fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


29 Ramadhan 1442  |  Selasa 11 Mei 2021

Laila al-Akhyaliyyah, Romantisme Awal Peradaban Islam

Laila al-Akhyaliyyah, Romantisme Awal Peradaban IslamFiqhislam.com - Karya-karyanya adalah simbol romantisme. Bukti kemampuan shahabiyah untuk menggubah karya sastra yang berkualitas.

Medieval Islamic Civilization an Encyclopedia memasukkan namanya ke salah satu tokoh perempuan berpengaruh di bidang sastra pada era pertama peradaban Islam.

Ia menyusun lebih dari 50 puisi pendek. Sebagian besar sajak dan puisi itu berisikan pujian. Ia tujukan untuk sang pujaan hati.

Tiap kata yang disusun sarat dengan romantisme. Indah, membalut apik luapan hati untuk sang kekasih. Di saat ruang gerak perempuan sangat terbatas kala itu, gubahan syairnya mampu menerobos ruang dan waktu.

Publik pun terpesona dengan karya-karyanya. Kemampuannya disebut-sebut berada satu level di bawah Khansa’, sang pujangga.

Ia adalah Laila al-Akhyaliyyah. Sahabat perempuan (shahabiyah) ini memang mahir mengarang puisi. Ia berasal dari Bani Amir. Konon, selain tersohor sebagai salah satu suku yang terlibat dalam peperangan membela Islam, kabilah tersebut terkenal romantis.

Cinta bersemi

Laila banyak menghabiskan masa kecil bersama sepupunya, Taubah bin al-Hamir. Kedekatan ini menumbuhkan benih cinta antara keduanya. Taubah adalah sosok pemberani, berbudi pekerti luhur, dan pandai berbahasa.

Empati yang berujung pada rasa cinta itu berlanjut hingga keduanya dewasa. Taubah adalah pujaan hatinya. Pujian pun ditulis untuk Taubah:

Pemuda yang terus bertambah kebaikannya sejak kecil
Hingga ia tumbuh sebagai pemuda idaman

Keintiman itu semakin kuat. Kisah tentang cinta terlarang keduanya pun menyebar. Sang ayah tidak merestui hubungan itu. Akhirnya, Laila dijodohkan dengan Abu al-Adzla’.

Meski sudah menikah, ayahnya memberi kesempatan kepada keponakannya tersebut untuk bersilaturahim hingga akhir hayat Taubah. Cinta keduanya pun tak ditakdirkan untuk bersatu.

Laila menikah dua kali. Setelah Abu al-Adzla’ meninggal, ia menikah dengan salah seorang sahabat, yaitu Suwwar bin Auwa al-Qusyairi.

Dari pernikahan keduanya ini, ia mendapat karunia anak yang banyak. Suwwar ternyata juga merupakan salah seorang penyair yang andal.

Hal ini semakin menguatkan intuisi Laila saat menggubah syair. Tak hanya soal romantisme, tetapi juga syair-syair sosial dan pujian untuk para khalifah.

Kemahirannya ini sampai ke telinga penguasa Dinasti Umayyah saat itu. Ia kerap mendapat undangan ke istana sekadar mempersembahkan pujian-pujian bagi khalifah.

Laila yang berparas cantik itu memuji Muawiyah bin Abu Sufyan dengan syairnya. Ia pun mendapat imbalan hadiah atas syairnya tersebut. Hal ini terjadi pula saat ia bertemu dengan khalifah yang terkenal zalim, al-Hujjaj bin Yusuf.

Al-Hujjaj terkesima dengan gubahan syairnya. Para petugas kerajaan bahkan menyatakan, tak pernah melihat raut muka bahagia, kecuali ketika perstiwa langka itu terjadi. Al-Hujjaj mengganjarnya dengan 500 dirham dan lima ekor unta.    

Tak hanya pujian dan romantisme, beberapa puisi yang ia tulis dipenuhi dengan nuansa religi yang penuh hikmah. Seperti kutipan puisi berikut:

Sungguh jangan engkau katakan aku akan melakukan satu perkara Allah-lah yang akan menakdirkan masa depan bagi tiap orang

Karya-karya yang ditulis oleh Laila mendapat apresiasi luar biasa dari pegiat sastra. Sastrawan klasik Al-Farazdiq menyebut puisi gubahan Laila lebih unggul dari karya serupa yang pernah ditulisnya.

Bagi Abu Nawas, sentuhan-sentuhan kata yang disusun oleh Laila sangat membekas. Karena itu, Abu Nawas banyak hafal puisi-puisinya. Abu al-Ala’ al-Umari mengapresiasi pula puisi Laila.

Pada 85 Hijriah, Laila meninggal dunia. Ia pun dimakamkan di samping peristirahatan pujaan hatinya, Taubah bin al-Hamir. [yy/republika]