pasukan Romawi dan Persia, yaitu lembah sungai Yordania, di mana pasukan Persia memperoleh kemenangan.

Penelitian yang dilakukan oleh para ahli geologi menunjukkan bahwa lembah sungai Yordania pada saat itu, merupakan daratan terendah, dibandingkan daerah lain di belahan bumi ini. Inilah yang disinggung Al-Qur'an dalam surat Ar-Rum ayat 1-3. Allah SWT berfirman: "Alif Laam Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi. Di negeri yang terdekat (terendah) dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang."

Selanjutnya di bagian lain, Al-Qur'an mengisyaratkan bahwa bumi diliputi suatu lapisan gas yang menjaganya dari pengaruh langsung sinar matahari. Di mana pengaruh lapisan ini dapat kita rasakan secara langsung dalam kehidupan kita. Lapisan gas yang dimaksud adalah atmosfir bumi, yang mengelilingi seluruh permukaan planet bumi di mana kita hidup ini.

Karena adanya lapisan atmosfir ini, Al-Qur'an mengungkapkan bahwa manusia, hidup di bumi, bukan di atas bumi. Karena kalau kita hidup di atas bumi maka permukaan kulit bumi adalah bagian terluar dari bumi. Dan ini tentunya bertentangan dengan realitas alam, dengan adanya atmosfir bumi yang mengelilingi semua permukaan bumi dengan kekuatan gaya gravitasinya.

Apa yang disampaikan di atas, telah dijelaskan oleh Al-Qur'an dalam surah Ar-Rum ayat 9. Allah SWT berfirman: "Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi."

Tentang sifat dari atmosfir, Al-Qur'an dalam salah satu ayatnya telah menjelaskan hal ini, yaitu makin tinggi meninggalkan permukaan bumi, maka tekanan udara pada ketinggian tersebut makin berkurang. Dan itu berpengaruh pada kemampuan benda-benda hidup seperti manusia untuk bernafas pada ketinggian tersebut, dikarenakan saluran pernafasannya terganggu karena persediaan oksigen yang menipis. Bahkan akibat dari persediaan oksigen yang sedikit itu, bisa mengakibatkan manusia seperti tercekik atau ia akan mati.

Allah SWT berfirman dalam surah Al-An’am ayat 125: "Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman."

Yang dimaksud dengan ‘dadanya yang sempit’ adalah terjadinya kekurangan oksigen pada saluran pernafasannya. Dan pengumpaan-Nya dengan pendakian ke langit, hal itu menunjukkan kurangnya persediaan oksigen pada ketinggian tertentu pada lapisan atmosfir bumi.

Dalam surah Ath-Thariq ayat 11, Al-Qur'an menyebutkan sifat lain dari atmosfir ini. Allah SWT berfirman: "Demi langit yang dapat mengembalikan." Kalimat ‘dzatu ar-raj’i’, mengandung arti bahwa atmosfir memiliki daya untuk melindungi bumi, sekaligus memantulkan kembali gelombang elektronik yang membenturnya ke permukaan bumi. Kondisi ini dimanfaatkan manusia untuk membuat radio yang memanfaatkan energi gelombang udara. Dan umumnya, manfaat dari atmosfir ini, juga digunakan secara lebih luas dalam bidang telekomunikasi.

Selain dari hal di atas, Al-Qur'an juga membicarakan tentang lapisan bebatuan yang menjadi unsur terpenting bagi struktur pembentukan bumi. Lapisan ini memanjang, mulai dari permukaan bumi sampai ke dalam perut bumi, yang terdiri dari berbagai macam tingkatan bebatuan yang memiliki unsur fisika dan kimia tertentu.

Tingkatan kondisi batu tersebut terdiri dari berbagai macam batu-batuan yang secara garis besar terbagi ke dalam tiga kelompok, yaitu batu api atau batu bara, yang terbentuk dari magma yang mencuat dari dasar bumi kemudian membeku menjadi batu api. Dan terkadang magma ini juga bisa muncul ke permukaan bumi dan menjadi batu api yang terdapat di bagian atas bumi.

Kelompok kedua adalah batu endapan yang terbentuk karena endapan unsur-unsur batu yang terjadi melalui proses pengikisan dan pelapukan karena pengaruh udara atau air. Batu endapan ini, karena pengaruh dari pelapukan yang terjadi, terbagi ke dalam batu endapan mekanik yang terbentuk karena faktor endapan mekanik—seperti sungai, dan lautan—dan batu endapan kimiawi yang terbentuk karena proses endapan zat kimia tertentu—seperti karbonat kalsium—dan batu endapan biokimia yang terbentuk karena pengaruh makhluk-makhluk hidup yang memiliki bentuk yang sangat kecil dan rumit.

Jenis ketiga adalah metamorfik atau batu yang bentuknya dapat berubah-ubah karena pengaruh tekanan udara atau panas atau pengaruh keduanya. Batu-batuan jenis ketiga ini, pada awalnya berasal dari jenis batu api dan batu endapan.

Selanjutnya, lapisan bebatuan yang terdapat di bumi, juga terdiri dari berbagai macam jenis unsur logam yang terbentuk karena proses gabungan beberapa unsur kimia dan fisika. Unsur logam ini terbagi dalam dua bagian. Pertama adalah logam silikat, di mana unsur utama pembentukannya adalah silikon ditambah dengan unsur-unsur kimia yang lain. Kedua logam  non-silikat di mana dalam unsur pembentukannya tidak terdapat unsur silikon.

Dalam pembentukan suatu jenis logam, unsur yang dibutuhkan bisa berjumlah satu atau lebih yang saling menyatu dengan suatu proses tertentu. Namun untuk membantu proses pembentukannya, setiap logam membutuhkan energi tertentu sehingga proses pemnbetukannya dimungkinkan. Dan pembentukan logam ini tidak bisa terjadi kecuali jika tingkatan energinya berada pada titik terendah.

Al-Qur'an telah memberikan isyaratnya berkaitan dengan bebatuan dan unsur logam yang terdapat pada lapisan bebatuan pembentuk bumi. Di antaranya, Al-Qur'an menyebutkan tentang pembentukan warna pada bebatuan yang terdapat di lapisan bumi yang berbentuk batu, yang mempunyai pengaruh pada warna logam  yang dikandungnya. Berdasarkan Al-Qur'an, pembentukan warna-warna bebatuan disebabkan oleh reaksi kimia, seperti larutan air, pencairan, zat hidrat dan zat asam karbon, dan seterusnya.

Dalam surah Fathir ayat 27 Allah SWT berfirman: "Tidakkah kamu melihat bahwasannya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka ragam macam jenisnya (warnanya). Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat."

Ayat di atas memberi petunjuk bahwa sebab dari terbentuknya gunung yang berwarna putih atau merah adalah air. Dan ini adalah isyarat bahwa air mempunyai pengaruh dalam reaksi kimia yang menyebabkan warna pada bebatuan dan tambang.

Dalam bagian lain, Al-Qur'an memberikan isyaratnya pada surah Al-Hadid ayat 25. Allah SWT berfirman: "Dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat." Ayat ini menyebutkan salah satu unsur terpenting yang terdapat pada lapisan bebatuan yang ada di dalam bumi, yaitu unsur besi.

Berdasarkan penelitian para ahli, pembentukan unsur besi mustahil terjadi di dalam perut bumi, karena dalam pembetukannya ia membutuhkan energi yang banyak dan sulit tersedia di dalamnya. Karenanya mereka menyimpulkan bahwa unsur besi telah terbentuk di planet lain yang di dalamnya tersedia energi yang memungkinkan pembentukannya. Kemudian unsur besi ini dibawa atau dipindahkan ke bumi dengan satu mekanisme yang tidak diketahui secara pasti.

Cara ungkapan Al-Qur'an dengan menggunakan kata ‘kami turunkan’ menjelaskan peristiwa turunnya unsur besi ini. Karena turunnya sesuatu tidak mungkin terjadi kecuali dari daratan tingi ke daratan rendah. Dan tingkat ketinggian dan kerendahan itu, tidak lain, melainkan tingkat ketinggian dan kerendahan energi yang dibutuhkan dalam pembentukan unsur besi.

Al-Qur'an dalam bagian lainnya menyebutkan fenomena alamiah lain yang berkaitan dengan lapisan bebatuan, yaitu apa yang biasanya disebut dengan lempengan tektonik. Dalam surah Ath-Thariq ayat 12 Allah SWT berfirman: "Dan bumi yang mempunyai ‘rekahan’."

Peristiwa rekahan yang terjadi di kulit bumi, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat di atas, terjadi karena lipatan yang terjadi pada lempengan tektonik yang membentuk struktur bumi. Di mana lipatan ini berpengaruh kepada terbelahnya lapisan bebatuan yang ada di perut bumi dan terbentuknya lubang besar, sehingga tercipta palung besar yang membentuk lautan dan samudera. Contohnya palung yang terdapat di Laut Merah yang berasal dari lubang besar di daratan afrika.

Petunjuk lain yang disampaikan Al-Qur'an dan berkaitan dengan lapisan bebatuan yang terdapat di bumi adalah penjelasannya tentang pembagian ketebalan lapisan bebatuan tersebut. Berdasarkan pengamatan para ahli geologi dan geofisika, kesimpulan yang diambil menyatakan bahwa ketebalan yang terdapat pada bebatuan di bagian inti bumi lebih besar daripada yang terdapat pada bebatuan di bagian kulit bumi. Karenanya berat bumi terletak di intinya bukan di kulitnya. Dan penelitian para ahli juga memberi petunjuk bahwa bumi bisa menumpahkan isinya yang terdiri dari bebatuan-bebatuan besar ketika terjadi letusan gunung atau gempa yang dahsyat.

Dalam hal ini, Allah SWT berfirman dalam surat Az-Zilzalah ayat 1 dan 2: "Apabila bumi diguncangkan dengan guncangannya (yang dahsyat). Dan bumi telah mengeluarkan bahan-bahan berat (yang dikandung)nya."

Hakikat ilmiah pertama yang terdapat dalam ayat di atas, adalah ketebalan lapisan bebatuan di bagian inti bumi dibandingkan dengan lapisan bebatuan yang terdapat di kulit bumi. Hakikat yang kedua adalah gelombang gempa yang dahsyat dapat menyebabkan bumi mengeluarkan kandungan batu-batu besar yang terdapat di dalamnya ke permukaan bumi.

Selanjutnya, selain beberapa hal yang telah disebutkan di atas, kita mendapatkan Al-Qur'an membicarakan beberapa petunjuk lainnya berkenaan dengan terdapatnya lapisan air yang terdapat di antara lapisan bebatuan pembentuk bumi bersama dengan lapisan udara yang terletak pada celah-celah di sekitar lapisan bebatuan yang ada. Lapisan air ini juga tersedia dalam jumlah yang lebih banyak di lautan, samudera dan sungai, sehingga membentuk permukaan air yang mengelilingi semua permukaan bumi.

Fungsi dari air ini sangat esensial sekali. Karena ia adalah salah satu unsur terpenting yang menyebabkan keberlangsungan kehidupan di muka bumi ini. Air bermanfaat membantu tumbuh-tumbuhan dalam perkembangannya untuk menghasilkan bahan makanan yang dimanfaatkan oleh hewan dan manusia. Ia juga bermanfaat dalam setiap proses kehidupan bagi segenap makhluk hidup yang terdapat di muka bumi ini.

Berdasarkan penelitian geologi, unsur air terbentuk setelah terlepasnya bumi dari matahari dalam bentuk gumpalan gas yang memiliki tingkat panas yang sangat tinggi. Kemudian bumi, setelah melalui proses tertentu menjadi dingin yang akibatnya menghasilkan lapisan bebatuan, gas dan air di dalamnya. Karenanya dikatakan bahwa air yang terdapat di planet bumi berasal dari bumi itu sendiri.

Al-Qur'an sejak 14 abad yang lalu telah mengisyaratkan hal ini dalam surah An-Naziat ayat 31. Allah SWT berfirman: "Dia memancarkan daripadanya (bumi) mata airnya dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya."

Selanjutnya dalam bagian lain, Al-Qur'an menjelaskan tentang proses air yang terdapat di samudera dan lautan yang berubah dari bentuk cairnya ke dalam bentuk uap atau awan yang selanjutnya berubah menjadi tetesan air berupa hujan yang diturunkan ke bumi sehingga terbentuk sungai-sungai dan saluran-saluran air yang menyimpan air tawar. Sebagian dari air hujan ini meresap ke dalam perut bumi dan berkumpul menciptakan sungai-sungai yang terdapat di dalam perut bumi, atau naik ke arah permukaan bumi dalam bentuk sumur dan mata air.

Hakikat ilmiah ini dijelaskan oleh Al-Qur'an dalam surah An-Nur ayat 43. Allah SWT berfirman: "Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya."

Dan dalam surah An-Naml ayat 60 Allah SWT berfirman: "Dan Dia yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah."

Yang dimaksud dengan ‘menurunkan air untukmu dari langit’ adalah turunnya hujan dari awan ke permukaan bumi, untuk menghidupkan bumi sehingga ia dapat mengeluarkan berbagai tumbuhan dengan buah-buahannya yang beraneka ragam jenis dan warnanya.

Oleh: DR Abdul Basith Jamal & DR Daliya Shadiq Jamal

Republika.co.id
Sumber: Ensiklopedi Petunjuk Sains dalam Al-Qur'an dan Sunnah