2 Dzulhijjah 1443  |  Sabtu 02 Juli 2022

basmalah.png

Sifat-Sifat Negatif Manusia yang Disinggung Al-Quran

Sifat-Sifat Negatif Manusia yang Disinggung Al-Quran

Fiqhislam.com - Manusia dibekali akal dan hati untuk menjalani kehidupan di atas muka bumi. Keadaan itu menjadikan manusia berbeda daripada makhluk lainnya yang tampak mata, entah itu hewan, tumbuhan, ataupun benda-benda mati.

Menurut Prof Yunahar Ilyas dalam bukunya, Tipologi Manusia Menurut Al-Qur’an (2007, Labda Press), fitrah manusia cenderung pada Kebenaran. Itu sejalan dengan pendapat Ibnu Katsir dalam kitab Mukhtashar Tafsir Ibn Katsir II, yang membahas Alquran surah ar-Rum ayat ke-30. Pakar ilmu tafsir Alquran itu menegaskan, manusia memiliki fitrah bertuhan.

Hanya saja, tidak selalu manusia tegar dalam kebaikan. Alquran bahkan menyebutkan sejumlah kecenderungan negatif yang ditunjukkan manusia.

Pertama, manusia cenderung zalim dan bodoh. Hal itu ditegaskan dalam surah al-Ahzab ayat ke-72. Terjemahannya, "Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh."

Kedua, amat mencintai harta benda, sekaligus kikir karena merasa semua itu miliknya seorang. Sifat ini cenderung lalai pada fakta bahwa segala yang ada di langit dan bumi adalah milik-Nya. Biasanya, seorang yang bakhil akan menyadari hal itu setelah kehilangan harta yang sangat dijaganya. Alquran menyinggung sifat buruk itu antara lain dalam surah al-Fajr ayat ke-20. Artinya, "Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan."

Ketiga, sangat mudah terperdaya oleh hal-hal duniawi. Kalau ditimpa kesulitan, maka manusia cenderung menyadari kelemahan, sehingga mengadu kepada Allah. Namun, bila kesulitan itu sudah lewat dan dia mendapatkan banyak kesenangan, maka dia membangga-banggakan diri atau bahkan sombong.

"Lucunya" manusia antara lain sifatnya yang mudah lupa daratan. Maknanya, manusia tidak menyadari bahwa dirinya kecil, sehingga lekas meminta-minta kepada Allah begitu kesukaran melanda.

Namun, ketika hal yang menyesakkan dadanya terangkat, dengan cepat pula dia lupa pada Allah. Kecenderungan itu dimasukkan Yunahar Ilyas (2007) dalam poin ketiga sifat buruk manusia, yang disinggung Kitabullah.

Disebutkan dalam Alquran surah az-Zumar ayat kedelapan. Artinya, "Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: "Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka.'"

Demikian pula surah al-Fushshlat ayat ke-51. Terjemahannya, "Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa."

Sifat keempat yang dibahas Yunahar Ilyas dalam karyanya itu adalah, suka melampaui batas. Padahal, Allah tidak akan memberikan beban kepada setiap hamba-Nya melebihi kemampuan.

Hanya saja, betapa ketika sedang lalai, manusia cenderung tidak mengindahkan ketentuan Sang Pencipta. Seolah-olah, kehidupan hanya di dunia ini dan tidak akan dibangkitkan lagi kelak serta dimintai pertanggungjawaban.

Sifat itu disebutkan dalam firman-Nya, surah al-Alaq ayat keenam, yang artinya "Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas."

Sifat buruk lainnya yang merupakan kecenderungan manusia adalah enggan bersyukur. Yunahar Ilyas menggolongkan hal itu ke poin kelima dari bukunya, Tipologi Manusia Menurut Al-Qur’an (2007, Labda Press).

Alquran surah al-'Adiyat ayat keenam sudah menegaskan tabiat manusia yang enggan bersyukur kepada Allah. Artinya, "Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya."

Padahal, dengan banyak-banyak bersyukur, manusia akan ditambahkan nikmat lagi dan lagi dari Allah SWT. Simaklah surah Ibrahim ayat ketujuh. Terjemahannya, "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."

Demikian kelima sifat yang dibahas dalam rangkaian tulisan kali ini. Yunahar Ilyas memaparkan, semua sifat buruk itu mesti ditekan sedemikian rupa, sehingga tidak berkembang lebih jauh dan menjadi kebiasaan.

Memang, kecenderungan-kecenderungan itu tidak dapat dimatikan sama sekali. Sering kali, dalam hidup ini banyak peristiwa atau sesuatu yang mudah melalaikan manusia dari mengingat Allah.

Oleh karena itu, solusinya adalah memohon kekuatan dari Sang Pencipta. Tujuannya untuk mensucikan jiwa. Hal itu juga diisyaratkan dalam Alquran, antara lain, surah asy-Syams ayat 7-10.

Artinya dalam bahasa Indonesia, "(7) Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya); (8) Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya; (9) Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, (10) Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." [yy/republika]