27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Sains dan Al-Quran: Gunung Tidak Diam, Bergerak seperti Awan

Sains dan Al-Quran: Gunung Tidak Diam, Bergerak seperti Awan

Fiqhislam.com - Gunung adalah tanah berbentuk menonjol yang sangat tinggi dan besar. Biasanya tingginya lebih dari 600 meter. Gunung bisa dibedakan dari permukaannya yang menjulang lebih tinggi dibandingkan daerah sekitarnya.

Gunung biasanya lebih tinggi dan curam dari sebuah bukit, tetapi ada kesamaaannya. Istilah gunung atau bukit sering digunakan tergantung adat lokal. Beberapa otoritas mendefinisikan gunung dengan puncak lebih dari besaran tertentu. Misalnya ada yang menyebutnya gunung jika memiliki ketinggian 2.000 kaki atau 610 meter.

Sebuah gunung biasanya terbentuk dari gerakan tektonik lempeng, gerakan orogenik, atau gerakan epeirogenik. Sementara pegunungan adalah kumpulan atau barisan dari gunung.

Gunung merupakan salah satu bagian dari ciptaan Allah Subhanahu wa ta'ala. Dijelaskan bahwa gunung dapat menimbulkan aktivitas, dan itu atas kehendak Allah Azza wa jalla.

Dalam buku 'Tafsir Ilmi Samudera dalam Perspektif Alquran dan Sains' yang disusun Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) diungkapkan bahwa gunung terus bergerak.

Gunung yang selalu bergerak diibaratkan pergerakan awan. Allah Subhanahu wa ta'ala menjelaskan hal ini melalui salah satu ayat Alquran, yakni dalam Surah An-Naml Ayat 88.

"Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS An-Naml: 88).

Adapun penjelasan ayat tersebut menurut Tafsir al-Muntakhab adalah: "Wahai Rasul, engkau melihat gunung-gunung itu tetap di tempatnya dan engkau mengira mereka diam, padahal yang terjadi sesungguhnya mereka bergerak cepat laksana gerakan awan."

Pergerakan-pergerakan Bumi, lempengan Bumi, dan semua benda-benda di atasnya tentu menimbulkan berbagai perubahan, baik pergerakan cepat, sedang, maupun pergerakan lambat yang tidak disadari manusia.

Perubahan dinamis itu yang menyebabkan terjebaknya endapan-endapan yang diperlukan manusia, seperti mineral, air tanah, energi fosil, dan sebagainya. Perubahan juga dapat menimbulkan gempa, gelombang tsunami, hilangnya daratan dari pandangan mata, atau munculnya gunung-gunung baru seperti terjadi pada Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

Selat Sunda, Selat Makassar, dan Laut Banda merupakan beberapa contoh selat yang terbentuk akibat lempengan-lempengan bergerak. Selat Sunda merupakan selat yang memisahkan Pulau Jawa dan Sumatera.

Kedalaman selat ini rata-rata sekira 100 meter, kecuali di Kompleks Krakatau yang lebih dari 200 meter dan di bagian paling barat yang mencapai lebih dari 1.600 meter. Bila kedalaman di Kompleks Krakatau berkaitan dengan kaldera tua Krakatau, maka kedalaman di bagian barat berkaitan dengan graben atau lembah yang memanjang utara-selatan.

Secara geologi selat ini merupakan salah satu kawasan yang paling aktif di Indonesia, antara lain ditandai oleh aktivitas seismik (gempa), gunung api, dan gerak-gerak vertikal kerak Bumi, baik penurunan maupun kenaikan daratan. [yy/okezone]

 

Sains dan Al-Quran: Gunung Tidak Diam, Bergerak seperti Awan

Fiqhislam.com - Gunung adalah tanah berbentuk menonjol yang sangat tinggi dan besar. Biasanya tingginya lebih dari 600 meter. Gunung bisa dibedakan dari permukaannya yang menjulang lebih tinggi dibandingkan daerah sekitarnya.

Gunung biasanya lebih tinggi dan curam dari sebuah bukit, tetapi ada kesamaaannya. Istilah gunung atau bukit sering digunakan tergantung adat lokal. Beberapa otoritas mendefinisikan gunung dengan puncak lebih dari besaran tertentu. Misalnya ada yang menyebutnya gunung jika memiliki ketinggian 2.000 kaki atau 610 meter.

Sebuah gunung biasanya terbentuk dari gerakan tektonik lempeng, gerakan orogenik, atau gerakan epeirogenik. Sementara pegunungan adalah kumpulan atau barisan dari gunung.

Gunung merupakan salah satu bagian dari ciptaan Allah Subhanahu wa ta'ala. Dijelaskan bahwa gunung dapat menimbulkan aktivitas, dan itu atas kehendak Allah Azza wa jalla.

Dalam buku 'Tafsir Ilmi Samudera dalam Perspektif Alquran dan Sains' yang disusun Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) diungkapkan bahwa gunung terus bergerak.

Gunung yang selalu bergerak diibaratkan pergerakan awan. Allah Subhanahu wa ta'ala menjelaskan hal ini melalui salah satu ayat Alquran, yakni dalam Surah An-Naml Ayat 88.

"Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS An-Naml: 88).

Adapun penjelasan ayat tersebut menurut Tafsir al-Muntakhab adalah: "Wahai Rasul, engkau melihat gunung-gunung itu tetap di tempatnya dan engkau mengira mereka diam, padahal yang terjadi sesungguhnya mereka bergerak cepat laksana gerakan awan."

Pergerakan-pergerakan Bumi, lempengan Bumi, dan semua benda-benda di atasnya tentu menimbulkan berbagai perubahan, baik pergerakan cepat, sedang, maupun pergerakan lambat yang tidak disadari manusia.

Perubahan dinamis itu yang menyebabkan terjebaknya endapan-endapan yang diperlukan manusia, seperti mineral, air tanah, energi fosil, dan sebagainya. Perubahan juga dapat menimbulkan gempa, gelombang tsunami, hilangnya daratan dari pandangan mata, atau munculnya gunung-gunung baru seperti terjadi pada Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

Selat Sunda, Selat Makassar, dan Laut Banda merupakan beberapa contoh selat yang terbentuk akibat lempengan-lempengan bergerak. Selat Sunda merupakan selat yang memisahkan Pulau Jawa dan Sumatera.

Kedalaman selat ini rata-rata sekira 100 meter, kecuali di Kompleks Krakatau yang lebih dari 200 meter dan di bagian paling barat yang mencapai lebih dari 1.600 meter. Bila kedalaman di Kompleks Krakatau berkaitan dengan kaldera tua Krakatau, maka kedalaman di bagian barat berkaitan dengan graben atau lembah yang memanjang utara-selatan.

Secara geologi selat ini merupakan salah satu kawasan yang paling aktif di Indonesia, antara lain ditandai oleh aktivitas seismik (gempa), gunung api, dan gerak-gerak vertikal kerak Bumi, baik penurunan maupun kenaikan daratan. [yy/okezone]

 

Gunung dan Hujan

Gunung Berperan dalam Proses Terjadinya Hujan


Fiqhislam.com - Hujan merupakan sebuah peristiwa jatuhnya cairan dari atas langit ke permukaan Bumi. Hujan berwujud cairan, berbeda dengan presipitasi noncair seperti salju, batu es, dan slit. Hujan memerlukan keberadaan lapisan atmosfer tebal agar dapat menemui suhu di atas titik leleh es di dekat dan di atas permukaan Bumi.

Di Bumi, hujan adalah proses kondensasi uap air di atmosfer menjadi butir air yang cukup berat untuk jatuh dan biasanya tiba di daratan. Dua proses yang mungkin terjadi bersamaan dapat mendorong udara semakin jenuh menjelang hujan, yaitu pendinginan udara atau penambahan uap air ke udara.

Adanya hujan yang turun ke Bumi sudah sejak lama diungkapkan kitab suci Alquran. Dijelaskan bahwa gunung berperan dalam proses terjadinya hujan. Ilmuwan membuktikan adanya keterkaitan langsung antara gunung-gunung yang tinggi dan air hujan yang tawar.

Mengutip dari buku 'Sains dalam Alquran karya Nadiah Thayyarah, dijelaskan bahwa ketika gunung-gunung yang tinggi mendapat terpaan angin yang membawa uap air, ia menjadi semacam perangkap hujan.

Para ilmuwan pun telah membuktikan bahwa sebagian besar hujan turun di kawasan pegunungan yang tinggi. Semakin rendah ketinggian gunung, semakin sedikit hujan yang turun di daerah itu.

Dengan demikian, mata air sungai memancar dari pegunungan. Para ahli mengatakan hawa dingin pada lapisan atas udara dan puncak-puncak gunung yang tinggi merupakan dua pemicu utama pembentukan awan hujan dan turunnya hujan ke Bumi.

Para ilmuwan pun telah menemukan hubungan lain antara gunung-gunung tinggi dan air hujan. Gunung-gunung yang tinggi memiliki ruang penyimpanan yang sangat besar di dalam perutnya.

Di ruangan itulah gunung menyimpan air, lalu dari situlah mata air memancarkan air dan membentuk sungai-sungai.

Dalam kitab suci Alquran disebutkan mengenai gunung-gunung yang tinggi. "Dan Kami jadikan padanya gunung-gunung yang tinggi, dan Kami beri minum kamu dengan air tawar?" Surah Al Mursalat Ayat 27.

"Dan Dialah Tuhan yang membentangkan Bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan," Surah Ar-Ra’d Ayat 3.

Kata rawasi (gunung-gunung) ada yang dikaitkan dengan anhar (sungai-sungai) dan ma' (air). Ini antara lain menunjukkan adanya hubungan secara langsung di antara keduanya. [yy/okezone]

 

Turunnya Air Hujan

Proses Turunnya Air Hujan


Fiqhislam.com - Hujan merupakan fenomena turunnya air dari langit ke permukaan Bumi. Permukaan akan dibasahi air hujan hingga bagian paling dalam. Hal ini memberikan banyak manfaat terhadap kehidupan di Bumi.

Ternyata hal tersebut sudah lama dijelaskan dalam kitab suci Alquran dan sains. Demikian dijelaskan dalam buku Tafsir Ilmi 'Air dalam Perspektif Alquran dan Sains' yang disusun oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Mereka menjelaskan tentang proses daur air yang menjadi cikal bakal turunnya hujan.

Daur air bisa diuraikan secara sederhana, yakni uap air di udara, apabila jumlahnya sudah cukup banyak, akan terkumpul menjadi awan. Begitu uap air di dalam awan sudah mencapai titik jenuh, ia akan berkondensasi menjadi air yang kemudian jatuh ke Bumi sebagai hujan.

Di daerah dengan suhu udara lebih rendah dibanding titik beku air, kondensasi air akan membentuk fase padat yang dijatuhkan dalam bentuk salju atau es. Melalui pemanasan, salju akan mencair.

Air lelehan salju, sebagaimana air hujan, akan mengaliri dan menggenangi bagian-bagian terendah permukaan Bumi dalam bentuk sungai, danau, atau rawa di daratan dan akhirnya akan mengalir ke laut.

Sebagian aliran air ini akan meresap ke dalam Bumi, mengalir dan tersimpan di dalam tanah dan batuan dalam bentuk air tanah dalam dan air tanah dangkal. Dengan adanya panas matahari, sebagian air yang mengalir dan menggenangi daratan dan lautan akan menguap ke udara dan bergerak bersama pergerakan angin.

Dalam kitab suci Alquran, Allah Subhanahu wa ta'ala menjelaskan tentang turunnya hujan melalui Surah Ar-Rum Ayat 48:

"Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, tiba-tiba mereka menjadi gembira." (QS Ar-Rum: 48)

Kemudian dalam ayat lain di kitab suci Alquran, Allah Subhanahu wa ta'al kembali menjelaskan proses terjadinya hujan.

"Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan." (QS An-Nur: 43)

Sebelum penelitian modern berhasil mengungkap detail proses turunnya hujan, kitab suci Alquran yang diturunkan sekira 14 abad lalu telah menjelaskan proses tersebut. [yy/okezone]