11 Rabiul-Awal 1443  |  Minggu 17 Oktober 2021

basmalah.png

HR Rasuna Said, Pejuang dari Agam

HR Rasuna Said, Pejuang dari AgamFiqhislam.com - Indonesia memiliki sederet tokoh Muslimah yang menyandang gelar pahlawan. Selain RA Kartini dan Nyai Ahmad Dahlan, dari rahim bumi pertiwi pun sempat lahir seorang Muslimah yang mendedikasikan hidupnya untuk agama dan bangsa. Dia adalah Hajjah Rangkayo Rasuna Said atau HR Rasuna Said.

Sejarah Indonesia mencatat kiprah dan perjuangannya dengan tinta emas. Muslimah yang terlahir di Maninjau, Agam, Sumatera Barat, 15 September 1910 dan wafat di Jakarta, 2 November 1965 itu dikenal sebagai seorang ahli pidato atau orator yang andal.

Ia tak hanya memperjuangkan persamaan hak antara pria dan wanita, tapi juga kemerdekaan Tanah Air dari penjajah.

Rasuna Said dikenal sebagai pejuang yang berpandangan luas dan berkemauan keras.  Selepas menamatkan pendidikan dasarnya, Rasuna said memilih belajar agama. Ia pun menimba ilmu Pesantren Ar-Rasyidiyah, sebagai satu-satunya santri perempuan.

Rasuna Said kemudian melanjutkan pendidikan di Diniyah School Putri di Padang Panjang dan bertemu dengan Rahmah El-Yunusiah.

Jiwanya terpanggil untuk membangun dan memajukan pendidikan kaum wanita. Rasuna Said sempat mengajar di Diniyah School Putri. Pada 1930, ia memutuskan untuk berhenti mengajar. Namun, bukan berarti perhatiannya untuk memajukan kaum perempuan berakhir.

Sang mujahidah memiliki pandangan yang lebih maju. Ia meyakini bahwa kemajuan kaum wanita tidak hanya bisa didapat dengan mendirikan sekolah, tapi harus disertai perjuangan politik. Rasuna Said sebenarnya sempat berusaha memasukan pendidikan politik dalam kurikulum sekolah Diniyah School Putri, tapi ditolak.

Pengapnya jeruji besi tak mampu padamkan semangat juangnya.

Setelah usahanya memasukkan pendidikan politik dalam kurikulum sekolah Diniyah School Putri ditolak, Rasuna Said memutuskan untuk mendalami agama pada Haji Rasul atau Dr H Abdul Karim Amrullah.

Saat itu, ayahanda Buya Hamka ini mengajarkan pentingnya pembaharuan pemikiran Islam dan kebebasan berpikir. Dan hal ini banyak memengaruhi padangan Rasuna Said.

Kiprah perjuangan politiknya dimulai dengan terjun dan aktif di organisasi Sarekat Rakyat. Ia mengawali kiprah politiknya sebagai sekretaris cabang.

Rasuna Said kemudian juga bergabung dengan Soematra Thawalib dan mendirikan Persatoean Moeslimin Indonesia (PERMI) di Bukit Tinggi pada  1930.

Ilmu dan pengalaman yang dimilikinya ia sebarkan di sekolah-sekolah yang didirikan PERMI. Rasuna Said pun mendirikan Sekolah Thawalib di Padang, dan memimpin Kursus Putri dan Normal Kursus di Bukit Tinggi. Ia berjuang dan berupaya agar kaum perempuan di tanah kelahirannya bisa bangkit dan maju.

Sebagai seorang orator andal, Rasuna Said sangat mahir  mengecam pemerintahan Belanda dalam setiap pidatonya. Rasuna Said juga tercatat sebagai wanita pertama yang terkena hukum Speek Delict, yaitu hukum kolonial Belanda yang menyatakan bahwa siapapun dapat dihukum karena berbicara menentang Belanda.

Rasuna Said sempat ditangkap bersama teman seperjuangannya Rasimah Ismail, dan dipenjara pada 1932 di Semarang.

Meski sempat mengalami pengapnya udara penjara, Rasuna said tak pernah berhenti berjuang. Setelah keluar dari penjara, Rasuna Said meneruskan pendidikannya di Islamic College pimpinan KH Mochtar Jahja dan Dr Kusuma Atmaja.

Pada 1935, Rasuna Said berjuang melalui media massa. Ia menjadi pemimpin redaksi majalah Raya.

Berbagai hambatan dan teror serta intimidasi dari penjajah Belanda tak membuat semangat juangnya meredup. 

Lantaran ruang geraknya dibatasi Belanda, Rasuna Said pindah ke Medan dan mendirikan sekolah pendidikan khusus wanita Perguruan Putri dan juga menerbitkan majalah Menara Putri, yang khusus membahas seputar pentingnya peran wanita, kesetaraan antara pria wanita dan keislaman.

Pada masa pendudukan Jepang, Rasuna Said ikut serta sebagai pendiri organisasi pemuda Nippon Raya di Padang yang kemudian dibubarkan oleh Pemerintah Jepang.

Setelah kemerdekaan Indonesia, Rasuna Said aktif di Badan Penerangan Pemuda Indonesia dan Komite Nasional Indonesia.

Ia juga sempat duduk dalam Dewan Perwakilan Sumatera mewakili daerah Sumatera Barat setelah Proklamasi Kemerdekaan, diangkat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat (DPR RIS), kemudian menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959 sampai akhir hayatnya.

HR Rasuna Said dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden R.I. No. 084/TK/Tahun 1974 tanggal 13 Desember 1974.

Ia meninggalkan seorang putri (Auda Zaschkya Duski) dan enam cucu (Kurnia Tiara Agusta, Anugerah Mutia Rusda, Moh Ibrahim, Moh Yusuf, Rommel Abdillah dan Natasha Quratul'Ain).

Jasa dan dedikasinya bagi umat, agama dan negara yang pernah ditorehkannya selalu diingat sepanjang masa. Namanya diabadikan sebagai salah satu nama jalan protokol di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Rasuna Said adalah teladan bagi kaum Muslimah di Tanah Air. [yy/republika]