14 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 21 Oktober 2021

basmalah.png

Ashabul Qaryah, Ada di Negeri Anthakiyah?

Ashabul Qaryah, Ada di Negeri Anthakiyah?Fiqhislam.com - Kebanyakan ahli tafsir menyatakan bahwa penduduk suatu negeri (Ashabul Qaryah) yang disebutkan dalam surah Yaasiin itu adalah negeri Anthakiyah, yang terletak di tepi Laut Tengah. Namun, beberapa ahli tafsir meragukan Anthakiyah sebagaimana disebutkan dalam surah Yasiin ayat 13 tersebut.

Ibnu Katsir, misalnya, dalam tafsir Katsir Ibnu Katsir, menyatakan, penduduk suatu negeri (Ashabul Qaryah) itu bukanlah negeri Anthakiyah, sebagaimana banyak disebutkan para ahli tafsir. Menurut Ibnu Katsir, ada beberapa alasan sehingga penduduk suatu negeri itu bukanlah Anthakiyah. 

Pertama, jika mereka merupakan utusan Al-Masih AS, niscaya mereka menyampaikan informasi yang menyatakan bhwa mereka adalah utusan Al-Masih.

Kedua, sudah dimaklumi bahwa penduduk Anthakiyah beriman kepada para utusan Al-Masih; Anthakiyah merupakan negeri yang pertama kali beriman kepada Al-Masih. Sementara itu, Allah bercerita dalam surah ini bahwa penduduk Anthakiyah mendustakan para rasulnya dan Dia (Allah) membinasakan mereka dengan satu teriakan yang mematikan semuanya.

Ketiga, Abu Said Al-Khudri RA dan banyak ulama salaf lainnya menceritakan bahwa setelah Allah menurunkan Taurat, Allah tidak membinasakan satu umat pun dengan azab yang dikirimkan-Nya. Namun, Dia memerintahkan kaum Mukmin setelah itu agar memerangi kaum musyrik. ''Dengan demikian, jelaslah bahwa negeri yang diceritakan dalam surah ini bukanlah Anthakiyah, sebagaimana dikemukakan oleh sejumlah ulama salaf. Sebab, tidak ada keterangan yang menyebutkan bahwa ia dibinasakan, baik pada masa agama Nasrani maupun sesudahnya. Wa Allahu A'lam,'' jelas Ibnu Katsir.

Hal senada juga diungkapkan oleh Syekh Muhammad Al-Utsaimin dalam menafsirkan surah Yaasiin ayat 13. Dengan mengutip pendapat Ibnu Katsir di atas, Utsaimin mengatakan, daerah Anthakiyah tidak pernah dihancurkan dan juga tidak diturunkan azab kepada penduduknya.

''Qaryah dalam ayat tersebut lebih menunjukkan jenis, bukan menunjukkan qaryah (daerah) tertentu. Jika Allah memandang bermanfaat menyebutkan nama daerah tertentu dalam ayat ini, tentu Allah akan menyebutkannya,'' tegas Utsaimin.

Demikian juga dengan pendapat Sayyid Quthb. Dalam tafsirnya Fi Zhilal al-Qur'an, Sayyid Quthb menjelaskan, tidak ada pentingnya Allah menyebutkan nama daerah tersebut. ''Yang terpenting justru hikmah di balik kisah tersebut agar kita beriman kepada Allah,'' terangnya. Wa Allahu A'lam.

Seperti Urwah bin Mas'ud

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Umair, dia berkata bahwa Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi RA berkata kepada Nabi SAW. '''Utuslah aku kepada kaumku guna mengajak mereka kepada agama Islam!' Rasul SAW bersabda, 'Aku khawatir mereka akan membunuhmu.' Urwah berkata, 'Jika mereka menjumpaiku tertidur, niscaya mereka tidak akan membangunkanku.' Maka, beliau bersabda, 'Pergilah!' Kemudian, Urwah pun berangkat. Dia melewati patung Lata dan Uzza. Dia berkata, 'Esok, aku akan membuatmu tidak karuan.

' Maka, Bani Tsaqif pun marah. Urwah berkata, 'Hai Bani Tsaqif, sesungguhnya Lata dan Uzza itu tidaklah cerdik dan Uzza tidaklah mulia. Masuk Islam-lah, niscaya kalian selamat. Wahai teman-temanku, sesungguhnya Lata itu tidak cerdik dan Uzza tidaklah mulia. Masuk Islam-lah, niscaya kalian selamat.' Urwah mengucapkan kalimat itu tiga kali. Tiba-tiba, ada seseorang memanahnya dan mengenai keningnya sehingga dia pun tewas.

Berita ini sampai kepada Rasulullah SAW. Maka, beliau bersabda, 'Urwah ini bagaikan salah satu tokoh cerita dalam surah Yaasiin. Alangkah baiknya jika kaumku mengetahui apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampunan kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.'' [yy/republika]