19 Rabiul-Awal 1443  |  Senin 25 Oktober 2021

basmalah.png

Kisah Turunnya Surah ‘Abasa

Kisah Turunnya Surah ‘Abasa


Fiqhislam.com - Selain Bilal bin Rabah, Abdullah bin Ummi Maktum merupakan muazin pada masa Nabi Muhammad SAW.

Sahabat Nabi itu termasuk Assabiqun al-awwalun atau orang-orang pertama yang masuk Islam. Ia digambarkan memiliki fisik tak sempurna, sebab matanya tak dapat melihat atau buta. Meski begitu, Abdullah dikenal berilmu serta beradab, sehingga bisa melihat dengan mata hati.

Tak heran bila dirinya memiliki kepekaan tinggi untuk mengetahui waktu. Jika Bilal mengumandangkan azan pada malam hari, setiap fajar Abdullah keluar dari rumahnya untuk menyerukan azan Subuh di Masjid.

Pada bulan Ramadhan, Rasulullah pun bersabda: "Makan dan minumlah kalian hingga Abdullah bin Ummi Maktum mengumandangkan azan." Bahkan Allah telah memuliakan pria tersebut. Pasalnya, Abdullah merupakan, sebab surah ke-80 dalam Alquran yakni surah 'Abasa turun.

Pada suatu hari, Nabi tengah duduk bersama para pemuka Quraisy. Tiba-tiba Abdullah menanyakan sesuatu ke beliau, tapi Rasul tak menghiraukannya karena sibuk berbicara dengan beberapa tokoh Quraisy di antaranya Syaibah bin Rabi'ah. Selesai berunding dengan para Qu raisy, Rasulullah kemudian bersiap untuk pulang. Namun, mendadak beliau merasa kesakitan. Saat itulah Firman Allah berupa surah 'Abasa ayat 1 sampai 16 turun.

"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling karena telah datang se orang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan diri nya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Ada pun orang yang merasa dirinya serba cukup maka kamu melayaninya. Padahal, tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Adapun orang yang datang kepadamu dengan ber segera (untuk mendapatkan pelajaran), sedang ia takut kepada (Allah) maka kamu mengabai kannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.

Maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya di dalam kitab-kita yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (mala ikat), yang mulia lagi berbakti." Nabi Muhammad lalu memanggil Abdullah bin Ummi Maktum. Untuk pertama kalinya, Rasulullah SAW menunjuk Abdullah menjadi wakil beliau di Madinah. Sejak hari itu, Rasulullah makin memuliakan sang muazin.

Suatu ketika Abdullah menyampaikan keinginannya untuk ikut berjihad. Pa ra sahabat pun menyambut baik hal itu. Hanya saja, kemudian firman Allah dalam dalam surah an-Nisa ayat 95 tu run. "Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang )." Mengetahui dirinya tak bisa ikut ber perang, Abdullah merasa sedih. Lantas ia berkata: "Apakah ada keringan an untuk ku?" Lalu turunlah ayat lanjutannya, "Selain yang mempunyai uzur."

Kendati demikian tekad Abdullah ikut berperang sangat kuat. Dirinya berulang kali menyampaikan keinginannya tersebut, hingga akhirnya pada Perang Qadisiyah, dia berperang sebagai pembawa panji pasukan berwarna hitam. Sejarah mencatatnya sebagai orang buta pertama yang turut dalam peperangan Islam. [yy/republika]