25 Syawal 1443  |  Jumat 27 Mei 2022

basmalah.png

Menyadap Kekuatan Al-Quran

Menyadap Kekuatan Al-Quran

Fiqhislam.com - Sebuah ilustrasi menarik pernah disampaikan oleh KH Zainuddin MZ dalam satu ceramahnya, yaitu bahwa janganlah seorang Muslim bersikap terhadap Alquran seperti seorang lurah yang menerima surat dari seorang gubernur, yang selalu membacanya siang-malam, dicium sebelum dan setelah membacanya, diletakkan di tempat yang tinggi, tetapi lupa melaksanakan perintah yang terkandung di dalam surat tersebut.

Ilustrasi dai sejuta umat itu tentang bagaimana seharusnya umat Islam bersikap terhadap Alquran sangat ringan, tetapi berdimensi sangat serius. Sangat serius sebab Alquran tidak saja indah dan mengundang pahala serta keberkahan saat dibaca, lebih jauh lagi sangat jelas perintah agar Alquran benar-benar diamalkan dalam keseharian.

Allah Ta'ala berfirman, Hai Yahya, ambillah al-Kitab itu dengan sungguh-sungguh. (QS Maryam [19]: 12). Maksudnya adalah pelajari, hayati, pahami, dan pusatkan segala perhatian dan kemampuan terhadap Alquran, tentu saja semua itu agar diri mantap dalam mengamalkannya dalam kehidupan.

Sayidina Ali bin Abi Thalib berkata, Tidak ada gunanya ibadah yang tidak disertai dengan pemahaman. Begitu pula dengan bacaan Alquran dengan tanpa penghayatan.

Oleh karena itu, metode para sahabat Nabi dalam mempelajari Alquran sangatlah tertata dan sistematis. Manna al-Qaththan dalam kitabnya, Mabahits Fii `Ulumi Alquran, menjelaskan bagaimana para sahabat mempelajari Alquran. Mereka tidak menambah pelajaran Alquran sebelum yang telah dipelajarinya dibaca, dihafal, dan diamalkan.

Dengan metode tersebut, Alquran benar-benar bersarang di dalam sistem kesadaran diri para sahabat. Dalam bahasa Ibrahim Eldeeb pada bukunya, Masyru'uk Khas Ma'a Alquran, mereka merasakan pengaruh Alquran dalam kehidupan.

Pengaruh itu hadir sebagaimana kandungan ayat-ayat yang dibaca, seperti sedih, takut, penuh harapan, keinginan berjihad, dan mati sebagai syahid di jalan Allah, cinta keadilan, optimistis akan janji kemenangan dari-Nya, yakin doa-doanya dikabulkan, dan seterusnya.

Sebagaimana pengaruh yang dirasakan Nabi kala Ibnu Mas'ud membacakan Alquran untuknya yang berisi, Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti) apabila Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu. (QS. An-Nisa [4]: 41). Kedua mata beliau langsung meneteskan air mata dan meminta Ibnu Mas'ud mencukupkan bacaannya.

Pengaruh luar biasa juga dialami Umar bin Khatthab. Bahkan, beliau sampai jatuh sakit selama sebulan karena merasakan takut luar biasa akan ancaman Allah yang terkandung di dalam ayat, Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi. (QS at-Thur [52]: 7).

Peristiwa lain dialami oleh Haritsah, Bagaimana keadaanmu pagi ini, wahai Haritsah? Ia menjawab, Seakan aku melihat singgasana Tuhanku terpampang jelas, sementara penduduk surga bersenang-senang di dalam surga dan penduduk neraka tersiksa di dalam neraka. Haritsah hidup dengan semangat tinggi karena penghayatannya dalam membaca Alquran. Untuk itu, marilah membaca Alquran dengan niat untuk bisa menyadap dan menyedot kekuatan Alquran sehingga hidup kita benar-benar sesuai dengan Alquran.

 

Menyadap Kekuatan Al-Quran

Fiqhislam.com - Sebuah ilustrasi menarik pernah disampaikan oleh KH Zainuddin MZ dalam satu ceramahnya, yaitu bahwa janganlah seorang Muslim bersikap terhadap Alquran seperti seorang lurah yang menerima surat dari seorang gubernur, yang selalu membacanya siang-malam, dicium sebelum dan setelah membacanya, diletakkan di tempat yang tinggi, tetapi lupa melaksanakan perintah yang terkandung di dalam surat tersebut.

Ilustrasi dai sejuta umat itu tentang bagaimana seharusnya umat Islam bersikap terhadap Alquran sangat ringan, tetapi berdimensi sangat serius. Sangat serius sebab Alquran tidak saja indah dan mengundang pahala serta keberkahan saat dibaca, lebih jauh lagi sangat jelas perintah agar Alquran benar-benar diamalkan dalam keseharian.

Allah Ta'ala berfirman, Hai Yahya, ambillah al-Kitab itu dengan sungguh-sungguh. (QS Maryam [19]: 12). Maksudnya adalah pelajari, hayati, pahami, dan pusatkan segala perhatian dan kemampuan terhadap Alquran, tentu saja semua itu agar diri mantap dalam mengamalkannya dalam kehidupan.

Sayidina Ali bin Abi Thalib berkata, Tidak ada gunanya ibadah yang tidak disertai dengan pemahaman. Begitu pula dengan bacaan Alquran dengan tanpa penghayatan.

Oleh karena itu, metode para sahabat Nabi dalam mempelajari Alquran sangatlah tertata dan sistematis. Manna al-Qaththan dalam kitabnya, Mabahits Fii `Ulumi Alquran, menjelaskan bagaimana para sahabat mempelajari Alquran. Mereka tidak menambah pelajaran Alquran sebelum yang telah dipelajarinya dibaca, dihafal, dan diamalkan.

Dengan metode tersebut, Alquran benar-benar bersarang di dalam sistem kesadaran diri para sahabat. Dalam bahasa Ibrahim Eldeeb pada bukunya, Masyru'uk Khas Ma'a Alquran, mereka merasakan pengaruh Alquran dalam kehidupan.

Pengaruh itu hadir sebagaimana kandungan ayat-ayat yang dibaca, seperti sedih, takut, penuh harapan, keinginan berjihad, dan mati sebagai syahid di jalan Allah, cinta keadilan, optimistis akan janji kemenangan dari-Nya, yakin doa-doanya dikabulkan, dan seterusnya.

Sebagaimana pengaruh yang dirasakan Nabi kala Ibnu Mas'ud membacakan Alquran untuknya yang berisi, Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti) apabila Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu. (QS. An-Nisa [4]: 41). Kedua mata beliau langsung meneteskan air mata dan meminta Ibnu Mas'ud mencukupkan bacaannya.

Pengaruh luar biasa juga dialami Umar bin Khatthab. Bahkan, beliau sampai jatuh sakit selama sebulan karena merasakan takut luar biasa akan ancaman Allah yang terkandung di dalam ayat, Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi. (QS at-Thur [52]: 7).

Peristiwa lain dialami oleh Haritsah, Bagaimana keadaanmu pagi ini, wahai Haritsah? Ia menjawab, Seakan aku melihat singgasana Tuhanku terpampang jelas, sementara penduduk surga bersenang-senang di dalam surga dan penduduk neraka tersiksa di dalam neraka. Haritsah hidup dengan semangat tinggi karena penghayatannya dalam membaca Alquran. Untuk itu, marilah membaca Alquran dengan niat untuk bisa menyadap dan menyedot kekuatan Alquran sehingga hidup kita benar-benar sesuai dengan Alquran.

 

Al-Quran Sebagai Sahabat Sejati

Al-Quran Sebagai Sahabat Sejati


Al-Quran Sebagai Sahabat Sejati


Fiqhislam.com - Untuk menjadikan Alquran sebagai sahabat sejati, tentu kita harus memosisikan dan memperlakukannya seperti kita memperlakukan sahabat dalam hidup ini. Cara kita memperlakukan sahabat dalam hidup sering kali menjadikannya sebagai teman curhat, mendengar nasihatnya, mengikuti petuahnya, dan ingin selalu dekat di sisinya. Bahkan, sering kali kita tidak bisa dipisahkan dalam jarak dan waktu.

Begitu pun ketika Alquran sudah menjadi sahabat sejati dalam kehidupan kita. Maka, tentu kita akan membuatnya terasa istimewa dalam hidup kita.

Banyak cara untuk bisa mengistimewakan Alquran agar menjadi sahabat sejati dalam hidup. Berikut ini adalah empat cara yang dapat dilakukan untuk menjadikan Alquran sebagai sahabat sejati yang istimewa:

Pertama, melafazkannya atau membacanya. Aktivitas membaca Alquran merupakan cara yang paling awal untuk bisa menjadikan Alquran sebagai sahabat sejati dalam kehidupan kita. Aktivitas membaca Alquran dapat dimaknai dengan melakukan rutinitas yang disusun secara sistematis dalam mengalokasikan waktu untuk bisa membaca Alquran.

Rasulullah SAW bersabda, "Bacalah Alquran, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat menjadi pemberi syafaat bagi orang-orang yang bersahabat dengannya." (HR Muslim)

Kedua, menghafalkannya. Kegiatan untuk bisa menghafal Alquran adalah langkah kedua yang dapat menjadikan Alquran sebagai sahabat sejati yang terpatri dalam hati dan tertera dalam jiwa. Sebagai sebuah kitab suci yang dijadikan pedoman hidup, ternyata Alquran merupakan satu-satunya kitab suci yang mudah dihafal di antara kitab samawi lainnya.

Hal ini sebagaimana firman Allah dalam QS al-Qamar (54) ayat 17: "Dan sesungguhnya telah kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran itu?" (QS al-Qamar [54]: 17).

Ketiga, mentadaburinya. Langkah ketiga untuk bisa menjadikan Alquran sebagai sahabat sejati dalam kehidupan adalah dengan berusaha untuk memahami dan mentadaburinya. Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitabnya Al-Itqan fi Ulum Al-Qur'an menuliskan bahwa disunahkan membaca Alquran dengan tadabur (berusaha merenungkan kandungan maknanya) dan tafahum (berusaha memahami kandungan maknanya).

Keempat, mengamalkannya. Langkah pamungkas yang harus dipastikan untuk bisa bersahabat dengan Alquran adalah berusaha untuk mengamalkan setiap ayat yang terkandung di dalamnya. [yy/republika]