9 Safar 1443  |  Jumat 17 September 2021

basmalah.png

Melacak Sejarah Penerjemahan Al-Quran

Melacak Sejarah Penerjemahan Al-QuranFiqhislam.com - Pertama kali penerjemahan surah Alquran dilakukan ke dalam bahasa Persia.

Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai mukjizat dan petunjuk. Kitab suci umat Islam itu berfungsi sebagai petunjuk hidup bagi seluruh umat manusia.  Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah [2]:2, ‘’Kitab Alquran ini tak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang beriman.’’
   
Kitab suci Alquran diturunkan dalam bahasa Arab, namun agama Islam tak hanya berkembang di Jazirah Arab, namun hingga ke seantero dunia. Sejatinya, Alquran – sebagai kitab suci – tak hanya wajib dibaca, namun juga dikaji, dipahami, dan diamalkan.

Perintah untuk mengkaji, memahami dan mengamalkan ayat-ayat Alquran itu tercantum dalam surah Al-Qamar [54];17,  ‘’Dan sesungguhnya telah kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran.’’

Seiring berkembangnya ajaran Islam, maka muncullah keinginan dan kesadaran untuk menerjemahkan Alquran ke dalam berbagai bahasa yang ada di dunia. Upaya untuk menerjemahkan Alquran itu telah dimulai beberapa belas abad silam – ketika Islam mulai menyebar ke berbagai benua -- bahkan pada saat Rasulullah SAW masih hidup.
Menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa lain bukanlah pekerjaan mudah. Betapa tidak. Alquran merupakan mukjizat yang menggunakan bahasa ilahiyah, yang tak mungkin dapat ditandingi manusia manapun.

‘’Menerjemahkan Alquran selalu menjadi sebuah problematika dan isu  yang sulit dalam teologi Islam. Karena Muslim menghormati Alquran sebagai mukjizat dan tak bisa ditiru,’’ ujar Afnan Fatani (2006) dalam "Translation and the Qur'an". Terlebih,  kata-kata dalam Alquran memiliki berbagai arti tergantung pada konteks, sehingga untuk membuat sebuah terjemahan yang akurat amatlah sulit.

Menerjemahkan Alquran bukanlah usaha untuk menduplikasi atau mengganti teks Alquran yang asli. Kedudukan terjemahan dan tafsir yang dihasilkan manusia tidak sama dengan Alquran itu sendiri. Keaslian dan kemurnian Alquran dijaga oleh tangan Ilahi.

‘’Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Alquran, dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.’’ (QS Al-Hijr [15]:9). ‘’Usaha manusia dalam menterjemahkan bahasa ilahiyah sangat tergantung pada kapasitas manusia itu sendiri,’’ ungkap Ziyadul Ul Haq dalam bukunya Psikologi Qurani.

Lalu sejak kapan upaya penerjemahan Alquran ke dalam bahasa lain mulai dilakukan? Menurut Afnan Fatani (2006) dalam "Translation and the Qur'an". Upaya menerjemahkan ayat-ayat Alquran boleh dibilang pertama kali dilakukan pada era Rasulullah SAW. Suatu hari, Nabi Muhammad pernah berkirim surat kepada dua penguasa, yakni Kaisar Negus dari Abysssinia dan Kaisar Heraclius dari Bizantium.

‘’Dalam surat itu, Rasulullah mencantumkan ayat-ayat dari Alquran,’’ papar Afnan. Dalam sebuah sarasehan ilmiah bertajuk ‘’Melacak Sejarah Penerjemahan Alquran’’ yang diselenggarakan Universitas Islam Madinah Al Munawwarah akhir 2007 lalu, terungkap bahwa pertama kali penerjemahan surah Alquran  dilakukan ke dalam bahasa Persia.
Guru Besar Sastra Arab Universitas Islam Madinah Al Munawwarah, Syekh Tamir Salum, mengungkapkan, berdasarkan data sejarah, permintaan untuk menerjemahkan Alquran diajukan oleh umat Islam dari Persia. Mereka memohon kepada Salman Al-Farisi untuk menerjemahkan kepada mereka beberapa ayat Alquran.

‘’Salman kemudian menerjemahkan untuk Muslim Persia tersebut surat Al-Fatihah. Salman merupakan salah seorang sahabat Nabi SAW yang berasal dari non-Arab. Ia berasal dari desa Ji di Isfahan, Persia,’’ papar Syekh Salum. Menurut dia, terjemahan yang terbanyak dan diulang berkali-kali adalah ke bahasa Melayu, Indonesia dan Turki.

Versi lengkap
Sedangkan, penerjemahan Alquran secara lengkap pertama kali dilakukan pada  884 M di Alwar (Sindh, India sekarang bagian dari Pakistan). Terjemahan Alquran tersebut, sebagaimana dikutip dari laman Wikipedia, dibuat atas perintah Khalifah Abdullah bin Umar bin Abdul Aziz. Saat itu, penguasa Hindu, Raja Mehruk memohon agar kitab suci umat Islam itu diterjemahkan.

Sebuah terjemahan Alquran berbahasa Persia dari abad ke-11 M juga telah ditemukan. Namun hingga saat ini tidak diketahui siapa pemilik karya terjemahan yang diberi judul Qur'an Quds ini. Afnan menambahkan, seorang cendekiawan terkemuka Shah Waliullah juga pernah menerjemahkan Alquran secara lengkap kedalam bahasa Persia.
Sedangkan, Shah Rafiuddin dan Shah Abdul Qadir menerjemahkan Alquran secara lengkap ke dalam bahasa Urdu. ‘’Pada 1936, barulah terdapat terjemahan Alquran ke dalam 102 bahasa yang ada di dunia,’’ papar Afnan.

Syekh Salum memaparkan, Alquran  telah diterjemahkan ke berbagai bahasa Eropa dan disusul ke dalam bahasa bangsa-bangsa Asia. Namun, kata dia, sangat disayangkan masih adanya perbedaan antara terjemahan Alquran di negara-negara Asia dan Eropa.

‘’Perbedaan tersebut terjadi karena di Eropa banyak terjadi distorsi, baik berupa penambahan atau pun pengurangan. Selain itu, orang-orang Eropa menganggap Alquran sebagai teks biasa, tidak sama dengan orang-orang Asia yang sangat menjunjung tinggi kesucian Alquran,’’ tutur Syekh Salum.

Penerjemahan Alquran ke berbagai bahasa Afrika, ungkap Salum, baru dilakukan pada saat para penjajah Barat datang ke benua hitam itu. Yang melatarbelakangi upaya penerjemahan tersebut, kata dia, adanya desakan dan permintaan kaum Muslimin Afrika karena kebutuhan yang mereka rasakan.

Dibukukan
Upaya pembukuan karya terjemahan Alquran mulai dilakukan oleh orang-orang Eropa pada abad ke-12 M. Adalah Kepala biara Gereja Cluny, Petrus Agung atau Peter The Venerable asal Prancis, menurut el-Hurr dalam tulisannya yang berjudul "Barat dan Alquran: Antara Ilmu dan Tendensi", yang pertama kali menerjemahkan Alquran secara tertulis pada 1143 M.

Dibantu seorang teolog abad pertengahan berkebangsaan Inggris, Robertus Ketenensis atau juga dikenal dengan nama Robert dari Ketton, dan Hermannus Dalmatin atau juga dikenal dengan nama Herman dari Carinthia, Petrus Agung kemudian menerjemahkan teks Alquran ke dalam bahasa Latin yang diberi judul 'Lex Mahumet Pseudoprophete'. Menurut el-Hurr, Petrus Agung menerjemahkan Alquran untuk mendapatkan pengetahuan tentang kitab suci umat Islam yang pada zamannya menjadi agama yang berkembang pesat di Andalusia, Spanyol. Salinan terjemahan tersebut sekitar empat abad lamanya hanya dimiliki oleh pihak gereja untuk dipelajari dan tidak diizinkan dicetak di luar gereja dengan alasan supaya umat Kristen tidak mempunyai kesempatan mempelajari Alquran terjemahan tersebut, hingga tidak akan ada penganut Kristen yang murtad dari agamanya.

Pertengahan abad ke-16 M, tepatnya 1543, di bawah pengawasan seorang berkebangsaan Swiss bernama Theodor Bibliander, terjemahan ini kemudian dicetak ulang untuk pertama kalinya. Pada 1550, untuk kedua kalinya terjemahan Alquran ini dicetak ke dalam tiga jilid, meskipun terdapat banyak kesalahan dan kekeliruan yang tidak sedikit dalam terjemahan karya Petrus itu.

Meski begitu, terjemahan Alquran karya Petrus tersebut dapat diterima oleh bangsa Eropa, dan dalam waktu singkat menyebarluas di tengah-tengah masyarakat non-Muslim. (republika.co.id)

 

Jejak Penerjemahan Al-Quran di Dunia Barat

Jejak Penerjemahan Al-Quran di Dunia BaratTerjemahan Alquran 'Lex Mahumet pseudoprophete' karya Petrus Agung dapat diterima oleh bangsa Eropa. Dan dalam waktu singkat menyebarluas di tengah-tengah masyarakat non-Muslim. Bahkan, terjemahan tersebut menjadi referensi terjemahan Alquran untuk bahasa-bahasa lain, seperti  Italia, Inggris, Jerman, Prancis, dan Belanda.

* Terjemahan Latin
Meski terjemahan Alquran pertama dalam bahasa Latin dibuat oleh Petrus Agung, namun terjemahan Alquran berbahasa Latin yang paling masyhur adalah milik Louis (Ludovico) Maracci, seorang pastur berkebangsaan Italia. Terjemahan Alquran karya Maracci itu menyertakan teks Arab dan ulasan panjang yang berisi penolakan terhadap Islam pada  1691. Terjemahan Alquran karya Marracci itu kemudian dicetak di Eropa pada  1697.
Sebelumnya, sekitar tahun di tahun 1209 atau 1210, upaya penerjemahan Alquran ke dalam bahasa Latin juga telah dilakukan oleh Marco de Toledo. Marco de Toledo adalah seorang dokter dan pastur berkebangsaan Spanyol. Pada periode selanjutnya, penerjemahan Alquran ke bahasa Latin juga dilakukan oleh Abraham Hanclemann, seorang pendeta di Hamburg, Jerman. Kemudian, Hankelmann mencetak terjemahan Alquran tersebut pada 1694.

* Terjemahan Italia
Terjemahan Alquran berbahasa Italia adalah terjemahan pertama ke dalam bahasa bangsa-bangsa Eropa modern. Versi terjemahan bahasa Italia itu pertama kali diterbitkan pada 1547 di kota Venice dengan nama L'Alcorano di Macometto. Terjemahan Alquran bahasa Italia karya Andrea Arrivabene tersebut merupakan hasil menerjemahkan karya terjemahan Petrus Agung. Setelah karya Arrivabene ini, tidak lagi ditemukan karya-karya terjemahan Alquran berbahasa Italia lainnya hingga  1882 sebuah terjemahan Alquran berjudul Il Corano diterbitkan di kota Milan.
 
* Terjemahan Inggris
Selama periode 1649 hingga 1970, lebih dari 295 terjemahan sempurna dan 131 terjemahan terpencar atau pilihan-pilihan dari Alquran dilakukan ke dalam bahasa Inggris. Karena memiliki beberapa keistimewaan, beberapa di antara terjemahan ini dicetak beberapa kali. Karya terjemahan Alquran versi bahasa Inggris pertama kali dibuat oleh Alexander Ross pada 1649 dengan mengadopsinya dari terjemahan Alquran berbahasa Prancis, L'Alcoran de Mahomet.

Namun, dari sekian banyak terjemahan Alquran dalam bahasa Inggris, terjemahan milik George Sale adalah yang paling terkenal.  Sale merupakan seorang orientalis berkebangsaan Inggris. Ia menerjemahkan Alquran pada 1734, dan diberi judul The Alcoran of Mohammed. Terjemahan Alquran karya Sale ini bahkan menjadi salah satu koleksi buku yang dimiliki oleh pendiri Amerika Serikat Thomas Jefferson.
Sejumlah sumber sejarah menyebutkan terjemahan karya Sale ini sudah dicetak sebanyak 35 kali. Sedangkan dalam Ensiklopedia Dunia Penerjemahan Alquran, karya Sale ini telah dicetak ulang sebanyak 105 kali.

* Terjemahan Jerman
Pendeta Gereja Noremberg, Salomon Schweigger, adalah orang yang pertama kali melakukan penerjemahan Alquran ke dalam bahasa Jerman. Ia menerjemahkan Alquran tersebut dari sebuah terjemahan Alquran berbahasa Italia karya Andrea Arrivabene. Terjemahan karya Schweigger ini dicetak pertama kali pada 1616 dan diberi nama Alcoranus Mahometicus. Karya Schweigger ini dicetak ulang pada tahun 1623, 1659 dan 1664 dalam wajah baru.

Pada tahun 1708, terjemahan baru Alquran dalam bahasa Jerman dilakukan oleh Joseph Von Hammer. Namun dari sekian banyak  versi terjemahan bahasa Jerman ini, terjemahan Alquran yang paling bagus dan paling teliti dalam bahasa Jerman adalah karya Rudi Paret. Terjemahan Paret itu telah dicetak dalam edisi revisi sebanyak 16 kali. Sampai sekarang terdapat sekitar 43 karya terjemahan Alquran dalam bahasa Jerman.

* Terjemahan Prancis
Penerjemahan Alquran ke dalam bahasa Prancis dilakukan pertama kali oleh Andre du Ryer pada  1647 yang sebelumnya tinggal lama di Istanbul dan Mesir. Du Ryer yang merupakan orientalis berkebangsaan Prancis itu memiliki penguasaan terhadap bahasa Arab secara baik. Ia menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Prancis langsung dari teks aslinya bahasa Arab. Judul terjemahannya diberi nama L'Alcoran de Mahomet (Qur'an Muhammad) dan dicetak di Paris. Sampai tahun 1775, terjemahan ini telah dicetak ulang sebanyak 20 kali dan memiliki introduksi berjudul 'Sekilas Tentang Mazhab-Mazhab Bangsa Turki'. 

Namun dari sekian banyak terjamahan Alquran versi bahasa Prancis, terjemahan yang paling bagus adalah milik C Savari. Terjemahan tersebut pertama kali dicetak di Paris pada tahun 1750 dan mengalami cetak ulang sebanyak 28 kali pada 1788. Karya terjemahan Alquran berbahasa Prancis yang terbaru adalah yang dilakukan oleh seorang ahli budaya dan bahasa Arab dan dosen senior pada Universitas Prancis. Terjemahan yang menyertakan penjelasan dan ulasan terhadap Alquran itu dicetak pertama kali pada 1990.

* Terjemahan Belanda
Karya terjemahan Alquran dalam bahasa Belanda pertama kali dibuat pada 1641 di kota Hamburg, Jerman, dengan nama De Arabische Alkoran. Namun tidak diketahui siapa penulis karya tersebut. Yang dapat diketahui hanyalah terjemahan tersebut mengadopsi dari terjemahan Alquran berbahasa Jerman karya Salomon Schweigger.

Pada tahun 1658, Hendrik Jan Glasemaker membuat sebuah terjemahan Alquran berbahasa Belanda yang diberi judul Mahomets Alkoran. Ia menerjemahkan Alquran bersumberkan pada sebuah terjemahan Alquran versi bahasa Prancis. Upaya ini kemudian disusul oleh penulis Belanda lainnya, LJA Tollens yang menerbitkan karya terjemahan Alquran bahasa Belanda pada tahun 1859.

Edisi Alquran dua bahasa (Belanda-Arab) mulai diterbitkan pada 1953 di Rabwah, Pakistan dengan judul De Heilige Qor'aan. Kemudian disusul dengan penerbitan edisi serupa pada 1989 dengan nama De Koran. Sementara karya terjemahan Alquran berbahasa Belanda yang terbilang baru adalah yang dibuat oleh Kader Abdolah tahun 2008 lalu.
(republika.co.id)

 

Inilah Para Tokoh Perintis Penerjemahan Al-Quran

Inilah Para Tokoh Perintis Penerjemahan Al-Quran* Salman Al-Farisi
Sahabat Rasulullah SAW ini merupakan orang yang pertama kali menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa lain. Dalam sejarah disebutkan ia menerjemahkan surat Al-Fatihah secara lisan ke dalam bahasa Persia atas permintaan orang-orang Muslim Persia. Namun terjemahan Al-Farisi ini belum mencakup keseluruhan surah dalam Alquran, hanya surah  Al-Fatihah.
 
* Petrus Agung (1092-1156)
Kepala biara Gereja Cluny, Prancis ini adalah tokoh Barat yang pertama kali menggagas upaya penerjemahan Alquran. Dengan bantuan seorang theolog abad pertengahan berkebangsaan Inggris, Robertus Ketenensis (1110-1160), dan muridnya Hermannus Dalmatin (1110-1160), ia menerjemahkan teks Alquran ke dalam bahasa Latin yang diberi judul 'Lex Mahumet pseudoprophete' pada tahun 1143 M.

* Louis (Ludovico) Maracci (1612-1700)
Terjemahan Alquran berbahasa Latin yang paling masyhur dan banyak menjadi rujukan adalah milik Louis (Ludovico) Maracci, seorang pastur berkebangsaan Italia. Terjemahan Alquran karya Maracci ini menyertakan teks Arab dan ulasan panjang yang berisi penolakan terhadap Islam.

* Andre du Ryer (1580-1660)
Orientalis berkebangsaan Prancis ini merupakan tokoh yang pertama kali membuat terjemahan Alquran berbahasa Prancis. Ia menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Prancis langsung dari teks aslinya bahasa Arab. Pengalamannya tinggal lama di Istanbul dan Mesir membuatnya menguasai bahasa Arab dengan baik. Karyanya ini diberi nama L'Alcoran de Mahomet.

* Salomon Schweigger (1551-1622)
Pendeta Gereja Noremberg ini adalah orang yang pertama kali melakukan penerjemahan Alquran ke dalam bahasa Jerman. Ia menerjemahkan Alquran tersebut dari sebuah terjemahan Alquran berbahasa Italia. Terjemahan karya Schweigger ini diberi nama Alcoranus Mahometicus.

* Andrea Arrivabene (1534-1570)
Versi terjemahan Alquran dalam bahasa Italia pertama kali dibuat oleh Andrea Arrivabene. Karya terjemahan yang diberi nama L'Alcorano di Macometto ini merupakan hasil menerjemahkan karya terjemahan Petrus Agung.

* Hendrik Jan Glasemaker
Ia merupakan orang pertama yang diketahui membuat terjemahan Alquran dalam bahasa Belanda. Ia menerjemahkan Alquran bersumberkan pada sebuah terjemahan Alquran versi bahasa Prancis. Terjemahan karya Glasemaker ini diberi judul Mahomets Alkoran.

* Alexander Ross (1590-1654)
Ia adalah orang yang pertama kali menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Inggris. Alquran terjemahan Ross ini dibuat pada tahun 1649 dengan mengadopsinya dari terjemahan Alquran berbahasa Prancis, L'Alcoran de Mahomet. (republika.co.id)

 

Jejak Penerjemahan Al-Quran di Indonesia

Jejak Penerjemahan Al-Quran di IndonesiaPenerjemahan Alquran  ke dalam bahasa  Melayu telah dilakukan sejak pertengahan abad ke-17 M. Adalah  Abdul Ra'uf Fansuri, seorang ulama dari Singkel (sekarang masuk wilayah Aceh) yang pertama kali menerjemahkan Alquran secara lengkap di bumi Nusantara.

Meski terjemahannya boleh disebut kurang sempurna dari ditinjauan ilmu bahasa Indonesia modern, Abdul Ra'uf Fansuri bisa dikatakan sebagai tokoh perintis penerjemahan Alquran berbahasa Indonesia. Setelah munculnya terjemahan Alquran karya Abdul Ra'uf Fansuri, hampir tak ditemukan lagi terjemahan Alquran dalam bahasa Indonesia hingga abad ke-19 M.

Abdur Ra’uf  menimba di Arab Saudi sejak 1640. Ia kembali ke Tanah Air pada 1661. Ulama terkemuka itu lalu menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Melayu dalam tafsir Tarjuman al-Mustafid.  Tafsir Alquran pertama di Nusantara itu disambut umat Islam yang bersemangat mempelajari dan memahami isi ajaran Alquran.

Selain di Indonesia, tafsir tersebut juga digunakan oleh umat Islam di  Singapura dan Malaysia. Tafsir itu pernah diterbitkan di Singapura, Penang, Bombay, Istanbul (Matba’ah al-usmaniah, 1302 H/ 1884 M dan 1324 H/ 1906 M), Kairo (Sulaiman al-Maragi), serta  Makkah (al-Amiriah).

Sedikitnya ada dua pendapat besar mengenai tafsir yang ditulis Abdul Ra’uf itu. Pertama, orientalis asal Belanda, Snouck Hurgronje menganggap bahwa terjemah tersebut lebih mirip sebagai terjemahan tafsir al-Baidaiwi. Rinkes, murid Hurgronje, menambahkan bahwa selain sebagai terjemahan tafsir al-Baidawi,  karya ulama asal Aceh itu juga mencakup terjemahan tafsir Jalalain.

Kedua,  Riddel dan Harun memastikan bahwa Tarjuman Al-Mustafid adalah terjemahan tafsir Jalalain, hanya pada bagian tertentu saja tafsir tersebut memanfaatkan tafsir al-Baidaiwi dan tafsir al-Khanzin.  Abdul Ra’uf, menurut kedua ahli itu, cenderung memilih tafsir Jalalain. Secara emosional, Singkel memiliki runtutan sanad itu dapat ditelusuri melalui gurunya, baik al-Qusyasyi maupun atau al-Kurani.

Menurut Azyumardi Azra, Abdul Ra’uf menulis terjemahan Alquran ke dalam bahasa Melayu dalam perlindungan dan fasilitas penguasaan Aceh, ketika itu. Ia sangat yakin, karya besar itu ditulis di Aceh. Tarjuman Mustafid  karya Abdul Ra’uf merupakan salah satu petunjuk besar dalam sejarah keilmuan Islam, khususnya tafsir di tanah Melayu.

Penerjemahan generasi kedua  di Indonesia muncul pada pertengahan tahun 60-an. Baru di awal abad ke-20 M, sejumlah karya-karya terjemahan Alquran lengkap dengan tafsirnya dibuat. Di antara karya-karya tersebut adalah Al-Furqan oleh A Hassan dari Bandung (1928), Tafsir Hidayatur Rahman oleh KH Munawar Chalil, Tafsir Qur'an Indonesia oleh Mahmud Yunus (1935), Tafsir Al-Qur'an oleh H Zainuddin Hamid cs (1959), Tafsir Al-Qur'anil Hakim oleh HM Kasim Bakry cs (1960).

Munculnya terjemah atau tafsir lengkap, menandai lahirnya generasi ketiga pada tahun 70-an. tafsir generasi ini biasanya memberi pengantar metodologis serta indeks yang akan lebih memperluas wacana masing-masing. tafsir An-Nur/Al-Bayan (Hasbi Ash-Shiddieqi, 1966), Tafsir Al-Azhar (Hamka, 1973), Tafsir Al-Quranul Karim (Halim Hasan cs, 1955) dianggap mewakili generasi ketiga.

Kendati karya-karya terjemahan Alquran berbahasa Indonesia masih terbilang sedikit, namun pemerintah Republik Indonesia menaruh perhatian besar terhadap terjemahan Alquran ini. Hal ini terbukti bahwa penerjemahan Alquran  masuk dalam Pola I Pembangunan Semesta Berencana, sesuai dengan keputusan MPR.

Untuk melaksanakan program ini Kementerian Agama pada masa itu telah membentuk sebuah lembaga Yayasan Penyelenggara Penterjemah / Penafsir Alquran yang diketuai oleh Prof RHA Soenarjo SH, mantan Rektor IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, waktu itu. Tim ini beranggotakan para ulama dan para sarjana Islam yang mempunyai keahlian dalam bidangnya masing-masing.

Pada masa Orde Baru, dari Repelita ke Repelita, pemerintah selalu mencetak kitab suci Alquran. Pada Repelita V (1984-1989), misalnya, telah dicetak 3.729.250 buah Alquran, terdiri dari Mushaf Alquran, Juz 'Amma, Alquran dan Terjemahannya, serta Alquran dan Tafsirnya.

Atas masukan dan saran masyarakat serta pendapat Musyawarah Kerja Ulama Alquran ke XV (23-25 Maret 1989), terjemah dan tafsir Alquran tersebut disempurnakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama bersama Lajnah Pentashih Mushaf Alquran. (republika.co.id)

 

Oleh: Nidia Zuraya