1 Dzulhijjah 1443  |  Jumat 01 Juli 2022

basmalah.png

Siapakah Kaum Tubba' itu?

Siapakah Kaum Tubba' itu?

Fiqhislam.com - Kaum Tubba’, dalam Alquran disebutkan sebanyak dua kali, pertama dalam surah Ad-Dukhan [44] ayat 37 dan surah Qaaf [50] ayat 14. ‘’Apakah mereka (kaum musyrikin) yang lebih baik ataukah kaum Tubba’ dan orang-orang yang sebelum mereka. Kami telah membinasakan mereka karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berdosa.’’ (QS Ad-Dukhan [44] : 37). ‘’Dan, penduduk Aikah serta kaum Tubba’ semuanya telah mendustakan rasulrasul, maka sudah semestinya mereka mendapat hukuman yang sudah diancamkan.’’ (QS Qaaf [50] : 14).

Berdasarkan keterangan ayat ini, kaum Tubba’ adalah orang-orang yang menyekutukan Allah (musyrik) dengan yang lain. Selain itu, mereka juga termasuk orangorang yang mendustakan rasul-rasul Allah yang diutus kepada mereka.

Namun, seperti umat lainnya, kaum Tubba’ mengingkari dan menyekutukan Allah dengan yang lain. Menurut penjelasan sejumlah ahli tafsir, kaum Tubba’ ini adalah orang-orang Himyar yang tinggal di daerah Yaman. Dan, Tubba’ sendiri merupakan gelar raja-raja mereka.

Dr Wahbah Az-Zuhaili dalam At-tafsir al-Muniir fi al-Aqidah wa as-Syriah wa al- Manhaj, ketika menafsirkan surat Ad- Dukhan ayat 37 ini mengatakan, ‘’Maksudnya, apakah mereka orang-orang kafir Quraisy karena mereka itu adalah bangsa Arab dari Adnan, lebih kuat dan lebih tangguh daripada kaum Tubba’ dari Kabilah Himyar. Mereka itu adalah bangsa Arab dari Qahthan yang paling kuat pasukannya, paling banyak jumlahnya, serta memiliki negara, peradaban yang mengakar, dan kejayaan.

Demikian juga, bangsa-bangsa sebelum mereka, seperti bangsa ‘Ad dan Tsamud. Allah telah membinasakan mereka semuanya karena kekafiran dan kejahatan. Jadi, membinasakan kaum yang lebih rendah dari mereka karena kejahatannya, kelemahannya, dan ketidakmampuannya tentu jauh lebih mudah. Mereka (orangorang kafir Quraisy itu) tidak lebih baik dibanding kaum Tubba dalam jumlah, kekuatan, dan ketangguhan.

Menurut Sami bin Abdullah al-Maghluts dalam bukunya Atlas Sejarah Nabi dan Rasul, kaum Tubba’ ini memiliki peradab an yang sangat maju. Di antara peradaban mereka yang masih bisa disaksikan hingga saat ini berupa tangki-tangki tempat penyimpanan air, termasuk bendungan irigasi untuk pengairan. Kaum Tubba’ ini diperkirakan hidup sekitar seribu tahun sebelum kelahiran Rasulullah SAW, beberapa abad sebelum kelahiran Isa AS bin Maryam.

Sementara itu, menurut Syauqi Abu Kha lil dalam bukunya Atlas Alquran, Tub ba’ adalah gelar yang diberikan kepada raja-raja di negeri al-Himyar di Yaman. Dari sana, mereka dikenal dengan sebutan kaum Tubba’. Orang Tubba’ yang paling terkemuka adalah Hassan bin As’ad bin Abi Karb, yang disebut-sebut sebagai orang yang hidup pada abad ke-10 sebelum masehi (SM).

Ditambahkan Syauqi, Hassan ini Dia telah mengembangkan wilayah kekuasaannya ke berbagai arah. Dia berhasil memperluas kekuasaan sampai ke Syam (Syria) dan Urkistan. Selain itu, dia juga berhasil memasuki Samarkand. Dalam perkembangannya, Tubba’ kemudian menjadikan Kota Ma’rib yang terkenal dengan bendungannya dan Kota Zufar (Zhafar) sebagai ibu kota.

Sedangkan Himyar, menurut Syauqi (dalam Atlas Hadis), adalah keluarga dari Dzul Kala’, yaitu kabilah keturunan Himyar bin Al-Ghauts bin Sa’ad bin ‘Auf bin Himyar bin Saba’ bin Yasyhab. Himyar bin Saba bin Yasyhab adalah Himyar yang agung dan Himyar bin Al-Ghauts adalah Himyar kecil. Permukiman mereka terletak di Yaman, di suatu tempat yang disebut Himyar, sebelah barat Kota Sana’a. (Mu’jam al-Buldan, II/307).

Zhafar adalah kota di negara Yaman dekat Sana’a. Di kota inilah banyak bertempat tinggal raja-raja Himyar. Adapun Zhafar yang terkenal, berada di pantai laut Arav bagian dari daerah sibuk asy-Syihr, dekat Shuhar. Saat ini, ia merupakan salah satu wilayah Negara Oman. Luasnya mencapai 40 ribu kilometer persegi, pusat kotanya Shalalah (970 km dari Muscat). Disana terdapat jutaan tumbuhan kemenyan (Styrax benzoin). (Lihat Al-Qamus al-Is lam, IV/605; dan Mu’jam Al-Buldan, IV/60).

 

Siapakah Kaum Tubba' itu?

Fiqhislam.com - Kaum Tubba’, dalam Alquran disebutkan sebanyak dua kali, pertama dalam surah Ad-Dukhan [44] ayat 37 dan surah Qaaf [50] ayat 14. ‘’Apakah mereka (kaum musyrikin) yang lebih baik ataukah kaum Tubba’ dan orang-orang yang sebelum mereka. Kami telah membinasakan mereka karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berdosa.’’ (QS Ad-Dukhan [44] : 37). ‘’Dan, penduduk Aikah serta kaum Tubba’ semuanya telah mendustakan rasulrasul, maka sudah semestinya mereka mendapat hukuman yang sudah diancamkan.’’ (QS Qaaf [50] : 14).

Berdasarkan keterangan ayat ini, kaum Tubba’ adalah orang-orang yang menyekutukan Allah (musyrik) dengan yang lain. Selain itu, mereka juga termasuk orangorang yang mendustakan rasul-rasul Allah yang diutus kepada mereka.

Namun, seperti umat lainnya, kaum Tubba’ mengingkari dan menyekutukan Allah dengan yang lain. Menurut penjelasan sejumlah ahli tafsir, kaum Tubba’ ini adalah orang-orang Himyar yang tinggal di daerah Yaman. Dan, Tubba’ sendiri merupakan gelar raja-raja mereka.

Dr Wahbah Az-Zuhaili dalam At-tafsir al-Muniir fi al-Aqidah wa as-Syriah wa al- Manhaj, ketika menafsirkan surat Ad- Dukhan ayat 37 ini mengatakan, ‘’Maksudnya, apakah mereka orang-orang kafir Quraisy karena mereka itu adalah bangsa Arab dari Adnan, lebih kuat dan lebih tangguh daripada kaum Tubba’ dari Kabilah Himyar. Mereka itu adalah bangsa Arab dari Qahthan yang paling kuat pasukannya, paling banyak jumlahnya, serta memiliki negara, peradaban yang mengakar, dan kejayaan.

Demikian juga, bangsa-bangsa sebelum mereka, seperti bangsa ‘Ad dan Tsamud. Allah telah membinasakan mereka semuanya karena kekafiran dan kejahatan. Jadi, membinasakan kaum yang lebih rendah dari mereka karena kejahatannya, kelemahannya, dan ketidakmampuannya tentu jauh lebih mudah. Mereka (orangorang kafir Quraisy itu) tidak lebih baik dibanding kaum Tubba dalam jumlah, kekuatan, dan ketangguhan.

Menurut Sami bin Abdullah al-Maghluts dalam bukunya Atlas Sejarah Nabi dan Rasul, kaum Tubba’ ini memiliki peradab an yang sangat maju. Di antara peradaban mereka yang masih bisa disaksikan hingga saat ini berupa tangki-tangki tempat penyimpanan air, termasuk bendungan irigasi untuk pengairan. Kaum Tubba’ ini diperkirakan hidup sekitar seribu tahun sebelum kelahiran Rasulullah SAW, beberapa abad sebelum kelahiran Isa AS bin Maryam.

Sementara itu, menurut Syauqi Abu Kha lil dalam bukunya Atlas Alquran, Tub ba’ adalah gelar yang diberikan kepada raja-raja di negeri al-Himyar di Yaman. Dari sana, mereka dikenal dengan sebutan kaum Tubba’. Orang Tubba’ yang paling terkemuka adalah Hassan bin As’ad bin Abi Karb, yang disebut-sebut sebagai orang yang hidup pada abad ke-10 sebelum masehi (SM).

Ditambahkan Syauqi, Hassan ini Dia telah mengembangkan wilayah kekuasaannya ke berbagai arah. Dia berhasil memperluas kekuasaan sampai ke Syam (Syria) dan Urkistan. Selain itu, dia juga berhasil memasuki Samarkand. Dalam perkembangannya, Tubba’ kemudian menjadikan Kota Ma’rib yang terkenal dengan bendungannya dan Kota Zufar (Zhafar) sebagai ibu kota.

Sedangkan Himyar, menurut Syauqi (dalam Atlas Hadis), adalah keluarga dari Dzul Kala’, yaitu kabilah keturunan Himyar bin Al-Ghauts bin Sa’ad bin ‘Auf bin Himyar bin Saba’ bin Yasyhab. Himyar bin Saba bin Yasyhab adalah Himyar yang agung dan Himyar bin Al-Ghauts adalah Himyar kecil. Permukiman mereka terletak di Yaman, di suatu tempat yang disebut Himyar, sebelah barat Kota Sana’a. (Mu’jam al-Buldan, II/307).

Zhafar adalah kota di negara Yaman dekat Sana’a. Di kota inilah banyak bertempat tinggal raja-raja Himyar. Adapun Zhafar yang terkenal, berada di pantai laut Arav bagian dari daerah sibuk asy-Syihr, dekat Shuhar. Saat ini, ia merupakan salah satu wilayah Negara Oman. Luasnya mencapai 40 ribu kilometer persegi, pusat kotanya Shalalah (970 km dari Muscat). Disana terdapat jutaan tumbuhan kemenyan (Styrax benzoin). (Lihat Al-Qamus al-Is lam, IV/605; dan Mu’jam Al-Buldan, IV/60).

 

Ketika Kaum Tubba' Dibinasakan

Ketika Kaum Tubba' Dibinasakan


Fiqhislam.com - Kaum Tubba’ ini dahulunya merupakan kaum yang beriman, khususnya kepada ajaran Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa AS. Namun, akhirnya mereka ingkar, menyekutukan ajaran suci yang terdapat dalam Taurat sehingga dibinasakan oleh Allah.

Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat 37 surah Ad-Dukhan menjelaskan, kaum Tubba’ adalah nama yang diberikan kepada sekelompok penduduk yang dipimpin oleh raja-raja di Himyar yang setiap rajanya menggunakan gelar Tubba’, sebagaimana gelar Kisra pada raja di Persia dan Firaun pada raja-raja Mesir.

Di antara para raja Tubba’ yang terkenal bernama As’ad bin Kuraib bin Malikraba al-Yamani. Dia adalah penganut agama Yahudi dan mengajak rakyatnya memeluk agama Yahudi yang diajarkan Musa.

Ditambahkan Ibnu Katsir, ketika agama Yahudi masih murni sebagaimana diajarkan Musa, kaum Tubba’ ini pernah singgah di Kota Makkah, mengagungkan Ka’bah, berthawaf di sekelilingnya dan menyelimuti Ka’bah dengan kain panjang. Mereka juga pernah singgah di Samarkand.

Adapun raja yang paling kuat menurut Ibnu Asakir, adalah raja Damsyik. Dia menjadi raja selama 326 tahun dan memerintah paling lama. Konon, ia wafat sekitar 700 tahun sebelum Rasulullah SAW diutus.

Kaum Tubba’ yang beriman ini, sudah mengenal nama Rasulullah SAW, nabi akhir zaman sebagaimana terdapat dalam kitab Taurat dengan nama Ahmad. (Lihat surah Ash-Shaff [61] ayat 6.

Setelah itu, banyak kaum Tubba’ yang ingkar terhadap ajaran-ajaran yang diba wa oleh rasul-rasul berikutnya. Maka, Allah lalu membinasakan mereka.

 

Jejak Kaum Tubba'

Jejak Kaum Tubba'


Fiqhislam.com - Berbagai peninggalan kaum Tubba’ di Himyar, menunjukkan mereka adalah entrepreneur yang andal. Mereka mampu membangun pusat pengairan dan mengalirkannya ke area persawahan. Selain itu air yang melimpah sebagiannya mereka alirkan ke tangki-tangki penampung air untuk kebutuhan di musim kemarau.

Prof Dr M Suyanto, ketua STMIK AMIKOM Yogyakarta, dalam website pribadinya menulis, kaum Tubba’ atau Himyar adalah kaum Homerite yang merupakan kaum di Arab Selatan kuno yang menggantikan kaum Saba. Konon, kaum Himyar (Tubba’) ini sudah mempunyai peradaban sejak tahun 115 SM.

Salah satu peninggalan peradaban mereka adalah bendungan air. Reruntuhan bendungan tersebut terletak di Pegunungan Mudawwar di dekat Yarim. Zhafar (pada masa klasik disebut Sapphar dan Saphar, atau Sephar dalam Kitab Kejadian 10 : 30), kota di bagian dalam semenanjung sekitar 100 mil sebelah timur laut Mukha di atas jalan menuju Shana’a, adalah ibu kota Dinasti Himyar.

Kota itu menggantikan posisi Ma’rib, kota orang-orang Saba, dan Qarnaw, kota orang-orang Minea. Reruntuh annya masih dapat dilihat di puncak bukit dekat Kota Yarim. Pada masa penyusunan The Periplus, rajanya adalah Kariba-il Watar (Charibael, dalam The Periplus).

Kaum Himyar selama beberapa tahun menjadi perantara utama perdagangan antara Afrika dan Mediterania. Kaum Himyar membeli gading dari Afrika dan menjualnya ke daerah kekuasaan Romawi. Kapal kaum Himyar berlayar secara regular ke pantai Afrika Timur dan juga menggunakan pertimbangan kontrol secara politik terhadap kota perdagangan Afrika Timur.

Perdagangan kaum Himyar mulai menurun, setelah adanya dominasi dari kaum Nabasia yang berasal dari utara Hijaz dan superioritas Romawi atas perdagangan laut setelah Romawi menundukkan Mesir, Syiria, dan Utara Hijaz, serta terjadinya peperangan antarsuku di wilayah Himyar.

Mata uang

Bangsa Himyar sudah mempunyai mata uang sendiri, yang terbuat dari emas, perak, dan tembaga dengan menampilkan gambar wajah pada salah satu sisinya dan seekor burung hantu (lambang orangorang Athena) dan kepala banteng di sisi lainnya.

Beberapa uang logam yang lebih tua memuat gambar raja Athena, menunjukkan ketergantungan orang Arab Selatan kepada model-model Athena sejak abad ke-4 sebelum masehi. Di samping uang logam, ditemukan juga sejumlah patung perunggu karya pengrajin Yunani dan Sasaniyah dalam penggalian di Yaman. [yy/republika]