15 Safar 1443  |  Kamis 23 September 2021

basmalah.png

Al-Quran dan Sains (13): Korelasi antara Kehidupan dan Kematian

Al-Quran dan Sains (13): Korelasi antara Kehidupan dan KematianFiqhislam.com - Kehidupan dan kematian bagi semua makhluk hidup merupakan starting point dan garis finish bagi keberadaannya di dunia ini. Meskipun mayoritas orang berpendapat tidak ada korelasi yang signifikan antara kehidupan dan kematian, namun bukti ilmiah menegaskan adanya korelasi ini.

Hidup atau kehidupan ini, mengandung arti adanya suatu ‘energi’ yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan suatu aktifitas tertentu, melalui berbagai proses interaktif yang dinamis. Karenanya, kehidupan itu sendiri merupakan makhluk hidup yang berdiri sendiri. Memiliki sifat, ciri dan fungsi yang telah ditentukan waktu permulaan dan akhirnya.

Sebagaimana kehidupan ini juga merupakan rangkaian dari dinamika perubahan yang akan berakhir dengan terhentinya aktifitas kehidupan, karena adanya ‘energi’ lawan yang memiliki kekuatan yang lebih dibandingkan kekuatan ‘kehidupannya'. Energi yang kami maksud adalah ‘kematian’. Karenanya, kematian sebenarnya tidak eksis karena atau untuk dirinya sendiri (lidzaatihi) tanpa memiliki fungsi lain. Dan berdasarkan hal itu, penelitian ilmiah yang dilakukan para ilmuwan, telah diarahkan untuk meneliti sebab-sebab terhentinya fungsi sebagian sel-sel yang terdapat dalam tubuh. Atau dengan kata lain, meneliti kematian sel-sel tersebut.

Bagi kami, kenyataan ini, memberikan gambaran sebenarnya, bahwa ‘kematian’ sesungguhnya merupakan makhluk hidup yang nyata-nyata ada. Dan dia ada karena ada sebab-sebab yang mengakibatkannya ada. Sebagaimana ‘hidup atau kehidupan’ merupakan makhluk hidup yang ada karena sebab yang mengakibatkannya ada.

Maksud dari apa yang kami katakan: ‘kematian dan kehidupan ada karena adanya sebab yang mengakibatkannya ada’ adalah pernyataan bahwa ‘sebab’ yang mengakibatkan sesuatu ada terdapat dalam genggaman kekuasaan Yang Maha Pencipta, yaitu Allah. Yang memiliki kehendak bebas untuk menciptakan, atau tidak menciptakan sebab itu, atau untuk menambahkan satu sebab ke dalam sebab yang lain.

Dan sekiranya, penelitian fisiologi atas sel-sel membuktikan bahwa kehidupan dan kematian merupakan makhluk hidup yang nyata-nyata ada. Maka tentu adanya masing-masing kehidupan dan kematian ini, menunjukkan bahwa keduanya merupakan makhluk yang diciptakan. Dan kalau kita perhatikan ayat Alquran, maka kita akan mendapatkannya telah mendahului penelitian di atas selama kurang lebih 14 abad lamanya. Allah SWT dalam surah Al-Mulk ayat 2 berfirman: "Yang menjadikan maut dan hidup."

Penggabungan kata ‘maut’ dan ‘hidup’ menunjukkan bahwa keduanya merupakan dua makhluk yang saling terkait. Karena kematian akan ada, jika ada kehidupan. Sebagaimana kematian juga merupakan unsur penting bagi kelangsungan ‘kehidupan’. Sel-sel tubuh manusia yang mati akan larut menjadi unsur-unsur pembentuk sel dan kembali ke bumi (tanah), untuk diserap kembali melalui tumbuh-tumbuhan yang dimakannya. Sebagaimana unsur-unsur ini juga diperlukan oleh tumbuh-tumbuhan demi kelangsungan kehidupannya.

Kalau kita perhatikan kehidupan di alam semesta ini, kita juga akan mendapatkan bagaimana makhluk hidup yang mati dan menjadi bangkai, dijadikan makanan bagi makhluk hidup lainnya, yang dalam ilmu biologi disebut sebagai ‘makhluk pemakan bangkai’. Sekiranya tidak ada makhluk hidup yang mati, maka makhluk pemakan bangkai ini akan musnah dan ekosistem yang mengatur kehidupan pun akan ikut rusak dan terganggu.

Makhluk pemakan bangkai ini, tidak hanya terdapat di dunia luar, tetapi terdapat juga di dalam tubuh berupa sel yang mendapatkan makanannya dari zat-zat yang rusak atau mati yang ada dalam jaringan sel. Contohnya adalah ‘sel darah pencerna’ (kholayaa dam al-ibtilaa-iyyah) yang termasuk jenis amuba (atau binatang bersel satu) yang memakan zat-zat yang sudah rusak dan mati yang terdapat pada sel atau jaringan sel. Seandainya tidak terdapat zat-zat yang rusak ini, tentunya ‘sel darah pencerna’ itu akan mati. Karenanya ‘kematian’ bagi ‘sel darah pencerna’ merupakan sesuatu yang seharusnya terjadi, demi kelangsungan hidupnya.

Demikianlah, kita dapat menemukan ‘kehidupan’ yang lahir dari puing-puing ‘kematian’. Maksud kami, lahirnya beberapa makhluk hidup yang berasal dari dalam benda mati. Sebagai contoh adalah keluarnya janin binatang yang bertelur dari kulit telur yang keras dan mati. Atau keluarnya cabang akar dan bulu ketika biji-bijian mulai tumbuh menembus kulit biji yang mati dan keras.

Keluarnya makhluk hidup dari benda mati ini, tidak berarti bahwa ia diciptakan dari benda mati. Akan tetapi maksudnya adalah, kemampuan makhluk hidup tersebut untuk melanjutkan pertumbuhannya meskipun ia dikelilingi benda mati yang keras yang dapat mencegah pertumbuhannya. Yaitu, melalui proses ‘usaha’, dengan mengeluarkan berbagai enzym yang dapat melarutkan dinding-dinding keras dari benda mati yang menghalanginya.

Sebaliknya, benda-benda mati pun bisa keluar dan dihasilkan dari makhluk hidup. Contohnya adalah getah yang dikeluarkan oleh sebagian tumbuh-tumbuhan melalui pori-pori daunnya atau batangnya. Atau sisa-sisa pencernaan makanan dari makhluk hidup yang berupa kotoran-kotoran, baik kotoran manusia ataupun kotoran binatang.

Karena itu, kita bisa mengatakan bahwa proses keluarnya makhluk hidup dari benda mati atau proses keluarnya benda mati dari makhluk hidup, bukan sekedar fenomena biasa, tapi di balik itu menggambarkan peredaran kehidupan yang menakjubkan. Cairan sebagai benda mati, merupakan unsur terpenting bagi pembentukan  dan perkembangan berbagai makhluk hidup.

Dan dari aktifitas makhluk hidup itu keluar cairan yang merupakan benda mati. Cara pengungkapan yang paling detail bagi peredaran kehidupan ini adalah kata ‘keluar’ (khuruuj) yang mempunyai arti bahwa pembentukan benda yang keluar (al-Khaarij) terkait dan tergantung kepada unsur dari mana ia keluar, meskipun tidak secara keseluruhan dan terbatas pada sebab yang mengeluarkannya saja.

Dan itu berbeda dengan ‘penciptaan’ atau al-khalq, yang mengandung arti mengadakan dari sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Hal ini, sebagaimana yang kita dapatkan dalam Alquran, surah Ar-Ruum ayat 19. Allah SWT berfirman: "Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup."

Selanjutnya perlu kami jelaskan tentang perbedaan antara tiga hal berikut ini, yaitu: 1. Hakikat kehidupan (Maahiyatul hayaat) yang mengandung arti kehidupan sebagai hasil penciptaan. 2. Sebab kehidupan (Asbaabul hayaat), yang mengandung arti proses-proses yang mengakibatkan adanya penciptaan. 3. Rahasia kehidupan (Sirrul hayaat), yang mengandung arti Sesuatu yang memberi kehidupan pada penciptaan. Yaitu ruh.

Jika kita memiliki kemampuan untuk mengetahui hakikat penciptaan kehidupan dan sebab-sebabnya, maka akal kita tidak akan mampu untuk mengetahui hakikat rahasia kehidupan ‘ruh’, yang memberikan ‘sifat hidup’ bagi segala sesuatu. Bahkan kita tidak akan mampu untuk memahami bagaimana kehidupan ini terwujud dengan adanya ‘ruh’ dan berakhir dengan keluarnya ‘ruh’. Sebagai bukti, kita tidak mempunyai kemampuan untuk memahami cara perubahan benda mati, seperti tongkat yang dimiliki Nabi Musa yang berubah menjadi benda hidup dalam bentuk ular yang merayap.

Tentang hal ini, Alquran secara global memberikan petunjuknya dalam surah Al-Israa ayat 85. Allah SWT berfirman: "Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit."

Republika.co.id
Sumber: Ensiklopedi Petunjuk Sains dalam Alquran dan Sunnah