14 Rajab 1444  |  Minggu 05 Februari 2023

basmalah.png

Mengapa Dajjal Tidak Disebut dalam Al-Quran

Quran iman ilmu

Fiqhislam.com - Munculnya Dajjal merupakan salah satu tanda datangnya kiamat. Rasulullah SAW banyak menjelaskan tentang buruknya Dajjal, namun dalam Al Quran tidak ada ayat yang menyebut Dajjal.

Dajjal digambarkan sebagai sosok yang sangat durhaka, jahat dan menimbulkan bencana di mana-mana. Dajjal juga termasuk pembohong besar yang fitnahnya sangat berbahaya. Hal ini dijelaskan dalam banyak hadits Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW pun mengingatkan agar berhati-hati terhadap Dajjal. Tapi, kenapa Dajjal tidak dijelaskan dalam Al Quran dan tidak ada peringatan terhadapnya, bahkan namanya pun tidak disebut-sebut, apalagi kedustaan dan kedurhakaan yang dilakukannya?

Menurut Ibnu Katsir dalam bukunya yang berjudul Huru-Hara Hari Kiamat, disebutkan banyak penjelasan yang bisa menerangkan mengapa Dajjal tidak disebutkan dalam ayat Al Quran.

Ada beberapa penjelasan yang bisa menerangkan alasan mengapa Dajjal tidak disebutkan dalam Al Quran. Salah satunya adalah sebagai cara Allah SWT menghinakan Dajjal. Meskipun tidak tercatat dalam Al Quran, Dajjal akan muncul di akhir zaman.

1. Dajjal telah diisyaratkan dalam Al Quran

Meskipun tidak disebutkan dan dijelaskan secara gamblang, namun sebenarnya ada ayat Al Quran yang diam tentang munculnya Dajjal. Yakni dalam surat Al-An'am ayat 158:

"Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan (siksa) Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu. Pada hari kedatangannya ayat dari Tuhanmu, tidak bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum percaya sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya Katakanlah: ‘Tunggulah olehmu sesungguhnya Kami pun menunggu (pula).’”

Menurut kisah Abu Isa At-Tirmidzi dari Abu Hurairah, Nabi pernah merindukan, “Ada tiga hal, yang apabila telah muncul (terjadi), maka iman seseorang yang sebelumnya tidak beriman tidak bermanfaat bagi dirinya sendiri, atau dia tidak berbuat kebaikan dalam masa imannya: Dajjal, Dabbah dan terbitnya matahari dari barat.” Menurut At-Tirmidzi, hadits ini hasan shahih.

2. Nabi Isa datang untuk membunuh Dajjal

Isa bin Maryam akan turun dari langit yang terdekat ke Bumi lalu membunuh Dajjal, sebagaimana dinyatakan dalam hadits. Sementara dalam Al Quran diterangkan pada Firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 157-159.

Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. -orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keraguan-raguan tentang yang membunuh itu. Mereka tidak memiliki keyakinan tentang siapa yang membunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka." (QS. An-Nisa: 157-159)

Dalam tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa dhamir pada kata-kata: "Qabla mautibi" merujuk kepada Isa.

Maksudnya, dia akan turun lagi ke bumi, dan orang-orang Ahli Kitab yang berselisih pendapat mengenainya dengan sangat antagonis, akan beriman kepadanya, baik yang menerjemahkan tuhan, yakni kaum Nasrani, maupun yang mengucap dusta besar mengenai dia, bahwa kelahirannya diragukan sebagai anak siapa, yaitu kaum Yahudi.

Apabila Nabi Isa telah turun kelak menjelang Hari Kiamat, maka menjadi nyatalah kedustaan mereka masing-masing.

Dengan demikian, turunnya Al-Masih Isa merupakan isyarat bakal munculnya Al-Masih Dajjal, Pemimpin Kesesatan itu, kebalikan dari Al-Masih Pembawa Petunjuk.

3. Sebagai Perlakuan Terhadap Dajjal

Tidak disebutkannya nama Dajjal secara jelas dalam Al Quran, adalah sebagai penyakit terhadapnya, sebagai manusia yang mengaku dirinya tuhan. Dan hal itu tidak menafikan keagungan Allah, kebesaran dan kejayaan-Nya maupun kemahasucian-Nya dari segala kekurangan.

Nama Dajjal itu bagi Allah SWT terlalu hina untuk disebut, terlalu kecil dan tidak berarti untuk diceritakan atau pun diperingatkan tentang pengakuannya. Para Nabi telah menjelaskan kepada umat mereka masing-masing tentang Dajjal, dan telah mengingatkan betapa pengakuannya maupun perbuatan-perbuatannya.

Lantas, apa bedanya dengan kisah Firaun yang mengaku Tuhan namun tetap dijelaskan dalam Al Quran?

Dalam surat An-Naziat ayat 24 disebutkan “Firaun berkata, akulah tuhanmu yang tertinggi.” Kemudian juga dalam surat Al-Qashas ayat 38 yang berbunyi, “Hai para pembesar kaumku, aku tidak mengetahui adanya tuhan bagimu selain aku.”

Para ulama tafsir berpendapat, kisah Firaun tercatat dalam Al Quran karena peristiwanya telah berlalu dan kedustaannya dapat menjadi pelajaran bagi setiap mukmin yang beriman dan berakal. Sedangkan soal Dajjal, peristiwa itu belum terjadi. Oleh karena itu Allah SWT tidak menyebutkan namanya dalam Al Quran, sebagai penyesuaian terhadapnya. [yy/vivanews]

Deddy Setiawan