5 Jumadil-Awwal 1444  |  Selasa 29 Nopember 2022

basmalah.png

Tafsir Al-Fatihah Ayat 7: Golongan Orang yang Diberi Nikmat dan Dimurkai

Tafsir Al-Fatihah Ayat 7: Golongan Orang yang Diberi Nikmat dan Dimurkai

Fiqhislam.com - Surat Al-Fatihah menjadi istimewa karena pembuka kitab suci Al-Quran dan diujuluki juga Ummul Quran (induknya Al-Quran).

Inilah surat yang wajib dibaca setiap shalat. Secara bahasa, Al-Fatiḥah artinya pembuka.

Surat ini diturunkan di Makkah atau disebut Surat Makkiyah. Al-Fatihah merupakan surah terbaik dari 114 surah dalam Al-Quran.

Surat Al-Fatihah memiliki ‎139 huruf dan ‎25 kata. Berikut tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 7 yang menjadi ayat penutup dari surat ini.

صِرَاطَ الَّذِيۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ ۙ غَيۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا الضَّآلِّيۡنَ

Siraathal-ladziina an'amta 'alaihim ghairil-maghduubi 'alaihim wa ladh-dhaaalliin

"(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat." (QS Al-Fatihah: 7).

Dalam tafsir Kementerian Agama dijelaskan, makna "jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya" yaitu berupa keimanan, hidayah, dan ridha-Mu. Mereka itu seperti dijelaskan dalam Surat An-Nisa' Ayat 69.

1. Para Nabi dan Rasul
Yaitu orang-orang dipilih Allah untuk memperoleh bimbingan sekaligus ditugasi untuk menuntun manusia menuju kebenaran Ilahi.

2. Siddiqin
Yaitu orang-orang yang selalu benar dan jujur, tidak ternodai oleh kebatilan, tidak pula mengambil sikap yang bertentangan dengan kebenaran

3. Syuhada
Yaitu mereka yang bersaksi atas kebenaran dan kebajikan, melalui ucapan dan tindakan mereka, walau harus mengorbankan nyawa sekalipun, atau mereka yang disaksikan kebenaran dan kebajikannya oleh Allah, para Malaikat, dan lingkungan mereka

4. Shalihin
Yaitu orang-orang saleh yang tangguh dalam kebajikan dan selalu berusaha mewujudkannya.

Orang yang Dimurkai

Adapun makna "bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat" yaitu golongan orang-orang yang jauh dari Hidayah Allah.

Mereka yang dimurkai adalah sebagian kelompok Yahudi dan yang mengikuti jalan mereka. Sedangkan mereka yang sesat dari jalan kebenaran dan kebaikan adalah sebagian Nasrani dan yang sejalan dengan mereka. Mereka inilah golongan orang enggan beriman dan mengikuti petunjuk-Allah.

Melalui ayat ini Allah mengajari hamba-Nya untuk memohon kepada-Nya agar terjauh dari kemurkaan-Nya dan terhindar dari kesesatan. Di dalamnya tersimpul perintah agar manusia mengambil pelajaran dari sejarah bangsa-bangsa yang terdahulu. [yy/rusman h siregar/sindonews]

 

Tafsir Al-Fatihah Ayat 7: Golongan Orang yang Diberi Nikmat dan Dimurkai

Fiqhislam.com - Surat Al-Fatihah menjadi istimewa karena pembuka kitab suci Al-Quran dan diujuluki juga Ummul Quran (induknya Al-Quran).

Inilah surat yang wajib dibaca setiap shalat. Secara bahasa, Al-Fatiḥah artinya pembuka.

Surat ini diturunkan di Makkah atau disebut Surat Makkiyah. Al-Fatihah merupakan surah terbaik dari 114 surah dalam Al-Quran.

Surat Al-Fatihah memiliki ‎139 huruf dan ‎25 kata. Berikut tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 7 yang menjadi ayat penutup dari surat ini.

صِرَاطَ الَّذِيۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ ۙ غَيۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا الضَّآلِّيۡنَ

Siraathal-ladziina an'amta 'alaihim ghairil-maghduubi 'alaihim wa ladh-dhaaalliin

"(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat." (QS Al-Fatihah: 7).

Dalam tafsir Kementerian Agama dijelaskan, makna "jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya" yaitu berupa keimanan, hidayah, dan ridha-Mu. Mereka itu seperti dijelaskan dalam Surat An-Nisa' Ayat 69.

1. Para Nabi dan Rasul
Yaitu orang-orang dipilih Allah untuk memperoleh bimbingan sekaligus ditugasi untuk menuntun manusia menuju kebenaran Ilahi.

2. Siddiqin
Yaitu orang-orang yang selalu benar dan jujur, tidak ternodai oleh kebatilan, tidak pula mengambil sikap yang bertentangan dengan kebenaran

3. Syuhada
Yaitu mereka yang bersaksi atas kebenaran dan kebajikan, melalui ucapan dan tindakan mereka, walau harus mengorbankan nyawa sekalipun, atau mereka yang disaksikan kebenaran dan kebajikannya oleh Allah, para Malaikat, dan lingkungan mereka

4. Shalihin
Yaitu orang-orang saleh yang tangguh dalam kebajikan dan selalu berusaha mewujudkannya.

Orang yang Dimurkai

Adapun makna "bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat" yaitu golongan orang-orang yang jauh dari Hidayah Allah.

Mereka yang dimurkai adalah sebagian kelompok Yahudi dan yang mengikuti jalan mereka. Sedangkan mereka yang sesat dari jalan kebenaran dan kebaikan adalah sebagian Nasrani dan yang sejalan dengan mereka. Mereka inilah golongan orang enggan beriman dan mengikuti petunjuk-Allah.

Melalui ayat ini Allah mengajari hamba-Nya untuk memohon kepada-Nya agar terjauh dari kemurkaan-Nya dan terhindar dari kesesatan. Di dalamnya tersimpul perintah agar manusia mengambil pelajaran dari sejarah bangsa-bangsa yang terdahulu. [yy/rusman h siregar/sindonews]

 

Siapa yang Dimaksud Orang yang Tersesat Itu?

Fiqhislam.com - Siapa yang dimaksud orang yang tersesat di Surat Al-Fatihah ayat ke tujuh. Mengapa Al-Quran menggunakan termad-Dhoolliin (sesat) dalam ayat terakhir surat Al Fatihah tersebut).

Meski terjadi silang pendapat para mufasir tentang perkiraan maksud dari ayat tersebut dan terkait makna dari lafadz tersebut, namun yang pasti, kataad-dhoolliin,secara bahasa dapat diartikan sebagai sesat, dan menyimpang dari kebenaran. Hal ini disebutkan dalam kamus Munawwir.

Allah Ta'ala berfirman:

ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ

"(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau Beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat." (QS. Al-Fatihah : 7).

Kitab Tafsir Muyassar edisi juz 1 - 8 karya Syaikh 'Aidh Al Qorni menjelaskan bahwa dalam kehidupan ini ada jalan yang jelas dan terang. Dan jalan itu adalah jalan yang ditempuh para nabi, orang-orang yang jujur, para syuhada, dan jalan orang-orang saleh.

Artinya, jalan tersebut bukan jalan orang yang mengetahui kebenaran tapi tidak mengamalkannya. Dan bukan pula jalan orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan dan kesesatan. Sesat juga diartikan menjauh dari jalan kebenaran dan menyimpang dari jalan yang lurus.

Dalam Tafsir Muyassar orang yang sesat tersebut adalah seperti halnya orang-orang nasrani. Tafsir Jalalain juga menjelaskan definisiad-Dhoolliinsebagai orang-orang nasrani sebab mereka bukanlah orang yang diberikan petunjuk oleh Allah Ta'ala. Ibn Kastir juga memaknai kata sesat dalam ayat di atas merujuk kepada orang nasrani yang mana mereka telah melakukan kesesatan.

Tafsir Muyassar juga menjelaskan orang-orang yang sesat adalah orang-orang yang tidak diberi petunjuk dari kejahilan mereka hingga akibatnya mereka sesat jalan. Mereka adalah orang-orang seperti nasrani dan orang-orang yang mengikuti jalan hidup mereka.

Di dalam ayat ini terkandung obat bagi hati seorang muslim dari penyakit pembangkangan,kebodohan dan kesesatan. dan juga terkandung dalil bahwasannya nikmat paling Agung secara mutlak adalah nikmat Islam. Maka barangsiapa yang lebih mengetahui kebenaran dan lebih mengikutinya maka dia lebih pantas meraih Hidayah jalan yang lurus.

Dan tidak ada keraguan bahwa para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam adalah orang-orang yang paling utama meraih hal itu setelah para nabi alaihim salam. maka ayat ini menunjukkan keutamaan dan Agung nya kedudukan mereka. Semoga Allah meridhoi mereka.

Dan disunnahkan bagi orang yang membaca Al-Quran dalam sholat untuk mengucapkan “Amin” setelah membaca surat al-fatihah. dan maknanya adalah “Ya Allah kabulkanlah doa kami”. dan ia bukan suatu ayat dari surat al-fatihah menurut kesepakatan para ulama oleh karena itu mereka telah bersepakat untuk tidak menulisnya di dalam mushaf.

Namun terjadi perbedaan di kalangan ulama tentang term ad-Dhoolliin ini. Karena ayat ini sebenarnya tidak disebutkan secara eksplisit kata Nasrani, sehingga kemudian tidak heran jika masih terdapat perbedaan pandangan tentang siapa yang dirujuk oleh kata ad-Dhoolliin.

Imam as-Sya’rawi memilih untuk tidak merujuk kata ad-Dhollin ke kelompok agama tertentu, dan beliau memilih untuk mengartikannya sebagai orang yang mengambil jalan yang sesat yakni disebabkan orang tersebut tidak mengambil jalan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. [yy/widaningsih/sindonews]