18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

Penggunaan Kata Cinta dalam Al-Quran, Hadits dan Tradisi Arab

Penggunaan Kata Cinta dalam Al-Quran, Hadits dan Tradisi ArabFiqhislam.com - Kata cinta dalam bahasa Arab itu sangat beragam dan kaya makna. Kata cinta dalam bahasa Arab jika dijabarkan pun mengandung sejumlah makna filosofis yang mendalam.

Kata cinta dalam bahasa Arab disebut al-hubbu atau al-mahabbah. Kata mahabbah memiliki ragam versi, ada yang bilang kata ini berasal dari kata al-habab yang artinya air yang meluap setelah hujan lebat.

Orang-orang Arab juga mengenal istilah hababa al-asnan untuk mengungkapkan gigi yang putih bersih.

Dalam kitab Raudhah Al-Muhibbin karya Ibnu Qayyim Al-Jauzi dijelaskan, jika pengertia dua istilah tadi dipadukan maka kata mahabbah mengandung makna luapan hati seseorang ketika menghasratkan pertemuan dengan kekasih. Namun demikian, kata mahabbah juga bisa diartikan sebagai tenang dan nyaman.



Sehingga jika disimpulkan, kata mahabbah mengandung arti seseorang yang mencintai telah mantap kepada orang yang dicintai. Dan terlintas keinginan darinya untuk berpaling dari orang atau apa yang dia cintai.

Cinta juga bisa disebut dengan al-alaqah yang maknanya berarti hubungan, segumpal darah. Kata al-alaqah atau al-alaq dengan pola kata seperti al-falaq termasuk salah satu kata yang dipergunakan untuk menyebut cinta.

Al-Jauhari mengatakan bahwa kata al-alaq berarti nafsu sebagaimana ungkapan nazhrah min dzi ‘alaq (pandangan mengandung nafsu.

Sedangkan dalam ungkapan wa aliqqa hubbuha biqalbihi (dia mencintai kekasihnya sepenuh hati), kata cinta dalam ungkapan tersebut adalah al-alaqah (hubungan).

Dikatakan demikian karena hati selalu ingin terhubung dengan orang yang dicintai. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah syair oleh seorang penyair bernama Al-Marrar Al-Faq’asi:

Adakah cinta ibu kepada anaknya setelah beruban rambut?

Serupa dengan uban yang bercampur dengan rambut yang hitam?

Selain al-alaqah, kata cinta dalam bahasa Arab juga dikategorikan dalam kata al-hawa. Al-hawa berarti kecenderungan jiwa kepada sesuatu, asal katanya hawiya-yahwa-hawan.

Adapun hawa-yahwi berarti jatuh, sedangkan kata bendanya adalah al-huwiyyu dalam pola susunan bentuk kata bahasa Arab (wazan).

Cinta disebut al-hawa karena ada hasrat dan keinginan sang kekasih. Dalam sebuah ungkapan disebutkan hadza hawa Fulan wa Fulanah hawahu (inilah hasrat si Fulan dan Fulanan menjadi hasratnya). Artinya, Fulanah dalam kalimat itu adalah orang yang diinginkan si Fulan.

Namun demikian, kata al-hawa kerap dimaknai sebagai cinta yang tercela sebagaimana yang diabadikan dalam Alquran. Allah berfirman dalam Alquran Surah An-Nazi’at ayat 40-41 berbunyi: “Wa amma man khafa maqama Rabbihi wa naha an-nafsa anil-hawa fa innal-jannata hiyal-ma’wa,”.

Yang artinya: “Dan adapun orang yang takut pada kebesaran Rabb-nya dan menahan diri dari keinginan nafsunya, maka surga menjadi tempat tinggalnya.”

Cinta dalam ayat tersebut dimaknai sebagai nafsu. Memang, cinta dalam terminologi kata al-hawa yang diartikan nafsu adalah cinta yang membuat jatuh pemiliknya. Meskipun demikian, kadang-kadang istilah al-hawa dapat juga digunakan untuk mengungkapkan cinta yang terpuji tetapi dengan batasan tertentu.

Dalam kitab Fath al-Bari karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani disebutkan sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah ada seseorang di antara kalian beriman hingga hasrat (al-hawa)-nya mengikuti apa yang kubawa,”.

Kemudian, ada kata as-shabwah yang berarti kerinduan. Kata as-shabwah juga termasuk kata yang dipergunakan untuk menyebut cinta.

Kata as-shabwah juga kerap disebut dengan rindu, sebagaimana dalam ungkapan tashaba wa shaba yashbu shabwah wa shubuw (condong pada kebodohan).

Namun demikian, ada perbedaan makna antara as-shiba dengan at-tashaba. As-shiba berarti kecenderungan, dan at-tashaba saling cenderung, sedangkan kata as-shabwah berarti intensitas atau kadar kecenderngan (namun bisa berarti juga kata sifat). [yy/republika]

 

 



 

Tags: Quran | Mahabbah