18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

Al-Quran dan Asma Al-Husna dalam Karya Sastra Klasik Bugis (La Galigo))

Al-Quran dan Asma Al-Husna dalam Karya Sastra Klasik Bugis (La Galigo))

Fiqhislam.com - I La Galigo, sebuah epik mitologi dari masyarakat Bugis yang diperkirakan ditulis antara abad ke-13 dan ke-15 menggunakan aksara lontar dalam bentuk puisi berbahasa Bugis kuno.

Seiring berjalannya waktu, I La Galigo dijadikan alat untuk melakukan Islamisasi di Bugis. Supaya masyarakat lebih mudah memahami epik mitologi yang sangat panjang dan bercabang ceritanya itu dibagi dalam dua jenis. 

Di antaranya I La Galigo klasik menceritakan dunia dewa dan asal mula penciptaan manusia di Bumi. Serta I La Galigo yang sudah disisipi ajaran-ajaran Islam.

Penulis Buku Islamisasi Bugis, Andi Muhammad Akhmar, menjelaskan, di dalam I La Galigo versi Bottinna I La Dewata Sibawa I We Attaweq dari abad ke-19 sudah disisipi ajaran Islam. 

Di dalam epik mitologi itu sudah disisipi doa dalam bahasa Arab, ayat-ayat Alquran dan asma al-husna atau nama-nama Allah.  

Dia menceritakan, tokoh-tokoh di dalam I La Galigo dibuat seolah telah memeluk Islam. "Tapi nama-nama tokohnya tetap tidak diubah, para penyair Islam justru menambah tokoh-tokohnya dengan menciptakan tokoh-tokoh baru dalam I La Galigo," kata Akhmar kepada Republika.co.id di Perpustakaan Nasional usai bedah buku Islamisasi Bugis, Jakarta, belum lama ini.  

Akhmar mencontohkan, I La Galigo seperti epik Mahabarata yang tokoh-tokohnya tidak diubah oleh Wali Songo. Tetapi Wali Songo menambahkan tokoh Semar bersama anak-anaknya dalam Mahabarata. Hal itu dilakukan untuk Islamisasi di tanah Jawa menggunakan pendekatan budaya.   

Di dalam I La Galigo versi Bottinna I La Dewata Sibawa I We Attaweq juga muncul tokoh-tokoh Islam. Di antaranya Jalilullah, Nabi Adam, Nabi Sulaiman, Nabi Muhammad, Nabi Khaidir, dan Datu Hindi. Sejumlah tokoh Islam ini dihadirkan dalam suatu hubungan genealogi dengan tokoh mitos dalam La Galigo klasik.

Melalui metode seperti itu para penyair dan intelektual Islam menyebarkan ajaran-ajaran Islam ke masyarakat Bugis. Penulis buku Islamisasi Bugis meyakini Islam tidak disebarkan dengan perang di Bugis, tapi disebarkan dengan pendekatan budaya.   

Akhmar menyampaikan, naskah I La Galigo disalin dari masa ke masa. Naskah tertua I La Galigo versi Bottinna I La Dewata Sibawa I We Attaweq diduga berasal dari abad ke-19. Tapi besar kemungkinan sudah ada naskah-naskah I La Galigo sebelum ditulis kembali pada abad ke-19 itu.  

Menurutnya, banyak yang mengatakan Islamiasi Bugis secara formal dimulai pada abad ke-17. "Tapi jauh sebelum itu diperkirakan masyarakat Bugis sudah ada yang memeluk Islam orang per orang, karena jauh sebelum abad ke-17 sudah ada proses Islamisasi di Bugis," ujarnya.  

Penulis buku Islamisasi Bugis ini menduga, I La Galigo disisipi ajaran-ajaran Islam bisa sejak sebelum atau setelah abad ke-15. Karena pada masa itu masyarakat Bugis telah berinteraksi dengan Islam. 

Akhmar mengakui, sulit melacak kapan tepatnya I La Galigo pertama kali dituliskan dan disisipi ajaran Islam. Sebab banyak naskah yang telah rusak dimakan usia, hilang dan dibawa ke Eropa. Juga banyak naskah yang tercecer di masyarakat tidak mencantumkan tahun pembuatannya. [yy/republika]


La Galigo, Islam dan Pendekatan Budaya


Fiqhislam.com - Dalam dunia pewayangan yang menceritakan Mahabarata juga digambarkan tokoh-tokohnya telah memegang ajaran Islam. Hal ini dilakukan sebagai upaya Wali Songo untuk berdakwah di Tanah Jawa melalui pendekatan budaya secara perlahan dan bertahap.

Hal serupa juga terjadi dalam epos La Galigo yang disisipi ajaran- ajaran Islam oleh para ulama, intelektual, dan sastrawan Muslim di masa lalu.

Dalam pandangan Budayawan dan Penggerak Literasi, Nirwan Ahmad Arsuka, tokoh Islam yang masuk dalam epos La Galigo versi Bottinna I La Dewata Si bawa I We Attaweq bukan sekadar tokoh dongeng. Salah satu tokoh Islam yang mendapat kedudukan penting dalam naskah La Galigo versi ini adalah Nabi Sulaiman. 

"Nabi Sulaiman diposisikan sebagai leluhur orang-orang Bugis, masyarakat Bugis ada yang memercayai itu atau paling tidak penulis La Galigo versi Bottinna I La Dewata Sibawa I We Attaweq yang memercayainya," kata Nirwan. 

Dia menerangkan, keyakinan terhadap Nabi Sulaiman sebagai leluhur masyarakat Bugis itu didasarkan pada cerita Nabi Sulaiman yang menikahi Ratu Balqis. Di dalam beberapa tafsir, Ratu Balqis diterjemahkan menjadi Ratu Bugis. Sebab, jika ditulis dengan huruf Lontara dan bahasa Bugis kuno, antara Balqis dan Bugis itu hampir sama.

"Tapi, tentu hal ini bisa diperdebatkan,'' ujar Nirwan. [yy/republika]