30 Dzulqa'dah 1443  |  Kamis 30 Juni 2022

basmalah.png

Sahabat, Tumpuan Umat Menanyakan Persoalan dalam Al-Quran

Sahabat, Tumpuan Umat Menanyakan Persoalan dalam Al-Quran

Fiqhislam.com - Dalam sejarah Islam, sejak wafatnya Rasulullah SAW, para sahabat menjadi tumpuan umat untuk menanyakan berbagai persoalan dalam Alquran.

Tercatat, empat orang sahabat Rasul SAW yang mendapat kehormatan menjadi khulafaurrasyidin, yakni Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Keempat sahabat setia ini, terkenal sebagai orang-orang yang pertama-tama masuk Islam (Assabiqun al-Awwalun).

Bahkan, keempatnya mendapat jaminan Rasul SAW untuk masuk surga, dari 10 orang yang dijanjikan. Enam orang lainnya adalah Zubair bin Awwam, Said bin Zaid, Thalhah bin Ubaidillah, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqash, dan Abu Ubaidah bin Jarrah.

Mengenal Ilmu Asbab An-Nuzul

Asbabun Nuzul - Ilmu Al-Quran

Selain nama-nama mereka itu, ada juga sahabat-sahabat Rasul SAW yang memiliki kemampuan dalam menafsirkan ayat-ayat Alquran. Salah satu di antaranya adalah Ibnu Abbas RA dan Abdullah bin Mas'ud RA. Selain mereka, tokoh lainnya adalah Aisyah binti Abu Bakar, yang juga istri Nabi SAW.

Para sahabat tersebut dikenal sebagai orang-orang yang memiliki keimanan dan keislaman yang sangat kuat, serta menjadi pembela Islam yang gigih demi tegaknya ajaran Allah di muka bumi.

Imam Suyuthy dalam kitabnya Al-Itqan menjelaskan, sahabat-sahabat Rasul SAW yang populer dengan tafsir dan periwayatan hadis adalah khulafaurrasyidin, Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, Ubay Ibnu Ka'ab, Zaid Ibnu Tsabit, Abu Musa Al-'Asy'ari, dan Abdullah bin Zubair.

Dan, dari kalangan khalifah empat yang paling banyak dikenal riwayatnya tentang tafsir adalah Ali bin Abi Thalib RA, sedang dari tiga khalifah yang lain hanya sedikit sekali, karena mereka lebih terdahulu wafatnya.

As-Suyuthi menjelaskan, ketiga orang sahabat (Abu Bakar, Umar, dan Usman) ini terbilang sedikit dalam meriwayatkan hadis maupun Alquran, dikarenakan pendeknya masa jabatan mereka dan meninggal lebih dahulu.

Dari segi yang lain, karena mereka bertiga hidup pada suatu masa di mana kebanyakan penduduk mengetahui dan pandai tentang Kitabullah, sebab mereka selalu mendampingi Rasulullah SAW. Karenanya, mereka mengerti dasar rahasia-rahasia penurunan, juga mengetahui makna dan hukum-hukum yang terkandung dalam ayatnya.

Sedangkan, Ali RA hidup berkuasa setelah khalifah yang ketiga, yaitu pada masa di mana daerah Islam telah meluas. Banyak orang-orang luar Arab yang memeluk Islam sebagai agama baru. Generasi keturunan sahabat banyak yang merasa perlu untuk mempelajari Alquran serta memahami rahasia-rahasia dan hikmah-hikmahnya. Karena itu, wajarlah riwayat daripadanya begitu banyak melebihi riwayat yang dinukil dari tiga khalifah lainnya.

Dari sahabat-sahabat ini pulalah, para tabiin dan lama kontemporer saat ini, bisa memahami Alquran secara lebih mendalam, dengan periwayatan hadis dan menerangkan sebab-sebab turunnya ayat Alquran.

Berikut riwayat singkat nama-nama sahabat yang paling banyak menerangkan sebab-sebab turunnya ayat sekaligus dikenal pula dengan kealiman dan kezuhudannya.

 

Sahabat, Tumpuan Umat Menanyakan Persoalan dalam Al-Quran

Fiqhislam.com - Dalam sejarah Islam, sejak wafatnya Rasulullah SAW, para sahabat menjadi tumpuan umat untuk menanyakan berbagai persoalan dalam Alquran.

Tercatat, empat orang sahabat Rasul SAW yang mendapat kehormatan menjadi khulafaurrasyidin, yakni Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Keempat sahabat setia ini, terkenal sebagai orang-orang yang pertama-tama masuk Islam (Assabiqun al-Awwalun).

Bahkan, keempatnya mendapat jaminan Rasul SAW untuk masuk surga, dari 10 orang yang dijanjikan. Enam orang lainnya adalah Zubair bin Awwam, Said bin Zaid, Thalhah bin Ubaidillah, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqash, dan Abu Ubaidah bin Jarrah.

Mengenal Ilmu Asbab An-Nuzul

Asbabun Nuzul - Ilmu Al-Quran

Selain nama-nama mereka itu, ada juga sahabat-sahabat Rasul SAW yang memiliki kemampuan dalam menafsirkan ayat-ayat Alquran. Salah satu di antaranya adalah Ibnu Abbas RA dan Abdullah bin Mas'ud RA. Selain mereka, tokoh lainnya adalah Aisyah binti Abu Bakar, yang juga istri Nabi SAW.

Para sahabat tersebut dikenal sebagai orang-orang yang memiliki keimanan dan keislaman yang sangat kuat, serta menjadi pembela Islam yang gigih demi tegaknya ajaran Allah di muka bumi.

Imam Suyuthy dalam kitabnya Al-Itqan menjelaskan, sahabat-sahabat Rasul SAW yang populer dengan tafsir dan periwayatan hadis adalah khulafaurrasyidin, Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, Ubay Ibnu Ka'ab, Zaid Ibnu Tsabit, Abu Musa Al-'Asy'ari, dan Abdullah bin Zubair.

Dan, dari kalangan khalifah empat yang paling banyak dikenal riwayatnya tentang tafsir adalah Ali bin Abi Thalib RA, sedang dari tiga khalifah yang lain hanya sedikit sekali, karena mereka lebih terdahulu wafatnya.

As-Suyuthi menjelaskan, ketiga orang sahabat (Abu Bakar, Umar, dan Usman) ini terbilang sedikit dalam meriwayatkan hadis maupun Alquran, dikarenakan pendeknya masa jabatan mereka dan meninggal lebih dahulu.

Dari segi yang lain, karena mereka bertiga hidup pada suatu masa di mana kebanyakan penduduk mengetahui dan pandai tentang Kitabullah, sebab mereka selalu mendampingi Rasulullah SAW. Karenanya, mereka mengerti dasar rahasia-rahasia penurunan, juga mengetahui makna dan hukum-hukum yang terkandung dalam ayatnya.

Sedangkan, Ali RA hidup berkuasa setelah khalifah yang ketiga, yaitu pada masa di mana daerah Islam telah meluas. Banyak orang-orang luar Arab yang memeluk Islam sebagai agama baru. Generasi keturunan sahabat banyak yang merasa perlu untuk mempelajari Alquran serta memahami rahasia-rahasia dan hikmah-hikmahnya. Karena itu, wajarlah riwayat daripadanya begitu banyak melebihi riwayat yang dinukil dari tiga khalifah lainnya.

Dari sahabat-sahabat ini pulalah, para tabiin dan lama kontemporer saat ini, bisa memahami Alquran secara lebih mendalam, dengan periwayatan hadis dan menerangkan sebab-sebab turunnya ayat Alquran.

Berikut riwayat singkat nama-nama sahabat yang paling banyak menerangkan sebab-sebab turunnya ayat sekaligus dikenal pula dengan kealiman dan kezuhudannya.

 

Pengetahuan Sahabat tentang Asbab An-Nuzul

Pengetahuan Sahabat tentang Asbab An-Nuzul


Pengetahuan Sahabat tentang Asbab An-Nuzul Fiqhislam.com - Ismail al-Faruqi dalam The Cultural Atlas of Islam (Atlas Budaya Islam) menjelaskan, tidak mungkin seseorang bisa memahami ayat Alquran tanpa mengetahui sebab-sebab turunnya ayat Alquran. ''Suatu hal yang mustahil untuk memahami suatu ayat tanpa mengetahui latar belakang dan konteks historis ayat tersebut, kapan turunnya, dan bagaimana keadaan waktu itu.''

Apalagi, jelas dia, banyak ayat Alquran yang sulit dipahami karena sebagian ayat-ayatnya terdapat kalimat-kalimat yang bersifat umum, sehingga harus mendapatkan penjelasan dari riwayat Rasul SAW sebagaimana yang diceritakan oleh para sahabat Rasul SAW.

Dalam memahami ayat-ayat Alquran, termasuk sebab-sebab diturunkannya ayat Alquran, para sahabat berbeda-beda dalam menjelaskannya.

Ali bin Abi Thalib RA, sebagaimana dikutip Abdul Aziz dalam tafsir ilmu tafsir, mengatakan, ''Demi Allah, tidak ada sebuah ayat pun yang turun, kecuali saya mengetahuinya mengenai apa, siapa, dan di mana ayat itu diturunkan.''

Pernyataan serupa juga dikemukakan oleh Ibnu Mas'ud RA. Namun demikian, tidak semua ayat Alquran diketahui secara pasti oleh para sahabat. Tentang hal ini, Subhi As-Salih dalam Mabahits fi 'Ulum Al-Qur'an menjelaskan, ucapan Ali tersebut dan juga pendapat lainnya sebagaimana dimaksud, memperlihatkan besarnya perhatian sahabat terhadap Alquran.

Selain itu, hal tersebut disebabkan dorongan oleh iktikad baik para sahabat terhadap segala hal yang mereka dengar dan saksikan mengenai ayat-ayat Alquran pada zaman Nabi SAW.

Dan, lanjut As-Salih, bisa saja ucapan dari Ali itu bersumber dari tambahan para perawi hadis yang kemudian disampaikan bahwa ucapan itu berasal dari Ali dan kawan-kawan.

Dalam sejarah dikemukakan bahwa Muhammad Sirin pernah bertanya kepada Ubaidah tentang makna suatu ayat di dalam Alquran. Ubaidah menjawab, bertakwalah kepada Allah serta akuilah dengan jujur bahwa orang yang mengetahui kapan diturunkannya ahyat-ayat Alquran itu telah berpulang (Rasul dan para sahabat--Red).''

Al-Hakim dalam kitab Ulum al-Hadits menjelaskan, apabila seorang sahabat menyaksikan wahyu atau turunnya ayat-ayat Alquran, mereka akan mengatakan bahwa ayat ini turun tentang 'ini', 'ini', dan 'ini'.

Ibnu Taimiyah berpendapat, kadang-kadang suatu riwayat menuturkan maksud suatu ayat yang justru dalam ayat itu sendiri telah jelas maksudnya. Misalnya, hadis seperti ini menjelaskan ayat tersebut, namun tidak menjelaskan sebab turunnya ayat.

Az-Zarkasy dalam kitabnya Al-Burhan, sebagaimana dikutip As-Suyuti, menyebutkan, ''Dari adat (kebiasaan) para sahabat dan tabiin dapat diketahui bahwa apabila salah seorang berkata; 'Turunnya ayat ini di dalam perkara ini', maka ayat yang dimaksudkan dengan kata-kata itu ialah bahwa ayat tersebut berisikan hukum-hukum tentang sesuatu dan bukan sebagai sebab turunnya ayat Alquran.''

Ismail Al-Faruqi menjelaskan, riwayat sahabat mengenai sebab-sebab turunnya ayat Alquran sangat penting dalam memahami ayat Alquran. Namun demikian, kata dia, semua itu harus diuji kebenarannya dengan membandingkan antara pendapat yang satu dengan yang lain. [yy/republika]