19 Dzulhijjah 1442  |  Kamis 29 Juli 2021

basmalah.png

Sains dan Al-Quran: Gunung Tidak Diam, Bergerak seperti Awan

Sains dan Al-Quran: Gunung Tidak Diam, Bergerak seperti Awan

Fiqhislam.com - Gunung adalah tanah berbentuk menonjol yang sangat tinggi dan besar. Biasanya tingginya lebih dari 600 meter. Gunung bisa dibedakan dari permukaannya yang menjulang lebih tinggi dibandingkan daerah sekitarnya.

Gunung biasanya lebih tinggi dan curam dari sebuah bukit, tetapi ada kesamaaannya. Istilah gunung atau bukit sering digunakan tergantung adat lokal. Beberapa otoritas mendefinisikan gunung dengan puncak lebih dari besaran tertentu. Misalnya ada yang menyebutnya gunung jika memiliki ketinggian 2.000 kaki atau 610 meter.

Sebuah gunung biasanya terbentuk dari gerakan tektonik lempeng, gerakan orogenik, atau gerakan epeirogenik. Sementara pegunungan adalah kumpulan atau barisan dari gunung.

Gunung merupakan salah satu bagian dari ciptaan Allah Subhanahu wa ta'ala. Dijelaskan bahwa gunung dapat menimbulkan aktivitas, dan itu atas kehendak Allah Azza wa jalla.

Dalam buku 'Tafsir Ilmi Samudera dalam Perspektif Alquran dan Sains' yang disusun Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) diungkapkan bahwa gunung terus bergerak.

Gunung yang selalu bergerak diibaratkan pergerakan awan. Allah Subhanahu wa ta'ala menjelaskan hal ini melalui salah satu ayat Alquran, yakni dalam Surah An-Naml Ayat 88.

"Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS An-Naml: 88).

Adapun penjelasan ayat tersebut menurut Tafsir al-Muntakhab adalah: "Wahai Rasul, engkau melihat gunung-gunung itu tetap di tempatnya dan engkau mengira mereka diam, padahal yang terjadi sesungguhnya mereka bergerak cepat laksana gerakan awan."

Pergerakan-pergerakan Bumi, lempengan Bumi, dan semua benda-benda di atasnya tentu menimbulkan berbagai perubahan, baik pergerakan cepat, sedang, maupun pergerakan lambat yang tidak disadari manusia.

Perubahan dinamis itu yang menyebabkan terjebaknya endapan-endapan yang diperlukan manusia, seperti mineral, air tanah, energi fosil, dan sebagainya. Perubahan juga dapat menimbulkan gempa, gelombang tsunami, hilangnya daratan dari pandangan mata, atau munculnya gunung-gunung baru seperti terjadi pada Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

Selat Sunda, Selat Makassar, dan Laut Banda merupakan beberapa contoh selat yang terbentuk akibat lempengan-lempengan bergerak. Selat Sunda merupakan selat yang memisahkan Pulau Jawa dan Sumatera.

Kedalaman selat ini rata-rata sekira 100 meter, kecuali di Kompleks Krakatau yang lebih dari 200 meter dan di bagian paling barat yang mencapai lebih dari 1.600 meter. Bila kedalaman di Kompleks Krakatau berkaitan dengan kaldera tua Krakatau, maka kedalaman di bagian barat berkaitan dengan graben atau lembah yang memanjang utara-selatan.

Secara geologi selat ini merupakan salah satu kawasan yang paling aktif di Indonesia, antara lain ditandai oleh aktivitas seismik (gempa), gunung api, dan gerak-gerak vertikal kerak Bumi, baik penurunan maupun kenaikan daratan. [yy/okezone]