19 Dzulhijjah 1442  |  Kamis 29 Juli 2021

basmalah.png

5 Manuskrip Al-Quran Tertua yang Pernah Ditemukan di Dunia

5 Manuskrip Al-Quran Tertua yang Pernah Ditemukan di Dunia

Fiqhislam.com - Pada Juli 2015, para peneliti Universitas Birmingham menemukan manuskrip Alquran yang usianya sekitar 1.370 tahun atau berasal antara 568 dan 645 Masehi.

Akan tetapi, penemuan itu bukanlah yang pertama kali. Ada beberapa penemuan lainnya berkaitan dengan manuskrip Alquran yang berasal dari periode awal Islam. Berikut lima manuskrip Alquran tertua yang berhasil ditemukan seperti dilansir Arabic Post pada Kamis (6/5).

Pertama, manuskrip Universitas Birmingham, Inggris. Universitas Birmingham, Inggris mengumumkan pada 22 Juli 2015 bahwa telah menemukan manuskrip Alquran yang diklaim tertua di dunia. Hasil dari penelitian menggunakan isotop radiokarbon menunjukan bahwa manuskrip Alquran itu berusia sekitar 1370 tahun. Kemungkinan besar penulis Alquran itu adalah salah satu sahabat Rasulullah atau tabiin generasi pertama.

Penelitian dengan tingkat akurasi 95 persen itu menunjukkan naskah Alquran itu berasal dari periode antara 568 dan 645 Masehi. Naskah Alquran itu ditulis dengan aksara Hijazi dalan kertas perkamen. Naskah terdiri dari dua kertas perkamen di antaranya surat ke-18 dan dan 20.

Naskah ini menjadi bagian dari 3.000 dokumen dari Timur Tengah yang dimiliki Universitas Birmingham yang diperoleh beberapa abad lalu melalui seorang pendeta Khaldea yang lahir di dekat Mosul Irak yaitu Alfonso Mingana.

Selama satu abad, naskah Alquran itu disimpan di perpustakaan Universitas Birmingham. Tak ada yang memperhatikannya. Naskah itu disimpan dengan dokumen serta buku lainnya dari Timur Tengah tanpa ada yang mengetahui bahwa naskah itu adalah salinan Alquran tertua di dunia.

Menurut seorang profesor Universitas Birmingham ditemukannya mansukrip Alquran itu menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan dalam Alquran sejak pertama kali disusun.

Pada sisi lain, Direktur Perpustakaan Universitas Birmingham mengatakan bahwa manuskrip Alquran itu sangat penting dan menjadi harta global tentang dunia Islam. Meski begitu seorang peneliti dari Arab Saudi, Saud Al Sarhan mempertanyakan keaslian tanggal penulisannya.

Dia berpendapat manuskrip itu tidak setua seperti yang diumumkan. Namun seorang profesor yang meneliti tentang Islam dan Kristen yaitu David Thomas meyakini manuskrip Alquran itu bisa membawa para peneliti pada masa awal Islam.

"Kemungkinan besar penulisnya hidup pada zaman Nabi Muhammad. Orang yang menulis halaman-halaman ini pasti telah mengenal Nabi Muhammad dan mungkin dia telah melihat dan mendengar haditsnya, mungkin dia dekat dengannya," kata Thomas.

Kedua, manuskrip Alquran yang ditemukan di negara bagian Baden-Wurttemberg, Jerman. Pada pertengahan Desember 2014, para peneliti Universitas Tubingen, Baden-Wurttemberg, Jerman menemukan salinan Alquran tulisan tangan. Salinan Alquran itu didapat di perpustakaan Universitas. Dari hasil penelitian menggunakan metode penanggalan radiokarbon menunjukan bahwa salinan Alquran itu berasal dari periode antara 649-675 Masehi.

Meski begitu ada 20 sampai 30 eksemplar salinan Alquran yang menunjukkan lebih lama usia penulisannya. "Tak ada perbedaan antara isi naskah Alquran kuno dan Alquran kita miliki saat ini kecuali jenis naskah yang digunakan," kata akademisi di Departemen Teologi, Rogiero San Sverino. Naskah-naskah itu berada di Universitas Tubingen sekitar 1864 ketika pihak Universitas membeli sebagian koleksi buku dari Konsul Prusia Johan Gottfied Witz Stein.

Ketiga, manuskrip Alquran Andalusia. Pada November 2014 banyak media Spanyol melaporkan bahwa para peneliti dari Universitas Malaga dan Granada tengah mempelajari salinan Alquran yang disimpan salah satu Sekolah Alquran di Narathiwat, Thailand Selatan.

Alquran itu diklaim berasal dari era Andalusia yang mungkin milik pangeran Andalusia yaitu Abdurrahman Al Ghafiqi. Salinan Alquran itu dipunyai kepala sekolah Alquran di Narathiwat yaitu Muhammad Lutfi. Dia memperoleh salinan Alquran itu dari temannya yang berasal dari Maroko.

"Kami tak punya pengalaman melestarikan salinan Alquran kuno. Kami tak punya cukup uang untuk merawatnya. Saya dulu menyimpan manuskrip itu di rumah, tapi sekarang kami punya tempat untuk menyimpannya. Di sekolah," kata Lutfi.

Pihak sekolah kemudian mengirimkan foto salinan Alquran kepada para peneliti di Spanyol. Namun demikian para peneliti pun masih kesulitan memutuskan tanpa studi yang cermat apakah manuskrip Alquran itu berasal dari Andalusia atau Maroko.

Sementara Abdurrahman Al Ghafiqi sendiri adalah salah satu pemimpin militer terkemuka yang berhasil mengambil alih kekuasaan Andalusia sebelum ia terbunuh pada 114 Hijriah atau 732 Masehi.

Keempat, manuskrip Alquran di Gua Dhali Yaman. Pada Oktober 2012 seorang pemuda dari kota Al Dhali Yaman menemukan salinan Alquran tertua di sebuah gua di Selatan kota itu. Naskah Alquran itu dibungkus dengan kulit sebagai penutupnya. Di halaman depannya terdapat keterangan bahwa Alquran itu disalin pada 200 H. Sehingga memungkinkan Alquran itu sebagai salah satu Alqruan tertua di dunia.

Sebuah pedang dengan gagang tembaga yang dipoles juga ditemukan disebelah Alquran itu. Di atas pedang itu tertulis dalam Dzul Fiqar dalam bahasa Arab yang sangat jelas. Nama itu begitu terkenal sebagai pedang Imam Ali bin Abi Thalib. Pemuda itu pun mendapatkan tawaran menggiurkan agar menjualnya. Terakhir tawaran yang datang sebesar 12 juta riyal Yaman, namun pemuda itu menolaknya dan memilih menyimpannya.

Kelima, manuskrip Alquran di Masjid Agung Yaman. Saat restorasi Masjid Agung di ibu kota Sanaa, Yaman yang berlangsung pada 1972, para pekerja menemukan sebuah tempat rahasia di masjid. Dari tempat itu, para pekerja mengeluarkan ribuan buku-buku usang dan parkamen kulit yang tertulis di atasnya kaligrafi Arab kuno. Apa yang ditemukan para pekerja ternyata sebuah perpustakaan Alquran kuno.

Para Arkeolog Yaman menegaskan manuskrip Alquran yang ditemukan berasal dari abad pertama Hijriyah. Otoritas Barang Antik Yaman saat itu Ismail Al Akwa meminta bantuan Jerman untuk pemulihan dan pemeliharaan. Pada 1979, Jerman menyetujui proyek pemulihan perpustakaan.

Adalah Gred Bowen seorang peneliti Jerman yang menjadi orang pertama yang memeriksa manuskrip yang ditemukan di Sanaa itu. Dia mulai memeriksa pada 1981.

Setelah diteliti ditemukan bahwa beberapa teks tulisan adalah menggunakan aksara Hijazi yang kangka. Masjid Agung Sana sendiri merupakan masjid tertua dan yang pertama dibangun di Yaman. Masjid itu dibangun pada masa Nabi Muhammad. [yy/republika]