18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

Sejarah Singkat Perkembangan Ilmu Tafsir Al-Quran

Sejarah Singkat Perkembangan Ilmu Tafsir Al-Quran

Fiqhislam.com - Perkembangan awal tafsir Al-Quran sejatinya telah diawali semenjak turunnya Al-Quran itu sendiri. Nabi Muhammad Saw sebagai pengemban risalah dakwah dalam posisinya sebagai objek penerima wahyu Al-Quran, pada saat yang sama juga beliau menempati peran sebagai penafsir dari ayat-ayat kalam Allah itu.

Sejarah ini diawali dengan masa Rasulullah Saw masih hidup sering kali timbul beberapa perbedaan pemahaman tentang makna sebuah ayat. Untuk itu mereka dapat langsung menanyakan pada Rasulullah Saw.

Manakala para sahabat tidak memahami arti makna atau kandungan ayat yang dimaksudkan oleh Al-Quran, maka mereka pun masih mendatangi Rasulullah Saw untuk bertanya dan meminta penjelasan atas kandungan ayat yang belum mereka mengerti.

Sebagai contoh, ketika turunnya QS Al-An'am Ayat 82 yang artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan tidak mencampurkan keimanannya dengan kezaliman akan mendapatkan ketentraman dan petunjuk dari Allah Ta'ala."

Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, siapa di antara kami yang tidak menzalimi dirinya sendiri? Rasul menjawab: Bukan itu yang dimaksud ayat tersebut. Kezaliman dalam ayat ini maknanya ialah kemusyrikan. Tidakkah kalian mendengar firman Allah: "Sesungguhnya kemusyrikan itu ialah kezaliman yang besar" (QS. Lukman: 13)"

Sepeninggal Rasulullah Saw, para sahabat masih dapat bertanya dengan para sahabat yang memiliki kapasitas dan keahlian di bidang penafsiran Al-Quran. Salah satu di antaranya, yaitu Ibn Abbas, seorang ulama tafsir yang pernah didoakan langsung oleh Nabi Saw sewaktu kecilnya agar ia memperoleh pemahaman yang luas dalam memahami ayat-ayat Allah di dalam Al-Quran.

Usaha menafsirkan Al-Quran sudah dimulai semenjak zaman para sahabat Nabi Saw sendiri. Ali ibn Abi Thalib (wafat 40 H); ‘Abdullah ibn ‘Abbas (wafat 68 H); Abdullah Ibn Mas’ud (wafat 32 H) dan Ubay ibn Ka'ab (wafat 32 H) adalah di antara para sahabat yang terkenal banyak menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dibanding sahabat-sahabat yang lain.

Para sahabat yang terkenal banyak menafsirkan Al-Quran antara lain empat khalifah, Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka'ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa Al-Asy'ari, Abdullah bin Zubair. Pada masa ini belum ada satu pun pembukuan tafsir dan masih bercampur dengan hadis.

Selanjutnya pada masa Tabi'in, upaya penafsiran terus berlangsung dan terus mengalami perkembangan yang sangat pesat di kalangan kaum muslimin. Pada masa periode ini, sejarah perkembangan t afsir Al-Quran telah mengkristal menjadi satu disiplin keilmuan tersendiri yang baru dikenal dengan metode penjelasan tafsir bil riwayah.

Tercatat paling tidak di masa ini terdapat 3 corak aliran tafsir yang masing-masing berkembang di Makkah, Madinah dan Irak.

1. Aliran Makkah yang berkiblat pada Ibn Abbas. Di antara murid-murid Ibn Abbas, yaitu Sa’id Ibn Jabr, Mujahid Ibn Jabir al-Makky, Atha Ibn Abi Rab’ah, Ikrimah dll.

2. Aliran Madinah yang berkiblat pada Ubay bin Ka’ab. Di antara murid-muridnya, Anas bin Malik, Abdurrahman bin Zayd, dll.

3. Aliran Irak yang berkiblat pada Ibn Mas’ud. Di antara murid-murid Ibn Mas’ud, yaitu: Qatadah dan Imam Hasan al-Bashri, dll.

Pada masa ini tafsir masih merupakan bagian dari hadis namun masingmasing madrasah meriwayatkan dari guru mereka sendiri-sendiri. Ketika datang masa kodifikasi hadis, riwayat yang berisi tafsir sudah menjadi bab tersendiri. Namun belum sistematis sampai masa sesudahnya ketika pertama kali dipisahkan antara kandungan hadits dan tafsir sehingga menjadi kitab tersendiri.

Usaha ini dilakukan oleh para ulama sesudahnya seperti Ibnu Majah, Ibnu Jarir ath-Thabari, Abu Bakr ibn al-Munzir an-Naisaburi dan lainnya. Metode pengumpulan inilah yang disebut Tafsir bil Ma`tsur. Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Dinasti Abbasiyah menuntut pengembangan metodologi tafsir dengan memasukan unsur ijtihad yang lebih besar. Meskipun begitu mereka tetap berpegangan pada tafsir bi al-Ma'tsur dan metode lama dengan pengembangan ijtihad berdasarkan perkembangan masa tersebut.

Hal ini melahirkan apa yang disebut sebagai Tafsir bi ar-Ra'yi yang memperluas ijtihad dibandingkan masa sebelumnya. Lebih lanjut perkembangan ajaran tasawuf melahirkan pula sebuah tafsir yang biasa disebut sebagai Tafsir Isyari.

Perkembangan selanjutnya, ilmu tafsir terus menerus menjadi perhatian khusus bagi kaum muslimin berabad-abad lamanya dari generasi ke generasi hingga hari ini. Terkait periodesasi sejarah perkembangan ilmu tafsir Al-Quran, dapatlah kita bagi menjadi tiga periode, yaitu periode awal, periode pertengahan dan periode masa modern saat ini.

Tafsir Al-Quran (bahasa Arab: القرآن تفسير) adalah ilmu pengetahuan untuk memahami dan menafsirkan yang bersangkutan dengan Al-Quran dan isinya berfungsi sebagai mubayyin (pemberi penjelasan), menjelaskan tentang arti dan kandungan Al-Quran, khususnya menyangkut ayat-ayat yang tidak dipahami dan samar artinya.

Dalam memahami dan menafsirkan Al-Quran diperlukan bukan hanya pengetahuan bahasa Arab, tetapi juga berbagai macam ilmu pengetahuan yang menyangkut Al-Quran dan isinya. Ilmu untuk memahami Al-Quran ini disebut dengan Ushul Tafsir atau biasa dikenal dengan Ulumul Quran (ilmu-ilmu Al-Quran).

Pengertian Tafsir terambil dari akar kata [رس ف] "Fassara" yang berarti menjelaskan atau menguraikan. Akar kata lain dari "Fassara", yakni kesungguhan membuka secara berulang-ulang. Dengan demikian, dapatlah dipahami bahwa kata "Tafsir" adalah upaya kesungguhan untuk membuka penjelasan tentang makna dan hakikat yang tersembunyi di dalam Al-Quran.

Kata yang seringkali pula dipadankan dengan istilah "tafsir" adalah "takwil". Meskipun terdapat perbedaan pada definisinya, namun kedua kata ini atau istilah ini seringkali digunakan secara bersamaan atau bergantian, sehingga sulit bagi kebanyakan orang membedakan antara keduanya.

Kata "Takwil" terambil dari "Awwala-Yu'awwilu" yang berarti mengambil pada makna dasar. Dalam pengertian yang lebih sederhana, aspek takwil tidak hanya sekedar terfokus pada aspek "Tafsir" dalam upaya menjelaskan atau menguraikan maknanya secara kebahasaan saja, melainkan juga ada upaya untuk mengembalikan pada makna dasarnya secara simbolik atau filosofis.

Dengan demikian, dapatlah disimpulkan bahwa "Tafsir" hanyalah upaya menyingkap makna dari segi aspek-aspek lughawiyyah atau aspek linguistiknya (kebahasaan) saja. Sedangkan "Takwil" lebih pada upaya membangun pemahaman ulang atau pemahaman baru dalam membangun makna baru dalam konteks yang lebih kompleks dan luas, baik itu dari segi filosofis atau simboliknya.

Metode Penafsiran Al-Quran

Dalam metode penafsiran Al-Qur’an terdapat beberapa metode, di antaranya:

1. Tafsir Al-Quran bil Quran.

Upaya menafsirkan Al-Quran dengan penjelasan dari ayat-ayat Al-Quran lainnya. Misalnya: tafsir tentang kisah peristiwa Nabi Adam dan Siti Hawa terusir dari surga akibat memakan buah Khuldi pada Surah Al-Baqarah dijelaskan pada surah lainnya, semisal Surah Al-'Araf.

2. Tafsir Al-Quran bil Hadis.

Upaya menafsirkan Al-Quran dari penjelasan hadits-hadits Nabi yang hal ini biasa disebut dengan Tafsir bil Riwayah. Misalnya: Larangan tentang Riba atau meminum minuman keras telah dijelaskan melalui banyak hadits-hadits Nabi.

3. Tafsir Al-Quran bil Ra'yi.

Upaya menafsirkan Al-Quran melalui penjelasan nalar logika yang dibangun dari pemahaman keilmuan yang sesuai dengan kapasitas dan kemampuan seorang muafssir dalam berijtihad. Misalnya: ayat-ayat yang berkenaan dengan sifat-sifat Allah Ta'ala di dalam Al-Qur’an yang menjadi pembahasan utama oleh para ulama ahli ilmu kalam (teologis).

Bentuk Tafsir Al-Quran

Adapun bentuk-bentuk tafsir Al-Quran yang dihasilkan secara garis besar dibagi menjadi tiga: Dinamai dengan nama Tafsir bi al-Ma`tsur (dari kata atsar yang berarti sunnah, hadits, jejak, peninggalan) karena dalam melakukan penafsiran seorang mufassir menelusuri jejak atau peninggalan masa lalu dari generasi sebelumnya terus sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Berikut penjelasannya:

1. Tafsir bil Matsur

Tafsir bi al-Matsur adalah tafsir yang berdasarkan pada kutipan-kutipan yang shahih yaitu menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran, Al-Quran dengan sunnah karena ia berfungsi sebagai penjelas Kitabullah, dengan perkataan sahabat karena merekalah yang dianggap paling mengetahui Kitabullah, atau dengan perkataan tokoh-tokoh besar tabi'in karena mereka pada umumnya menerimanya dari para sahabat.

Tafsir-tafsir bil ma'tsur yang terkenal antara lain: Tafsir Ibnu Jarir, Tafsir Abu Laits As Samarkandy, Tafsir Ad Dararul Ma'tsur fit Tafsiri bil Ma'tsur (karya Jalaluddin As Sayuthi), Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al Baghawy dan Tafsir Baqy ibn Makhlad, Asbabun Nuzul (karya Al Wahidy) dan An Nasikh wal Mansukh (karya Abu Ja'far An Nahhas).

2. Tafsir bi ar-Ra'yi

Seiring perkembangan zaman yang menuntut pengembangan metode tafsir karena tumbuhnya ilmu pengetahuan pada masa Daulah Abbasiyah maka tafsir ini memperbesar peranan ijtihad dibandingkan dengan penggunaan tafsir bi al-Matsur. Dengan bantuan ilmu-ilmu bahasa Arab, ilmu qiraah, ilmu-ilmu Al-Quran, hadits dan ilmu hadits, ushul fikih dan ilmu-ilmu lain seorang mufassir akan menggunakan kemampuan ijtihadnya untuk menerangkan maksud ayat dan mengembangkannya dengan bantuan perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan yang ada.

Contoh Tafsir bir ra'yi dalam Tafsir Jalalain: "Khalaqal insaana min 'alaq" (Surat Al Alaq: 2). Kata 'alaq di sini diberi makna dengan bentuk jamak dari lafaz 'alaqah yang berarti segumpal darah yang kental.

Beberapa tafsir bir ra'yi yang terkenal antara lain: Tafsir Al-Jalalain (karya Jalaluddin Muhammad Al Mahally dan disempurnakan oleh Jalaluddin Abdur Rahman As-Sayuthi), Tafsir Al-Baidhawi, Tafsir Al Fakhrur Razy, Tafsir Abu Suud, Tafsir An Nasafy, Tafsir Al Khatib, Tafsir Al Khazin.

3. Tafsir Isyari

Menurut kaum sufi, setiap ayat mempunyai makna yang zahir dan batin. Yang zahir adalah yang segera mudah dipahami oleh akal pikiran. Sedangkan yang batin adalah yang isyarat-isyarat yang tersembunyi dibalik itu yang hanya dapat diketahui oleh ahlinya. Isyarat-isyarat kudus yang terdapat di balik ungkapan-ungkapan Al-Quran inilah yang akan tercurah ke dalam hati dari limpahan gaib pengetahuan yang dibawa ayat-ayat. Itulah yang biasa disebut tafsir Isyari. tafsyir berdasarkan intuisi, atau bisikan batin. Contoh bentuk penafsiran secara Isyari antara lain adalah pada ayat: "....Innallaha ya'murukum an tadzbahuu baqarah....." (Surat Al Baqarah:
67)

Yang mempunyai makna zhahir adalah "....Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina..." Tetapi dalam tafsir Isyari diberi makna dengan "....Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih nafsu hewaniah...".

Untuk diketahui, beberapa karya tafsir Isyari yang terkenal antara lain: Tafsir An Naisabury, Tafsir Al Alusy, Tafsir At Tastary, Tafsir Ibnu Araby. [yy/sindonews]

Ustaz Miftah el-Banjary
Pakar Ilmu Linguistik Arab dan Tafsir Al-Qur'an,
Pensyarah Kitab Dalail Khairat