14 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 21 Oktober 2021

basmalah.png

Surah Yasin: Para Rasul dan Penyeru yang Tak Disebut Namanya

Surah Yasin: Para Rasul dan Penyeru yang Tak Disebut Namanya

Fiqhislam.com - Dalam Al-Qur'an, Surat Yasin ayat 20,Allah SWT menyebutkan seseorang yang menyeru kaumnya untuk mengikuti para rasul Allah namun nama maupun identitas sang penyeru itu disamarkan.

Allah SWT berfirman:

وَجَآءَ مِنۡ اَقۡصَا الۡمَدِيۡنَةِ رَجُلٌ يَّسۡعٰى قَالَ يٰقَوۡمِ اتَّبِعُوا الۡمُرۡسَلِيۡنَۙ

 “Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas dia berkata, “Hai kaumku, ikutilah rasul-rasul itu.” (QS Yasin : 20)

Kisah bermula ketika dua orang utusan datang kepada suatu kaum. Dalam Surat Yasin ayat 13-14, Allah SWT berfirman:

وَاضۡرِبۡ لَهُمۡ مَّثَلًا اَصۡحٰبَ الۡقَرۡيَةِ ‌ۘ اِذۡ جَآءَهَا الۡمُرۡسَلُوۡنَۚ

اِذۡ اَرۡسَلۡنَاۤ اِلَيۡهِمُ اثۡنَيۡنِ فَكَذَّبُوۡهُمَا فَعَزَّزۡنَا بِثَالِثٍ فَقَالُـوۡۤا اِنَّاۤ اِلَيۡكُمۡ مُّرۡسَلُوۡنَ

Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepadanya; (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang lalu mereka mendustakan keduanya; maka Kami kuatkan dengan yang ketiga, lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami kepada kamu adalah utusan-utusan.”

Melalui ayat ini, Allah SWT memberikan perumpamaan yang kondisinya mirip dengan kaum kafir Makkah kala itu. Bahwa pernah ada kaum seperti penduduk Makkah yang mengingkari Rasulullah SAW pada masa sebelum-sebelumnya.

Kaum-kaum yang dimaksud sudah didatangkan beberapa utusan secara bergantian, namun mereka tetap ingkar. Adapun kaum kafir yang ada pada Rasulullah SAW, mereka adalah kaum yang sudah berabad-abad lamanya mendengar satu persatu utusan datang pada satu kaum di negeri-negeri sekitar mereka.

Sedang terakhir, Allah SWT mengutus langsung makhluk yang paling mulia di jagad penciptaan sebagai rasul-Nya untuk menyampaikan kebenaran. Maka ayat di atas mengandung pesan yang relevan bagi masyarakat Arab kala itu.

Terkait utusan-utusan yang dimaksud dalam ayat tersebut, beberapa mufasir ada yang berpendapat bahwa mereka adalah beberapa orang rasul Allah yang tidak sebutkan namanya. Sedang sebagian pendapat lainnya mengatakan bahwa mereka adalah murid-murid atau utusan Nabi Isa AS .

Prof Dr M Quraish Shihab , dalam Tafsir Al Misbah agaknya lebih condong pada pendapat kedua. Namun, beliau menilai, bahwa bukan itu substansi dari ayat di atas. Akan tetapi dari ayat tersebut Allah SWT ingin menyampaikan bahwa tidak ada paksaan bagi siapapun untuk mengikuti seruan yang telah diberikan.

Dalam ayat tersebut jelas terlihat, bahwa upaya pada pendakwah, hanya sebatas menyampaikan kebenaran dengan cara yang paling baik. Bahkan dalam ayat tersebut Allah menunjukkan bahwa ketika satu utusan ditolak, maka datang utusan selanjutnya, sebagai penguat, sampai kebenaran tersebut terang benderang dan terlihat nyata disaksikan oleh diri mereka.

Namun setelah kuat bukti kebenaran tersebut, maka tugas para penyampai risalah selesai. Semuanya dikembalikan kepada Allah SWT. Dan para utusan tersebut tidak diperintah untuk memaksakan apalagi memerangi orang-orang yang ingkar tersebut.

Menurut Quraish Shihab, kata ‘azzazna terambil dari kata ‘azza dan ya’azzu yang berarti menguatkan dan mengukuhkan. Ayat ini merupakan salah satu bukti bagi ketetapan Allah menyangkut kebebasan beragama.

Anda baca, kendati Allah telah mengukuhkan rasul-rasul guna meyakinkan masyarakat tentang kebenaran mereka, namun Allah tidak memaksa mereka untuk percaya. Memang tugas para penganjur kebaikan, hanya penyampaian, bukan pemaksaan, karena Tuhan hanya menerima keimanan yang tulus, sehingga setiap orang dipersilakan memilih jalan yang dikehendakinya.
Dalam Al-Quran Surat Yasin ayat 20 sampai 21 Allah SWT menyatakan tentang kedatangan seorang laki-laki dari ujung kota. Laki-laki itu menyeru agar kaumnya mengikuti utusan Allah SWT.

Allah SWT berfirman

وَجَآءَ مِنۡ اَقۡصَا الۡمَدِيۡنَةِ رَجُلٌ يَّسۡعٰى قَالَ يٰقَوۡمِ اتَّبِعُوا الۡمُرۡسَلِيۡنَۙ‏
اتَّبِعُوۡا مَنۡ لَّا يَسۡــٴَــلُكُمۡ اَجۡرًا وَّهُمۡ مُّهۡتَدُوۡنَ

Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki berjalan bergegas-gegas. Dia berkata: “Hai kaumku ikutilah utusan-utusan itu. Ikutilah siapa yang tidak meminta dari kamu imbalan; sedang mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” ( QS Yasin: 20-21 )

Pada saat didatangi utusan Allah, kaum kafir tidak hanya menolak risalah yang disampaikan, melainkan juga mengancam dan berusaha membunuh mereka.

Al Quran menceritakan jawaban mereka:

قَالُـوۡۤا اِنَّا تَطَيَّرۡنَا بِكُمۡۚ لَٮِٕنۡ لَّمۡ تَنۡتَهُوۡا لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ وَلَيَمَسَّنَّكُمۡ مِّنَّا عَذَابٌ اَلِيۡمٌ
قَالُوۡا طٰۤٮِٕـرُكُمۡ مَّعَكُمۡؕ اَٮِٕنۡ ذُكِّرۡتُمۡ ؕ بَلۡ اَنۡـتُمۡ قَوۡمٌ مُّسۡرِفُوۡنَ

Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib sial karena kamu, sehingga jika kamu tidak berhenti, niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami." Mereka berkata: "Kesialan kamu itu adalah bersama kamu. Apakah jika kamu diberi peringatan, (kamu menuduh kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum pelampau batas.” ( QS Yasin: 18-19 )

Padahal sudah jelas bukti-bukti kebenaran datang kepada mereka. Allah SWT menggandakan berkali-kali keteranganNya pada kaum tersebut dengan mengirimkan utusan sebanyak tiga orang secara bergantian. Tapi pada akhirnya, pembangkangan mereka semakin jelas dan menjadi-jadi.

Mereka bahkan menganggap semua keburukan yang ada di sekitar mereka berasal dari para rasul tersebut. Dan dengan alasan untuk menghilangkan kesialan tersebut, mereka merasa perlu menyingkirkan pada penyampai kebenaran dengan cara apa pun.

Hingga akhirnya Allah SWT mengirim orang terakhir, seorang laki-laki biasa, yang nyeru kepada kaumnya agar mengikuti para rasul tersebut.

Dalam menafsirkan Surat Yasin 20-21 di atas, umumnya pada mufasir sepakat bahwa lelaki yang bergegas dari ujung kota tersebut bernama Habib.

Ibn Katsir menyatakan: “Ibnu Ishaq dalam riwayatnya yang bersumber dari Ibnu Abbas, Ka’bul Ahbar, dan Wahb ibnu Munabbih telah mengatakan bahwa sesungguhnya penduduk negeri tersebut hampir saja membunuh utusan-utusan mereka, tetapi terlanjur datang seorang laki-laki dari pinggiran kota yang datang berlari dengan cepat untuk menolong rasul-rasul itu dari ancaman kaumnya.

Menurut mereka bertiga, lelaki tersebut bernama Habib, seorang tukang tenun dan sakit-sakitan. Sakit yang dideritanya adalah lepra.

Dia seorang yang banyak bersedekah, separo dari hasil kerjanya selalu ia sedekahkan, dan dia adalah seorang yang berpikiran lurus.

Ibnu Ishaq telah mengatakan dari seorang lelaki yang senama dengannya, dari Al-Hakam, dari Miqsam atau dari Mujahid, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa nama lelaki yang disebutkan di dalam surat Yasin adalah Habib, dia menderita penyakit lepra yang cukup parah.

As-Sauri telah meriwayatkan dari Asim Al-Ahwal,dari Abu Mujlaz, bahwa nama lelaki itu adalah Habib ibnu Murri. Syabib ibnu Bisyr telah meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa nama lelaki yang disebutkan di dalam surat Yasin adalah Habibun Najjar, lalu lelaki itu dibunuh oleh kaumnya.” Demikian menurut Ibn Katsir. [yy/Miftah H Yusufpati/sindonews]