3 Dzulhijjah 1443  |  Minggu 03 Juli 2022

basmalah.png

Al-Quran dan Asma Al-Husna dalam Karya Sastra Klasik Bugis (La Galigo))

Al-Quran dan Asma Al-Husna dalam Karya Sastra Klasik Bugis (La Galigo))

Fiqhislam.com - I La Galigo, sebuah epik mitologi dari masyarakat Bugis yang diperkirakan ditulis antara abad ke-13 dan ke-15 menggunakan aksara lontar dalam bentuk puisi berbahasa Bugis kuno.

Seiring berjalannya waktu, I La Galigo dijadikan alat untuk melakukan Islamisasi di Bugis. Supaya masyarakat lebih mudah memahami epik mitologi yang sangat panjang dan bercabang ceritanya itu dibagi dalam dua jenis. 

Di antaranya I La Galigo klasik menceritakan dunia dewa dan asal mula penciptaan manusia di Bumi. Serta I La Galigo yang sudah disisipi ajaran-ajaran Islam.

Penulis Buku Islamisasi Bugis, Andi Muhammad Akhmar, menjelaskan, di dalam I La Galigo versi Bottinna I La Dewata Sibawa I We Attaweq dari abad ke-19 sudah disisipi ajaran Islam. 

Di dalam epik mitologi itu sudah disisipi doa dalam bahasa Arab, ayat-ayat Alquran dan asma al-husna atau nama-nama Allah.  

Dia menceritakan, tokoh-tokoh di dalam I La Galigo dibuat seolah telah memeluk Islam. "Tapi nama-nama tokohnya tetap tidak diubah, para penyair Islam justru menambah tokoh-tokohnya dengan menciptakan tokoh-tokoh baru dalam I La Galigo," kata Akhmar kepada Republika.co.id di Perpustakaan Nasional usai bedah buku Islamisasi Bugis, Jakarta, belum lama ini.  

Al-Quran dan Asma Al-Husna dalam Karya Sastra Klasik Bugis (La Galigo))

Akhmar mencontohkan, I La Galigo seperti epik Mahabarata yang tokoh-tokohnya tidak diubah oleh Wali Songo. Tetapi Wali Songo menambahkan tokoh Semar bersama anak-anaknya dalam Mahabarata. Hal itu dilakukan untuk Islamisasi di tanah Jawa menggunakan pendekatan budaya.   

Di dalam I La Galigo versi Bottinna I La Dewata Sibawa I We Attaweq juga muncul tokoh-tokoh Islam. Di antaranya Jalilullah, Nabi Adam, Nabi Sulaiman, Nabi Muhammad, Nabi Khaidir, dan Datu Hindi. Sejumlah tokoh Islam ini dihadirkan dalam suatu hubungan genealogi dengan tokoh mitos dalam La Galigo klasik.

Melalui metode seperti itu para penyair dan intelektual Islam menyebarkan ajaran-ajaran Islam ke masyarakat Bugis. Penulis buku Islamisasi Bugis meyakini Islam tidak disebarkan dengan perang di Bugis, tapi disebarkan dengan pendekatan budaya.   

Akhmar menyampaikan, naskah I La Galigo disalin dari masa ke masa. Naskah tertua I La Galigo versi Bottinna I La Dewata Sibawa I We Attaweq diduga berasal dari abad ke-19. Tapi besar kemungkinan sudah ada naskah-naskah I La Galigo sebelum ditulis kembali pada abad ke-19 itu.  

Menurutnya, banyak yang mengatakan Islamiasi Bugis secara formal dimulai pada abad ke-17. "Tapi jauh sebelum itu diperkirakan masyarakat Bugis sudah ada yang memeluk Islam orang per orang, karena jauh sebelum abad ke-17 sudah ada proses Islamisasi di Bugis," ujarnya.  

Penulis buku Islamisasi Bugis ini menduga, I La Galigo disisipi ajaran-ajaran Islam bisa sejak sebelum atau setelah abad ke-15. Karena pada masa itu masyarakat Bugis telah berinteraksi dengan Islam. 

Akhmar mengakui, sulit melacak kapan tepatnya I La Galigo pertama kali dituliskan dan disisipi ajaran Islam. Sebab banyak naskah yang telah rusak dimakan usia, hilang dan dibawa ke Eropa. Juga banyak naskah yang tercecer di masyarakat tidak mencantumkan tahun pembuatannya.

 

Al-Quran dan Asma Al-Husna dalam Karya Sastra Klasik Bugis (La Galigo))

Fiqhislam.com - I La Galigo, sebuah epik mitologi dari masyarakat Bugis yang diperkirakan ditulis antara abad ke-13 dan ke-15 menggunakan aksara lontar dalam bentuk puisi berbahasa Bugis kuno.

Seiring berjalannya waktu, I La Galigo dijadikan alat untuk melakukan Islamisasi di Bugis. Supaya masyarakat lebih mudah memahami epik mitologi yang sangat panjang dan bercabang ceritanya itu dibagi dalam dua jenis. 

Di antaranya I La Galigo klasik menceritakan dunia dewa dan asal mula penciptaan manusia di Bumi. Serta I La Galigo yang sudah disisipi ajaran-ajaran Islam.

Penulis Buku Islamisasi Bugis, Andi Muhammad Akhmar, menjelaskan, di dalam I La Galigo versi Bottinna I La Dewata Sibawa I We Attaweq dari abad ke-19 sudah disisipi ajaran Islam. 

Di dalam epik mitologi itu sudah disisipi doa dalam bahasa Arab, ayat-ayat Alquran dan asma al-husna atau nama-nama Allah.  

Dia menceritakan, tokoh-tokoh di dalam I La Galigo dibuat seolah telah memeluk Islam. "Tapi nama-nama tokohnya tetap tidak diubah, para penyair Islam justru menambah tokoh-tokohnya dengan menciptakan tokoh-tokoh baru dalam I La Galigo," kata Akhmar kepada Republika.co.id di Perpustakaan Nasional usai bedah buku Islamisasi Bugis, Jakarta, belum lama ini.  

Al-Quran dan Asma Al-Husna dalam Karya Sastra Klasik Bugis (La Galigo))

Akhmar mencontohkan, I La Galigo seperti epik Mahabarata yang tokoh-tokohnya tidak diubah oleh Wali Songo. Tetapi Wali Songo menambahkan tokoh Semar bersama anak-anaknya dalam Mahabarata. Hal itu dilakukan untuk Islamisasi di tanah Jawa menggunakan pendekatan budaya.   

Di dalam I La Galigo versi Bottinna I La Dewata Sibawa I We Attaweq juga muncul tokoh-tokoh Islam. Di antaranya Jalilullah, Nabi Adam, Nabi Sulaiman, Nabi Muhammad, Nabi Khaidir, dan Datu Hindi. Sejumlah tokoh Islam ini dihadirkan dalam suatu hubungan genealogi dengan tokoh mitos dalam La Galigo klasik.

Melalui metode seperti itu para penyair dan intelektual Islam menyebarkan ajaran-ajaran Islam ke masyarakat Bugis. Penulis buku Islamisasi Bugis meyakini Islam tidak disebarkan dengan perang di Bugis, tapi disebarkan dengan pendekatan budaya.   

Akhmar menyampaikan, naskah I La Galigo disalin dari masa ke masa. Naskah tertua I La Galigo versi Bottinna I La Dewata Sibawa I We Attaweq diduga berasal dari abad ke-19. Tapi besar kemungkinan sudah ada naskah-naskah I La Galigo sebelum ditulis kembali pada abad ke-19 itu.  

Menurutnya, banyak yang mengatakan Islamiasi Bugis secara formal dimulai pada abad ke-17. "Tapi jauh sebelum itu diperkirakan masyarakat Bugis sudah ada yang memeluk Islam orang per orang, karena jauh sebelum abad ke-17 sudah ada proses Islamisasi di Bugis," ujarnya.  

Penulis buku Islamisasi Bugis ini menduga, I La Galigo disisipi ajaran-ajaran Islam bisa sejak sebelum atau setelah abad ke-15. Karena pada masa itu masyarakat Bugis telah berinteraksi dengan Islam. 

Akhmar mengakui, sulit melacak kapan tepatnya I La Galigo pertama kali dituliskan dan disisipi ajaran Islam. Sebab banyak naskah yang telah rusak dimakan usia, hilang dan dibawa ke Eropa. Juga banyak naskah yang tercecer di masyarakat tidak mencantumkan tahun pembuatannya.

 

La Galigo, Islam dan Pendekatan Budaya

La Galigo, Islam dan Pendekatan Budaya


Dalam dunia pewayangan yang menceritakan Mahabarata juga digambarkan tokoh-tokohnya telah memegang ajaran Islam. Hal ini dilakukan sebagai upaya Wali Songo untuk berdakwah di Tanah Jawa melalui pendekatan budaya secara perlahan dan bertahap.

Hal serupa juga terjadi dalam epos La Galigo yang disisipi ajaran- ajaran Islam oleh para ulama, intelektual, dan sastrawan Muslim di masa lalu.

Dalam pandangan Budayawan dan Penggerak Literasi, Nirwan Ahmad Arsuka, tokoh Islam yang masuk dalam epos La Galigo versi Bottinna I La Dewata Si bawa I We Attaweq bukan sekadar tokoh dongeng. Salah satu tokoh Islam yang mendapat kedudukan penting dalam naskah La Galigo versi ini adalah Nabi Sulaiman. 

"Nabi Sulaiman diposisikan sebagai leluhur orang-orang Bugis, masyarakat Bugis ada yang memercayai itu atau paling tidak penulis La Galigo versi Bottinna I La Dewata Sibawa I We Attaweq yang memercayainya," kata Nirwan. 

Dia menerangkan, keyakinan terhadap Nabi Sulaiman sebagai leluhur masyarakat Bugis itu didasarkan pada cerita Nabi Sulaiman yang menikahi Ratu Balqis. Di dalam beberapa tafsir, Ratu Balqis diterjemahkan menjadi Ratu Bugis. Sebab, jika ditulis dengan huruf Lontara dan bahasa Bugis kuno, antara Balqis dan Bugis itu hampir sama.

"Tapi, tentu hal ini bisa diperdebatkan,'' ujar Nirwan.

 

Masuknya Ajaran Tauhid dalam La Galigo

Masuknya Ajaran Tauhid dalam La Galigo


Para ulama, intelektual, dan penulis Muslim sangat menyadari sulitnya menggeser kepercayaan masyarakat yang sudah melekat dari generasi ke generasi. Karena itu, mereka menggunakan pendekatan budaya untuk menggeser secara perlahan kepercayaan masyarakat itu. Dengan demikian, secara perlahan dan bertahap mereka memercayai Allah SWT. 

Penulis buku Islamisasi Bugis, Andi Muhammad Akhmar, menerangkan, para ulama dan penulis Muslim memanfaatkan epos La Galigo yang sudah dipercaya dari generasi ke generasi oleh masyarakat Bugis. Mereka menyisipkan ajaran-ajaran Islam ke dalam epos itu sehingga terjadi perubahan.

Menurut Akhmar, terjadi perubahan komposisi dalam bentuk penambahan, pengurangan atau pemutarbalikan dalam teks La Galigo versi Bottinna I La Dewata Sibawa We Attaweq. Namun, hal itu merupakan wujud kebebasan penyair atau penulis. Namun, kebebasan penyair tersebut tetap dalam bingkai.

Bingkainya adalah tema perkawinan di kalangan keturunan Batara Guru atau kerabatnya. Sementara itu, tokoh-tokohnya adalah dari kalangan dewa atau keturunannya yang berkuasa di Bumi. Penggunaan nama tempat yang meliputi dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah. 

"Dengan demikian, cerita-cerita baru atau yang telah mendapatkan unsur-unsur baru tetap menjadi bagian dari warisan sastra La Galigo, kehadiran unsur Islam dalam La Galigo versi Bottinna I La Dewata Sibawa We Attaweq ini tidak menggeser keberadaan kepercayaan lama, me lainkan disajikan secara berdampingan," jelasnya. 

Akhmar berpandangan, yang telah dilakukan oleh penulis La Galigo versi itu menunjukkan kreativitas penyair dalam memanfaatkan sastra yang telah mapan di masyarakat Bugis untuk misi Islamisasi. Menurutnya, Islamisasi dengan menggunakan sastra sebagai medianya itu menggunakan pendekatan kompromis. 

Sebab, para pendakwah Islam pada saat itu menyadari, sangat tidak mudah mengganti suatu bentuk kepercayaan yang telah lama bersenyawa dalam jiwa suatu masyarakat. Maka, langkah awal Islamisasi Bugis yaitu dengan menggeser konsep kepercayaan masyarakat kepada Dewata Seuwea dengan konsep Allah SWT melalui ajaran-ajaran tauhid.

 

Mengenal La Galigo, Epos Mitologi Masyarakat Bugis

Mengenal La Galigo, Epos Mitologi Masyarakat Bugis


ILa Galigo atau Galigo adalah epos mitologi yang lahir dari peradaban masyarakat Bugis yang berbasis di Sulawesi Selatan. Epos tersebut sangat sakral bagi masyarakat Bugis karena bagian naskahnya bisa dijadikan mantra dalam upacara adat. 

La Galigo belum dikenal secara luas oleh masyarakat umum, seperti epos Mahabarata. Akan tetapi, naskah La Galigo jauh lebih panjang daripada naskah Mahabarata. Banyak yang meyakini, naskah La Galigo masih ada yang tercecer di ma syarakat. Sehingga, jika digabungkan dengan naskah yang telah ditemukan akan jauh lebih panjang lagi. 

Epos mitologi dari masyarakat Bugis ini diperkirakan mulai ditulis antara abad ke-13 dan ke-15 menggunakan aksara Lontara dalam bentuk puisi berbahasa Bugis kuno. Masyarakat Bugis percaya, La Galigo sebenarnya sudah menjadi tradisi lisan saat dituliskan. 

Seiring berkembang dan meluasnya ajaran Islam ke berbagai pelosok dunia, termasuk ke wilayah Bugis, karya sastra La Galigo secara perlahan mulai dipenga ruhi ajaran-ajaran Islam. Para ulama, in telektual, dan penyair Muslim meman faa t kan La Galigo menjadi sarana dakwah. 

Penulis Buku Islamisasi Bugis Andi Muhammad Akhmar menjelaskan, La Galigo adalah mitologi masyarakat Bugis sebelum mereka memeluk Islam. Mito lo gi itu diawali dengan menceritakan pen ciptaan manusia pertama yang ditu run kan ke muka Bumi. La Galigo memiliki cerita pokok dan cabang-cabang cerita, seperti sebuah pohon besar yang memiliki banyak cabang dan ranting. 

"Ada cerita La Galigo versi Bottinna I La Dewata Sibawa I We Attaweq, versi ini memiliki tokoh-tokoh baru yang di munculkan, yakni tokoh-tokoh dalam ajaran Islam," kata Akhmar dalam bedah buku Islamisasi Bugis Kajian Sastra Atas La Galigo versi Bottinna I La Dewata Sibawa I We Attaweq di Perpustakaan Nasional, Jakarta, belum lama ini.

Ia menceritakan, naskah La Galigo versi Bottinna I La Dewata Sibawa I We Attaweq mengandung ajaran-ajaran Islam. Naskah ini diperkirakan berasal dari abad ke-19, tapi besar kemungkinan sudah ada naskah-naskah La Galigo sebe lum itu yang sudah ditulis dan mengan dung ajaran Islam karena naskah La Galigo disalin dari masa ke masa. [yy/republika]