25 Dzulhijjah 1442  |  Rabu 04 Agustus 2021

basmalah.png

Alasan Medis Mengapa Delima Disebutkan dalam Al-Quran

Alasan Medis Mengapa Delima Disebutkan dalam Al-Quran


Fiqhislam.com - Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, kurma dan delima adalah buah yang lebih unggul dibandingkan lainnya. Tradisi kedokteran Islam dulu juga memanfaatkan delima untuk pengobatan, seperti yang dilakukan ar-Razi (854–925) dan Ibnu Sina (980-1037).

Manfaat pengobatan buah ini tersebar luas ke berbagai penjuru dunia, seperti di timur, mediterania, dan Afrika. Delima tercatat dalam obat-obatan yang menyembuhkan 15 penyakit (Levin GM: 2006).

Di antara khasiat buah ini adalah menjaga kesehatan jantung dan usus, mencegah cacing pita, dan menyembuhkan disentri. Ibnu Sina menyebut kegunaan lainnya dari delima, yakni kulit buahnya mampu mengusir serangga. 

Di alam, burung-burung kerap memakai kulit delima sebagai unsur penyusun sarangnya. Alhasil, hama pengganggu tidak menjangkiti di dekat telur-telur mereka.

Delima juga berfaedah untuk kosmetik. Mengutip buku Mukjizat Kedokteran Nabi,  kulit delima yang telah dihangatkan dalam air mendidih dapat dicampur dengan ekstrak pohon inai. 

Campuran itu lantas ditumbuk hingga halus, kemudian dibalurkan pada rambut. Efeknya, rambut akan tampak segar, berkilau, serta mencegah kerontokan. 

Manfaat lainnya dari kulit delima untuk membunuh cacing pita di usus. Caranya dengan direbus, lalu minumlah air hangat dari hasil rebusan itu. Cendekiawan besar Muslim, Ibnu Sina, termasuk yang menyarankan metode tersebut.

Berbicara soal nutrisi, setiap buah delima mengandung 10 persen zat pemanis, satu persen asam limun, 80 persen air, dan tiga persen protein. Di dalamnya juga terdapat kandungan vitamin A, B, C, dan D serta kadar besi, kalsium, potasium, dan fosfor.

Bulir-bulir delima juga menjadi sumber yang baik untuk kebutuhan serat harian. Bagi mereka yang ingin diet, mengonsumsi buah ini meski hanya dalam porsi kecil, sudah membantu mengurangi keinginan makan karena rasa kenyang yang awet.

Untuk menjaga daya tahan tubuh, memakan buah delima juga menjadi opsi yang disarankan. Buah ini bahkan digelari superfood lantaran mengandung antioksidan yang amat baik untuk mendukung kekebalan tubuh dari bibit-bibit penyakit. 

Delima diketahui mampu memenuhi asupan 40 persen kebutuhan vitamin C harian. Khasiatnya juga untuk menurunkan kadar kolestrol, melancarkan aliran darah, sehingga mencegah serangan jantung.

Merujuk pada buku Health Secret of Delima, buah delima yang dihaluskan dapat menjadi ramuan penghalus kulit. Bila disajikan dalam bentuk jus siap minum, delima berkhasiat meredakan radang tenggorokan.

Dengan rutin mengonsumsi satu gelas jus delima setiap hari, seseorang akan memeroleh asupan senyawa antioksidan polifenol 100 miligram.

Manfaatnya mengikis sel-sel kanker serta memulihkan dinding arteri agar tidak mengalami pengerasan. Ingat juga, biji delima sangat dianjurkan untuk dikonsumsi. 

Saat membuat jus, jangan sampai biji delima dibuang karena di sanalah kandungan polifenol. Antioksidan zat ini dinilai mampu mengurangi risiko penyakit jantung dan sakit pembuluh darah serta kanker. Pelbagai riset membuktikan bahwa polifenol berpotensi mengurangi risiko penyakit Alzheimer.

Bagi kaum hawa, bukan tanpa alasan delima dikaitkan dengan femininitas. Penelitian University of California, Amerika Serikat, menyebutkan bahwa buah tersebut memiliki efek ekstrogenik. 

Artinya, kandungan delima dinilai bisa menangkal gangguan-gangguan menopause serta mencegah timbulnya sel-sel kanker pada organ reproduksi. 

Antioksidan delima diketahui khasiatnya lebih tinggi daripada teh hijau. Jus delima juga bermanfaat untuk menghambat pertumbuhan sel kanker prostat.

Dalam ilmu kedokteran Timur, delima sudah lama dipakai untuk menyembuhkan sakit cacingan atau penawar racun. Khasiatnya untuk membersihkan sistem pencernaan sudah diketahui dan diterapkan oleh tabib-tabib tradisional Cina. Demikian pula bangsa Arab, India, dan Afrika Utara. 

Barulah ketika masa Perang Salib, orang-orang Eropa mulai “menemukan kembali” khasiat delima, buah yang sudah melegenda sejak era Yunani Kuno. 

Pakar pengobatan Yunani dari abad pertama Masehi, Dioscorides, telah menemukan efek dari delima yang menyembuhkan penderita sakit cacingan. 

Tidak hanya buahnya. Kulit pohon delima juga menjadi sumber ramuan penyembuh luka luar. Bunganya dipakai sebagai pewarna tekstil alami.

Dari Manakah Asal Buah Delima

Rasulullah SAW memuji delima sebagai penyembuh bagi tubuh. Dalam surah al-An’am ayat ke-99, Allah menyebut buah delima, setelah zaitun, anggur, dan kurma, dan berpesan bahwa “Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman.” Demikian pula pada surah al-An’am ayat 141. 

Bahkan, dalam surah ar-Rahman ayat 68, Allah mengungkapkan bahwa delima adalah salah satu dari buah-buahan di surga. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” begitu bunyi peringatan Allah berkali-kali dalam surah yang teramat indah itu.

Sejak ribuan tahun lalu, manusia sudah menikmati delima baik sebagai makanan maupun obat. Buah ini diperkirakan berasal dari Asia Barat dan menyebar ke wilayah sekitar.

Hebron yang kini menjadi bagian dari Israel masyhur dengan delima yang sudah ditanam sejak zaman Nabi Musa. Mesir, Yunani kuno, dan Romawi adalah peradaban yang dikenal memanen buah ini.

Sejumlah temuan arkeologis menemukan sisa tanaman delima, seperti biji dan kulitnya di sekitar Siprus, Israel, Irak, Yordania, Lebanon, Palestina, Suriah, dan Turki. Benda itu diperkirakan sudah ada sejak 3.000 tahun sebelum masehi (DT Potts: 2012).

Masih di daerah yang sama, penelitian arkeologis juga menemukan artefak buah delima yang diperkirakan menjadi bagian Kuil Sulaiman. Pilar Kuil itu juga digambarkan berhias buah delima pada bagian atasnya.

Masyarakat Hyksos di daerah Tell el-Dab'a sekitar sungai Nil Mesir juga mengembangkan tanaman delima. Setelah memanennya, mereka menjual hasil bumi ini ke pasar dalam negeri.

Sebagian lainnya diekspor ke wilayah lain melalui perairan. Penjualan ini meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat, sekaligus menjadikan area tadi terkenal dengan hasil pertanian yang subur.

Buah ini digambarkan dalam hieroglif dinding kuburan Fir’aun, seperti Thutmosis. Delima menjadi buah primadona masyarakat Mesir. Pohonnya menjadi hiasan pekarangan mereka pada 1.600 sebelum masehi. Buahnya menjadi santapan bangsawan istana yang hidup penuh kenikmatan.

Romawi juga menanam dan memanen tanaman ini. Dahannya menjadi hiasan kepala pengantin wanita sebagai simbol kesuburan dan menunjukkan status pernikahan. Zoroaster juga menggunakan delima sebagai simbol kehidupan sesudah mati.

Pasukan Sparta yang dipimpin Xerxes (511-465 SM) digambarkan membawa tombak dan delima ketika menginvasi Yunani pada 480 sebelum masehi.

Mereka adalah tentara yang ditakuti di zamannya. Meski berjumlah terbatas, pasukan Xerxes tangguh dan mampu menghadapi militer Persia yang berhasil menjajah banyak kawasan.

Buah ini juga disebutkan dalam mitologi Yunani dan digambarkan dalam sejumlah karya seniman Barat. Lukisan itu menampakkan Persephone memegang delima pemberian Hades.

Terkait penamaan, dapat ditelusuri dalam sejarah dengan memerhatikan terminologi ilmiahnya, Punica granatum. Punica merupakan istilah yang dipakai bangsa Romawi Kuno untuk menyebut penduduk Fenisia (bahasa Inggris: Phoenicia)di pesisir Afrika Utara. Fenisia memiliki ibu kota Kartago, kini wilayah negara Tunisia. Masyarakat Roma menyebut delima sebagai malum punicum, “apel Punic”, karena buah itu didatangkan dari sana. 

Dalam keilmuan taksonomi, genus punica terbilang istimewa karena hanya terdiri atas dua spesies, yakni protopunica dan delima. Protopunica adalah leluhur genus tersebut dan tergolong endemik karena hanya ditemukan di Pulau Saqatra, sekitar Yaman Selatan.

Adapun istilah granatum merupakan bentuk jamak dari kata bahasa Latin granum  yang artinya ‘biji-bijian’ (bahasa Inggris: grain). Ed Stover dan Eric W Mercuredalam artikelnya, “The Pomegranate: A New Look at the Fruit of Paradise”, mencontohkan, masyarakat Amerika Serikat sampai kini masih menyebut delima sebagai seedy apple, ‘apel yang berbiji banyak.’ 

Dalam bahasa Prancis, terjemahan delima adalah grenade, sehingga tidak beda daripada granat tangan (bahasa Inggris: grenade). Buah tersebut memang menyerupai bentuk granat.

Dalam bahasa Spanyol, delima adalah granada, yang mengingatkan kita pada salah satu pusat kosmopolitan di Andalusia, kota Granada. Di sanalah lokasi istana Alhambra, yang tercatat sebagai situs warisan dunia versi UNESCO. Penyebutan delima dalam bahasa Spanyol mungkin karena Granada sebagai sentra perniagaan dibanjiri pelbagai komoditas, termasuk buah tersebut.

Sebuah teori juga menyebut bahwa buah yang kaya serat ini berasal dari daerah Persia (Iran) ribuan tahun silam. Di sana, namanya lebih dikenal sebagai anar. Bangsa Iran telah membuat kebun-kebun delima setidak-tidaknya sejak 3.000 tahun SM.  [yy/republika]

 

Tags: Delima | Quran