8 Jumadil-Awwal 1444  |  Jumat 02 Desember 2022

basmalah.png

Umat Kristiani Kaum Beriman?

Umat Kristiani Kaum Beriman?

Fiqhislam.com - Belum lama ini, penulis liberal yang kini menjadi dosen di University of Notre Dame, AS, menulis di sebuah media online berjudul  “Umat Kristiani Itu Kaum Beriman, Bukan Kafir”

“Pantaskah kita, kaum Muslim, masih terus menyebut umat Kristiani sebagai orang kafir?”, tanya Munʿim Sirry dalam sebuah artikelnya beberapa waktu lalu. Setelah sebelumnya Munʿim mengutip ungkapan Paus Fransiskus, lalu beliau mengajukan pertanyaan kedua: “Bagaimana reaksi mereka [kaum Muslim] setelah tahu bahwa Paus Fransiskus menyebutkan umat Muslim sebagai kaum beriman?”.

Diakhir artikelnya, “Kini saatnya umat Muslim juga melakukan refleksi teologis serius bagaimana menjalin hubungan harmonis dengan sesama kaum beriman, terutama umat Kristiani”, simpul Munʿim.

Tanpa mengurangi hormat dan takzim kepada Munʿim, tulisan ini bermaksud mendiskusikan artikelnya, “Umat Kristiani Itu Kaum Beriman, Bukan Kafir”.Artikel ini terkesan “genit” dan menciptakan suasana “genit” kepada pembaca (penerima maupun penolak). Namun sebenarnya, jika dibaca secara jeli dan kritis, tampaklah kerancuan dan distorsi yang dilakukan Munʿim.

Setelah mukaddimah, Munʿim mengawali artikelnya dengan pertanyaan: “siapa orang kafir?”. Lalu, dengan mengutip pendapat Cak Nur (Nurcholish Madjid) Allahuyarham dengan “PD” Munʿim mengatakan: “Almarhum Cak Nur (Nurcholish Madjid) sering merujuk pada surat al-Bayyinah ayat 1: “Orang-orang kafir di antara Ahlul Kitab dan orang-orang musyrik tidak akan meninggalkan (keyakinannya) hingga datang kepada mereka bukti yang nyata.” Ini untuk menunjukkan bahwa Ahlul Kitab tidak bisa diidentikkan dengan orang-orang kafir. Menurut Cak Nur, kata “di antara Ahlul Kitab” mengisyaratkan “hanya sebagian,” bukan seluruh Ahlul Kitab.”

Ada dua kekeliruan dalam kutipan ini: Pertama, dari sisi logika. Adalah logika yang keliru kala Munʿim – berdasarkan pemahaman ayat tersebut – mengatakan Ahlul Kitab tidak bisa diidentikkan dengan orang-orang kafir, sementara katanya, dengan mengutip Cak NurAllahuyarham, “di antara Ahlul Kitab” mengisyaratkan “hanya sebagian,” bukan seluruh Ahlul Kitab”. Ibarat anda mengatakan semua susu kambing manis berdasarkan pendapat orang lain, tetapi orang yang anda kutip mengatakan sebagian saja susu kambing manis. Adakah ini logika yang benar? Tidak! Sebagian susu kambing manis dan sebagiannya lagi tidak. Artinya, mengikuti alur logika Cuk Nur Allahuyarhamyang dikutip Munʿim, sebagian Ahlul Kitab ada yang kafir dan sebagiannya ada yang beriman.

Kedua, permasalahan ini lebih serius, yakni distorsi alias tahrif atas nama Cak Nur. Bagi Cak Nur – perlu dicatat bahwa ia tidak menyamaratakan non-Muslim berdasarkan pada Q., 3: 113– Ahlul Kitab (tentu Kristen masuk di dalamnya) bukan Muslim, tetapi berdasarkan pada terminologi al-Qurʾan, kata Cak Nur, adalah kafir. “Ahl al-kitâb tidak tergolong kaum Muslim, karena mereka tidak mengakui, atau bahkan menentang, kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam dan ajaran yang beliau sampaikan. Oleh karena itu dalam terminologi Al-Quran, mereka disebut “kâfir”, yakni, “yang menentang” atau “yang menolak”, dalam hal ini menentang atau menolak Nabi Muhammad Saw. dan ajaran beliau, yaitu ajaran agama Islam”, begitu kata Cak Nur. (Lihat, Ensiklopedi Nurcholish Madjid, ed. Budhy Munawar Rahman (Jakarta: Yayasan Abad Demokrasi, 2011), I: 90, artikel tentang: “Ahl al-Kitab: Yahudi dan Nasrani”)

Jadi, kembali kepada pertanyaan Munʿim di awal tadi: “Pantaskah kita, kaum Muslim, masih terus menyebut umat Kristiani sebagai orang kafir?”Merujuk kepada penjelasan Cak Nur di atas, memang “dalam terminologi Al-Quran, mereka disebut “kâfir”…”Akan tetapi, adab dan muamalah kita dalam berdiskusi perlu cara yang ahsan kecuali kepada mereka yang zalim (Q. S. al-ʿAnkabut: 46). “Allah berpesan kepada kaum beriman untuk tidak melibatkan diri dalam perbantahan tidak sehat dengan kaum Ahli Kitab kecuali, dengan sendirinya, jika mereka berindak agresif”, begitu kata Cak Nur dalam menangkap pesan Q. S. al-ʿAnkabut ayat 46. (Lihat, Islam, Doktrin dan Peradaban (Jakarta: Paramadina, 2005), hlm. 190).

Di sini saya tidak bermaksud ikut mendalam akan kesilapan Munʿim terhadap Cak Nur Allahuyarham. Namun: pertama, kita sangat menyayangkan, kenapa Cak Nur menjadi “korban”?; kedua, bagaimana pandangan al-Qurʾan dan perbedaannya dengan tafsiran Munʿim: adakah umat Kristiani itu kaum beriman atau bukan? Tentu berdasarkan pada tafsiran kita sebagai Muslim. Kemudian, adakah penyebutan kafir merupakan “produk sejarah” seperti yang didakwa Munʿim ataukah ia merupakan ketentuan Ilahiyyah yang menjadikannya berkembang bersama sejarah?

Sebelum membahas dua pertanyaan ini, ada baiknya kita mendiskusikan terlebih dahulu tafsir surah al-Kafirun ala Munʿim.

Munʿim mencoba mengotak-atik surah al-Kafirun yang kata “” (panjang dengan alif), dibaca pendek (menjadi alif) sebagai bentuk penegasan (taukid). Berikut penjelasan Munʿim:“Jika alif dihilangkan dari kata “lā” (tidak), maka surat al-Kafirun dapat diterjemahkan begini:
1) Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir. (2) sebenarnya aku menyembah apa yang kamu sembah. (3) Dan kamu juga penyembah apa yang aku sembah. (4) Dan aku penyembah apa yang kamu sembah. (5) Dan kamu pun penyembah apa yang aku sembah. (6) (Kendatipun demikian) untukmu agamamu dan untukku agamaku.”

Saya skeptik dengan tafsiran Munʿim layaknya skeptiknya Munʿim “dengan historitas asbab al-nuzul”.

Alasannya: Pertama, salah satu tokoh yang dirujuk Munʿim adalah Gerd R. Puin, orientalis asal Jerman yang mengkaji manuskrip al-Qurʾan yang ditemukan di Sanʿa yang berasal dari kurun pertama Hijriyah. Kajian Puin banyak menemukan alif yang hilang pada naskah tersebut. Seperti beliau akui, kajian ini jadikan sandaran.

Menurut Mustafa al-Aʿzami,terdapat lusinan manuskrip al-Qurʾan kurun pertama yang tersedia di pelbagai perpustakaan seluruh dunia. Sementara K. ʿAwwad  mencatat, terdapat 26 manuskrip al-Qurʾan yang berasal dari kurun pertama Hijriyah. Karenanya, jika tafsiran beliau disandarkan pada hasil kajian Puin, tentu tidak bisa gegabah mengingat naskah tersebut perlu dibandingkan dengan naskah manuskrip yang lain; dan tidak kalah pentingnya juga pertimbangan berdasarkan hasil kajian para ulama Muslim, ilmu Kalam, korelasi dengan ayat-ayat yang laindan akal sehat. Jika tidak, maka:

Kedua, ruang studi al-Qurʾan telah disempitkan hanya pada temuan filologi(dengan motif “toleransi”). Hanya berdasarkan pada hasil kajian filologi manuskrip al-Qurʾan dan motif toleransi, lalu kita mengabaikan aspek akidah (dalam hal ini Kalam), hubungan antar ayat dan hasil kajian para ulama Muslim. Cerdik-pandai dan alim ulama kita tidaklah melakukan demikian dan mereka tidak mendikotomikan antara subjektif dan objektif pada ilmu pengetahuan. Karena temuan “baru”, temuan lama diabaikan. Mirip seperti istri Aladdin dalam hikayah 1001 malam yang membuang lampu lama hanya karena terpikat dengan keindahan lampu baru. “Putih dikejar, hitam tak dapat”.

Ketiga, dari aspek akidah dan hubungan antar ayat. Jika tafsiran Munʿim “sebenarnya aku menyembah apa yang kamu sembah” misalnya diterima, tentu saja berlawanan dengan akidah dan juga akal sehat. Umat Nasrani misalnya menganggap Tuhan itu tiga (Q. S. al-Nisaʾ: 171), Isa al-Masih sebagai Allah (Q. S. al-Maʾidah: 17), al-Masih putra Maryam sebagai Allah (Q. S. al-Maʾidah: 72), tentu ini berlawanan dengan akidah kita bahwa Tuhan itu Satu (Q. S. al-Ikhlas: 1) dan tidak beranak maupun diperanakkan(Q. S. al-Ikhlas: 3).

Keempat,masih dari aspek akidah dan tinjauan motif. Dengan menyembah apa yang mereka sembah dan mereka menyembah apa yang kita sembah dianggap sebagai “toleransi yang sejati”, maka sebaliknya, ini toleransi kebablasan, karena Iblis juga bertoleransi dan mengakui Penciptanya sebagai Rabb, tetapi ia membangkang Penciptanya sebagai Ilah. Karena membangkang, ia pun dikutuk.

Karenanya, bagi kita, “kita tidak akan menyembah apa yang mereka sembah (lā aʿbudu mā taʿbudūn: “lam” dengan “alif “ atau panjang yang bermaksud negasi)” dan “kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah” dengan tetap berprinsip: “lakum dīnukum waliyadīn”. “Ente tetaplah dengan agama ente sementara gue tetap pada agama gue” dengan tetap menjalin muamalah yang baik antara sesama (umat beragama).

Kelima, saya lebih memilih riwayat mutawatir dan penafsir otoritatif dari kalangan ulama muktabar dari zaman ke zaman ketimbang penafsir amatiran dan karbitan. Di sini saya “bertaklid” bukan karena: pertama, membeo begitu saja kepada mereka karena secara umum tulisan ini juga bermaksud mengafirmasi pandangan mereka; kedua, saya tahu akan kedudukan dan martabat keilmuan saya dibandingkan para alim ulama muktabar,tidaklah seberapa. Mungkin, berbeda dengan Munʿim. Mungkin!

Sekarang kita kembali ke pertanyaan saya di atas:adakah Ahlul Kitab (tentu umat Kristiani termasuk di dalamnya) itu kaum beriman atau bukan?

Berbicara tentang Ahlul Kitab, maka objeknya ada dua, Kristiani dan Yahudi. Dalam hal ini kita hanya mengambil Kristiani. Apakah Kristiani beriman atau kafir? Untuk melihat gambaran yang jelas, mari kita lihat tafsir al-Qurʾan dengan al-Qurʾan di bawah ini.

Terma Ahlul Kitab muncul sebanyak 31 kali dalam al-Qurʾan dan tersebar di dalam surah-surah al-Madaniyyah (yaitu: al-Baqarah, Ali ʿImran, al-Nisaʾ, al-Maʾidah, al-Ahzab, al-Hadid, dan al-Hasyr) dan dua surat al-Makkiyyah (yaitu: al-ʿAnkabut dan al-Bayyinah).

Namun ternyata penyebutannya lebih banyak terdapat dalam surat-surat al-Madaniyyah disebabkan secara historis-sosiologis adanya hubungan umat Islam dengan mereka lebih banyak terjadi pada saat Nabi saw berada di Madinah ketimbang di Mekkah.

Mari kita lihat apa yang al-Qurʾan katakan tentang mereka:

Mereka (Yahudi dan Nasrani) tidak akan senang kepada kita sebelum kita mengikuti agama (millah) mereka (Q. S. al-Baqarah: 120); mereka sombong dengan memperdebatkan tentang Allah (Q. S. al-Baqarah: 139) dan menganggap Nabi Ibrahim, Ismaʿil, Ishaq, Yaʿqub dan anak cucu mereka sebagai penganut agama agama Yahudi dan Nasrani (Q. S. al-Baqarah: 140); mereka mengingkari arah kiblat (Q. S. al-Baqarah: 144-145); mereka mengenal Nabi Muhammad saw. seperti mereka mengenal anak mereka sendiri, tetapi tetap saja mereka mengingkarinya (Q. S. al-Baqarah: 146); mereka menyesatkan orang-orang Islam dan mengingkari (takfurūn) al-Qurʾan (Q. S. Ali ʿImran: 60-70); mereka mencampur adukkan antara hak dan batil dan menyembunyikan kebenaran tentang kenabian Nabi saw (Q. S. Ali ʿImran: 71); mereka mengingkari (takfurūn) ayat-ayat Allah dan menghalangi orang-orang yang beriman dari jalan Allah (Q. S. Ali ʿImran: 98-99); mereka melampaui batas dalam beragama dan menganggap Tuhan itu tiga (Q. S. al-Nisaʾ: 171); mereka mengingkari kerasulan Nabi Muhammad saw. (Q. S. al-Maʾidah: 15); mereka menganggap Isa al-Masih sebagai Allah maka Allah pun mengkafirkan mereka (Q. S. al-Maʾidah: 17); mereka menganggap diri mereka sebagai anak Allah dan kekasihnya padahal mereka hanyalah manusia biasa (Q. S. al-Maʾidah: 18); mereka menganggap orang-orang Muslim salah lantaran beriman kepada Allah padahal di antara mereka ada juga yang fasiq (Q. S. al-Maʾidah: 59); mereka menganggap al-Masih putra Maryam sebagai Allah dan Allah pun mengkafirkan mereka (Q. S. al-Maʾidah: 72).

Ayat-ayat di atas menggambarkan sisi negatif para Ahlul Kitab. Mereka itu sombong, angkuh dan mengingkari Allah Subhanahu Wata’ala  dan Rasul-Nya Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam; dan karenanya, Allah tidak segan-segan mengkafirkan mereka. Namun demikianjika beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka mereka juga akan mendapat ganjaran di sisi-Nya (Q. S. al-Baqarah: 62 &al-Maʾidah: 69).Sayangnya, hanya bersandarkan pada surah al-ʿAnkabut ayat 46 dan al-Hajj ayat 40, dengan mengabaikan ayat-ayat yang lain, Munʿim terlalu gegabah sampai pada kesimpulan bahawa “Ahlul Kitab (termasuk Kristen) tidak bisa dikatakan kafir karena mereka mengimani dan menyembah Tuhan yang sama”.

Para alim ulama muktabar, menerangkan bahwa berdasarkan pada surah al-Bayyinah ayat 1, terdapat juga di antara mereka (Ahlul Kitab) yang kafir. Hal yang sama juga ditegaskan dalam surah al-Maʾidah ayat 73 bahwa jika mereka tidak berhenti mengatakan Allah salah satu dari tiga, pastilah orang-orang ‘KAFIR’ di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih (Q. S. al-Maʾidah: 73).

Redaksi yang tegas dan lugas kita temui ketika berkaitan dengan akidah, yakni ketika para Ahlul Kitab menganggap Tuhan itu tiga (Q. S. al-Nisaʾ: 171), Tuhan mempunyai anak (Q. S. al-Muʾminun: 91), Isa al-Masih sebagai anak Tuhan (Q. S. al-Maʾidah: 17); Isa al-Masih sebagai Tuhan (Q. S. al-Maʾidah: 72).

Di sini al-Qurʾanmenggunakan redaksi yang tegas dan lugas: LAQAD KAFARA (benar-benar telah kafirlah). Dan dengan tegas dan lugas pula al-Qurʾan menolak: “Tidak layak bagi Allah itu mempunyai anak (Q. S. Maryam: 88)”; “Allah sama sekali tidak mempunyai anak (Q. S. al-Muʾminun: 91)”; “katakanlah Dia lah Allah, Yang Maha Esa… Dia tidak beranak dan tidak pula dipernakkan” (Q. S. al-Ikhlas: 1 & 3).

Kata LAQAD yang muncul sebelum fiʿil madhi (kata kerja dalam bentuk lampau) berfungsi sebagai taukid atau afirmasi bahwa benar-benar telah kafir. Namun, juga tidak dipungkiri, di antara mereka ada juga yang fasiq (Q. S. al-Maʾidah: 59) dan juga ada yang beriman kepada Allah (Q. S. Ali ʿImran: 113-115). Karena itu, konteks Ahlul Kitab (tentu termasuk Kristiani) di dalam al-Qurʾan tidak bisa disamaratakan.

Pernyataan yang tegas dan lugas juga kita temui ketika mereka (Ahlul Kitab) mengingkari Nabi Muhammad saw. (Q. S. al-Baqarah: 146 dan Q. S. Ali ʿImran: 60-71). Di sini redaksi yang digunakan ialah, lima takfurūn, yakni mengapa kamu menyembunyikan atau mengingkari kebenaran yang dibawa oleh Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Masih dalam akar kata yang sama: KAFARA dalam bentuk fiʿil mudhariʿyang bermakna masih berlangsung di masa sekarang dan akan datang dan bersatu dengan huruf istifham: lima (mengapa atau kenapa?).

Dari penjelasan di atas, jelas bahwa sikap Ahlul Kitab yang disebutkan di dalam al-Qurʾan berbagai macam: ada yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammad saw., dan ada juga yang menjadi penentang Allah dan Rasul-Nya. Penentang inilah yang al-Qurʾan soroti dengan terma KAFARA dalam berbagai bentuk perubahannya (tasrif). Pelakunya atau orang yang menentang Allah tersebut (ism fāʿil) disebut dengan “kāfir”.

Tingkatan mereka (Ahlul Kitab) seperti yang dijelaskan oleh Imam al-Ghazali di dalam Fayṣal al-Tafriqah Bayna al-Islām wa al-Zandaqah terbagi kepada tiga macam: pertama, golongan yang tidak pernah mendengar atau tidak memiliki pengertian yang memadai tentang Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, maka karena ketidaktahuan mereka, sehingga mereka diampuni dan dimaafkan walaupun tetap mengamalkan agama mereka.

Kedua, mereka yang mengenal Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, tetapi karena kerancuan yang disebabkan oleh pemimpin-pemimpin mereka yang tidak hanya menentang kebenaran ajaran Nabi Muhammad saw., tetapi juga menyembunyikan hakikat Islam. Golongan ini sama seperti golongan yang pertama, diampuni dan dimaafkan (maʿdhurūn) karena mereka terhalang oleh pemimpin-pemimpin mereka.

Ketiga, mereka yang mengetahui kebenaran Nabi saw sebagaimana mengenal anak mereka sendiri, tetapi tetap menantangnya, maka golongan ini disebut dengan AL-KUFFĀR AL-MULḤIDŪN, yakni orang-orang kafir yang sesat dan menyesatkan. (ed. Riyada Mustafa ʿAbd Allah (Beirut: Manshurat Dar al-Hikmah, 1986), hlm. 105-106).
Lagi-lagi istilah yang digunakan oleh al-Ghazālī juga kafir: al-kuffār jamak dari kata al-kāfir. Tentu tidak terlepas dari istilah dasar yang digunakan al-Qurʾan: KAFARA dalam berbagai bentuk perubahan katanya.

Walau bagaimanapun, terlepas dari berbagai sifat Ahlul Kitab yang disebutkan di dalam al-Qurʾan, Tuhan tetap memberikan keutamaan dan kemulian kepada mereka walaupun akidah mereka menyimpang. Sembelihan mereka dihalalkan bagi kita dan wanita mereka yang mukhsan juga dihalalkan untuk dinikahi(Q. S. al-Maʾidah: 5) yang tentu berbeda dengan sikap Tuhan terhadap orang-orang musyrik (Q. S. al-Baqarah: 221) dan kafir (Q. S. al-Mumtahanah: 10).

Di sini saya tidak bermaksud mendalam dalam perdebatan mengenai kebolehan dan syarat-syarat menikah dengan Ahlul Kitab dan perdebatan mengenai musyrik dan kafir, tetapi melihat bagaimana toleransi al-Qurʾan kepada mereka. Coba perhatikan penjelasan ʿAbd al-Rahman al-Jaziri di dalam kitabnya al-Fiqh ʿala Madhahib al-Arbaʿahdi bawah ini:

“Surah ini (al-Maʾidah: 5) menunjukkan halalnya menikahi wanita ahl al-kitab, meskipun mereka itu mengatakan al-Masih (Nabi Isa) adalah Tuhan, mempercayai konsep Trinitas. Mereka nyata-nyata menyekutukan Allah (syirk), namun Allah membolehkan menikahi mereka (kitabiyyah)lantaran mereka mempunyai kitab samawi.” (Kairo: Dar al-Fajr Litturath, 2000), IV: 69.

Setelah melihat sifat-sifat Ahlul Kitab yang dijelaskan di dalam al-Qurʾan dan bagaimana pula Tuhan memuliakan mereka, maka saya mengajak sidang pembaca masuk ke permasalahan selanjutnya yang tak kalah serius daripada permasalahan sebelumnya. Kata Munʿim, “penyebutan mereka sebagai kafir merupakan produk sejarah, lebih khusus lagi, terkait proses konsolidasi identitas ke-Muslim-an dalam iklim polemik”.

Apakah penyebutan kafir merupakan “produk sejarah” ataukah ketentuan Ilahiyyah yang menjadikannya berkembang bersama sejarah?

Perlu ditegaskan, sejarah tidak akan menghasilkan sesuatu tanpa nilai dan kayakinan yang dapat dijadikan sebagai sumber dan patokan. Tata krama dalam adat resam Melayu tidaklah lahir begitu saja tanpa ada nilai-nilai dan keyakinan, utamanya nilai-nilai dan keyakinan agama. Istilah kunci Islam dalam bahasa Melayu-Indonesia tidak wujud begitu saja tanpa ada sumbernya, bahasa Arab. Istilah-istilah asing (Inggris misalnya) tidak wujud begitu saja pada bahasa-bahasa lain di dunia termasuk bahasa Indonesia tanpa ada sumber asalnya. Begitu pula dengan istilah “kafir”, ia mempunyai nilai teologis yang jelas dan dengannya itu ia berkembang bersama sejarah. Tentu dalam tatanan hukum dan perubahan sosial, ada ijtihadyang mengawali. Ijtihad dalam memaknai terma ‘kafir’ pun sebatas nilai-nilai ajaran yang terdapat dalam istilah tersebut, bukan pada perubahan lafaznya meskipun redaksi perubahan lafaz juga tidak bisa diabaikan. Karenanya, nilai-nilai teologis pada istilah kafir dalam al-Qurʾan mempunyai sumber serta patokan nilai dan keyakinan, yakni Wahyu Ilahi.

Dengan tegas Tuhan menyatakan kafir kepada mereka yang mensekutukan-Nya dan menentang ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw., termasuk dari kalangan Ahlul Kitab. Tuhan juga sangat mengapresiasi mereka yang beriman kepada-Nya, beramal shalih dan berbuat kabajikan. Karenanya, nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan semacam ini yang membuat istilah tersebut berkembang bersama sejarah.

Begitu pula dengan istilah-istilah musyrik, Ahlul Kitab dan semi-Ahlul Kitab yang kata Munʿim, dalam karya-karya ulama belakangan merupakan kelompok kafir. Istilah tersebut bukan produk sejarah, tetapi karena adanya nilai-nilai dan kayakinan yang bersumber dari wahyu Ilahi, maka istilah tersebut berkembang dan digunakan yang tentu implikasinya untuk membedakan antara satu sama lain. Kalaupun ada di antara para ulama menggunakan istilah musyrik Arab dan non-Arab, maka: pertama, terdapat nilai-nilai di dalam wahyu Ilahi yang menyebabkan atau melahirkan istilah tersebut; kedua, ia hanya sebatas istilah, namun esensinya jelas, seseorang dikatakan musyrik tentu berdasarkan kriteria yang telah dijelaskan oleh wahyu. Lagi-lagi di sini munculnya istilah tersebut karenaadanya nilai yang dijadikan sumber dan patokan; dan munculnya bukan merupakan “produk sejarah”, tetapi karena adanya ketentuan Ilahiyyah yang menjadikannya berkembang bersama sejarah.

Dari pembahasan di atas, sekarang penulis tutup sebagai berikut:

Memikul di bahu menjunjung di kepala,” kata pepatah orang Melayu. Sesuatu itu ada tata cara dan aturan mainnya, bukan sekehendak diri sendiri. Distorsi atas nama orang lain dan menggunakan beberapa ayat demi menguatkan hujah lalu mengabaikan banyak ayat-ayat lain yang berkaitan, cara seperti ini tidak adil. Apa jadinya medan Formula-1 di medan off-roading, kereta belati di jalan tol! Wallahuaʿlam.

Oleh Edi Kurniawan
yy/hidayatullah